menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Perubahan Tak Kasatmata.
Matahari pagi di pinggiran Hutan Roban mulai meninggi, membiaskan cahaya menembus sela-sela daun pohon loa yang masih basah sisa hujan semalam. Erlang berjalan kaki menyusuri jalan setapak tanah liat yang becek. Di pundaknya, terikat sebilah bambu yang memikul buntalan kain lusuhnya.
Anehnya, meski jalanan menanjak dan berlumpur tebal, langkah kaki Erlang terasa sangat enteng. Sepatu kainnya yang sudah bolong-bolong seolah hampir tidak menapak dalam-dalam di lumpur. Sambil berjalan, Erlang terus mempraktikkan pola napas dari kitab tanpa nama yang ia pelajari semalam, empat hitungan masuk, tahan di pusar, lalu embuskan halus.
"Aneh ya," gumam Erlang pada diri sendiri sembari memandangi pepohonan sekeliling. "Biasanya kalau jalan menanjak bawa pikulan begini, paru-paruku rasanya mau copot. Ini kok jangankan ngos-ngosan, keringat saja malas keluar."
Erlang tidak menyadari bahwa di dalam tubuhnya sedang terjadi perombakan besar-besaran. Aliran darahnya mengalir lebih cepat namun sangat teratur, membersihkan segala sisa kelelahan. Jantungnya berdetak lambat dan stabil, sementara di dalam rongga dadanya, fondasi energi murni alam semesta telah mengakar tanpa batas. Setiap embusan napasnya kini secara otomatis menyedot hawa murni dari alam sekitarnya.
Di tengah lamunannya, dari arah tikungan depan, terdengar suara tawa renyah dan derap langkah kaki beberapa orang. Erlang menghentikan langkah, menepi ke pinggir semak-semak. Tak lama, muncul tiga orang pencari kayu bakar lokal yang sedang berjalan turun membawa kapak dan tali tambang.
"Eh, Le! Mau ke mana kamu jalan sendirian ke arah atas?" tanya salah satu pencari kayu, seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan handuk kecil melingkar di lehernya.
Erlang tersenyum ramah, membungkuk sedikit. "Nyuwun sewu, Paman. Saya mau melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Apakah jalan setapak ini benar bisa tembus ke kadipaten sebelah?"
Pencari kayu bertubuh gempal itu saling berpandangan dengan dua temannya, lalu menatap Erlang dari atas sampai bawah dengan tatapan heran. "Benar sih tembus ke kadipaten. Tapi kamu ini jalan kaki dari mana? Buntalanmu kempes begitu, sepertinya tidak bawa bekal banyak."
"Saya dari lereng Gunung Lawu, Paman. Sudah jalan sekitar dua minggu lebih," jawab Erlang polos tanpa beban.
"Hah?! Dari Lawu sampai ke pinggir Hutan Roban ini jalan kaki?" Teman si pencari kayu, seorang lelaki kurus jangkung, melotot tidak percaya. "Le, Lawu ke sini itu jauhnya bukan main! Lewat bukit, lewat hutan lebat. Kamu jalan kaki dua minggu berturut-turut tapi kok wajahmu segar begini? Kulitmu bahkan tidak kelihatan kusam, malah bersih seperti anak bangsawan habis mandi."
Erlang meraba pipinya sendiri, merasa agak salah tingkah. "Ah, masa toh, Paman? Perasaan wajah saya ya begini-begini saja dari dulu. Mungkin karena tadi pagi saya habis basuh muka di sendang dekat gua."
Pencari kayu gempal itu menggeleng-gelengkan kepala, lalu menepuk pundak Erlang dengan maksud ramah. "Kamu ini bercanda saja. Tapi beneran, fisikmu ini kok kuat sekali. Biasanya orang kalau jalan sejauh itu, betisnya sudah bengkak atau jalannya pincang. Lah kamu? Berdiri saja tegak begitu, napasmu tenang sekali seperti orang yang cuma jalan dari dapur ke sumur."
Brak!
Saat menepuk pundak Erlang, si pencari kayu gempal itu mendadak mengaduh pendek. Ia menarik tangannya kembali sambil mengibas-ngibaskannya seolah kesakitan.
"Aduh! Sialan, pundakmu terbuat dari apa toh, Le? Kok keras sekali seperti batu hitam sungai? Tanganku malah yang linu," ringis pria gempal itu sambil memijat telapak tangannya sendiri.
Erlang terkejut dan langsung memeriksa pundaknya sendiri. "Lho, maaf, Paman! Saya tidak sengaja. Pundak saya biasa saja kok, daging dan tulang biasa. Paman tidak apa-apa?" Erlang merasa tidak enak hati, mengira dirinya melakukan kesalahan. Ia sama sekali tidak sadar bahwa ketika pundaknya ditepuk, aliran tenaga dalam tanpa batas di tubuhnya secara otomatis aktif membentuk lapisan pelindung tak kasatmata yang memantalkan dorongan fisik dari luar.
"Ah, tidak apa-apa. Mungkin sendi tanganku saja yang sedang salah urat karena kekenyangan makan tiwul tadi pagi," sahut si pria gempal sambil tertawa kecil, meski matanya masih menatap pundak Erlang dengan sisa rasa heran.
