NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Pagi itu, Lukas berjalan menuju halte bus di bawah apartemen—sebelumnya ia berniat berjalan kaki sebentar untuk menghirup udara segar sebelum rapat dimulai, membiarkan Kirana berangkat lebih dulu dengan mobil dinasnya. Namun baru beberapa langkah melangkah, naluri waspadanya tiba-tiba berteriak kencang. Ia berhenti sejenak, berpura-pura mengikat tali sepatu, lalu melirik ke belakang dari balik bahu.

Di seberang jalan, terparkir sebuah mobil sedan gelap tanpa plat nomor yang terlihat jelas. Kaca jendelanya tertutup rapat, namun Lukas yakin ada seseorang di dalamnya yang sedang menatap tepat ke arahnya. Saat ia berdiri tegak dan berbalik sepenuhnya menghadap mobil itu, kendaraan itu tiba-tiba melaju pelan, lalu berbelok tajam ke jalan samping tanpa menyalakan lampu sein. Perasaan tidak nyaman itu menyusup ke dadanya—bukan kebetulan, bisik hatinya.

Sesampainya di kantor pusat Grup Kirana, ia langsung menceritakan hal itu kepada Kirana. Wanita itu mengernyitkan dahi, lalu segera memanggil kepala tim keamanan pribadinya untuk memeriksa rekaman CCTV di sekitar apartemen. Namun sebelum hasil pemeriksaan keluar, asisten pribadi mereka berlari tergesa-gesa menuju ruang kerja Kirana, wajahnya pucat pasi.

“Nona… ada masalah di ruang arsip khusus,” ucapnya dengan napas terengah-engah. “Berkas yang kami siapkan untuk rapat hari ini—berkas berisi catatan saksi kunci dan bukti transaksi mencurigakan Bima—hilang. Lemari arsipnya tidak ada tanda pembobolan, kuncinya masih utuh, tapi isinya lenyap begitu saja.”

Darah Lukas terasa berhenti mengalir sejenak. Berkas itu adalah hasil kerja keras mereka selama berminggu-minggu, bukti yang paling kuat untuk menghubungkan Bima dengan pengambilalihan aset keluarga Wijaya dan kematian kedua ayah mereka. Tidak mungkin hilang begitu saja.

Kirana segera bergegas menuju ruang arsip. Di sana, tim keamanan dan staf administrasi berdiri bingung di depan lemari besi yang terbuka—kunci cadangan hanya dipegang oleh tiga orang: Kirana, kepala administrasi, dan pengawas keamanan utama. Tidak ada tanda paksa, tidak ada jejak sidik jari asing di permukaan meja atau pegangan lemari. Semuanya tampak seperti diambil oleh orang yang berwenang dan tahu persis cara masuk tanpa meninggalkan jejak.

“Mereka masuk ke dalam sistem kita,” gumam Kirana pelan, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. “Atau ada mata-mata di antara orang-orang terdekat kita.”

Kekacauan itu belum mereda, ketika ponsel pintar di atas meja kerjanya bergetar panjang. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, tanpa nama pengirim. Saat Kirana membukanya, isinya hanya satu kalimat singkat yang membuat suhu ruangan seolah turun drastis:

“Berhenti menyelidiki apa yang bukan hakmu. Berhenti sekarang, atau apa yang terjadi pada Wijaya dan Anindya akan menjadi kenangan yang menyakitkan bagi kalian berdua.”

Lukas membaca pesan itu dari samping, jantungnya berdegup kencang namun bukan karena takut—melainkan karena amarah yang perlahan membara. Mereka tidak hanya diikuti, tidak hanya dirampas buktinya; mereka diperingatkan dengan cara yang sangat jelas, mengancam nyawa mereka persis seperti yang dilakukan pada kedua ayah mereka.

“Mereka tahu apa yang kita cari,” ucap Lukas tegas. “Mereka tahu sampai sejauh mana penyelidikan ini berjalan.”

Kirana menutup matanya sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ia segera menghubungi Pak Surya pengacara mereka, serta meminta tim keamanan memperketat pengawasan di seluruh lantai kantor, menyaring setiap akses masuk ke ruang rahasia, dan memeriksa riwayat akses digital selama tiga hari terakhir. Namun hasilnya belum muncul, ancaman lain datang tak lama kemudian: ponsel Lukas juga bergetar, pesan yang sama persis masuk ke perangkatnya, ditambah satu baris tambahan:

“Anak yang dibuang tidak boleh bermimpi mengambil kembali apa yang sudah kami ambil.”

Kata-kata itu menusuk tepat ke kerentanan yang dulu pernah ia rasakan—rasa tidak berharga, rasa bahwa ia tidak pantas berjuang. Namun kali ini, rasa itu tidak lagi melumpuhkannya. Ia justru semakin yakin bahwa apa yang mereka lakukan benar. Ancaman ini adalah bukti bahwa mereka telah berada di jalur yang tepat, bahwa musuh mereka mulai panik.

Sore itu, saat mereka berjalan menuju mobil pengantar, Lukas melihat lagi mobil gelap yang sama dari pagi tadi—kini terparkir di seberang jalan utama kantor. Ia menunjukkannya pada pengawal pribadi yang segera bergerak mendekat. Namun saat pengawal itu sampai di tempat parkir, mobil itu sudah kosong, hanya menyisakan selembar kertas yang tergeletak di kursi pengemudi: sebuah foto lama Lukas saat masih kecil di panti asuhan, dengan tanda silang merah menimpa wajahnya.

Kembali ke apartemen, suasana tidak lagi hangat seperti biasanya. Rina asisten mereka menyiapkan teh namun tangannya gemetar—ia juga melihat sosok asing berkeliaran di lobi gedung sore tadi, yang segera menghilang saat ditanya petugas keamanan.

“Mereka tahu di mana kita tinggal, tahu rutinitas kita, bahkan tahu detail masa lalu yang seharusnya tidak ada di catatan umum,” ucap Kirana pelan, menatap peta wilayah kota yang tertempel di dinding. “Mereka tidak hanya mengawasi, mereka juga sudah menyusup ke dalam lingkaran kita.”

Lukas berdiri di sampingnya, tangannya menyentuh bahu wanita itu lembut. “Kita tidak bisa mundur sekarang. Jika kita berhenti, mereka akan melakukan hal yang sama pada orang lain yang tidak bersalah. Dan kita tidak akan pernah tahu kebenaran yang utuh.”

Kirana menoleh, menatap matanya yang berani dan teguh. Perlahan ia mengangguk. “Kamu benar. Kita akan memperketat keamanan, mengganti jalur komunikasi, dan mulai menggunakan bukti cadangan yang sudah kita simpan di tempat aman. Ancaman ini tidak akan membuat kita berhenti—justru akan membuat kita lebih berhati-hati dan lebih cepat bertindak.”

Malam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang tidur nyenyak. Di luar jendela lantai tertinggi itu, kegelapan kota menyembunyikan banyak mata yang mengawasi, banyak telinga yang mendengar, dan banyak rencana jahat yang sedang disusun. Namun di dalam ruangan itu, di antara dua orang yang saling berpegangan tangan erat, tumbuh tekad yang tak tergoyahkan: ancaman tak terlihat ini hanyalah awal dari pertempuran terbuka yang sesungguhnya. Dan mereka siap menghadapinya bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!