Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
***
Matahari pagi mulai merangkak naik, menyelinap di sela-sela gorden sutra kelabu yang menutupi jendela kamar utama Mansion Hadiwinata. Pendar cahaya keemasan itu memantul pada furnitur mewah, namun suasana di atas ranjang king size itu terasa jauh lebih hangat daripada sinar mentari.
Raditya, yang baru tidur beberapa jam setelah pembersihan berdarah di pelabuhan, merasa tidurnya terusik. Bukan oleh alarm, bukan pula oleh sinar matahari, melainkan oleh sentuhan halus yang menari-nari di wajahnya.
Sebuah tangan mungil dengan jemari lentik sedang asyik menelusuri garis rahangnya yang tegas. Ujung jari itu kemudian naik, mengusap pelan hidung mancungnya, lalu berhenti sejenak di alis tebalnya.
"Apakah kamu begitu menikmati ketampanan suamimu, Nadia?" suara bariton yang serak khas bangun tidur itu tiba-tiba memecah keheningan.
Nadia tersentak. Tangannya membeku di udara. Ia mengira Raditya masih terlelap dalam mimpi karena napasnya yang begitu teratur tadi. Namun, saat ia menatap wajah suaminya, mata elang itu sudah terbuka setengah, menatapnya dengan intensitas yang membuat jantung Nadia berdegup liar.
"S... sejak kapan Mas Radit bangun?" tanya Nadia gugup, mencoba menarik tangannya kembali, namun Raditya lebih cepat menangkap pergelangan tangannya.
Raditya menarik tangan itu, mengecup telapak tangan Nadia dengan lembut namun matanya tetap mengunci pandangan sang istri. "Mungkin sejak kamu mulai memuji ketampanan suamimu dalam hati, dan bergumam berharap anak saya nanti akan setampan Papanya."
Wajah Nadia memerah padam hingga ke telinga. "Ihh! Kapan aku bilang begitu? Pede banget sih jadi orang! Aku cuma... cuma mau mastiin Mas Radit masih napas apa nggak, soalnya tidurnya kayak batu!"
Raditya terkekeh rendah. Suara tawanya yang berat terasa menggetarkan dada Nadia yang kini bersandar di dekatnya. Tanpa aba-aba, Raditya menarik tubuh Nadia masuk ke dalam pelukannya, merengkuh wanita itu dalam dekapan yang erat namun protektif.
"Mas... sesak, bayinya kegencet nanti," protes Nadia, meski ia sendiri merasa sangat nyaman dalam dekapan hangat itu.
Raditya sedikit melonggarkan pelukannya, namun tangannya berpindah ke perut buncit Nadia, mengelusnya dengan gerakan melingkar yang menenangkan. "Dia tidak akan kegencet. Dia kuat, sama seperti Papanya. Dan dia pasti senang karena Papanya ada di sini pagi ini."
Nadia terdiam, menikmati momen langka di mana CEO Kulkas ini berubah menjadi penghangat ruangan. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Raditya, mendengarkan detak jantung pria itu yang stabil.
"Mas, bukankah ini sudah siang? Mas Radit nggak berangkat ke kantor? Nanti kolega Mas nyariin lho," bisik Nadia sambil memainkan kancing piyama Raditya.
Raditya memejamkan mata, menghirup aroma vanila dan melati dari rambut Nadia yang selalu menjadi candu baginya. "Kantor tidak akan runtuh hanya karena saya terlambat beberapa jam. Biarkan mereka menunggu."
"Tapi biasanya Mas paling anti telat..."
"Sepuluh menit lagi, Nadia. Diamlah dan tidurlah kembali. Kamu masih pucat karena mual semalam," titah Raditya dengan nada dingin yang kaku ciri khasnya namun tindakannya yang terus mengeratkan pelukan menunjukkan hal yang sebaliknya.
Nadia tersenyum tipis. Ia tahu Raditya sedang kelelahan, meski pria itu tidak akan pernah mengakuinya. Ia pun berhenti protes, memejamkan mata dan kembali hanyut dalam kenyamanan pelukan sang suami. Mereka berdua kembali tertidur, terisolasi dari kekejaman dunia luar yang baru saja Raditya "bersihkan" tadi malam.
