NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:100.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Apa Itu 'Mengalir Seperti Air'

Ambulans melesat di tengah sirene, membawa mereka menuju ruang operasi yang terasa terlalu jauh.

Di dalamnya, Rangga tidak berani mengubah posisi jari.

Klem hemostat di tangannya menjadi satu-satunya pintu yang menahan kematian di luar tubuh gadis itu. Setiap guncangan ambulans membuat seluruh otot lengan Rangga menegang. Sekali saja ujung klem bergeser, darah bisa menyembur lagi, dan semua yang mereka perjuangkan di Jalan Cahaya Bangsa akan runtuh sebelum pintu rumah sakit terbuka.

"Tekanan darah?" Pak Bambang bertanya.

"Masih rendah. Enam puluh delapan per palpasi," jawab dr. Alya. "Nadi 150. Saturasi naik sedikit dengan oksigen."

dr. Yoga menekan kantong cairan dengan kedua tangan. Wajahnya sudah tidak menyisakan sikap meremehkan. Matanya berkali-kali turun ke klem di tangan Rangga, lalu naik ke wajah Rangga yang terlalu tenang untuk seorang dokter muda hari pertama.

"Lima menit lagi sampai RS," kata sopir ambulans dari depan.

Pak Bambang menunduk dekat ke telinga korban. "Dik, bertahan. Kamu sudah dekat rumah sakit."

Gadis itu tidak menjawab. Kelopak matanya bergetar lemah.

Rangga menatap monitor.

Angka itu seperti berjalan di tepi jurang.

Di dalam kepalanya, pengetahuan baru yang baru saja menghantamnya masih bergerak seperti arus besar. Teknik Hemostasis Kelas Dunia bukan sekadar cara menjepit pembuluh darah. Ia bisa membayangkan jaringan yang robek, pola tekanan, arah jahitan, urutan perbaikan, bahkan kemungkinan komplikasi dalam beberapa menit berikutnya.

Rangga menelan napas pelan.

Ini bukan mimpi.

Kalau ini mimpi, darah di sarung tangannya tidak akan sehangat ini.

Ambulans berhenti di depan UGD.

Pintu belakang dibuka. Cahaya lampu rumah sakit menerobos masuk.

"Langsung IBS satu!" Pak Bambang berteriak. "Hubungi bank darah. Siapkan transfusi O negatif dulu sambil tunggu crossmatch. Tim anestesi sudah di tempat?"

"Sudah, Pak!" seorang perawat menjawab dari koridor.

Brankar meluncur cepat.

Rangga ikut bergerak di sisi kepala pasien, tubuhnya membungkuk, kedua tangannya tetap menjaga klem. Beberapa perawat yang melihat jas putihnya penuh darah otomatis menyingkir. Seseorang sempat berbisik, "Itu dokter muda baru?"

Tidak ada yang menjawab.

Di depan pintu ruang operasi, seorang petugas administrasi berlari membawa formulir.

"Pak Bambang, keluarga pasien baru tiba di lobi. PTM belum ditandatangani."

Pak Bambang tidak memperlambat langkah. "Ini tindakan penyelamatan nyawa. Catat emergency life-saving procedure. Minta keluarga tanda tangan begitu sampai. Kalau kita tunggu kertas, anak ini mati."

"Baik, Pak."

Pintu Ruang Operasi Satu terbuka.

Udara dingin menghantam wajah Rangga.

Lampu operasi menyala putih menyilaukan. Bau antiseptik tajam menggantikan bau aspal dan debu. Tim perawat bergerak cepat, memindahkan pasien ke meja operasi tanpa menarik tangan Rangga.

"Jangan sentuh klem," kata Rangga.

Suaranya rendah, tapi semua orang mendengar.

Pak Bambang meliriknya.

Anak muda ini masih berani memberi instruksi di ruang operasi.

Dan anehnya, instruksi itu benar.

"Alya, bantu buka area. Yoga, suction. Suster, siapkan benang vaskular halus. Kita lakukan kontrol perdarahan dan reparasi pembuluh sekarang."

"Siap."

