Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan Halimah
Daffa melajukan mobilnya secepat mungkin, menembus jalanan kota yang mulai padat. Hatinya berdebar kencang, perasaan cemas yang menyakitkan merayap di dada.
Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Halimah di tangan orang-orang suruhan Amanda.
Selama ini ia tahu Amanda bisa berbuat apa saja demi mewujudkan keinginannya. Tapi Daffa tidak pernah menyangka wanita itu berani bertindak sejauh ini hanya karena tidak ingin Daffa menjadi pewaris resmi Surya Holding.
Daffa menekan tombol panggil pada ponselnya.
"Ben, perintahkan anak-anak untuk bergerak sekarang. Periksa setiap jalan keluar kawasan perumahan dan sekitar apartemen." perintahnya dengan suara gemetar menahan luapan emosi
"Baik Bos," sahut Ben di seberang sana.
"Katakan pada Tiger untuk menelusuri jejak kendaraan yang lewat sekitar jam dua siang tadi. Jangan lewatkan satu kendaraan pun!" perintahnya tegas dengan suara sedikit bergetar.
"Baik, Bos. Saya akan segera bergerak sekarang."
Beni langsung memberi perintah pada Gio, pengawal kepercayaan Daffa untuk mengirim beberapa anak buahnya, juga memberi tahu Tiger untuk segera bergerak dengan kemampuan pelacakan terbaiknya.
Sementara itu, di salah satu gudang tua yang sudah lama terbengkalai di pinggiran kota, Halimah perlahan membuka matanya.
Kepalanya terasa berat dan berdenyut nyeri di bagian belakang. Ada goresan tipis di pelipis kirinya yang mengeluarkan darah yang sudah mengering.
"Astaghfirullah, ya Allah... di mana ini?!" Lirihnya parau.
Ia mencoba bergerak, namun kedua tangannya terikat kuat di belakang punggung, kakinya pun diikat kuat, membuatnya tidak bisa bergerak leluasa.
Mata Halimah melirik sekeliling, ruangan itu gelap, berbau lembap, bau pesing yang menyengat dan debu tebal, hanya ada sedikit sinar cahaya matahari yang menembus celah-celah dinding.
Halimah mencoba mengingat kejadian terakhir, di lorong belakang rumah, tatapan dingin Amanda, lalu rasa sakit yang tiba-tiba di tengkuknya.
Napasnya naik turun, rasa takut mulai menyelimuti hatinya, namun ia berusaha keras untuk tetap menenangkan diri.
"Ya Allah... tolong aku..." bisiknya pelan, air mata mulai menetes membasahi pipi. "Ibu.... Aku takut...."
BRAK!
Suara lantang berasal dari pintu besi berat yang terbuka. Cahaya lampu sorot menyilaukan matanya. Dua pria berbadan besar masuk ke ruangan itu.
Napas Halimah semakin memburu, susah payah ia menggeser tubuhnya mundur hingga punggungnya tersudut pada dinding tembok yang kotor. Tangan Halimah bisa merasakan tembok itu berminyak dan berdebu.
"Kau sudah sadar, Nyonya Daffa," ucap salah satu pria itu dingin.
"Nyalimu lumayan kuat juga. Kau masih terlihat tenang dalam situasi seperti ini."
Dua pria itu berjongkok untuk mensejajarkan tubuh mereka dengan Halimah yang meringkuk dengan tubuh terikat erat.
"Di mana ini.... Siapa kalian?" tanya Halimah dengan suara parau, "Kenapa kalian melakukan ini pada saya?"
Dua pria itu tertawa geli mendengar pertanyaan Halimah barusan. "Tenanglah, Nyonya. Kau ada di tempat di mana tak ada satu pun yang bisa menemukanmu, termasuk Daffa." jawab salah satu pria itu mengejek.
"Nyonya Amanda tak ingin kau kembali ke rumah itu. Dia bilang kau hanya akan merusak rencana. Jadi, kau lebih baik menghilang saja."
"Nyonya.... Amanda?!" ulang Halimah meyakinkan apa yang didengarnya tidak salah.
"Ya Nyonya Amanda Marina Surya," ucap mereka dengan pelafalan yang jelas.
"Kenapa? Apa salah saya?"
Dua pria itu tertawa mengejek. "Kau bertanya apa salahmu pada kami? Ayolah Nyonya Daffa. Kami hanya menjalankan perintah."
"Kalau kau mau, kami punya dua pilihan untukmu, Nyonya Daffa." ucap pria lainnya.
"A...apa maksud kalian?"
"Mudah saja, Nyonya Daffa. Kau pilih nyawamu, maka tubuhmu jadi milik kami. Setelah itu kami akan melepas mu. Jika kau pilih harga dirimu, maka kau harus mati." ancam mereka dengan menawarkan dua pilihan yang tidak satu pun menguntungkan Halimah.
Salah satu dari dua pria itu hendak menyentuh wajah Halimah, dengan cepat Halimah memalingkan wajahnya kesamping dengan gerakan kasar.
"Daffa tidak akan membiarkan kalian menyentuh saya... dia akan mencari saya!" Halimah balik mengancam dua orang itu dengan suara parau nya, namun tetap terdengar tegas. "Dia tidak akan membiarkan kalian melakukan hal ini pada saya!"
Dua pria itu tertawa sinis. "Ayolah, Daffa tidak akan mencari mu? Oh, apa mungkin kucing malang itu sedang mencari calon istrinya ini di mana-mana."
Mereka kembali tertawa terbahak-bahak seakan sedang menonton pertunjukan komedi.
Setelahnya, salah satu pria itu menatap Halimah tajam, tangannya meraih dagu Halimah, mencengkeramnya erat hingga meninggalkan rasa perih yang membuat Halimah merintih nyeri.
"Kucing kecil itu tidak akan menemukan keberadaan mu, Nyonya. Daffa tidak akan bisa menemukan keberadaan mu!" ucap mereka mengejek sebelum melangkah keluar dari ruangan gelap itu.
Halimah semakin kehilangan kepercayaan dirinya.
"Lepas! Lepaskan saya...." jerit Halimah memohon dalam keputusasaan.
Ia semakin merasa takut dan cemas. Kalau-kalau hidupnya akan berakhir tidak lama lagi. "Ya Allah, apakah begini saja akhir perjalanan hidupku...." lirihnya berbisik dalam hati dalam keputusasaan itu.
"Tolong hambamu ini ya Allah...." jeritnya dalam hati.
Bersambung....