"Oh ya, Le," timpal si lelaki kurus jangkung. "Kalau mau ke selatan lewat jalur atas ini, kamu harus hati-hati. Di atas sana jalannya makin curam dan banyak batu-batu besar yang sering longsor sisa hujan semalam. Fisikmu memang kelihatan kuat, tapi kalau kejatuhan batu segede kerbau ya tetap saja remuk."
"Nggih, Paman. Terima kasih banyak atas peringatannya. Saya akan lebih waspada nanti," kata Erlang sopan.
"Ya sudah, kami turun duluan ya. Ini bawaan kayu sudah berat. Semoga perjalananmu selamat sampai tujuan, Le," pamit si pria gempal.
"Matur nuwun, Paman. Hati-hati di jalan," sahut Erlang sambil membungkuk melepas kepergian ketiga pencari kayu tersebut.
Setelah ketiga orang itu menghilang di balik pepohonan, Erlang melanjutkan langkahnya kembali. Kata-kata para pencari kayu tadi membuat Erlang mulai berpikir. Ia menghentikan langkahnya sejenak di dekat sebuah batu cadas hitam berukuran sebesar gentong yang berada di pinggir jalur pendakian.
"Kenapa paman-paman tadi bilang napasku tenang sekali ya? Dan kenapa tangan Paman Gempal tadi kesakitan waktu menepuk pundakku?" Erlang bertanya-tanya dalam hati.
Erlang menatap batu cadas hitam di depannya. Iseng-iseng, ia ingin menguji apakah ada yang berubah dari kekuatan fisiknya. Ia mengambil posisi kuda-kuda dasar Tapak Angin Sepoi yang diajarkan mendiang Ki Suro. Erlang menarik napas panjang dengan pola dari kitab tanpa nama, merasakan hawa hangat yang kini dengan sangat patuh langsung berkumpul di telapak tangan kanannya.
"Cuma mau mencoba memukul pelan saja," bisik Erlang.
Ia mendorong telapak tangan kanannya ke permukaan batu cadas hitam tersebut. Gerakannya terlihat sangat santai, lambat, dan sama sekali tidak menggunakan ayunan tenaga otot yang menggebu-gebu. Benar-benar seperti gerakan orang yang hanya ingin menyentuh permukaan batu.
Puk...
Sesaat setelah telapak tangan Erlang menyentuh permukaan batu, tidak terdengar suara ledakan yang menggelegar. Namun, sedetik kemudian, terdengar suara retakan halus yang konsisten. Krek... krek... krakk!
Erlang menarik tangannya kembali dengan terkejut. Di hadapannya, batu cadas hitam yang terkenal sangat keras itu kini telah terbelah menjadi tiga bagian besar dengan potongan yang sangat rapi di bagian tengahnya, seolah-olah baru saja dipotong menggunakan gergaji raksasa yang sangat tajam. Debu-debu halus sisa reruntuhan batu beterbangan ditiup angin.
Erlang terbelalak, melangkah mundur dua langkah dengan wajah pucat pasi. Ia memandangi telapak tangan kanannya sendiri dengan tubuh yang mendadak gemetar karena tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"G-gusti Allah... ini... ini beneran aku yang melakukan?" bisik Erlang dengan suara bergetar. Ia membolak-balik telapak tangannya, mengusap-usap kulitnya yang sama sekali tidak terluka atau memerah sedikit pun. "Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak merasa mengeluarkan tenaga sama sekali tadi. Cuma menyentuh..."
Erlang termenung di depan bongkahan batu yang hancur itu selama beberapa menit. Kepolosan hidupnya di tengah hutan selama belasan tahun membuat pemahamannya tentang dunia persilatan sangat minim. Ia mengira, jurus silat dasar yang diajarkan Ki Suro entah bagaimana caranya mendadak menjadi sakti karena kecocokan udara di Hutan Roban ini.
"Ah, mungkin... mungkin batunya saja yang memang sudah rapuh dari dalam karena keseringan kena air hujan," tebak Erlang dengan kesimpulan yang sangat lugu, menghibur dirinya sendiri agar tidak ketakutan dengan kekuatan aneh tersebut. "Iya, pasti batunya yang sudah lapuk. Mana mungkin pukulan biasa sepertiku bisa membelah batu cadas."
Erlang mengembuskan napasnya dengan pola biasa, seketika menghentikan pergolakan hawa murni di dalam tubuhnya yang kembali tenang dan mengalir secara tak kasatmata. Ia kembali membenulkan letak pikulan bambunya di pundak, mengabaikan keajaiban yang baru saja terjadi.
Dengan langkah santai dan hati yang kembali tenang, Erlang berjalan melewati pecahan batu cadas tersebut, terus melangkah mendaki jalur bukit menuju arah selatan. Pemuda itu benar-benar tidak pernah menyadari, bahwa semenjak ia menyelesaikan meditasi pertamanya semalam, pondasi energi di dalam dirinya telah berubah menjadi samudera tanpa dasar, menjadikannya sosok yang sangat mengerikan bagi siapa saja yang berani mencari perkara dengannya di masa depan.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/