NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Tersembunyi di Balik Dinding Panti Asuhan

Langit pagi di akhir pekan menyapa dengan sapuan angin yang sejuk, membawa aroma basah sisa embun yang menguap dari halaman Pondok Pesantren Al-Hikmah. Hari ini adalah jadwal rutin bulanan bagi keluarga besar K.H. Ahmad Zayna untuk menyalurkan sedekah berupa paket makanan siap saji dan kebutuhan pokok kepada sebuah panti asuhan yatim piatu yang berada di kawasan pinggiran kota.

Karena Abah sedang memiliki agenda rapat penting dengan pengurus yayasan islam se-provinsi, tugas mulia tersebut dilimpahkan kepada sang Ummi. Namun, karena Ummi harus menyelesaikan pembukuan administrasi pondok yang cukup mendesak pagi itu, beliau meminta anak sulungnya untuk menggantikan peran beliau.

"Nay, tolong ya, Nak. Antarkan paket makanan ini ke Panti Asuhan Kasih Ibu seperti biasa bersama Fathan. Kasihan anak-anak di sana kalau sampai terlambat makan siang," pesan Ummi sambil menyerahkan catatan alamat serta kunci mobil operasional pesantren kepada Nayara.

Nayara mengangguk patuh, mengenakan gamis berwarna navy yang dipadukan dengan jilbab senada yang menjuntai anggun. Tidak lama kemudian, Fathan sang adik yang hari itu bertugas sebagai sopir dadakan sudah bersiap di balik kemudi mobil minibus putih milik pondok. Di bagian belakang mobil, tersusun rapi puluhan kotak makanan hangat yang baru saja selesai dimasak oleh para santri dapur umum.

Perjalanan menuju Panti Asuhan Kasih Ibu memakan waktu sekitar tiga puluh menit melewati jalanan kota yang mulai ramai. Sesampainya di halaman panti asuhan yang asri namun sederhana itu, Nayara dan Fathan langsung disambut oleh suasana yang riuh rendah penuh keceriaan. Puluhan anak-anak panti dari berbagai usia tampak berlarian ke sana kemari, bersorak gembira di bawah rindangnya pohon mangga besar di halaman tengah.

"Ramai banget ya, Kak," komentar Fathan sambil mematikan mesin mobil. Ia melepas sabuk pengamannya, lalu melirik ke arah kerumunan anak-anak di tengah lapangan rumput panti. "Tumben anak-anak panti keliatan excited banget kayak lagi kedatangan pesulap."

Nayara mengangguk setuju. Ia membuka pintu mobil, turun dengan langkah tenang sambil membawa tas jinjingnya, diikuti oleh Fathan di belakangnya yang membantu membukakan pintu bagasi belakang tempat kotak-kotak makanan disimpan.

Namun, rasa penasaran segera merayap di benak kakak beradik itu. Di tengah kerumunan anak-anak kecil yang tertawa lepas, tampak sesosok pemuda bertubuh tinggi tegap sedang duduk bersila di atas rumput. Pemuda itu mengenakan kaos polos berwarna abu-abu gelap dengan lengan digulung sekenanya, tampak dikerumuni oleh anak-anak yang berebut menunjukkan mainan baru atau sekadar meminta digendong. Sesekali, suara tawa renyah terdengar dari arah sang pemuda, membalas candaan anak-anak dengan sangat akrab dan penuh kehangatan.

Nayara dan Fathan berjalan mendekati teras panti sambil membawa beberapa kotak makanan pertama. Ibu panti—seorang wanita paruh baya berkerupuk sederhana dengan senyuman ramah bernama Ibu Asih—segera menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah... Eh, Nak Nayara dan Nak Fathan! Alhamdulillah, datang juga. Anak-anak dari tadi sudah nungguin makanan dari Ummi," sambut Ibu Asih hangat, menyalami Nayara dan Fathan bergantian.

"Maaf ya, Bu, agak telat sedikit karena tadi jalanan sempat macet di perempatan," balas Nayara dengan nada santun, tetap menjaga pandangannya agar tidak terlalu liar melihat sekeliling.

"Tidak apa-apa, Nak. Oh iya, kebetulan sekali kalian datang pas anak-anak lagi pada semangat banget main," ujar Ibu Asih sambil tersenyum lebar, matanya menatap ke arah lapangan rumput tempat pemuda tadi masih dikelilingi anak-anak. "Itu... lihatlah ke sana. Anak-anak lagi kedatangan tamu spesial yang sudah jadi pahlawan mereka."

Mendengar ucapan Ibu Asih, Fathan mengernyitkan dahi, sementara Nayara mengangkat pandangannya perlahan, mengikuti arah telunjuk Ibu Asih.

Seketika itu juga, langkah Nayara terhenti. Jantungnya serasa berdegup kencang, dan napasnya tertahan di tenggorokan.

Sosok pemuda yang sedang asyik bermain bersama anak-anak panti itu, yang baru saja berdiri dan merapikan celananya, adalah Revan.

