NovelToon NovelToon
The System'S Guide To Ruining The Villainess

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DinaRyu

Up setiap hari

Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.

Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.

Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.

Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.

Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 13: Keluarga Menjijikan

System Glitch

Waktu: 07:50 AM

Lantai 40 Gedung Rosewood Media biasanya menjadi tempat yang paling tenang, dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan tanpa suara dan berbicara dengan nada berbisik.

Namun pagi ini, udara di lantai eksekutif itu terasa seperti ditarik kencang, siap putus kapan saja.

Stella Odette Rosewood melangkah keluar dari lift pribadi VIP.

Penampilannya hari ini lebih santai namun tetap mematikan: kemeja sutra berwarna burgundy yang dimasukkan ke dalam celana panjang palazzo hitam berpotongan pinggang tinggi.

Rambut bergelombangnya dibiarkan tergerai menutupi sebagian punggungnya, memancarkan wangi White Tea & Peony yang kini menjadi identitas barunya.

"Kau ingat misimu pagi ini, Host?" Vix melayang di atas bahu kiri Stella, menguap lebar.

"Rebut kursimu. Jangan sampai paman tua berlemak itu membawa kabur dokumen penting."

"Tenang saja, Rubah. Aku sudah meminta pengacaraku menyegel semua brankas malam tadi," jawab Stella santai.

Ia tiba di depan pintu kayu ganda bertuliskan 'Ruang Direktur Utama'. Tanpa repot-repot mengetuk, Stella mendorong kenop pintu dan melangkah masuk.

Pemandangan di dalam ruangan itu membuat langkah Stella terhenti sejenak. Alisnya bertaut, menangkap sebuah kejanggalan yang membuat perutnya tiba-tiba merasa mual.

Di dalam ruangan yang berantakan oleh tumpukan kardus packing, Paman Arthur sedang berdiri bersandar di meja kerjanya dengan wajah frustrasi.

Namun, yang membuat Stella mengernyit adalah Chloe. Adik tirinya itu berdiri terlalu dekat –sangat dekat– dengan sang paman.

Tangan Chloe yang ramping sedang merapikan dasi Arthur, lalu jemarinya meluncur turun dan berlama-lama di dada pria paruh baya itu dengan gerakan yang terasa sangat... intim.

Mata Chloe menatap pamannya dengan pandangan memuja yang biasanya ia tunjukkan pada Neo.

Mendengar suara pintu terbuka, keduanya terlonjak kaget seolah baru saja tersengat listrik.

Chloe mundur dua langkah dengan sangat cepat, wajahnya memerah, sementara Paman Arthur salah tingkah dan buru-buru mengambil tumpukan map dari atas meja.

"O-oh, Kak Stella!" Chloe memekik kecil, buru-buru memasang kembali topeng wajah polosnya.

"K-kau sudah datang. Aku sedang... membantu Paman Arthur merapikan barang-barangnya. Dia terlihat sangat stres karena gertakan mu kemarin."

Stella menyipitkan matanya. Otak cerdasnya dari kehidupan masa lalu memproses bahasa tubuh mereka. Gerakan panik. Jarak yang terlalu dekat.

Sentuhan yang tidak wajar antara paman dan keponakan.

Ada yang sangat kotor di balik dinamika keluarga ini, dan Stella bersumpah akan membongkarnya perlahan-lahan.

Namun untuk saat ini, Nona Tengil itu memutuskan untuk bermain santai.

"Merapikan barang, ya?" Stella melangkah masuk, suara hak sepatunya mengetuk lantai kayu dengan ritme dominan.

Senyum miring yang luar biasa menyebalkan terbit di bibirnya.

"Manis sekali. Tapi kalau tanganmu terus berada di dada Paman Arthur seperti tadi, aku khawatir Bibi Martha akan salah paham kalau melihat rekaman CCTV ruangan ini."

Wajah Paman Arthur langsung seputih kertas. "A-apa maksudmu, Stella?! Jangan bicara sembarangan! Chloe hanya menenangkan ku sebagai keluarga yang baik!"

"Tentu saja," Stella mengangkat bahu cuek, berjalan memutari meja kerja besar itu.

"Aku tidak peduli mau kalian bermain keluarga bahagia atau apa pun di luar sana. Tapi di ruangan ini, waktumu sudah habis, Paman. Jam delapan tepat. Bawa kardus rongsokan mu keluar dari kantorku. Sekarang."

Arthur mengertakkan giginya. Ia menatap Stella dengan penuh kebencian, namun tak bisa berbuat apa-apa karena dokumen penggelapan dana yang disandera wanita itu.

