Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Sore hari pun tiba. Jam kerja resmi berakhir, dan para karyawan menyebar pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat sejenak serta bersiap-siap sebelum berkumpul kembali di restoran mewah yang lokasinya sudah dibagikan di grup WhatsApp divisi.
Sesuai kesepakatan, Kirana pulang ke mansion untuk berganti pakaian. Ia memilih gaun malam simpel berwarna elegan yang dipadu dengan riasan tipis, memancarkan kecantikan alami yang sangat menawan. Devan sempat memeluknya dan mengecup dahi Kirana sebelum pria itu berangkat lebih awal untuk mengatur posisinya di tempat acara.
Pukul tujuh malam, restoran bergaya modern-kontemporer tersebut sudah dipenuhi oleh seluruh karyawan divisi pemasaran. Gelak tawa dan obrolan hangat mengisi meja panjang yang telah dipesan khusus di area tengah restoran.
"Kirana, kamu cantik sekali malam ini!" puji salah satu teman divisinya saat Kirana baru saja tiba dan bergabung di meja.
"Terima kasih," jawab Kirana ramah seraya duduk di kursinya.
Dari sudut terpisah, Siska memperhatikan Kirana dengan tatapan dingin. Namun, Kirana tak peduli. Pandangannya justru secara halus menyapu sekeliling restoran hingga matanya menangkap sosok pria bertubuh tegap di area VIP lantai dua yang dikelilingi kaca tembus pandang dari dalam.
Di sana, Devan duduk sendiri dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi, memegang segelas minuman. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah Kirana di bawah sana. Begitu mata mereka bertemu, Devan memberikan satu anggukan kecil dan senyum sangat tipis yang hanya dipahami oleh sang istri.
Tak ada satu pun karyawan divisi yang menyadari kehadiran sang CEO megah itu di restoran yang sama. Kehadiran Devan benar-benar tersembunyi, bertindak sebagai pelindung dan pengawas tak terlihat yang siap pasang badan kapan saja bagi Kirana.
"Baiklah semuanya, mari kita buka acara makan malam perayaan kemenangan proyek kita malam ini!" seru Ketua Divisi seraya mengangkat gelasnya, menyulut kemeriahan di meja utama.
Di tengah meriahnya denting gelas dan gelak tawa para karyawan, Siska permisi berdiri dari kursinya. Seringai licik terukir di wajahnya saat ia berjalan menuju area bar restoran yang agak remang-remang.
Di kepalanya, sebuah rencana keji telah tersusun rapi. Karena ulah Kirana sebelumnya yang berhasil meloloskan diri, Siska merasa posisinya makin terancam. Ia tidak bisa lagi membiarkan wanita itu menang. Malam ini, Kirana harus hancur dan dipermalukan di depan semua orang!
Siska memesan dua gelas minuman cocktail dengan kadar alkohol tinggi. Namun tak berhenti di situ, sembari membelakangi kerumunan, jemarinya dengan cekatan merogoh saku dan mengeluarkan sebuah botol pipet kecil. Tanpa ragu, ia meneteskan beberapa tetes cairan bening—obat perangsang dosis tinggi—ke dalam gelas yang ditujukan untuk Kirana.
"Kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan malam ini, Kirana," bisik Siska kejam seraya mengocok pelan gelas tersebut hingga larut sempurna.
Siska kembali ke meja dengan senyum manis yang dipaksakan. Ia menyodorkan gelas berisi racun tersembunyi itu tepat di hadapan Kirana.
"Kirana, sebagai perayaan atas keberhasilanmu memimpin presentasi tadi pagi, minum ini ya. Ini cuma cocktail buah segar kok," ujar Siska berpura-pura ramah di hadapan teman-teman yang lain.
Beberapa rekan kerja menyemangati Kirana untuk meminumnya. Kirana menatap gelas itu sejenak. Berada dan menuntut ilmu bertahun-tahun di luar negeri membuat Kirana sudah sangat terbiasa dengan berbagai jenis minuman beralkohol. Kadar alkohol di gelas ini sama sekali bukan ancaman baginya.
Tanpa curiga bahwa Siska memasukkan bahan berbahaya lain ke dalamnya, Kirana memegang gelas itu.
Dari lantai dua, mata tajam Devan tak pernah lepas dari gerakan Siska. Alis tebal sang CEO bertaut tajam saat melihat senyum aneh yang mengembang di bibir Siska saat menyerahkan minuman tersebut. Devan mengepalkan tangannya di atas meja VIP, merespons naluri protektifnya yang mendadak bergetar hebat.
Kirana menyesap minuman itu hingga tandas demi menghargai ajakan rekan-rekannya, diiringi tepuk tangan dari meja divisi. Siska tersenyum sangat puas dalam hati, menantikan detik-detik saat obat itu mulai menguasai tubuh Kirana.