Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.
Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.
Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.
Salah satunya adalah kakek Shen yifan.
Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Belajar bersama membuat pil Part 1
Cahaya matahari pagi perlahan menembus sela-sela jendela, membangunkan Nangong dari tidurnya.
Nangong yue melihat Shen yifan masih terlelap tidur, beberapa meter dari nangong yue. Karena hari ini mereka akan belajar bersama, jadi nangong yue membangunkan Shen yifan.
"Yi Fan! Bangun!"
"Hmmm?" Shen yifan mendongak sedikit. "Lima menit lagi." Suara malas Shen yifan.
"Kamu sendiri yang bilang kita akan belajar bersama hari ini." sahut Nangong yue sambil terus membangunkan Shen yifan.
Beberapa menit kemudian.
"Iya... Yue aku aku bangun!"
Shen yifan langsung berdiri dan berjalan mencari gentong air, untuk mencuci muka.
Tidak lama, Shen yifan kembali ke tempat nangong yue, duduk bersamanya.
"Nah yue, karena kita akan belajar bersama, kita harus mencari dulu tanaman herbalnya." sahut Shen yifan.
"Itu tidak perlu, Yi fan!" Nangong yue tersenyum indah di pagi hari, di depan Shen yifan.
"Hah? Kenapa? Sebelum kita membuat pil kita harus-"
Sebelum Shen yifan melanjutkan pembicaraanya, ia langsung mengerti.
Nangong yue mengalirkan sedikit Qi spiritual ke dalam cincin spasial yang melingkar di jarinya. Seketika cahaya lembut berkilau, diikuti kilatan demi kilatan yang memenuhi meja kayu di hadapan mereka.
"Nah yue, enak yah punya cincin spasial." Shen yifan Melihat cincin spasial itu, ia hanya bisa menatap iri. Sejak kecil ia selalu bermimpi memiliki sebuah cincin spasial sendiri untuk menyimpan tanaman herbal.
"Kalau kamu mau, aku tinggal minta sama keluarga." Nangong yue terkekeh, melihat Shen yifan seperti anak kecil pengen sesuatu.
(Anak orang kaya sangat menakutkan.) gerutu Shen yifan dalam hatinya.
Setelah cahaya berkilau menghilang, mata Shen yifan langsung menatap tidak percaya, tubuhnya terdiam. Satu demi satu tanaman obat bermunculan. Akar-akar spiritual yang masih dibalut tanah hitam, bunga-bunga dengan kelopak sebening kristal, buah-buahan berwarna merah menyala, hingga batang-batang herbal yang memancarkan energi spiritual murni tersusun memenuhi meja. Aroma herbal yang begitu pekat langsung memenuhi seluruh ruangan, membuat udara yang semula pengap berubah menjadi segar.
Tanpa sadar ia berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati meja dengan langkah cepat. Tangannya yang semula terdiam, kini sedikit gemetar saat mengambil sebatang tanaman berdaun hijau kebiruan.
"Rumput Embun Seribu Tahun..." gumamnya lirih.
Belum sempat tanaman itu diletakkan kembali, tangannya sudah berpindah ke bunga lain yang memancarkan cahaya ungu lembut.
"Teratai Hati Giok..."
Lalu berpindah lagi.
"Akar Roh Bintang..."
Semakin lama napas Shen Yifan terdengar semakin cepat. Matanya berkeliling ke seluruh isi meja, seolah tidak tahu harus melihat yang mana terlebih dahulu. Di dalam benaknya, nama demi nama tanaman yang selama ini hanya ia baca di buku muncul silih berganti.
"Astaga. Bunga Jiwa Bulan."
"Buah Api Matahari..."
"Jamur Seribu Musim..."
"Bahkan. Daun Kabut Roh juga ada?"
Shen Yifan menelan ludah. Ia memandangi seluruh tanaman itu dengan wajah yang sulit menyembunyikan rasa kagumnya. Baginya, setiap tanaman di atas meja jauh lebih berharga daripada tumpukan batu spiritual ataupun senjata tingkat tinggi.
Nangong Yue yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya hanya memiringkan kepala pelan.
"Yi Fan... kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan itu membuat Shen Yifan tersadar. Ia menoleh perlahan, tetapi sorot matanya masih sesekali melirik tanaman-tanaman di atas meja.
"Baik?" ulangnya pelan. "Bagaimana mungkin aku tidak baik."
Ia kembali menatap meja itu dengan mata berbinar.
"Tanaman-tanaman ini... semuanya langka."
Nada suaranya terdengar jauh lebih serius daripada ketika membahas kultivasi ataupun musuh yang sedang memburu mereka.
"Kalau tanaman ini muncul di pelelangan, para alkemis bisa saling bunuh hanya untuk mendapatkannya."
Ia mengangkat Bunga Jiwa Bulan dengan kedua tangan, memperlakukannya seolah sedang memegang harta paling berharga di dunia.
