NovelToon NovelToon
Kembalinya Dewa Kematian

Kembalinya Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:147.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.

Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.

Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemunculan Penenun Jaring Neraka, Qiu Han

Perjalanan kembali dilanjutkan. Boqin Changing berjalan paling depan dengan langkah tenang. Di sampingnya berjalan Wang Zhou, sementara di belakang mereka menyusul Tetua Agung Peng bersama para tetua dari berbagai sekte, diikuti para murid yang membentuk barisan memanjang.

Tidak ada lagi percakapan ringan. Seluruh rombongan berjalan dengan wajah serius.

Setelah kejadian kemarin, kewaspadaan mereka meningkat berkali-kali lipat. Setiap helai daun yang bergoyang, setiap ranting yang patah, bahkan embusan angin yang terasa sedikit berbeda mampu membuat beberapa orang spontan menggenggam gagang senjata mereka. Mereka khawatir akan serangan mendadak, penyergapan, atau jebakan mematikan yang mungkin telah dipasang musuh di sepanjang perjalanan.

Berbeda dengan semua orang, Boqin Changing justru tampak santai. Tatapannya sesekali menyapu pepohonan di kanan dan kiri tanpa menunjukkan sedikit pun tanda waspada yang berlebihan. Langkahnya tetap stabil, seolah sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan hutan.

Melihat sikapnya, para tetua hanya bisa saling berpandangan. Mereka tidak tahu apakah Boqin Changing benar-benar tidak khawatir atau memang tidak menganggap musuh di sekitar mereka sebagai ancaman.

Setelah menempuh perjalanan cukup lama, pepohonan di depan perlahan mulai menipis. Tak lama kemudian, rombongan akhirnya tiba di tempat tujuan.

Begitu memasuki area itu, seluruh orang langsung menghentikan langkahnya. Pemandangan di hadapan mereka benar-benar berbeda dari bayangan sebelumnya.

Di tengah hutan yang lebat, sebuah kawasan luas telah dibuka secara paksa. Pohon-pohon raksasa yang sebelumnya memenuhi tempat itu kini telah ditebang. Batang-batang kayunya tersusun rapi di berbagai sudut.

Di berbagai tempat, beberapa rumah kayu sedang dibangun. Sebagian pekerjaannya masih berupa kerangka. Namun beberapa bangunan lain telah berdiri dengan sempurna. Bahkan terlihat gudang kecil, pagar kayu, serta beberapa menara pengawas yang masih dalam tahap penyelesaian.

Jelas sekali, tempat ini sedang dipersiapkan menjadi sebuah markas. Ukurannya sama sekali tidak kecil.

Melihat luas kawasan itu, siapa pun dapat menebak bahwa markas ini nantinya mampu menampung orang dalam jumlah yang sangat besar.

Namun ada satu hal yang terasa janggal. Suasana di sana nampak sunyi. Tidak tampak seorang pun berada di sana. Tidak ada suara kapak. Tidak ada pekerja. Tidak ada penjaga. Seolah seluruh tempat itu telah ditinggalkan begitu saja.

Salah seorang murid mengernyit.

"Apa... mereka sudah meninggalkan tempat ini?"

"Diam."

Seorang tetua langsung menegurnya dengan suara pelan.

"Jangan lengah."

Tatapannya terus menyapu sekeliling.

"Aku bisa merasakan... ada banyak orang yang sedang mengawasi kita."

Mendengar itu, beberapa murid langsung menegang. Mereka segera menggenggam senjata masing-masing dengan lebih erat.

Tetua Agung Peng kemudian melangkah ke depan hingga berdiri di samping Boqin Changing.

"Senior."

"Sepertinya... inilah markas yang sedang mereka bangun."

Boqin Changing tersenyum tipis.

"Benar."

Tetua Peng kembali bertanya,

"Lalu... apa yang akan kita lakukan?"

Boqin Changing sama sekali tidak terburu-buru menjawab. Ia hanya menatap salah satu bangunan kayu yang hampir selesai didirikan.

Kemudian berkata dengan santai,

"Bersabarlah."

Ia menoleh sekilas kepada Tetua Peng.

"Kau juga merasakan, bukan? Mereka masih berada di sekitar kita."

Tetua Peng menganggukkan kepala pelan.

"Ya."

Boqin Changing kembali melangkah memasuki kawasan itu lebih dalam. Wang Zhou serta seluruh rombongan segera mengikutinya.

