“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bab 13: Di Bawah Pengawasan Ketat
Suasana perpustakaan sekolah pada jam istirahat pertama terasa begitu tenang, kontras dengan gejolak emosi yang masih bergemuruh di dada Keisha Zahra Aurellia. Di sudut paling belakang ruangan, dikelilingi oleh rak-rak tinggi yang dipenuhi deretan buku ensiklopedia tebal, sebuah meja panjang kayu jati menjadi saksi bisu awal dari babak baru kehidupan mereka.
Keisha duduk dengan gelisah, merapikan letak kacamata berbingkai tipisnya sambil menatap lembar demi lembar modul tugas tambahan yang baru saja diberikan oleh Pak Gunawan. Di hadapannya, duduklah sang ketua geng motor Black Raven—Rangga Dewantara Aldebaran—yang tampak sama sekali tidak serius membaca buku materi, melainkan menyandarkan punggungnya pada kursi dengan tangan terlipat di dada, menatap lekat-lekat setiap gerak-gerik gadis di depannya.
"Kak Rangga, tolong serius sedikit dong," protes Keisha pelan dengan nada suara bergetar, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. "Ini hari pertama kita mulai program bimbingan kedisiplinan dan akademik sesuai keputusan pihak sekolah. Kalau Kakak cuma melamun atau natap aku terus kayak gitu, kapan selesainya?"
Rangga mendengus pelan, menampilkan seulas senyuman miring yang khas. Alih-alih membuka buku paket matematika di hadapannya, pemuda itu justru memajukan duduknya, menumpukan kedua siku di atas meja, dan mendekatkan wajahnya ke arah Keisha.
"Siapa bilang aku nggak serius?" balas Rangga dengan suara baritonnya yang rendah dan memikat. "Pengawas akademik aku kan paling cantik se-SMA Nusantara. Mana bisa aku fokus ke rumus matematika kalau di depan aku ada objek yang jauh lebih menarik buat diperhatiin."
Wajah Keisha langsung merona merah seketika. Panas menjalar dari leher hingga ke kedua pipinya. Gadis itu menundukkan pandangannya, pura-pura sibuk merapikan pulpen di atas meja. "Kak Rangga, mulai deh gombalnya. Kalau guru BK lewat dan lihat kita begini, status skorsing Kakak bisa diperpanjang lagi lho!"
Mendengar ancaman kecil itu, tawa pelan yang renyah akhirnya lolos dari bibir Rangga. Pria berandalan yang biasanya ditakuti seluruh siswa sekolah itu kini tampak begitu santai, melepas seluruh topeng dingin dan beringasnya begitu berada di dekat Keisha. Dengan gerakan perlahan, ia akhirnya meraih pensil di atas meja, membuka buku paket bab fungsi kuadrat, dan mulai menulis jawaban asal-asalan hanya sekadar untuk menyenangkan hati gadis di depannya.
Di luar area perpustakaan, tepatnya di koridor utama dekat lapangan basket, suasana tampak tidak kalah tegang. Satria dan Bara berdiri bersandar di balik pilar beton besar, mengawasi keadaan sekitar dengan mata awas. Sejak insiden skorsing massal kemarin, kelompok Viper pimpinan Reno memang tampak lebih tenang, namun ketenangan itu justru menyimpan bahaya besar yang sewaktu-waktu bisa meledak.
"Lu yakin, Sat, si Bos bakal anteng-anteng aja jadi anak teladan nurut sama instruksi si cewek beasiswa itu?" tanya Bara sambil melemparkan bola basket kecil ke udara lalu menangkapnya kembali.
Satria melipat kedua tangannya di dada, mendengus pelan. "Lu belum tahu aja seberapa besar pengaruh itu cewek ke diri Rangga. Selama bertahun-tahun kita bareng di jalanan, baru kali ini gua lihat ada orang yang bisa bikin Rangga nurut tanpa perlu adu jotos. Kalau buat kebaikan si Bos, gua rasa ini pilihan terbaik supaya dia nggak drop out dari sekolah."
"Iya sih..." sambung Bara. "Tapi masalahnya, anak-anak Viper di luar sana nggak bakal tinggal diam. Kemarin, waktu gua lewat perempatan jalan dekat markas mereka, gua lihat Reno lagi ngumpulin anak buah baru. Gerak-gerik mereka mencurigakan banget. Kayaknya mereka lagi nyiapin serangan balasan buat jatungin mental Black Raven lewat titik terlemah kita."