"Yang ini bahkan... Aku cuma pernah melihat gambarnya di buku peninggalan kakek."
Nangong Yue mengikuti arah pandang Shen Yifan, lalu menjawab dengan santai. "Benarkah? Bukankah itu tanaman yang cukup banyak?"
Shen Yifan perlahan menoleh.
"Banyak?"
"Iya." Yue mengangguk polos. "Di kebun keluargaku masih ada cukup banyak tanaman seperti ini."
Ruangan mendadak hening.
Shen Yifan membeku di tempatnya.
Sudut bibirnya sedikit berkedut, sementara tatapannya kosong menatap Yue, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
"Kebun?"
"Iya."
"Banyak?"
"Iya."
Shen Yifan menundukkan kepala, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menghela napas panjang.
"Orang kaya memang menakutkan."
Yue tidak mampu lagi menahan tawanya. Tawa kecil yang lembut memenuhi ruangan. Melihat Yue tertawa, Shen Yifan hanya bisa tersenyum kecut sambil kembali menatap tanaman-tanaman di atas meja. Di matanya, benda-benda itu jauh lebih menarik daripada segala harta dunia.
Beberapa saat kemudian, ia menarik kursinya mendekat ke meja dan mengusap perlahan salah satu daun herbal itu dengan ujung jari.
"Kalau begitu," ucapnya pelan, kali ini dengan ekspresi seorang alkemis yang benar-benar serius, "pelajaran pertama dimulai dari sini. Sebelum belajar membuat pil, seorang alkemis harus belajar menghargai setiap tanaman obat. Karena di dalam setiap helai daun, batang, akar, bahkan aromanya, selalu ada cerita yang tidak bisa dibaca hanya dari sebuah buku."
Setelah itu, Shen Yifan mulai mengajarkan dasar-dasar yang selama ini diwariskan oleh kakeknya. Ia tidak terburu-buru menjelaskan nama ataupun khasiat setiap tanaman, melainkan mengajarkan cara mengamati, menyentuh, mencium aroma, hingga merasakan aliran energi spiritual yang tersembunyi di dalamnya. Bagi Shen Yifan, seorang alkemis yang baik bukanlah orang yang langsung memasukan tanaman herbal kedalam tungku, melainkan seseorang yang mampu memahami kehidupan yang terkandung di dalam setiap tanaman herbal.
"Jadi, walaupun tanaman herbal tingkat rendah, jika di kelola dengan baik untuk di jadikan pil, semua itu jadi berharga dan bermanfaat?" sahut Nangong yue.
"Betul sekali. Tapi, bagaimana kita mengandalkan api untuk melebur dan menghilangkan impuritas tanaman herbal itu. Tekanan api dan energi spiritual harus presisi, setiap gerakan kita harus punya nilai yang bagus." jawab Shen yifan serius.
Nangong yue menganguk.
......................
Tanpa terasa, waktu terus berlalu. Cahaya matahari pagi, berganti menjadi siang, tetapi semangat belajar Nangong Yue tak sedikit pun berkurang. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa jalan seorang alkemis ternyata jauh lebih luas daripada sekadar meracik pil di dalam tungku.
"Nah yue, kamu punya tungku kan? Sepertinya pemahamanmu sangat bagus, sehingga kamu mengingat semuanya. Jadi sekarang kita akan mulai membuat pil!" sahut Shen yifan.
"Aku punya, sebentar." Nangong yue mulai mengalirkan energi spiritual kedalam cincinnya.
Cahaya keemasan memenuhi ruangan. Sebuah benda raksasa perlahan muncul hingga memenuhi hampir setengah ruangan.
Dua kaki penyangga setinggi dada orang dewasa menghantam lantai dengan suara berat.
Shen Yifan refleks mundur dua langkah.
"B-besar sekali."
Di hadapannya berdiri sebuah tungku alkimia berwarna perunggu tua setinggi hampir tiga meter. Permukaannya dipenuhi ukiran naga dan burung phoenix yang saling melilit, sementara puluhan rune kuno berpendar redup di setiap sisinya. Empat kepala naga menjadi pegangan tungku, seolah menopang seluruh badan tungku yang tampak megah dan penuh wibawa.
Aura spiritual yang dipancarkan tungku itu bahkan membuat udara di sekitarnya sedikit bergetar.
Shen Yifan menelan ludah.
"Ini tungku apa rumah?"
Nangong Yue memiringkan kepala. "Rumah?"
"Iya. Kalau aku masuk ke dalamnya, mungkin masih bisa pasang kasur." sahut Shen yifan sedikit bercanda.
Yue menutup mulutnya, menahan tawa.
"Ini tungku standar keluargaku."
"..."
Shen Yifan menatap tungku itu beberapa saat sebelum kembali menoleh ke Yue.
"Standar?"
"Iya."
"..."
Shen Yifan menghela napas panjang."Orang kaya memang sulit dimengerti."