NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Tangis Aurel perlahan mereda. Ia mengusap sisa air mata di pipinya, lalu menarik napas panjang.

"Aku nggak boleh terus-terusan nangis." kata Aurel. Ayah dan ibunya saling berpandangan. Mereka tahu, putri mereka sedang mencoba berdiri kembali. Aurel memang selalu seperti itu. Ketika masalah datang, ia akan menangis sepuasnya. Namun setelah itu, ia akan mulai berpikir dengan kepala dingin.

"Aku harus siap." kata Aurel lagi.

"Apa maksudmu, Nak?" tanya ibunya Aurel.

Aurel meraih segelas air putih di meja, meminumnya perlahan, lalu meletakkannya kembali. "Kalau kami benar-benar bercerai, aku nggak boleh cuma mikirin perasaanku."

"Aku harus mikirin Raka." lanjut Aurel.

Suasana ruang keluarga kembali hening. "Aku ingin hak asuh Raka." Kalimat yang keluar dari bibir Aurel diucapkan dengan mantap.

"Tidak peduli bagaimana prosesnya, aku akan memperjuangkan Raka."

Ayahnya Aurel mengangguk pelan. Sebagai tanda kalau beliau setuju.

"Itu wajar. Selama ini juga kamu yang paling banyak mengurus Raka." kata Ayahnya Aurel.

"Iya, Pak."

"Mahesa memang sayang sama Raka."

"Tapi dari kecil sampai sekarang, hampir semua kebutuhan Raka aku yang mengurus." kata Aurel secara beruntun.

Orang tua Aurel paham, karena dari mengantar sekolah. Menemani belajar. Membawa ke dokter saat sakit. Menghadiri rapat orang tua murid. Semua itu hampir selalu dilakukan Aurel. Mahesa memang hadir sebagai ayah. Namun karena kesibukan pekerjaannya, sebagian besar waktu Raka dihabiskan bersama Aurel. Meskipun Aurel bekerja, namun untuk Raka, Aurel selalu ada.

"Tapi..." Aurel kembali berbicara.

"Bukan cuma soal hak asuh." Aurel menatap kedua orang tuanya.

"Soal harta juga harus dipikirkan." lanjut Aurel.

Ayahnya Aurel mengangguk setuju. "Itu memang harus dibicarakan baik-baik."

Aurel menghela napas. "Rumah yang kutempati sekarang..." Tatapan Aurel beralih ke arah ayahnya.

"Tanahnya milik Bapak." Ayahnya mengangguk karena memang iya.

"Iya. Dari awal memang Bapak yang memberikan tanah itu untuk kalian bangun rumah."

Aurel melanjutkan. "Bangunannya juga bukan murni dari kami."

"Dulu biaya membangun rumah ditanggung bersama. Keluarga kita ikut membantu. Keluarga Mahesa juga ikut membantu."

Ibunya Aurel ingat dengan jelas proses pembangunan rumah itu. Kedua keluarga sama-sama berbahagia karena akhirnya Aurel dan Mahesa memiliki rumah sendiri.

"Ada lagi." Aurel menarik napas panjang.

"Setahun yang lalu dapur direnovasi. Biayanya dari tabungan aku dan Mahesa."

Ayahnya Aurel menyandarkan tubuh ke kursi. "Kalau begitu, memang ada beberapa hal yang harus dihitung dengan jelas. Bapak nggak mau nanti kamu dirugikan."

Aurel mengangguk pelan. "Aku juga nggak mau mengambil yang bukan hakku."

Aurel menatap kedua orang tuanya dengan sorot mata yang mantap. "Aku cuma ingin semuanya adil. Aku nggak akan menguasai harta Mahesa. Tapi aku juga nggak akan membiarkan hakku hilang begitu saja."

Ayahnya tersenyum tipis. "Itu baru anak Bapak." Beliau bangga melihat putrinya tetap bisa berpikir jernih di tengah masalah sebesar ini.

"Jangan mengambil yang bukan milikmu. Tapi jangan pernah menyerahkan apa yang memang menjadi hakmu."

Aurel mengangguk. Di dalam hati, ia mulai menyusun langkah demi langkah. Ia akan berkonsultasi dengan seorang pengacara agar memahami hak-haknya sebagai istri dan ibu. Ia akan menyiapkan dokumen-dokumen penting.

Aurel juga akan mengumpulkan bukti mengenai aset yang dimiliki selama pernikahan, agar jika proses perceraian benar-benar terjadi, semuanya dapat diselesaikan secara jelas dan tidak menimbulkan sengketa di kemudian hari.

Kini, bagi Aurel, ini bukan lagi sekadar soal mempertahankan rumah tangga. Melainkan soal memastikan masa depan Raka tetap terlindungi. Dan untuk pertama kalinya sejak pengakuan Kayla semalam, Aurel merasa dirinya mulai mendapatkan kembali kendali atas hidupnya.

