Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tolong, lepaskan aku...
Revan baru saja hendak berangkat untuk bekerja saat seorang kurir memberikan sebuah amplop coklat kepadanya.
Revan menerimanya dalam kebingungan.
"Siapa mas?" tanya Laura dari ambang pintu.
"Kurir..." sahutnya tanpa melihat kepada Laura.
Laura berjalan mendekat, ingin tahu isi paket yang dipegang oleh Revan.
Keningnya berkerut.
"Kantor pengacara Kenan and Friends...?" gumamnya.
"Kamu ada masalah apa mas? Kok ada surat dari kantor pengacara? Dan kalau nggak salah, itu punya teman kamu kan?" cecar Laura.
Revan tak menjawab, justru tangannya membuka dengan tak sabaran amplop tersebut.
Matanya terpaku pada satu nama.
"Maara Hayuning?" lirihnya.
"Sini, aku mau lihat!" Laura merebutnya dan reaksinya juga sama dengan Revan.
"Dia mau nuntut pisah dari kamu? Dapat uang dari mana dia bisa sewa pengacara itu? Jangan-jangan, uangnya dia dapat dari kartu yang kamu kasih! Benar-benar nggak tahu malu!" hina Laura.
Revan tak kalah murkanya.
Tadinya Revan pikir, jika istri sirinya itu hanya menggertak namun melihat apa yang ia terima saat ini, Revan yakin, jika Maara tidak main-main dengan keputusan ingin berpisah darinya.
"Ya sudahlah mas... Ceraikan saja! Toh sejak awal kamu kan emang nggak pernah menginginkannya... Buat apa ditahan-tahan. Lagipula, jika kalian pisah, dia juga nggak dapat apa-apa karena kalian hanya nikah siri dan tidak terdaftar di hukum negara. Jadi aman buat semua aset kamu..." ujar Laura mencoba memprovokasi.
"Aku berangkat dulu.. Kamu hati-hati dirumah ya...." pamit Revan tanpa menanggapi ucapan istrinya barusan.
Mobil Revan melaju meninggalkan komplek perumahannya.
"Kamu kelihatan marah mas..... Apa kamu mulai menyukainya mas...? Kenapa tidak dilepas saja?" batin Laura menatap lurus ekor mobil Revan yang telah menghilang di ujung komplek perumahan.
****
Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Revan terus gelisah.
Disatu sisi dia senang karena Maara yang akhirnya meminta pisah, namun disisi lain, ada ruang dihatinya yang tidak merelakan hal itu terjadi.
Jika ditanya apakah pernah ada rasa sayang itu terhadap Maara, maka dengan lantang Revan katakan TIDAK.
Dia tidak pernah menyukai Maara sedikitpun.
Sejak awal hanyalah kebencian yang selalu merajai hatinya ketika berada dekat dengan Maara.
Dan ketika perempuan yang ia sangka lemah itu kini berbalik melawannya, Revan merasa murka dan tidak suka.
Sisi egonya terusik.
"Cih... Dasar tidak tahu diuntung! Syukur-syukur kami memungutmu sekarang malah meminta cerai... Kamu pikir, kamu bisa hidup tanpa keluarga Adiyasa... Kita lihat, seberapa tinggi kesombongan mu itu Maara Hayuning"
Tangan Revan menekan sisi stir hingga buku-buku tangannya terlihat.
Rahangnya pun ikut mengeras seiring emosi yang bergemuruh didalam dadanya.
...********^*^*******...
"Apa Revan mau menanda tangani surat tersebut dan memenuhi undangan kita?" tanya Kenan saat laki-laki itu berkunjung ke ruangan Teguh.
Teguh yang tadinya tekun membaca berkas dihadapannya mulai mengambil atensi kepada Kenan.
"Sudah dua hari sejak surat dilayangkan, dan hingga hari ini belum ada itikad baik dari tergugat...." sahut Teguh yang mulai kesal.
"Ck... Dia itu kenapa sih? Tinggal ucap kata talak, udah! Kenapa harus dibuat bertele-tele..." timpal Rio yang ikut nimbrung pada perkumpulan bapak-bapak anak satu itu.