Mendengar kata-kata Bara, raut wajah Satria langsung mengeras. Sorot matanya menajam. "Kalau sampai Viper berani nyentuh wilayah sekolah atau nyari gara-gara lagi, gua sendiri yang bakal maju ratain markas mereka."
Kembali ke dalam sudut sunyi perpustakaan, waktu menunjukkan pukul dua siang lewat sepuluh menit. Bel jam kepulangan sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, menandakan sebagian besar siswa kini sudah berhamburan meninggalkan area sekolah. Namun, sesuai dengan ketentuan program bimbingan khusus, Keisha dan Rangga masih harus tinggal di perpustakaan selama satu jam ke depan.
Keisha sedang serius memeriksa lembar jawaban latihan soal matematika Rangga. Alis gadis itu tampak berkerut tipis melihat hasil coretan tangan sang ketua geng yang cukup berantakan.
"Kak Rangga... ini nomor empat salah total rumusnya," tegur Keisha sambil menunjuk baris angka di buku tulis Rangga menggunakan ujung pulpennya. "Kan sudah aku bilang tadi, rumus diskriminan itu $D \= b^2 - 4ac$, bukan ditambah."
Rangga mendengus pelan, menopang dagunya dengan tangan kanan sambil tersenyum tipis memandangi keseriusan Keisha. "Ah, rumusnya terlalu rumit buat kepala penjahat jalanan kayak aku, Keish. Mending kamu aja yang jelasin pelan-pelan sambil dekat-dekat, biar gampang masuk ke otak."
Keisha mendengus gemas, meskipun ada debaran halus yang kembali berkhianat di dalam dadanya setiap kali pria itu memanggilnya dengan nada suara lembut tersebut. Sebelum Keisha sempat membalas ucapan usil Rangga, suasana tenang di dalam perpustakaan tiba-tiba terusik oleh suara derap langkah kaki tergesa-gesa dari arah pintu utama.
Brak!
Pintu perpustakaan terdorong terbuka dengan kasar. Satria dan Bara berlari masuk ke dalam ruangan dengan napas memburu dan wajah tegang luar biasa.
Rangga langsung bangkit berdiri dari kursinya, aura dingin dan waspada seketika menguasai tubuhnya. "Ada apa?" tanya Rangga tajam, menyadari ada situasi darurat yang terjadi di luar.
"Bos, gawat!" seru Bara dengan napas terengah-engah. "Anak-anak Viper... mereka nggak main-main lagi di luar sekolah. Tadi di gerbang belakang dekat area parkir motor, mereka nyergap anak buah kita, dan... dan mereka ninggalin pesan khusus buat lo."
Rangga mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Manik matanya menggelap bagaikan malam tanpa bintang. "Pesan apa?" tanyanya dingin penuh penekanan.
Satria maju selangkah, menelan ludah susah payah sebelum melanjutkan. "Mereka nyulik Sintia... sahabat dekat Keisha. Mereka mikir kalau Sintia adalah orang terdekat Keisha yang bisa dipake buat manggil lo keluar ke gudang terbenggalam di dekat pelabuhan lama malam ini."
Deg!
Mendengar nama sahabat karibnya disebut, wajah Keisha mendadak pucat pasi. Buku catatan di tangannya terjatuh begitu saja ke atas lantai perpustakaan. Seluruh persendian tubuhnya terasa lemas seketika.
"Sintia...?" cicit Keisha dengan suara bergetar hebat, air mata ketakutan langsung tumpah membasahi pipinya. "Nggak mungkin... Ini semua pasti gara-gara aku lagi!"
Sebelum Keisha sempat terhuyung jatuh ke lantai, tangan kokoh Rangga dengan sigap merangkul pinggang ramping gadis itu, menopang tubuhnya agar tetap berdiri tegak. Rangga menatap lekat-lekat wajah ketakutan Keisha, lalu mengalihkan pandangannya kepada Satria dan Bara dengan sorot mata membunuh yang teramat mengerikan.
"Siapkan motor," titah Rangga mutlak, suaranya terdengar sangat rendah namun penuh tekanan kematian yang tidak bisa dibantah lagi. "Malam ini, kita ratakan Viper sampai tidak tersisa satu orang pun."