Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.
Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.
Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Sekte Bayangan Hitam
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
Langit berubah jingga, lalu perlahan diselimuti warna ungu gelap.
Di sebuah pegunungan yang berjarak ribuan li dari Desa Qinghe, berdiri sebuah istana berwarna hitam pekat.
Kabut hitam menyelimuti seluruh wilayah itu sepanjang tahun.
Tempat itu adalah markas Sekte Bayangan Hitam.
Sebuah sekte iblis yang terkenal kejam di wilayah timur Benua Tianxuan.
Di aula utama.
Seorang pria paruh baya duduk di atas singgasana batu.
Tatapannya dingin bagai ular berbisa.
Namanya...
Mo Cang.
Pemimpin Sekte Bayangan Hitam.
Di bawah singgasananya, pria berjubah hitam yang mengawasi rumah Xu Ming tadi sedang berlutut.
"Pemimpin Sekte."
"Hamba telah menemukan lokasi harta yang dicari kompas."
Mo Cang membuka matanya perlahan.
"Oh?"
"Di mana?"
"Desa Qinghe."
Mendengar jawaban itu, beberapa tetua sekte langsung saling berpandangan.
"Desa?"
"Mana mungkin harta tertinggi berada di desa kecil?"
Pria berjubah hitam segera menundukkan kepala lebih dalam.
"Awalnya hamba juga berpikir demikian."
"Tetapi..."
"Tetua Mu dari Sekte Awan Hijau terlihat keluar dari rumah itu dengan penuh hormat."
Ruangan menjadi sunyi.
Tetua Mu.
Nama itu cukup membuat semua orang berpikir ulang.
Mo Cang mengetukkan jarinya ke sandaran singgasana.
"Apakah kau melihat pemilik rumah?"
"Hamba hanya melihat seorang pemuda."
"Pemuda?"
"Ya."
"Tanpa aura kultivasi."
Salah satu tetua sekte langsung tertawa sinis.
"Orang biasa?"
"Mustahil."
Tetapi Mo Cang justru menggeleng.
"Justru itu yang paling mencurigakan."
Ia perlahan berdiri.
"Kalau Tetua Mu sampai menghormatinya..."
"...berarti pemuda itu bukan orang biasa."
Sementara itu...
Di Sekte Awan Hijau.
Tetua Mu dan Li Qingxue baru saja kembali.
Begitu memasuki aula tetua, beberapa tetua lain langsung menghampiri mereka.
"Tetua Mu."
"Bagaimana?"
"Apakah berita itu benar?"
Tetua Mu mengangguk pelan.
"Benar."
"Tidak..."
"Fakta yang kulihat bahkan jauh melampaui laporan Tetua Liu."
Tetua Liu yang juga berada di ruangan itu tersenyum pahit.
"Aku sudah menduganya."
Tetua Mu menarik napas panjang.
"Lukisan beliau..."
"Kaligrafinya..."
"Patung kayunya..."
"Semuanya mengandung Dao."
"Teh yang beliau suguhkan hampir membuatku menerobos ke alam berikutnya."
Ruangan langsung menjadi sunyi.
Semua tetua terdiam.
Tak seorang pun menganggap Tetua Mu sedang bercanda.
Karena mereka tahu...
Wanita tua itu bukan orang yang suka melebih-lebihkan sesuatu.
Tetua Liu menambahkan dengan suara pelan.
"Dan Senior Xu..."
"...menganggap semua itu hanyalah benda biasa."
Beberapa tetua langsung menghirup napas dingin.
Tetua Mu kemudian memandang seluruh orang di ruangan.
"Dengarkan baik-baik."
"Mulai hari ini..."
"Tidak seorang pun dari Sekte Awan Hijau boleh mengganggu ketenangan Senior Xu."
"Siapa pun yang melanggar..."
"...akan dihukum sebagai musuh sekte."
Semua orang segera membungkuk.
"Kami mengerti."
Li Qingxue yang berdiri di samping gurunya tidak mengatakan apa-apa.
Namun bayangan Xu Ming yang sedang tersenyum sambil memasak terus terlintas di benaknya.
Beliau...
Begitu kuat.
Namun memilih hidup sederhana sebagai petani.
Semakin dipikirkan...
Semakin sulit dipahami.
Di saat yang sama.
Xu Ming sedang duduk di depan rumahnya.
Xiao Hei berbaring di samping kursinya.
Xu Ming memandangi langit malam yang dipenuhi bintang.
"Aneh..."
"Belakangan ini rumahku jadi sering didatangi tamu."
Ia tertawa kecil.
"Mungkin karena daganganku mulai dikenal."
Xiao Hei menggonggong pelan.
"Woof."
Xu Ming mengusap kepala anjing itu.
"Iya."
"Besok kita ke kota lagi."
"Sayur di kebun juga sudah banyak."
Baginya...
Hari esok hanyalah hari biasa.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa dua sekte besar kini mulai memusatkan perhatian kepadanya.
Malam semakin larut.
Di luar Desa Qinghe.
Tiga sosok berjubah hitam berdiri di atas cabang pohon.
Mereka adalah murid elit Sekte Bayangan Hitam.
Salah seorang berbisik.
"Apakah itu rumahnya?"
"Benar."
"Kita hanya diperintahkan mengawasi."
"Jangan bertindak gegabah."
Ketiganya mengangguk.
Namun...
Saat salah satu dari mereka tanpa sengaja melangkah lebih dekat ke pagar bambu...
Bzzz...
Udara di sekitarnya tiba-tiba bergetar.
Tanpa ada cahaya.
Tanpa suara ledakan.
Pria itu terpental puluhan meter seperti dihantam gunung.
"Ugh!"
Ia memuntahkan darah segar.
Dua rekannya langsung membeku.
"Apa yang terjadi?!"
Pria yang terluka menatap pagar bambu itu dengan wajah penuh ketakutan.
"Aku..."
"Aku bahkan belum menyentuhnya..."
Di dalam rumah.
Xu Ming yang sedang membaca buku mengangkat kepalanya.
"Hm?"
Ia mendengar suara aneh dari arah hutan.
"Mungkin babi hutan lagi."
Ia kembali melanjutkan membaca bukunya.
Sementara di luar...
Ketiga murid Sekte Bayangan Hitam sudah kehilangan keinginan untuk mendekati rumah itu.
Mereka tidak tahu...
Yang baru saja melukai rekan mereka bukanlah jebakan.
Melainkan Formasi Dao Alam yang secara naluriah melindungi setiap tamu yang diizinkan Xu Ming masuk.
Bagi formasi itu...
Penyusup adalah musuh.
Dan hukuman tadi...
Baru sekadar peringatan.
Bersambung...