Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08 - Makanan yang Membusuk
TOK ... TOK ... TOK.
Ketukan itu mengalun tenang namun bertenaga, merambat menembus papan kayu pintu dapur hingga memantul kaku di dinding-dinding semen ruang tengah.
Di atas tikar, Galang seketika membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya menegang, seluruh sarafnya tersentak bangun dalam hitungan detik.
Ia tidak bergerak. Dalam kegelapan yang dipadu pendar remang lampu tempel yang hampir padam, mata Galang melirik jam dinding. Jarum pendek berada tepat di angka tiga, jarum panjang berdiri lurus ke atas. Pukul tiga pagi.
TOK ... TOK ... TOK.
Ketukan kedua terdengar lagi. Konsisten. Berjarak persis tiga detik di setiap jedanya. Tidak ada suara helaan napas, tidak ada suara bisikan, tidak ada gesekan langkah kaki dari balik pintu kayu belakang warung itu.
Hening yang mengekor di antara ketukan terasa teramat pekat, seolah udara di sekitar dapur mendadak membeku.
Peringatan ibunya tadi malam mendadak bergema tajam di dalam kepala Galang.
Malam ini bakal ada yang mengetuk pintu belakang. Jangan pernah kamu bukakan.
Galang menelan ludah secara perlahan, tenggorokannya terasa kaku bagaikan dipenuhi pasir kering. Ia perlahan merangkak bangun, berhati-hati agar tidak membuat suara dan membangunkan Pertiwi serta adik-adiknya yang tertidur lelap di kamar samping.
Dengan langkah bertelanjang kaki tanpa suara, Galang menyusuri lorong temaram menuju arah dapur.
Makin dekat ia melangkah ke area dapur yang menyatu dengan bagian belakang warung nasi, hawa dingin yang tak wajar kian gencar menusuk pori-pori kulitnya.
Bau kemenyan manis yang menyengat, dipadu bau tanah liat basah—bau yang sama persis seperti saat pemakaman Pak Broto enam bulan lalu—merebak memenuhi udara dapur.
TOK ... TOK ... TOK.
Suara itu kini berada persis beberapa sentimeter di depan wajahnya.
Galang berdiri mematung di depan pintu kayu dapur yang terkunci oleh slot besi tua. Di bawah celah bawah pintu, tidak ada bayangan kaki manusia yang diterpa sinar bulan.
Namun, bau busuk yang teramat pekat merembes kuat melalui celah papan kayu tersebut—bau yang begitu mengena di hidung hingga membuat perut Galang mual.
Itu bukan sekadar bau bangkai biasa. Bau itu adalah aroma daging masak yang membusuk dalam sekejap.
Dengan jemari yang gemetaran hebat, Galang mengulurkan tangannya menuju jendela kecil di samping pintu dapur yang dilapisi kain gorden kusam.
Pelan-pelan, sangat pelan, ia menyibak pinggiran kain gorden tersebut untuk mengintip ke teras belakang warung.
Sinar bulan yang temaram menembus sela-sela atap seng. Di pelataran tanah keras dekat sumur timba, tidak ada orang. Teras belakang tampak sepi dan lengang.
Namun, tatkala mata Galang beralih ke atas meja kayu tempat menaruh bumbu masakan di samping pintu dapur, jantungnya rasanya berhenti berdetak seketika.
Di atas meja kayu jati itu, tergeletak mangkuk semen tua berisi nasi hangat dan potongan daging rawon yang masih mengeluaskan uap panas.
Nasi dan daging itu tampak baru saja diangkat dari kuali masakan. Namun, tepat di depan mata Galang yang mengintip dari balik kain gorden, sebuah prosesi ganjil dan mengerikan terjadi.
Uap panas yang menguar dari mangkuk nasi itu mendadak berubah warna menjadi kepulan asap tipis keabu-abuan. Dalam hitungan detik, potongan daging rawon yang berwarna cokelat pekat berserat halus itu mulai mengeriput.
Daging itu menghitam, mengerut seperti kulit kayu kering, lalu merembeskan cairan kental berwarna kehitaman yang berbau menyengat. Bulat-bulat nasi putih yang semula bersih berkilau mendadak ditumbuhi lapisan jamur abu-abu yang tebal, membusuk dan hancur menjadi bubuk serangga kusam hanya dalam hitungan lima detik.
Sreeek ....
Dari dalam mangkuk yang dipenuhi makanan membusuk itu, merayap puluhan belatung gemuk berukuran ibu jari manusia, keluar membanjiri pinggiran mangkuk dan jatuh melata di atas permukaan meja kayu.