Anestesi bekerja cepat. Masker oksigen, jalur obat, monitor, tekanan darah, saturasi. Waktu terasa diremas menjadi detik-detik kecil.

Rangga berdiri di sisi meja operasi.

Pak Bambang sudah mencuci tangan dan mengenakan sarung steril. Secara jabatan, operasi itu jelas miliknya. Secara pengalaman, tidak ada orang di ruangan itu yang lebih layak memimpin.

Tetapi ketika ia menatap luka di leher pasien, lalu menatap klem yang dipegang Rangga, sesuatu menahan kata-katanya.

"Rangga," katanya akhirnya, "kamu tahu apa yang kamu lakukan?"

Rangga menatap bidang operasi.

"Saya tahu, Pak."

"Kalau saya minta kamu lepaskan klem, perdarahan bisa kembali. Kalau kamu salah jahit, pasien stroke atau meninggal di meja."

"Saya mengerti."

dr. Yoga tidak tahan. "Pak, ini terlalu berisiko. Dia dokter muda."

Pak Bambang menatap dr. Yoga tajam. "Saya tahu."

Lalu ia melihat Rangga lagi.

"Tapi tadi di jalan, tangan dia yang menghentikan perdarahan."

Kalimat itu membuat ruang operasi diam.

Pak Bambang mengambil posisi sebagai operator utama, tetapi ia tidak merebut klem. "Kamu lakukan bagian yang kamu mulai. Saya dampingi. Satu kesalahan, saya ambil alih."

Rangga mengangguk.

"Baik, Pak."

Di luar kesadaran semua orang, suara sistem tidak terdengar lagi. Tidak ada petunjuk tambahan. Tidak ada kalimat baru.

Namun teknik itu sudah ada di tangan Rangga.

Ia menarik napas sekali.

"Suction sedikit ke kanan. Dokter Alya, retraktor jangan terlalu dalam. Dinding pembuluhnya rapuh."

dr. Alya memandangnya sekilas, lalu mengikuti.

Bidang operasi terbuka.

Robekan arteri tampak jelas, kecil tapi mematikan. Pinggirannya tidak rapi akibat sayatan pisau. Di bawah lampu operasi, darah yang tadi seperti banjir kini menjadi garis merah yang bisa dipahami.

Rangga mulai menjahit.

Jarum bergerak masuk.

Keluar.

Menarik benang.

Mengikat.

Gerakannya tidak cepat secara membabi buta. Justru terlalu stabil. Setiap tusukan berada pada jarak yang pas, tidak merobek dinding pembuluh, tidak terlalu dangkal, tidak terlalu dalam. Tangannya seperti sudah melakukan operasi semacam ini ratusan kali.

dr. Yoga berdiri kaku.

dr. Alya lupa berkedip.

Pak Bambang, yang semula siap mengambil alih kapan saja, perlahan menurunkan ketegangan di bahunya.

Tiga puluh tahun di UGD.

Selama itu, ia pernah melihat dokter hebat dan profesor bedah vaskular dengan tangan cepat, berani, serta terlatih.

Tapi tangan Rangga berbeda.

Tidak ada gerakan sia-sia.

Seperti air yang menemukan jalannya sendiri.

"Kasa," kata Rangga.

Suster memberikannya tanpa sadar lebih cepat dari biasanya.

"Bilas."

Cairan saline mengalir. Darah tipis tersapu. Garis jahitan terlihat rapi, rapat, hampir tidak masuk akal untuk operasi darurat yang dimulai dari aspal jalanan.

"Lepas klem perlahan," kata Pak Bambang.

Rangga tidak langsung melepas. Ia mengubah sudut sedikit, memastikan tekanan balik tidak menghantam jahitan.

Klik.

Klem terbuka.

Semua orang menahan napas.

Tidak ada semburan.

Hanya rembesan kecil yang segera dikontrol dengan kasa.

dr. Alya menghembuskan napas panjang. "Perdarahan terkendali."

Di mata dr. Yoga, sesuatu runtuh dengan diam-diam.

Namun sebelum siapa pun sempat merasa lega, monitor menjerit.

Tit-tit-tit-tit-tit.

Lalu garis irama berubah kacau.