Sepanjang perjalanan, Boqin Changing terus mengamati setiap sudut markas tersebut. Meski sebagian besar bangunan masih belum selesai, beberapa rumah kayu telah berdiri kokoh. Ada pula sebuah aula utama yang kerangkanya hampir rampung.

Dari tata letaknya saja sudah terlihat bahwa tempat ini dibangun dengan perencanaan yang matang. Ini bukan sekadar tempat persembunyian sementara. Markas ini dipersiapkan untuk dihuni oleh pasukan dalam jumlah besar.

Wang Zhou memandang bangunan-bangunan itu beberapa saat sebelum bertanya,

"Tetua Chang."

"Apa kau berniat menghancurkan tempat ini?"

Boqin Changing tersenyum kecil.

"Patriak. Bersabarlah."

Ia mengalihkan pandangannya ke arah pepohonan di sekeliling.

"Sebentar lagi... orang-orang itu akan muncul."

Seolah menjawab ucapannya, suara dedaunan bergesekan mulai terdengar dari berbagai penjuru.

Srak... Srak... Srak...

Sesaat kemudian, satu demi satu sosok berpakaian hitam melompat turun dari atas pepohonan. Kemudian muncul lagi dari balik semak-semak.

Jumlahnya terus bertambah. Dalam waktu singkat, ratusan pendekar telah bermunculan dari segala arah. Mereka bergerak cepat membentuk lingkaran, mengepung seluruh rombongan.

Aura kematian yang pekat segera memenuhi kawasan itu.

Seketika wajah Tetua Agung Peng berubah serius.

"Siaga!"

Sret!

Pedangnya langsung terhunus. Suara senjata yang keluar dari sarungnya segera bersahutan.

Sret! Sret! Sret!

Para tetua dan murid lain juga segera mencabut senjata mereka. Tatapan mereka penuh kewaspadaan.Mereka semua mengetahui satu hal. Pertempuran besar mungkin akan pecah dalam hitungan saat.

Di tengah kepungan ratusan pendekar berpakaian hitam itu, terdengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat.

Tap... Tap... Tap...

Kerumunan musuh perlahan membuka jalan. Dari balik barisan mereka, seorang pria berjalan dengan tenang.

Ia mengenakan jubah hitam panjang yang dihiasi benang-benang merah gelap di bagian lengan. Rambut hitamnya tergerai hingga melewati bahu, sementara kumis hitam yang terawat membuat wajahnya tampak berwibawa.

Tatapannya perlahan menyapu rombongan dari Kekaisaran Qin. Akhirnya, matanya berhenti pada Tetua Agung Peng. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Aku benar-benar tidak menyangka..."

"...kalian masih bisa hidup dan sampai ke tempat ini."

Nada suaranya terdengar tenang, tetapi dipenuhi rasa mengejek.

"Aku mengira jebakan-jebakan yang kami siapkan di sepanjang hutan sudah cukup untuk menghabisi rombongan kalian."

Ia menggeleng pelan.

"Sepertinya..."

"...aku memang terlalu meremehkan kalian."

Tetua Agung Peng tidak langsung menjawab.

Tatapannya terus tertuju pada pria berpakaian hitam itu. Secara diam-diam ia mencoba merasakan ranah kultivasi lawannya.

Namun tidak ada hasil. Aura pria itu bagaikan lautan yang tenang tanpa dasar. Semakin ia mencoba membacanya, semakin sulit ia mengetahui kedalaman kekuatannya.

Jantung Tetua Peng mulai berdegup lebih cepat.

"Hm... Aku sama sekali tidak bisa membaca kultivasinya..."

"Kalau begitu... kemungkinan besar dia berada di atas ranahku."

Tetua Peng mengeratkan genggaman pedangnya.

"Siapa dirimu?"

Pria berpakaian hitam itu tersenyum semakin lebar.

"Namaku..."

“...Qiu Han."

Ia berhenti sejenak, membiarkan namanya menggantung di udara.

Kemudian ia melanjutkan,

"Orang-orang lebih mengenalku dengan julukan..."

"...Penenun Jaring Neraka."

Suasana langsung menjadi hening. Beberapa tetua tampak saling berpandangan.

Nama itu terasa tidak asing. Namun mereka tidak mampu mengingat dari mana pernah mendengarnya.

