Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Amarah sang Ayah
Sepanjang langkah kaki mereka menyusuri koridor lantai VIP, lutut Jovan rasanya seperti jeli yang lembek dan bergetar. Di belakangnya, Hamidah berjalan setengah berlari sembari terus memeluk tas rajutnya, sementara Bang Junet melangkah santai dengan bunyi hentakan khas sandal jepit Swallow yang beradu dengan lantai pualam rumah sakit yang mengilap.
Beberapa perawat yang melintas sempat melirik heran ke arah kaki Bang Junet, namun Jovan sudah terlalu lelah untuk merasa malu. Kepalanya sudah penuh dengan bayangan surat PHK dari Pak Teddy jika ia salah langkah.
"Van, masih jauh? Di mana anakku? Kamu ini jangan bikin Akak jantungan!" desak Hamidah, suaranya yang melengking cemas sukses menggema di koridor yang sepi itu.
"Sabar, Kak. Di depan itu, kamar empat ratus satu," jawab Jovan pasrah, menunjuk pintu kayu jati yang kokoh di ujung lorong.
Begitu mereka sampai di depan pintu, Jovan menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuknya dengan sangat sopan.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," terdengar suara berat dan berwibawa Tuan Wijaya dari dalam.
Jovan memutar knop pintu. Saat pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar VIP 401 langsung tersaji dengan jelas.
Aira masih terbaring pulas di atas ranjang dengan selang infus nutrisi terpasang di punggung tangannya. Sementara di samping ranjang, Teddy duduk dengan wajah yang sedikit kusut, matanya yang tajam langsung mengarah ke pintu. Di sudut ruangan, Tuan Wijaya dan Nyonya Mirna sedang menyesap teh hangat di sofa.
"Aira?!" pekik Hamidah. Akhirnya, ia tak bisa menahan diri setelah melihat sang putri kesayangannya terbaring lemas terpasang jarum infus.
Hamidah langsung menerobos masuk, mengabaikan keberadaan siapa pun yang ada di sana. Ia langsung berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Aira yang bebas dari infus.
"Ya Allah, Aira ... Anak gadis Ibuk ... Kenapa bisa sampai begini, Nak? Pucat betul mukamu ini," ratap Hamidah, matanya mulai berkaca-kaca melihat kondisi putrinya.
Junet pun menyusul di belakang istrinya. Wajahnya awal tampak santai kini tampak tegang. Sepasang matanya menatap tajam ke arah Teddy yang berada di posisi paling dekat dengan putrinya.
Nyonya Mirna dan Tuan Wijaya serentak berdiri dari sofa. Mereka berdua sempat terpaku sesaat melihat penampilan kedua orang yang baru masuk tersebut,terutama sandal jepit hijau pria asing yang tampak sangat mencolok.
"Maaf ... Anda berdua ini orang tua Aira?" tanya Nyonya Mirna lembut, melangkah mendekat dengan anggun.
"Iya, Bu. Saya Hamidah, ibunya Aira. Dan ini bapaknya Aira," sahut Hamidah sembari menyeka sudut matanya, lalu menoleh ke arah Jovan yang masih mematung di ambang pintu. "Jovan! Kenapa anakku bisa pingsan begini? Bukan kah dia hanya sekedar dinas seperti biasa!"
Jovan menelan ludah, matanya melirik cemas ke arah Teddy yang masih diam membisu. "I-itu ... Kak ... Aira kemarin dinasnya sedikit lebih lama dibanding biasa." Jovan memberi kode dengan jemarinya, tetapi wajahnya terlihat ketakutan.
"Tak mungkin kalau cuma sedikit bisa jadi begini?" bentak Junet, tegas. Membuat sepasang suami istri di sudut ruangan menelan saliva dan saling bertatapan.
"Mungkin Aira hanya belum terbiasa saja, Kak, Bang ... Jadi Aira masih butuh penyesuaian," terang Jovan mulai menggunakan kebohongan.
"Ck?!" decak Junet, suaranya yang berat kini terdengar sangat tidak bersahabat. Ia menatap bergantian ke arah Tuan Wijaya dan Teddy.
"Anak kami ini pamit dari kampung untuk jadi perawat menolong orang sakit! Sebenarnya kami telah melarangnya, karena takut hal seperti ini menimpanya. Kalau sudah seperti ini, siapa yang akan bertanggung jawab?!" cecar Junet dengan tegas.
Teddy yang sejak tadi diam, perlahan menegakkan punggungnya. Meskipun kepalanya masih diperban dan tubuhnya belum lelah, ia menatap Junet tanpa ragu.
"Saya, Pak. Saya yang bertanggung jawab atas ini semua" ucap Teddy datar tetapi sangat jantan.
Junet mengernyitkan dahi, menatap piyama rumah sakit yang dikenakan Teddy. "Kamu? Kamu sendiri kan pasien? Jelaskan alasanmu dengan pernyataan itu!"
"Maafkan saya. Saya telah membuat Suster Aira harus berjaga semalaman untuk merawat saya," akunya tanpa membela diri.
Jovan yang berdiri di pintu rasanya ingin menguap saja dari bumi. Gila! Atasannya yang dingin ini, sekarang sedang meminta maaf pada kakak iparnya yang bersandal Swallow!
[ segitu dulu ya Boss ... Authornya lagi kurang sehat 🙏 ]
*bersambung*
ini demi masa depan kita bersama
modus si dikit,tapi kan biar dia mau pak 🤭
biar bebas bisa pegang2 tangannya,,
siapa tau bisa pegang yg lain,,kan mantap
nanti pak junet cepet dapat cucu loh dari Aira..
ke gap camer
apa rasa tu🤭🤣🤣
tinggal dikit lagi aku padamu
sekali nya jatuh cinta lagi
begini ni🤭🤣
disini malah jadi begini
hajaar pak🤣🤣
saya yg tanggung jawab Bu
lahir bathin juga boleh 🤣🤣
dih,ngarep🤭