Galang refleks menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, menahan jeritan ketakutan yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Matanya membelalak lebar, menyaksikan bagaimana makanan segar itu berubah total menjadi bangkai dalam sekejap mata.
TOK ... TOK ... TOK.
Ketukan di papan pintu berbunyi lagi! Tepat di sisi telinga Galang yang menempel di jendela!
Guncangan ketukan itu membuat engsel pintu kayu bergetar. Dari celah kayu jendela, Galang melihat sesuatu merayap di atas meja racik bumbu.
Bukan tubuh manusia, melainkan sepasang lengan kurus kering berselimut kulit serba hitam mengerak, dengan kuku-kuku jari yang panjang, hitam, dan melengkung tajam.
Lengan misterius itu tidak berasal dari mana-mana—lengan itu seolah-olah merembes keluar dari dalam kegelapan dinding papan warung itu sendiri!
Jari kuku hitam itu mengetuk papan pintu kayu tiga kali: Tuk ... tuk ... tuk.
Lalu, lengan kurus itu terangkat pelan, meraih piring dan mangkuk berisi daging rawon yang telah membusuk dan dipenuhi belatung tersebut.
Dengan gerakan patah-patah yang kaku, lengan itu membawa busukan makanan tersebut menariknya mundur ke balik bayangan gelap di sudut teras warung yang tak terjangkau oleh pendar sinar bulan.
Dari dalam kegelapan sudut teras belakang itu, terdengar suara ganjil yang mendinginkan darah: suara kunyahan yang basah dan berdecak kencang, disusul oleh gemeretak tulang-tulang yang dipatahkan dan dikunyah halus.
Kruuuk ... krieeek ... cap ... cap ... cap ....
"Astagfirullahaladzim ...," bisik Galang dalam hati, seluruh tubuhnya berguncang hebat. Lututnya melemas hingga ia terpaksa menyandarkan punggungnya ke dinding semen dapur.
Kematian ayahnya, kain kafan yang basah, dan kini ... 'sesuatu' yang datang jam tiga pagi untuk memakan makanan busukan dari warung mereka. Semuanya terhubung dalam satu rantai benang merah yang makin hari makin tebal dan menjerat.
Suara kunyahan di luar teras itu berlangsung selama lima menit yang terasa begitu lama. Setelah itu, keheningan kembali melingkupi pelataran belakang.
Bau busuk daging dan asap kemenyan perlahan-lahan memudar, tergerus oleh embun pagi Madiun yang dingin.
Galang terduduk kaku di lantai semen dapur hingga fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Warna jingga pucat yang menembus jendela dapur tidak membawa rasa lega sedikit pun bagi jiwanya.
Ketika matahari telah sepenuhnya terbit, Galang memberanikan diri membuka kunci slot besi pintu dapur dan melangkah keluar ke teras belakang.
Teras tanah keras itu tampak biasa saja. Sumur timba berdiri bisu di tempatnya. Namun, saat Galang mendekati meja kayu racik bumbu di samping pintu, ia melihat buktinya.
Di atas meja kayu tersebut, mangkuk semen tua itu masih ada di sana. Piring itu kini bersih tanpa sisa sedikit pun—tidak ada nasi, tidak ada daging, tidak ada belatung.
Yang tertinggal di atas meja kayu jati hanyalah noda cairan kehitaman yang telah mengering, memancarkan bau minyak tanah bercampur kemenyan, serta sebuah goresan kuku yang sangat dalam di permukaan kayunya.
Galang meraba goresan kuku tajam di meja kayu itu dengan ujung jarinya. Goresan itu dalam, meninggalkan tatal kayu yang tajam.
"Garis keturunan ..,." gumam Galang lirih, mengingat-ingat kata-kata terputus yang diucapkan ayahnya pada malam sebelum ia mengembuskan napas terakhir.
Ia yakin, Ayahnya tidak sekadar meninggal karena sakit jantung biasa, melainkan ada sesuatu yang telah ditanamkan di rumah ini, di warung nasi ini, dan di dalam darah keluarga mereka.
Dengan langkah yang mantap meski dibalut rasa gentar yang luar biasa, Galang berbalik melangkah menuju lorong rumah. Ia tidak bisa lagi hanya diam menjadi penonton dan menunggu kehancuran mendatangi kelima saudaranya satu per satu.
Tujuan langkahnya kini cuma satu: pintu kamar ibunya yang masih terkunci rapat dari dalam. Jika pintu itu tidak mau dibuka secara sukarela, maka Galang akan mendobraknya dengan tangannya sendiri.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya