NovelToon NovelToon
Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."

Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.

Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.

Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...

Angin badai langsung menampar wajah Julian begitu pintu rumah tertutup. Dinginnya luar biasa ekstrem, seolah ribuan jarum es menusuk pori-pori kulitnya secara serentak.

Baru saja ia berjalan lima puluh meter menjauh dari halaman rumah, gigi Julian sudah bergeletukan dengan brutal, dan pandangannya mulai kabur terhalang tirai putih salju yang tebal.

Julian mendadak menghentikan langkahnya di tengah jalan setapak yang sepi. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang gemetaran, lalu melongo menatap hamparan putih di depannya dengan tatapan kosong.

Tunggu... batin Astra merana, mendadak tersadar dari delusi kerennya sebagai pahlawan novel. Aku... mau ke mana, anjir? Rumah si Petrisa itu di sebelah mana pula?!

Astra menepuk jidatnya sendiri dengan frustrasi. Bodoh! Saking emosinya terbakar oleh hasutan Anima dan rasa bersalah sebagai author, dia sampai lupa menanyakan detail paling krusial yaitu alamat rumah targetnya sendiri!

Alhasil, sekarang dia malah terdampar di tengah-tengah badai salju seperti orang hilang arah, sukses merusak atmosfer dramatis yang sudah ia bangun dengan susah payah satu menit yang lalu.

Wush...

"Hahaha! Luar biasa, Author-ku sayang!" tawa Anima membahana, ia muncul sambil memegangi perutnya di atas gundukan salju.

"Adegan pergi dengan kerennya tadi langsung hancur lebur gara-gara kamu pikun! Gak jadi keren deh!"

"Benar-benar tindakan yang impulsif dan tidak rasional," timpal Animus, ia juga muncul di samping Julian sambil menatapnya datar penuh penghinaan.

"Kau mau melabrak pencuri tanpa tahu lokasinya, tanpa senjata, dan dengan kondisi fisik yang hampir mati beku. Pahlawan macam apa kau ini?"

"Berisik kalian! Udah ah! Aku mau balik!" desis Julian ketus, menahan malu yang teramat sangat.

Tanpa membuang waktu lagi sebelum telinganya benar-benar lepas karena radang dingin, Julian berbalik arah. Ia berlari canggung menerobos salju, kembali menuju rumah Yisla.

Krieeek!

Pintu depan dibuka dengan kasar. Julian menerobos masuk sambil menggigil hebat, menyemburkan uap putih tebal dari mulutnya.

Yisla yang sedang duduk lesu di dekat tungku langsung melompat berdiri dengan wajah syok.

"Julian?! Kamu... kamu kok sudah kembali? Ada apa? Apa ada orang jahat di luar?!" tanya Yisla panik, buru-buru menghampirinya.

Julian tidak menjawab. Wajahnya merah padam—kombinasi antara kedinginan ekstrem dan rasa malu yang mendarat di ubun-ubunnya. Tanpa babibu, ia mengabaikan tatapan bingung dari Yisla dan langsung melangkah menuju kamar Vito di bagian belakang.

"Julian? Kamu mau ngapain?" Yisla mengekor di belakangnya dengan dahi berkerut heran.

Julian membuka pintu kamar Vito, matanya langsung tertuju pada dinding kayu tempat busur panah cadangan dan sebilah pisau berburu yang agak panjang tergantung dengan rapi.

Dengan gerakan cepat, Julian menyambar sabuk kulit beserta sarung pisau tersebut, lalu meraih busur dan sekantung anak panah di sudut ruangan.

"Yisla, aku pinjam ini sebentar," ujar Julian sambil memasang sabuk pisau itu ke pinggangnya dengan canggung. Suaranya mencoba dibuat tegas, berusaha menutupi fakta kalau dia baru saja melakukan kebodohan.

Melihat Julian yang mendadak mempersenjatai diri, raut wajah Yisla langsung berubah drastis. Kesedihannya menguap, digantikan oleh rasa ngeri.

"Julian, jangan katakan kalau kamu mau ke rumah Bibi Petrisa?! Kamu mau nekat ya?!"

Julian menghela napas, ia berbalik menatap Yisla. "Barang-barang ibumu harus kembali, Yisla. Dan perempuan tua itu harus dikasih pelajaran."

"Kalau begitu aku ikut!" seru Yisla tanpa ragu, langsung menyambar jubah hangatnya yang tergantung di dekat pintu kamar.

"Aku tahu jalan ke rumahnya, dan aku nggak bakalan membiarkanmu pergi sendirian dengan senjata seperti ini!"

"Nggak boleh!" potong Julian cepat. Ia melangkah maju, menghalangi jalan Yisla dengan tatapan serius.

"Kamu tetap di sini, Yisla. Kak Vito menyuruhku untuk menjagamu, bukan membawa kamu ke tempat bahaya. Cukup beri tahu aku jalannya, dan biarkan aku yang menyelesaikan sisanya."

"Kalau kamu nekat pergi sendiri, aku akan kunci kamu di luar sampai Kak Vito pulang!" ancam Yisla dengan mata berkaca-kaca, namun penuh tekad.

Julian menatap Yisla. Kekeras kepalaan gadis itu tak bisa ditawar lagi. Akhirnya, Julian menghela napas panjang lalu mengalah.

"Oke, oke. Kamu ikut. Tapi janji, tetap di belakangku!"

...***...

Di tengah perjalanan menembus badai, Julian terengah-engah menahan beban dingin. Tiba-tiba, Duo Hemisphere bersaudara itu muncul kembali, mereka berjalan santai di atas salju tanpa kedinginan sama sekali.

"Kasihan sekali, Author," ejek Animus. "Untuk apa bersusah payah dengan busur kuno itu?"

Anima menjentikkan jarinya, memunculkan dua pistol yang tiba-tiba muncul dan langsung di tangkap olehnya.

Hap!

"Bagaimana kalau ini? Senjata api modern, sekali tembak, musuh langsung tumbang."

"Tawaran yang cukup menggiurkan, bukan?" tambah Animus dengan seringai tipis.

"Tapi ingat, sekali kau menyentuh benda itu, genre cerita ini akan terkunci permanen ke genre Action. Kau tahu sendiri konsekuensinya—Yisla bisa jadi korban tembak peluru nyasar, apa kau siap menanggung risikonya?"

Julian menatap pistol itu, lalu menatap tangan Yisla yang gemetaran memegang lengannya demi menjaga keseimbangan.

Action? Gak dulu, pikir Astra tegas.

"Simpan mainan sampah kalian!" bentak Julian pada udara kosong, membuat Yisla terlonjak kaget.

"J-Julian? Kamu bicara sama siapa?" tanya Yisla cemas.

Julian buru-buru menggeleng dengan cepat. "Bukan siapa-siapa. Ayo, kita selesaikan ini dengan cara yang lebih elegan, Yisla."

Ia mempererat genggaman pada busurnya, menolak tawaran maut yang akan mengubah takdir ceritanya menjadi tragedi penuh peluru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!