Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Tunduknya sang Penguasa Birokrasi
Ketegangan di dalam ruang kerja Direktur Utama Wijaya Tower berada di titik nadir. Di layar televisi, siaran langsung dari aula Kementerian Keuangan memperlihatkan jajaran pejabat berwajah tegang yang bersiap membacakan surat keputusan bersama pembekuan Asura Digital Bank. Kirana menggigit bibir bawahnya hingga memucat, matanya berkaca-kaca menatap papan pengumuman digital yang siap menghancurkan jerih payah mereka dalam hitungan detik.
Namun, di ujung sambungan telepon enkripsi kuantum milikku, suasana di ruang rapat darurat kabinet ibu kota justru seperti sedang dihantam gempa bumi berkekuatan besar. Suara penekanan sugesti mutlak dari keterampilan Retorika Hipnotis Dewa yang kukirimkan lewat interkom satelit tidak hanya terdengar di telinga para menteri, tetapi seolah-olah mengikat langsung ke dalam pusat ketakutan mental mereka.
"Siapa ini?! Bagaimana bisa jalur komunikasi militer rahasia ini disabotase?!" teriak suara menteri koordinator perekonomian di seberang telepon, nadanya dipenuhi kepanikan yang luar biasa.
"Siapa aku tidak penting," ujarku datar, setiap kata yang keluar dari mulutku membawa getaran otoritas yang dingin dan mematikan. "Yang penting adalah masa depan energi negara ini. Dalam waktu tiga puluh detik, jika surat pembekuan Asura Digital Bank itu tetap dibacakan ke publik, aku akan mengaktifkan protokol pemutusan total arus daya dari seluruh reaktor Asura Core yang telah terintegrasi secara diam-diam dengan gardu induk listrik utama Jawa-Bali sejak subuh tadi."
"Apa?! Jangan menggertak kami! Pembangkit listrik konvensional kita tidak ada hubungannya dengan bank digitalmu!" bentak menteri itu, berusaha mempertahankan sisa-sisa keangkuhan birokrasinya.
"Tinggal lima belas detik," sahutku tenang tanpa emosi. "Silakan lihat layar monitor pemantau beban daya nasional di hadapan Anda sekarang juga."
Tepat setelah kalimatku selesai, di pusat kendali utilitas negara ibu kota, seluruh jarum indikator beban listrik mendadak berfluktuasi gila-gilaan. Layar peta digital yang memantau aliran daya ke istana negara, gedung parlemen, hingga pusat bisnis Sudirman-Thamrin mendadak berkedip merah mematikan. Sistem kecerdasan buatan dari Asura Core yang telah menyusup ke dalam jaringan grid nasional menunjukkan bahwa satu ketukan jari dariku bisa membuat seluruh pulau terbesar di negeri ini kembali ke zaman kegelapan dalam sekejap.
"T-Tuan! Tolong tahan tangan Anda! Jangan lakukan itu!" suara menteri tersebut mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, melengking panik dan dipenuhi getaran ketakutan yang teramat sangat. Di depan ancaman kelumpuhan total ekonomi dan energi nasional, kekuasaan birokrasi yang mereka banggakan tidak ada apa-apanya. "Batalkan konferensi pers sekarang juga! Tarik kembali semua draf pembekuan Asura Bank! Cepat!"
Di layar televisi yang ditonton Kirana, pejabat yang baru saja memegang mikrofon untuk membacakan surat keputusan tiba-tiba ditarik paksa oleh seorang ajudan berwajah pucat. Siaran langsung itu mendadak diputus sepihak dan digantikan oleh iklan layanan masyarakat.
Kirana tertegun, mulutnya sedikit terbuka menatap layar kaca yang berganti pemandangan. Dia menoleh menatapku dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya yang luar biasa. "Adrian... mereka... mereka membatalkannya? Bagaimana bisa?"
Aku menutup sambungan telepon genggamku, lalu berjalan mendekati Kirana dan menarik tubuhnya ke dalam pelukanku yang hangat. "Sudah kubilang, kan? Mereka terlihat berkuasa hanya karena tidak ada yang berani menantang kendali mereka. Mulai hari ini, pemerintah pun harus berdiskusi dengan kita sebelum membuat regulasi baru."
[Ding! Misi Darurat Kontra-Birokrasi Berhasil Diselesaikan dengan Sukses Mutlak!]