"V-fib!" teriak anestesi. "Pasien fibrilasi ventrikel!"

Tubuh gadis itu tersentak halus di meja.

"Tekanan darah hilang!"

Ruang operasi meledak lagi.

dr. Yoga mundur setengah langkah. dr. Alya langsung bergerak ke posisi RJP, tapi meja operasi dan area steril membuat ruang sempit.

Pak Bambang bersuara keras. "Defibrillator!"

Perawat mendorong alat. Gel ditempelkan. Pad disiapkan.

Rangga melihat monitor.

Irama itu kacau, liar, seperti jantung yang tidak lagi tahu cara memukul pintu kehidupan.

Di kepalanya, paket pengetahuan dasar yang tadi terbuka menyusun langkah-langkah dengan sangat jelas.

Defibrilasi. RJP. Evaluasi ritme. Epinefrin bila perlu. Jangan panik. Jangan terlambat.

"Charge 200 joule," kata Rangga.

Pak Bambang menoleh cepat.

Rangga sudah meletakkan tangan di posisi yang benar.

"Clear!"

Semua orang mundur.

Tubuh gadis itu terangkat sesaat saat listrik masuk.

Monitor masih kacau.

"RJP," kata Rangga.

Ia naik ke sisi meja dengan gerakan yang membuat seorang perawat terbelalak. Kedua tangannya menekan sternum korban, ritme stabil, kedalaman tepat. Bukan tekanan panik seorang pemula. Bukan pula gerakan kasar yang mematahkan segalanya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Setiap kompresi seperti memaksa jantung itu mengingat tugasnya.

"Ventilasi."

dr. Alya membantu anestesi. "Masuk."

"Charge lagi. 200 joule."

Pak Bambang menatap monitor. "Rangga..."

"Sekarang, Pak. Ritmenya masih shockable."

Nada itu tidak menantang.

Nada itu memastikan.

Pak Bambang mengangkat tangan. "Charge!"

"Clear!"

Kejutan kedua.

Monitor melompat.

Satu detik.

Dua detik.

Garis kacau itu berubah.

Tit... Tit... Tit.

Irama sinus kembali muncul, lemah tapi teratur.

"Nadi ada!" teriak anestesi. "Nadi kembali!"

dr. Alya memejamkan mata sesaat.

Seorang perawat di sudut ruangan berbisik, "Astaga..."

Rangga turun dari posisi RJP. Napasnya berat, tapi tangannya tetap stabil.

"Lanjut tutup luka. Pastikan tidak ada perdarahan ulang."

Kali ini tidak ada yang mempertanyakan perintahnya.

Operasi berlanjut.

Dua puluh menit kemudian, jahitan terakhir selesai.

Leher gadis itu dibalut bersih. Monitor menunjukkan irama yang masih lemah, tetapi hidup. Transfusi berjalan. Tekanan darah perlahan naik.

Pak Bambang melepas sarung tangan dengan gerakan lambat.

Tidak ada tepuk tangan besar seperti panggung hiburan. Ruang operasi bukan tempat untuk itu. Tapi satu per satu, para perawat menatap Rangga dengan mata yang berbeda. dr. Yoga menunduk, mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada kata yang keluar.

Lalu Pak Bambang mulai bertepuk tangan.

Sekali.

Dua kali.

Suara itu pendek, tertahan, tapi di ruangan yang baru saja merebut satu nyawa dari tepi kematian, suara itu seperti palu yang memutuskan vonis.

dr. Alya ikut bertepuk tangan.

Perawat menyusul.

dr. Yoga akhirnya mengangkat kedua tangan, pelan, wajahnya masih sulit percaya.

Rangga berdiri di tengah ruangan dengan jas putih berlumur darah. Ia tidak tahu harus berkata apa. Panas yang tertinggal sejak Bimo menyebutnya sampah berubah menjadi tekad yang belum ia beri nama.

Ini sesuatu yang lebih tenang.

Harga diri yang baru menemukan pegangan.

Saat pasien dipindahkan menuju ICU, Pak Bambang menepuk bahu Rangga.

"Cuci tangan. Setelah itu ikut saya keluar."