Dengan kasar, ia mengangkat kardusnya, disusul oleh Chloe yang menunduk sambil menggigit bibir sempat memberikan satu tatapan tajam beracun ke arah Stella sebelum menghilang di balik pintu.

"Keluarga yang menjijikkan," gumam Vix, mendarat di atas kursi kulit kebesaran CEO.

"Mereka memang ular," balas Stella sambil membuka jendela besar di belakang meja kerja untuk membiarkan udara pagi masuk, membuang bau apek dari pamannya.

"Tapi itu urusan nanti. Sekarang, takhta ini milikku."

Stella baru saja akan duduk dan menikmati kemenangan kecilnya ketika sebuah layar holografik biru menyala terang tepat di depan wajahnya.

Bunyi ding yang melengking membuat telinganya berdenging.

[ Misi Harian Absurd Diaktifkan! ]

[ Host terdeteksi terlalu menikmati wibawa sebagai CEO. Sistem menganggap ini membosankan. ]

[ Misi: Saat tamu tak diundang pertamamu melangkah melewati pintu ruangan ini, tawarkan dia permen jeli beruang (gummy bear) warna merah muda dengan senyuman termanis dan kedipan sebelah mata. ]

[ Hadiah: 25 Poin Karma. ]

[ Hukuman Gagal: Host akan mengalami cegukan yang berbunyi seperti suara bebek selama 24 jam nonstop. ]

Rahang Stella nyaris jatuh ke lantai. Ia menatap layar itu, lalu menatap Vix yang kini sedang berguling-guling memegang perutnya yang berbulu putih, menertawakan kemalangan Stella.

"Apa-apaan ini, Rubah Sialan?!" Stella mendesis marah, nyaris melempar vas bunga ke arah Vix.

"Cegukan suara bebek?! Kau mau menghancurkan wibawa ku di hari pertamaku bekerja?!"

"Itulah inti dari misi absurd, Nona Cegil!" Vix tertawa puas.

"Lagipula, dari mana aku tahu siapa yang akan datang? Mungkin hanya kurir pengantar paket atau sekretaris pamanmu. Tinggal kasih saja permennya dan kedipkan mata. Mudah, kan?"

"Dari mana aku dapat permen jeli beruang pagi-pagi begini, hah?!"

Plop.

Sebuah bungkus plastik kecil tiba-tiba jatuh dari udara dan mendarat tepat di atas meja mahoni di depannya.

Di dalamnya terdapat selusin permen jeli beruang beraneka warna.

Stella memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut nyeri.

Ia benar-benar ingin menumis rubah ekor sembilan ini menjadi lauk makan siangnya.

Dengan kasar, Stella merobek bungkus plastik itu, mencari satu-satunya permen beruang berwarna merah muda, dan meletakkannya di atas meja. Ia bersiap.

Siapa pun staf malang yang masuk pertama kali ke ruangan ini akan mendapat mimpi buruk seumur hidup karena melihat bos barunya mengedipkan mata sambil menawarkan permen anak-anak.

Namun, dunia sepertinya memang senang melihat Stella menderita.

Waktu: 08:50 AM

Lobi Utama Rosewood Media

Karyawan di lantai dasar langsung membelah jalan seperti Laut Merah ketika pintu kaca otomatis terbuka.

Udara di lobi yang tadinya bising mendadak senyap, seolah oksigen baru saja disedot paksa keluar dari gedung itu.

Neo Hayes Blake melangkah masuk.

Dibalut setelan jas hitam charcoal yang dipotong sempurna dengan kemeja hitam tanpa dasi, pria itu tampak seperti dewa kematian yang turun ke bumi untuk mencabut nyawa.

Posturnya yang tegap dan dominan, serta tatapan mata obsidiannya yang sedingin es, membuat lutut para karyawan bergetar.

Aroma Dark Musk dan Leather yang pekat langsung menguasai ruangan, membungkam siapa pun yang berani bernapas di dekatnya.

Di belakangnya, Liam dan empat pengawal bertubuh kekar mengikuti dengan langkah sinkron.

"T-Tuan Blake!" Manajer lobi berlari menghampiri dengan peluh sebesar biji jagung menetes di dahinya.

"S-selamat datang! Kami tidak mendapat pemberitahuan bahwa Anda akan berkunjung hari ini. P-Plt Direktur Utama kami sedang dalam masa transisi"

"Aku tidak datang untuk bertemu paman tua yang tidak berguna itu," potong Neo, suaranya berat dan serak, bergema di lobi yang sunyi.

"Lantai 40. Aku akan naik sekarang."

Tanpa menunggu persetujuan, Neo melangkah menuju lift eksekutif. Tidak ada satu pun yang berani menghentikannya.

To be Continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!