Aksi-aksi nekad dari Alfa, putra dari Surya Wijaya Saudagar kaya di negeri Indonesia.
Bukannya menikmati kehidupan sebagai Tuan Muda, tapi malah memilih menjalani kehidupannya sebagai seorang Pasukan bayaran, yang menggadai nyawa setiap hari demi menjalankan misi.
Novel ini banyak adegan kekerasan, siapkan mental sebelum baca. Dan jangan berekspektasi terlalu tinggi karena saya seorang penulis kelas tempe,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iam Siam dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Tuan Besar Surya memerintahkan agar hukuman segera dilaksanakan. 5 pengawal tambahan yang ikut ke ruangan tersebut mengangguk mengerti dan meminta kepada 17 rekan lainnya yang terkena hukuman untuk melepaskan pakaian mereka.
Tak ingin menyusahkan tugas kawannya, ke 17 orang yang akan menerima hukuman segera melepaskan kemeja dan kaos yang mereka gunakan dan menumpuknya di pojok ruangan.
Karena ruangan yang tidak terlalu luas mereka akan dihukum perdua orang.
Dedi dan seorang lagi rekannya mengambil cambuk yang sudah di modifikasi dengan ujung seperti duri siap untuk mencabik kulit para korbannya.
Heru sebagai pimpinan pengawal Ardy diberi hukuman lebih berat yaitu 30 kali cambuk dan juga taser.
Sementara 16 orang lainnya hanya 15 cambukan masing masing orang.
"Fer, sudah siap?" tanya Dedi kepada seorang temannya yang juga memegang cambuk. Namanya Ferdi.
Mereka mendapat giliran pertama untuk menghukum teman-teman mereka.
Keduanya mulai menyabetkan cambuk ke punggung kawannya dengan keras hingga yang dicambuk meringis kesakitan. Mereka tidak akan berteriak karena mereka merasa bukan orang lemah yang akan bersuara jika merasa perih sedikit.
Mereka merenung memikirkan apa yang Tuan Muda mereka rasakan ketika kecelakaan tersebut terjadi.
Punggung mereka tercabik-cabik tak karuan dan darah pun mulai menyeruak keluar. Hukuman tersebut berjalan cepat hanya sekitar lima menit saja.
Dua orang pertama sudah selesai, giliran dua orang berikutnya, dan berjalan lancar sampai enam belas orang itu sudah selesai.
Selanjutnya giliran Heru, ia berjalan ke tengah ruangan. Empat orang lainnya ikut berjalan menuju Heru.
Masing-masing tangan Heru diikat kuat dan di rentangkan, tali yang mengikat kedua lengannya kemudian dilikitkan ke tiang. Dua orang berperawakan tinggi besar berkulit sawo matang dan terlihat lebih mencolok dari lainnya memegang cambuk.
Mereka adalah Renold dan Ronald. Mereka saudara dan mereka juga pengawal pribadi Tuan Besar Surya yang membayanginya kemanapun Tuan Besar Surya.
Mereka juga adalah algojo paling kejam namun paling adil dalam menghukum kawannya.
Cter!! Cterr!!cterr!!
Suara cambuk saling bersahutan saat mendarat di kulit Heru. Tak seperti anak buahnya yang dicambuk bagian punggungnya saja, namun juga bagian depan tubuhnya dengan ritme yang lebih cepat dan cambukan yang lebih kuat, menimbulkan luka yang lebih dalam.
Keringat dan darah bercampur menjadi satu. Heru mendongakkan kepalanya ke atas dan mengertakan giginya karena semakin lama terasa semakin perih.
Setelah tiga puluh kali cambukan nampaknya Tuan Besar Surya masih belum puas karena Heru terlihat masih baik-baik saja.
"Tambahkan lima puluh lagi!" perintah Tuan Besar Surya membuat anak buahnya terkejut, termasuk Heru yang hanya bisa menelan ludah dengan kasar.