Di lorong depan ruang operasi, seorang pria dan perempuan paruh baya menunggu dengan wajah pucat. Perempuan itu masih memakai sandal rumah, rambutnya berantakan, kedua tangannya menggenggam formulir PTM yang sudah basah oleh air mata.

"Dokter!" ia langsung berlari ke arah Pak Bambang. "Anak saya bagaimana?"

Pak Bambang menjawab pelan, jelas. "Operasi selesai. Perdarahan sudah dikontrol. Kondisinya masih harus dipantau di ICU, tapi untuk sekarang, anak Ibu selamat."

Bu Yuliana menutup mulutnya, lalu tubuhnya ambruk berlutut.

Pak Rudi ikut menunduk, air mata jatuh tanpa suara.

"Terima kasih, Dokter. Terima kasih..." Bu Yuliana mencoba meraih tangan Pak Bambang.

Pak Bambang cepat menahan bahunya. "Bu, jangan begitu."

"Dokter menyelamatkan anak kami..."

Pak Bambang menoleh ke samping.

Rangga berdiri setengah langkah di belakang, masih merasa lebih pantas menjadi bayangan.

"Bukan saya yang pertama menghentikan perdarahan," kata Pak Bambang.

Bu Yuliana dan Pak Rudi mengikuti arah tatapannya.

Mereka melihat Rangga.

Muda. Terlalu muda. Jasnya belum rapi, rambutnya basah oleh keringat, matanya tampak lelah. Jika tidak ada darah di lengan bajunya, mereka mungkin mengira ia hanya asisten.

"Dia," kata Pak Bambang. "Dokter Rangga yang membuat anak Ibu sampai ke ruang operasi dalam keadaan masih hidup."

Lorong itu hening.

Bu Yuliana merangkak setengah langkah mendekat, lalu menundukkan kepala di depan Rangga.

"Dokter... terima kasih. Maaf, saya tadi tidak tahu. Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya."

Pak Rudi juga membungkuk dalam. "Kami tidak punya apa-apa sekarang, Dok. Tapi seumur hidup, keluarga kami akan ingat nama Dokter."

Rangga buru-buru membantu mereka berdiri.

"Bu, Pak, jangan berlutut. Anak Bapak dan Ibu masih perlu doa dan pemantauan. Kami hanya melakukan tugas."

"Tidak," kata Pak Rudi, suaranya pecah. "Kalau Dokter terlambat sedikit saja, anak kami..."

Ia tidak sanggup melanjutkan.

Rangga melihat tangan lelaki itu gemetar. Tangan seorang ayah yang hampir kehilangan dunia kecilnya.

"Dia kuat," kata Rangga. "Sekarang Bapak dan Ibu juga harus kuat."

dr. Alya yang berdiri di dekat pintu memperhatikan kalimat itu. Tidak manis, tidak dibuat-buat. Justru karena itulah terasa menenangkan.

Beberapa staf UGD yang berkumpul di lorong mulai berbisik.

"Itu dokter muda baru?"

"Yang tadi dari jalan?"

"Dia yang pegang klem?"

dr. Yoga mendengar semuanya. Wajahnya panas, tapi kali ini ia tidak membantah.

Pak Bambang hanya melihat Rangga seperti seseorang baru menemukan batu permata di tumpukan kerikil.

"Rangga," katanya.

"Ya, Pak?"

"Ke ruangan saya."

Perintah itu pendek, tapi seluruh lorong menangkap bobotnya.

Rangga mengikuti Pak Bambang melewati koridor UGD. Di belakang mereka, suara rumah sakit kembali bergerak: pasien dipanggil, roda brankar berdecit, perawat memberi instruksi. Dunia tidak berhenti hanya karena satu nyawa berhasil ditarik kembali.

Namun bagi Rangga, langkah-langkah itu terasa berbeda.

Pagi tadi ia duduk di bangku plastik sebagai dokter muda miskin yang bisa disalip oleh hubungan keluarga.

Sekarang, orang-orang membuka jalan.

Di ruang kerja Pak Bambang, pintu ditutup.