[Tingkat Kepatuhan Otoritas Tertinggi: 100% Tunduk.]
[Hadiah Utama Diaktifkan: Kartu Hak Paten Global Mutlak atas Teknologi 'Asura Core' telah diterbitkan oleh Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia!]
[Keterampilan Baru Diaktifkan: 'Presidensi Pemikat Massa' (Memungkinkan daya tarik vokal Tuan Rumah untuk menggalang dukungan jutaan orang dalam satu pidato resmi).]
[Saldo Tambahan Rp 150 Miliar telah ditransfer secara penuh ke rekening utama Anda!]
Mendengar rentetan pemberitahuan dari Sistem Penguasa Dewa yang kembali mendatangkan kekayaan dan kekuatan baru, aku menyunggingkan senyum dingin. Hambatan terbesar dari faksi ibu kota telah kuhancurkan, dan sekarang adalah waktunya untuk memberikan hantaman terakhir bagi sisa-sisa keluarga Baskoro yang bersembunyi di dalam vila mewah mereka di Menteng.
Sementara itu, di dalam vila elite Menteng,
Paman Haryo Baskoro sedang menggenggam cangkir tehnya dengan tangan yang gemetar hebat hingga airnya berguncang ricuh. Nicholas Baskoro berdiri di sampingnya dengan mata melotot lebar menatap layar televisi yang batal menyiarkan pembekuan Asura Bank.
"Paman... apa yang terjadi?! Kenapa konferensi persnya dibatalkan secara mendadak?!" teriak Nicholas dengan suara yang hampir menangis karena frustrasi.
Sebelum Paman Haryo sempat menjawab, pintu depan vila mewah mereka mendadak didobrak kasar dari luar oleh belasan petugas berseragam hitam lengkap dengan senjata laras panjang. Mereka adalah tim khusus gabungan dari Badan Intelijen dan Direktorat Kriminal Khusus yang telah berada di bawah pengaruh instruksi rahasia perbankanku.
"Haryo Baskoro! Nicholas Baskoro!" teriak komandan tim dengan suara yang menggelegar memecah keheningan vila. "Anda berdua resmi ditahan atas tuduhan konspirasi sabotase ekonomi nasional, percobaan suap pejabat tinggi negara, serta keterlibatan dalam pendanaan organisasi pembunuh bayaran ilegal!"
"Apa?! Tidak mungkin! Siapa yang berani menahan aku di kota ini?!" bentak Paman Haryo, berusaha bangkit dengan wajah memerah padam menahan amarah.
"Ini adalah perintah langsung dari otoritas tertinggi negara yang didukung oleh bukti mutlak transaksi aliran dana dari rekening pribadi Anda ke organisasi Black Cobra," jawab komandan itu dingin, sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk langsung memasang borgol besi ke kedua pergelangan tangan Haryo dan Nicholas.
Nicholas Baskoro langsung jatuh lemas di atas lantai karpet, tangisnya pecah seketika saat menyadari bahwa dinasti Baskoro Group yang mereka banggakan selama puluhan tahun kini telah runtuh total hingga ke dasar bumi. Tidak ada lagi harta, tidak ada lagi kekuasaan, dan tidak ada lagi perlindungan hukum. Mereka semua telah dihancurkan oleh menantu sampah yang dulu ingin mereka singkirkan dari daerah pinggiran ini.
Di dalam ruang kerja Wijaya Tower, aku menatap pemandangan luar jendela kaca besar ke arah langit senja yang berwarna merah keemasan. Di dalam kepalaku, layar semi-transparan dari Sistem Penguasa Dewa kembali berkedip pelan, memunculkan notifikasi akhir yang menandakan bahwa babak balas dendamku telah selesai dengan sempurna, membuka lembaran baru bagi berdirinya imperium duniaku yang sejati bersama Kirana.
[Ding! Seluruh Misi Utama Rangkaian 'Pembalasan Menantu Dewa' Telah Diselesaikan dengan Nilai Sempurna!]
[Status Tuan Rumah Saat Ini: Penguasa Keuangan & Energi Global Tanpa Mahkota!]
Aku mempererat pelukanku pada pinggang Kirana, siap melangkah menuju puncak dunia yang sesungguhnya di mana tidak akan ada satu pun manusia yang berani memandang rendah kami lagi.