Aurel yang semula tampak tenang, kembali terdiam. Ada satu hal yang sejak tadi belum ia ceritakan. Hal yang justru membuat kepalanya semakin dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Pak..." panggil Aurel.

Ayahnya menoleh.

"Ada satu masalah lagi." kata Aurel.

"Apa itu?" tanya ayahnya.

Aurel mengembuskan napas panjang. "Soal utang."

Kalimat Aurel langsung membuat kedua orang tuanya saling berpandangan.

"Utang apa?" tanya sang ayah.

"Beberapa bulan lalu usaha Mahesa butuh tambahan modal."

Ayah Aurel mulai memasang wajah serius. Siap menyimak apa yang akan putrinya bicarakan.

"Dia mengajukan pinjaman ke bank."

"Lalu?" tanya Ayahnya.

Aurel menundukkan kepala. "Sertifikat rumah sekarang ada di bank."

Ibunya langsung membelalakkan mata. "Apa?"

"Rumah itu dijadikan jaminan. Karena sertifikatnya atas namaku, aku ikut menandatangani berkas pinjamannya."

Ruangan mendadak hening. Aurel masih mengingat hari itu. Mahesa datang dengan setumpuk dokumen.

"Cuma formalitas, Rel. Bank minta tanda tangan pemilik sertifikat."

Tanpa banyak bertanya, Aurel menandatanganinya. Bukan karena dipaksa. Melainkan karena percaya. Ia percaya usaha suaminya akan berkembang. Ia percaya mereka sedang berjuang bersama membangun masa depan. Kini, kepercayaan itu terasa begitu mahal harganya.

Belum selesai sampai di situ. Aurel kembali berkata pelan. "BPKB mobilku juga dipinjam."

Ayahnya mengernyit. "Maksudnya?"

"Mahesa mengajukan pinjaman lagi lewat leasing. Dua mobil dijadikan jaminan. Mobilku. Dan mobil Mahesa."

Ibunya terduduk lemas di sofa. "Ya Allah..."

"Berarti sekarang sertifikat rumah sama dua BPKB masih ditahan?" tanya Ibunya Aurel.

"Iya, Bu." Aurel mengangguk pelan.

"Semuanya masih menjadi jaminan." Ayah Aurel menarik napas panjang.

"Apakah cicilannya lancar?" tanya Ayahnya Aurel.

Aurel menggeleng pelan. "Setahuku masih berjalan. Tapi aku belum tahu pasti kondisi usahanya sekarang."

Ayahnya Aurel mulai berpikir keras. "Kalau begitu, persoalannya bukan cuma perceraian."

Aurel mengangguk. "Makanya aku takut mengambil keputusan tanpa memahami semuanya. Aku nggak mau nanti karena kami bercerai, justru muncul masalah baru soal utang."

Ayahnya Aurel menatap putrinya dengan serius. "Dengarkan Bapak. Jangan terburu-buru menandatangani apa pun lagi. Dan jangan menyerahkan dokumen apa pun sebelum kamu benar-benar tahu akibat hukumnya."

Aurel mengangguk. "Aku mengerti, Pak."

"Kalau memang nanti kalian berpisah, semua persoalan ini harus diselesaikan dengan jelas. Tidak boleh hanya berdasarkan omongan." Kata Ibunya sambil menggenggam tangan Aurel.

"Kamu juga harus tahu berapa sisa pinjamannya. Berapa cicilan yang masih berjalan. Dan untuk apa saja uang itu dipakai." lanjut Ayahnya.

Aurel memejamkan mata. Selama ini ia memang tidak pernah terlalu ikut campur soal usaha Mahesa. Ia hanya tahu suaminya membutuhkan tambahan modal. Dan sebagai istri, ia memilih percaya. Kini ia baru menyadari, kepercayaan tanpa mengetahui kondisi keuangan keluarga secara menyeluruh bisa menjadi bumerang.

"Aku akan cari tahu semuanya." Suara Aurel terdengar lebih tegas.

"Bukan karena aku ingin mempersulit Mahesa. Tapi karena aku harus melindungi diriku dan Raka." kata Aurel.

Ayahnya mengangguk pelan. "Itu keputusan yang benar."

Di dalam hati, Aurel mulai menyadari satu kenyataan. Perceraian bukan hanya tentang mengakhiri hubungan suami istri. Ada banyak hal lain yang harus dihadapi. Anak. Harta. Utang. Dan masa depan. Semuanya kini saling berkaitan.

Sementara itu, di tempat lain, Mahesa belum menyadari bahwa persoalan terbesar yang akan ia hadapi bukan hanya kehilangan kepercayaan Aurel. Melainkan menghadapi kenyataan bahwa semua keputusan keuangan yang selama ini mereka ambil bersama, kini akan menjadi bagian dari proses yang jauh lebih rumit daripada sekadar mengucapkan kata berpisah.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!