"Apa dia juga cinta sama istri sirinya?" tebak Teguh yang membuat dirinya mendapat tatapan tajam dari Kenan.
"Sabar.. Kan cuma dugaan" ujar Teguh menenangkan sahabatnya.
Rio terkekeh karena sikap dua orang itu namun juga bingung dengan sikap Kenan.
"Kok pak Kenan yang jadi greget sih? Suka ya sama Maara... Kayak istilah 'Ku tunggu jandamu'" goda Rio terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
"Terserah kalian mau ejek aku gimana... Tapi satu hal yang perlu digaris bawahi adalah, ini tentang kemanusiaan. Ini tentang keadilan seorang perempuan lemah yang dimanfaat oleh keluarga kaya demi ego mereka hingga merenggut kebebasan dari seorang perempuan... Ia kalau diperlakukan seperti layaknya istri, kita yang berdosa memisahkan mereka tapi masalahnya, justru sebaliknya... Klien tidak diperlakukan dengan sebagaimana mestinya... Dilanggar semua haknya.. Bukankah itu melanggar undang-undang dan HAM?" kilah Kenan.
Rio dan Teguh membenarkan ucapan Kenan barusan.
Revan serta keluarganya telah menahan kebebasan seorang warga negara dalam dalih pernikahan dan itu melanggar HAM.
"Tadi pagi, sekertaris ku sudah menghubungi tergugat kembali dan mengatur pertemuan. Syukurnya tergugat setuju besok siang ketemu di sini..." seru Teguh.
"Bagus itu... Kita lihat, apa maunya si Revan itu" sela Kenan geram.
"Sabar... Tapi kamu nggak boleh ikut dalam pertemuan!" titah Teguh.
"Loh kenapa? Aku mau lihat muka tengil si Revan!" protes Kenan.
"Yang ada nanti bapak tonjok dia...! Dan posisi Maara jadi sulit karena Revan pasti tuduh dia selingkuh... Jangan deh.. Lagipula, besok pak Kenan ada janji dengan petinggi perusahaan Visitama, dan tak boleh diwakilkan" sergah Rio ketika melihat wajah memelas Kenan yang Rio tebak minta digantikan untuk menemui klien VIP mereka.
Bahu Kenan nampak turun bersamaan nafas kasar yang dia hembuskan.
"Serahkan padaku dan tim.. Aku akan upayakan semuanya agar sesuai dengan keinginan klien..." ujar Teguh menenangkan hati Kenan.
"Tolong Guh... Kasihan dia..."ucap Kenan memelas.
Teguh mengangkat dua jempolnya sebagai jawaban.
...*******^**^*******...
Sesuai yang disepakati sebelumnya, Revan akhirnya bersedia bertemu dengan Maara dikantor Teguh.
Revan tak sendiri, dia didampingi oleh pengacaranya juga.
Entah kenapa, laki-laki itu seperti sedang mempersulit semuanya.
Maara datang dengan penampilan terbaiknya.
Hijab hijau toska muda dipadu dengan abaya hitam membuat penampilannya begitu mewah.
Setelah tak lagi tinggal dirumah kediaman Revan, hidup Maara pelan-pelan mulai tertata kembali.
Dia sudah tak lagi over thinking seperti sebelumnya. Berat badannya juga sudah mulai kembali naik meski tak terlalu. Tapi cukup membuat wajahnya terlihat segar.
Maara datang bersama Lisa karena hanya perempuan itu orang yang dekat dengannya layaknya saudara kandung.
"Yang... Jangan gitu ngelihatnya... Takut baby aku didalam perut kamu mirip dia sifatnya... ih.. ngeri" bisik Rio agar wajah Lisa tidak terlalu terlihat kesal pada Revan.
"Ih... amit-amit mas... Tak sudi aku...!" Lisa bergidik ngeri sambil mengusap perutnya yang berisi calon bayi mereka, buah cinta keduanya.
"Selamat siang pak Teguh dan nona Maara... Perkenalkan, saya Ajeng, pengacara pak Revan yang akan mendampingi selama pertemuan ini..." ujar seorang perempuan muda yang datang bersama Revan.