Pencahayaan matahari pagi yang menimpa halaman panti memperjelas wajah tampan pemuda itu yang dipenuhi keringat tipis akibat kelelahan berlari-lari bersama anak kecil. Tidak ada kesan arogan, tidak ada topeng bad boy yang biasa ia tunjukkan di koridor kampus mewah. Yang terlihat di hadapan Nayara saat ini adalah sisi lain dari Revan yang begitu lembut, tulus, dan memancarkan kehangatan luar biasa.

Nayara tertegun di tempatnya. Pikirannya mendadak kosong. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang selama ini dikenal sebagai playboy elite kampus, pemegang prinsip hidup bebas, dan non-muslim yang hidup di dunia metropolis bisa berada di panti asuhan sederhana ini dan memperlakukan anak-anak yatim piatu dengan penuh kasih sayang?

Ibu Asih, yang tidak menyadari keterkejutan di wajah Nayara, melanjutkan ucapannya dengan nada penuh kekaguman yang mendalam.

"Nak Revan itu... luar biasa sekali, Nak Nayara," ucap Ibu Asih dengan mata berkaca-kaca penuh rasa terima kasih. "Hampir setiap minggu, paling sering hari Sabtu atau Minggu, dia selalu menyempatkan diri datang kesini menengok adik-adik di panti ini. Dia sudah menganggap anak-anak panti ini sebagai adiknya sendiri. Hatinya mulia sekali... Sering sekali dia diam-diam membelikan makanan kesukaan mereka, mainan baru, bahkan membantu biaya sekolah anak-anak yang hampir putus sekolah."

Mendengar penjelasan panjang lebar dari Ibu Asih, pertahanan Nayara semakin runtuh. Gelombang kekaguman yang amat besar bergemuruh di dalam dadanya. Selama ini ia mengira Revan mendekatinya hanya karena taruhan atau rasa penasaran sesaat. Namun melihat kenyataan di depan matanya hari ini, Nayara menyadari bahwa ada sisi jiwa Revan yang jauh lebih dalam dan bersih dari apa yang selama ini ia bayangkan.

Di sebelah Nayara, Fathan mendengus pelan. Remaja SMA itu melipat tangannya di dada, menatap tajam ke arah Revan dengan bibir mengerucut sinis.

"Ah... paling cuma pencitraan," celetuk Fathan ketus dengan suara setengah berbisik, berusaha menepis rasa kagum yang hampir merasuki hatinya sendiri. "Mana mungkin cowok songong kayak dia punya niat tulus kayak gitu. Paling cuma mau cari perhatian atau tebar pesona doang."

Nayara menyenggol pelan lengan adiknya, memberi isyarat agar Fathan tidak berkata sembarangan di hadapan Ibu Asih.

Sebelum Ibu Asih sempat membalas ucapan Fathan, anak-anak panti yang menyadari kehadiran Ibu Asih di teras berhamburan mendekat sambil berteriak gembira, memanggil nama Ibu Asih dan melambaikan tangan ke arah kotak makanan.

Revan, yang ikut berjalan mendekat di antara kerumunan anak-anak, mengangkat kepalanya. Pandangan mata tajam namun teduh itu akhirnya bertumbukan langsung dengan manik mata cokelat jernih Nayara yang berdiri terpaku di teras panti.

Revan sedikit terkejut mendapati kehadiran Nayara di tempat itu, namun sesaat kemudian, sebuah senyuman tulus terukir di sudut bibirnya—bukan senyuman miring penuh godaan seperti di kampus, melainkan senyuman hangat yang menenangkan.

Ibu Asih melambaikan tangan memanggil Revan untuk mendekat ke arah teras. "Nak Revan! Sini, Nak. Kebetulan sekali hari ini panti kedatangan tamu istimewa dari Pondok Pesantren Al-Hikmah. Kenalkan, ini Nak Nayara..."

Belum sempat Ibu Asih merampungkan kalimat perkenalannya, Revan sudah melangkah mendekat dengan santai, menatap Nayara lekat-lekat, lalu memotong ucapan Ibu Asih dengan suara tenang yang terdengar jelas di telinga semua orang yang berdiri di teras.

"Tidak perlu diperkenalkan lagi, Bu," ucap Revan sambil tersenyum tipis ke arah Ibu Asih, sementara matanya tetap terkunci pada wajah Nayara yang merona kemerahan. "Saya sudah kenal dengan Nayara. Sangat kenal, bahkan."

Fathan mendengus semakin keras mendengar jawaban itu, sementara Nayara menundukkan pandangannya, merasakan sekujur tubuhnya menghangat di tengah riuh rendah gelak tawa anak-anak panti yang mengelilingi mereka berdua. Di bawah naungan langit panti asuhan yang damai hari itu, tabir rahasia di antara dunia mereka perlahan-lahan terbuka semakin lebar, membawa takdir keduanya pada lembaran cerita yang jauh lebih dalam dari yang pernah mereka duga.

1
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!