**
Berbeda jauh dengan suasana tenang di kamar Raditya, di kediaman Nyonya Sekar, suasana terasa mencekam. Nyonya Sekar berdiri di depan jendela besar ruang tamunya, tangannya yang menggenggam ponsel bergetar hebat.
Di layar televisi yang menyala tanpa suara, berita mengenai kebakaran hebat di sebuah gudang pelabuhan menjadi headline. Namun, bukan itu yang membuatnya lemas. Sebuah pesan singkat dari informan rahasianya baru saja masuk.
“Dokter Wijaya ditemukan tewas dengan satu tembakan di kepala. Gudang pelabuhan hancur total. Tidak ada jejak dokumen yang tersisa.”
Ponsel di tangannya jatuh ke atas karpet tebal. Nyonya Sekar merosot duduk di sofa, wajahnya yang penuh riasan kini tampak pucat dan kuyu.
"Tidak... ini tidak mungkin," gumamnya dengan nada penuh ketakutan.
Ia tahu persis siapa yang mampu melakukan hal sekejam itu dalam waktu singkat. Ia tahu putranya, Raditya, bukanlah sekadar pengusaha sukses. Ia tahu ada sisi gelap dalam diri Raditya yang diwarisi dari garis keturunan Hadiwinata sisi mafia yang tidak akan memaafkan pengkhianatan.
"Jika Wijaya mati... berarti Raditya sudah tahu," bisiknya pada diri sendiri. Air mata kecemasan mulai mengalir. "Dia sudah tahu konspirasi itu. Dia tahu aku yang mengirim Wijaya untuk mencelakai Nadia."
Nyonya Sekar membayangkan wajah Raditya saat menatapnya nanti. Tatapan dingin, tanpa emosi, yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan meledak-ledak. Ia tahu Raditya sangat memuja Nadia sekarang, dan siapapun yang mengusik "milik" Raditya akan berakhir seperti Wijaya.
"Nyonya? Anda baik-baik saja?" tanya seorang asisten rumah tangga yang datang membawakan teh.
"Pergi! Keluar kamu!" teriak Nyonya Sekar histeris, membuat asisten itu lari ketakutan.
Nyonya Sekar mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Ia terjebak dalam jaring yang ia tenun sendiri. Dokter Wijaya adalah bidak terakhirnya untuk menyingkirkan Nadia dan bayi yang dianggapnya sebagai ancaman bagi kemurnian kasta Hadiwinata. Kini, bidak itu hancur, dan sang raja putranya sendiri sedang melangkah menuju ke arahnya untuk menuntut balas.
"Aku harus lari... atau aku harus meminta maaf?" ia bertanya-tanya pada kesunyian ruangan. Namun ia tahu, bagi Raditya, maaf tidak pernah cukup untuk membayar air mata istrinya.
Ketakutan itu kini menjadi bayang-bayang hitam yang mencekik. Di tengah kemewahan mansionnya, Nyonya Sekar merasa seperti seorang pesakitan yang sedang menunggu vonis mati dari tangannya sendiri.
**
Satu jam kemudian, Raditya terbangun kembali. Ia melihat Nadia masih terlelap dengan mulut sedikit terbuka, terlihat sangat menggemaskan. Ia perlahan melepaskan pelukannya, bangkit dari ranjang tanpa menimbulkan suara.
Ia berjalan menuju meja kecil, mengambil ponselnya dan melihat laporan dari Aldi.
“Pesan sudah sampai ke pihak-pihak terkait. Nyonya Sekar sudah memantau berita. Haruskah kita menemuinya hari ini, Pak?”
Raditya menatap Nadia sekali lagi, lalu mengetik balasan dengan ekspresi dingin yang kembali menguasai wajahnya.
“Biarkan dia tersiksa dalam ketakutannya sendiri untuk beberapa saat. Ketakutan adalah hukuman yang lebih baik daripada kematian bagi seseorang yang haus akan kekuasaan. Siapkan mobil, saya akan ke kantor setelah ini.”
Raditya berjalan ke arah kamar mandi, namun sebelumnya ia menyempatkan diri mengecup dahi Nadia sekali lagi.
"Dunia mungkin kotor, Nadia. Tapi selama saya berdiri di sini, tidak ada satu pun debu yang boleh menyentuhmu," bisiknya pelan, sebelum benar-benar beranjak untuk menghadapi badai yang ia ciptakan sendiri.
****
Bersambung
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
tunggu aksi luar biasa bumil thor