Namun tidak dengan duo algojo yang hanya mengangguk paham dan segera melaksanakan perintah dari Tuan Besarnya.
Ctar!!!ctar!!ctar!!!
Anak buah Heru hanya memalingkan wajah mereka melihat tubuh Heru yang sudah seperti dicabik binatang buas. Sebagian kulitnya bahkan sudah mengelupas dan juga memar.
"Erghhh!!,,," Heru mencoba menahan teriakannya tapi suaranya tetap keluar walau hanya sedikit. Reynold dan Ronald malah terlihat semakin bersemangat dan menambah kekuatan mereka saat mengayunkan cambuk.
Setiap sabetan cambuk yang mendarat di tubuh Heru meninggalkan luka seperti luka sayat benda tajam.
Tiba-tiba Ronald memberi kode pada Reynold dan Reynold hanya mengangguk paham.
Ternyata mereka berdua mengganti cambuk menjadi cambuk biasa.
Walau sudah diganti dengan cambuk biasa namun Heru tetap merasakan sakit luar biasa. Hingga ketika cambukan menginjak ke 48,
ctar!!!
"Argghhh!!!" Heru tak bisa menahan jeritannya ketika cambuk yang Reynold pakai menyerempet kejantanannya dari belakang.
Ctarr!!!
Bukannya berhenti namun Ronald menambahkan dan di tempat yang sama pula dengan wajah datarnya.
"Argghh!!" teriak Heru. Tubuhnya menegang seketika karena menahan sakit yang luar biasa.
Air mata si*lan juga ikut keluar dari pelupuk matanya.
"Heru, belum selesai!" teriak Tuan Besar Surya yang membuat Heru berdiri tegak seketika walau sekujur tubuhnya menahan sakit.
"Lepas ikatan nya, tinggal hukuman terakhir." ucap Tuan Besar Surya.
Dedi melepaskan ikatan yang menjerat kedua tangan Heru.
Hal yang pertama kali Heru lakukan adalah memegangi ************ nya yang masih terasa sakit luar biasa.
"Kamu bisa memegangi milikmu semalaman, tapi hukuman belum selesai." ucap Tuan Besar Surya dengan nada dingin.
Ronald mengambil Taser gun, Dan membidik Heru tepat di perut dan dadanya.
"Sekarang!" teriak Heru.
Slurp!! Ronald menarik pelatuk di pistol itu lalu peluru listrik dengan kawat peer yang ikut keluar bersamanya menembus tibuh Heru.
Heru langsung roboh di tanah karena merasa tubuhnya dialiri listrik namun hanya beberapa saat saja.
Ronald dan Reynold jongkok di samping Heru dan mencabut paksa jarum kecil yang berada di Taser tersebut.
Heru sudah tidak mampu berdiri lagi karena tenaganya sudah habis, dibopong oleh Ronald menuju ruang medis.
Orang-orang yang lukanya tidak terlalu parah kembali ke kamar masing-masing dan saling mengobati, namun luka Heru terlalu parah hingga Reynold dan Ronald turun tangan mengobatinya.
Di ruang medis hanya ada Heru, Reynold, dan Ronald. Heru mengginggit kasa yang masih tergulung karena lukanya langsung disiram dengan alkohol oleh Ronald.
"Emph!!!" suara Heru tertahan.
Tanpa ragu-ragu Renold mengobati Heru dan membalut luka-lukanya dengan perban.
Di ruangan lain Adel bertanya kepada Eyangnya apa yang telah Eyangnya lakukan, dan Tuan Besar Surya hanya menggeleng pelan.
Pukul 7 malam Lisa dan Alfa sampai di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan melihat kondisi Ardy. Ternyata Ardy sudah sadar namun hanya satu orang saja yang boleh menemuinya.
Lisa paham akan kondisi tersebut dan mengalah memilih suaminya yang masuk ke dalam.
Main juga yuk ke Novelku " trauma masa lalu "
Di tunggu yah..
Sam dari mawar berduri
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