"Selamat siang juga nona Ajeng.... Kita mulai saja agar lebih singkat" sambut Teguh mewakili Maara.
"Klien kami, nona Maara Hayuning ingin mengajukan cerai terhadap klien anda, pak Revan Adiyasa. Dan dikarenakan pernikahan keduanya masih berstatus siri, maka hanya bisa dilakukan secara khulu yakni gugat cerai dari klien kami nona Maara Hayuning.. Tapi jika pak Revan bersedia kerja sama, dengan mengucapkan kata talak, maka ini jauh lebih mempermudah semuanya..." terang Teguh.
Revan menatap kearah Maara.
Bukan tatapan ramah atau penyesalan melainkan sebuah tatapan meremehkan. Setidaknya itu yang Maara tangkap apalagi setelah mendengar hinaan yang dilontarkan oleh Revan.
"Apa segitunya ingin pisah? Apa jangan-jangan kamu sudah ada laki-laki lain makanya tidak sabaran ingin pisah?" tuding Revan yang membuat suasana menjadi semakin tegang.
Teguh yang merasa situasi kurang kondusif bagi kliennya, kembali pasang badan.
"Bukankah anda sendiri yang sedang berkhianat dengan menikahi kekasih anda, pak Revan Adiyasa? Lalu dimana letak salahnya klien kami yang meminta cerai? Lagipula, dari pengakuan klien kami, jika selama beberapa bulan kalian menikah, tak pernah sekalipun anda melakukan kewajiban sebagai seorang suami kecuali hanya memberi nafkah lahir berupa uang bulanan dan itupun tidak digunakan sepenuhnya oleh klien kami... Selama ini klien kami hidup dari gaji hasil bekerja menjadi tenaga pengajar disebuah sekolah... Apa itu adil bagi klien kami, pak Revan Adiyasa?" tutur Teguh dengan nada mengintimidasi khas seorang pembela bagi kliennya.
Ajeng menoleh kearah Revan.
Dia baru tahu fakta ini karena Revan tak menceritakannya secara detail.
"Maaf pak Teguh... Jangan menyudutkan klien kami..." sela Ajeng tetap profesional membela kliennya, orang yang membayarnya.
"Bukan menyudutkan nona Ajeng, tapi ini fakta dari kisruh rumah tangga klien kami... Klien kami hanya menuntut kata cerai, kenapa harus dipersulit seperti ini. Lagipula, klien kami juga tidak menuntut harta gono-gini karena pernikahan keduanya belum terdaftar secara hukum negara..." Teguh menatap Revan yang duduk diseberangnya "Bagaimana pak Revan? Bukankah lebih baik dipersingkat saja karena jika tidak, pasti akan rumit dan itu akan membuang-buang waktu anda yang berharga. Dan jika anda masih bersikeras, maka besar kemungkinan pernikahan siri anda akan tercium oleh atasan anda, terlebih-lebih mertua anda, pak Adi Nugraha.. Bukankah lebih dipermudah saja" ujar Teguh lagi sehingga membuat Revan terdiam dan kalah telak.
Otaknya membenarkan ucapan dari pengacara Maara ini namun egonya yang setinggi langit menolak mengakuinya.
"Aku hanya ingin cerai mas... Kenapa harus dipersulit? Bukankah sedari awal mas sendiri yang bilang, jika aku ingin pisah, maka mas akan kabulkan... Mas jangan khawatir, setelah ini aku tidak akan pernah mengusik keluarga mas Revan ataupun juga bu Mira... Aku juga nggak akan nuntut apapun... Tolong, dipermudah saja mas..." sela Maara pelan dan tenang tapi membuat semua orang yang berada disana tergugah hatinya.
Maara nampak merogoh isi tas miliknya lalu mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Ini kartu ATM yang tempo hari mas kasih, sekarang aku pulangkan... Saldonya kemarin sempat aku pakai 300 ribu tapi sudah aku ganti...." ujar Maara menggeser sebuah kartu dari salah satu bank swasta.
Lisa menekan sisi dress yang dia kenakan.
Rasanya tak kuat melihat ketegaran dari sahabatnya yang sudah sangat di dzolimi oleh laki-laki yang berstatus suaminya.
Bersambung....