Salah seorang tetua bahkan berusaha mengingat-ingat cerita yang pernah ia baca bertahun-tahun lalu. Namun pikirannya tetap kosong.

Tiba-tiba tubuh Tetua Dai Xung bergetar. Wajahnya perlahan memucat. Matanya membelalak menatap pria berpakaian hitam itu.

"Ja... jadi..."

"...kau Qiu Han dari Kekaisaran Ming?"

Semua orang langsung menoleh kepadanya.

Tetua Peng mengernyit.

"Tetua Xung."

"Kau mengenalnya?"

Tetua Dai Xung menarik napas panjang.

"Aku tidak pernah bertemu dengannya."

"Tetapi... aku pernah mendengar nama dan kisahnya."

Tatapannya tidak pernah lepas dari Qiu Han.

Nada suaranya berubah berat.

"Hati-hati, Tetua."

"Dia... adalah pendekar bumi."

Kalimat itu bagaikan petir yang meledak di tengah kerumunan.

"Apa?!"

"Pendekar bumi?"

Beberapa murid langsung kehilangan warna wajah. Bahkan beberapa tetua dari sekte kecil ikut terkejut.

Pendekar Bumi. Ranah itu berada satu tingkat di atas Pendekar Suci.

Qiu Han tertawa keras.

"Hahaha!"

"Ternyata... namaku cukup terkenal."

"Aku tidak menyangka sampai-sampai orang di Kekaisaran Qin pun masih mengenalku."

Ia terlihat menikmati ekspresi ketakutan yang muncul di wajah para murid dan tetua. Baginya reaksi seperti itulah yang paling menyenangkan untuk dilihat.

Sementara itu Boqin Changing tetap berdiri dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya. Tatapannya tidak pernah meninggalkan sosok Qiu Han.

Wajahnya tetap tenang. Tidak ada sedikit pun perubahan ekspresi.

Namun di balik ketenangan itu, pikirannya terus bekerja.

"Qiu Han..."

Nama itu sama sekali tidak pernah ia dengar pada kehidupan pertamanya. Artinya pria ini bukan tokoh penting yang pernah muncul di jalur kehidupannya dahulu. Atau mungkin pada kehidupan sebelumnya, pria ini telah mati sebelum sempat memperlihatkan keberadaannya.

Hal itu membuat Boqin Changing kesulitan membaca situasi yang sedang berkembang. Namun ada satu hal yang jauh lebih menarik perhatiannya.

"Kekaisaran Ming..."

"Mengapa seorang pendekar dari Kekaisaran Ming berada di kelompok yang selama ini kucurigai dikendalikan oleh Keluarga Pei dari Kekaisaran Jiu?"

Tatapannya semakin dalam. Semakin banyak informasi yang ia peroleh, semakin rumit pula benang-benang hubungan di balik Kelompok Bulan Kelam.

Sementara itu, Qiu Han masih tertawa kecil sambil memandang Tetua Peng. Di matanya, Tetua Agung Peng jelas merupakan orang terkuat dalam rombongan tersebut. Karena itulah seluruh perhatiannya tertuju kepada pria tua itu.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa monster sesungguhnya, justru sedang berdiri beberapa langkah di samping Tetua Peng. Sejak tadi monster itu tidak pernah mengalihkan pandangannya dari dirinya.

1
Raju
hadeeeeech.....
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍
Nanik S
Baru kejutan si Tuan muda menyerah 👍👍👍
Nanik S
Wkwkwkwkwk Tuan besar kalah sama Boqin Feng...🤣🤣🤣🤣
yayat
diracunin ayahnya untuk mancing n dpt ijin dr ibunya boqin ga berkutik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe ayoooo mancing mania 👍🤣
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hiburan 🌽🔥
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Wu Xing tepat untuk tetap diSekte, karena dia Ketua Sekte yang ikut Boqin Changing ke Kaisaran Qin. selain menjaga Sekte bisa juga melatih orang diSekte.
Zainal Arifin
libur ???
Joedhi Ghenitz
sangat bagus, keren
Akhmad Baihaki
🤭🤭🤭🤭🤭
Blue Manusia Biasa
kacian Wu Xing🤣🤣
Nurhasnah Yolanda
mana kelanjutanya
bogel
top markotop
A 170 RI
menjaga kedua orang tuaku🤣🤣🤭
Xiao Shuxiang
VOTE MELUNCUR
Mamat Stone
/Shhh/
Mamat Stone
/Bye-Bye/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!