Ruangan itu sederhana. Rak buku medis, foto tim UGD, satu cangkir kopi hitam yang sudah dingin, dan papan jadwal jaga yang penuh coretan.

Pak Bambang tidak langsung duduk.

Ia berdiri di depan meja, menatap Rangga lama sekali.

"Saya sudah tiga puluh tahun di UGD," katanya pelan. "Belum pernah saya lihat tangan seperti itu."

Rangga diam.

"Kamu tahu kenapa saya marah tadi?"

"Karena saya dokter muda hari pertama dan meminta klem di tengah kasus carotis ruptur, Pak."

"Benar." Pak Bambang menyipitkan mata. "Itu tindakan nekat. Kalau salah, kamu bisa menghancurkan hidup pasien, hidupmu sendiri, dan reputasi rumah sakit."

Rangga menunduk. "Saya mengerti."

"Tapi kamu tidak salah."

Kalimat itu jatuh lebih berat daripada tepuk tangan di ruang operasi.

Pak Bambang akhirnya duduk, tapi punggungnya tetap tegak.

"Saya tidak tahu dari mana kamu belajar. Saya juga tidak akan memaksamu menjawab sekarang. Setiap dokter punya jalan masing-masing. Tapi kemampuan seperti itu tidak boleh disia-siakan."

Rangga mengangkat wajah.

Pak Bambang mengetuk meja dengan jarinya.

"Saya ingin kamu jadi anak didik saya."

Dada Rangga terasa berhenti sesaat.

"Pak?"

"Di UGD ini, kamu akan ikut saya. Saya akan pastikan administrasimu tidak dikubur orang yang lebih suka koneksi daripada kemampuan. Tiga bulan lagi, kalau kamu membuktikan diri, saya akan usahakan kamu diangkat jadi dokter tetap."

Dokter tetap.

Dua kata itu pernah terasa jauh, seperti gedung tinggi yang hanya bisa ia lihat dari halte bus.

Rangga menggenggam ujung kursi.

"Terima kasih, Pak. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."

"Jangan terlalu cepat berterima kasih." Pak Bambang mengangkat alis. "Murid saya tidak boleh cuma punya tangan bagus. Harus punya kepala dingin, hati kuat, dan punggung yang tahan dihantam masalah. UGD bukan tempat orang mencari nama."

"Saya datang untuk belajar menyelamatkan pasien, Pak."

Pak Bambang menatapnya.

Lalu untuk pertama kalinya, sudut bibir dokter senior itu naik sedikit.

"Bagus. Kita lihat apakah kata-katamu tahan sampai jaga malam pertama."

Pada saat itu, ponsel Rangga bergetar di saku celananya.

Ia hampir mengabaikannya, tetapi getaran itu datang dua kali. Notifikasi bank.

Rangga membuka layar.

Matanya membeku.

Transfer masuk: Rp 150.000.000

Pengirim: Yayasan Dana Abadi Cakrawala

Keterangan: Dana investasi pribadi

Di saat yang sama, suara dingin itu kembali muncul di kedalaman pikirannya.

[Misi selesai.]

[Tingkat Penyelesaian: 85%.]

[Hadiah tunai sebesar Rp 150.000.000 telah ditransfer ke rekening pribadi Anda melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.]

Jari Rangga berhenti di atas layar.

Pagi tadi, saldonya tidak sampai Rp 2.000.000.

Sekarang, angka di layar ponsel murahnya lebih besar daripada seluruh uang yang pernah ia pegang sepanjang hidup.

Pak Bambang melihat perubahan wajahnya.

"Ada apa?"

Rangga mengunci layar pelan.

Di luar ruangan, UGD kembali memanggil pasien baru. Di dalam dadanya, dunia lama yang sempit mulai retak.

"Tidak apa-apa, Pak," jawab Rangga.

Ia menyimpan ponsel itu.

Untuk pertama kalinya sejak menginjak RSUD Harapan Bangsa, kata sampah tidak lagi terasa seperti vonis.

Ia lebih mirip utang.

Dan suatu hari, utang itu akan ia tagih.

1
Hasan Basri
kagum untuk rangga, maju terus
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!