Op*n VC*
60 menit = 100rb
30 menit = 50rb
Bisa transfer ke no. Rek xxxxxx
Atau via ovo dan gopay
Siapa sangka seseorang yang membuat status di atas adalah seorang siswi SMA yang tak memiliki wajah sempurna. Andini terpaksa melakukan pekerjaan itu untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Dia hanya menyebut dirinya, Angel si gadis bertopeng. Karena setiap kali dia buka slot, dia akan memakai topeng untuk menyembunyikan identitas aslinya.
Di kehidupan nyatanya, dia jauh dari kata sempurna. Perundungan di sekolah selalu dia dapatkan.
"Dasar cewek jelek! Miskin! Siapa yang bakal suka sama lo! Mimpi saja buat dapatin Irvan seorang ketua OSIS yang jelas sempurna."
Tapi ingat, cinta itu tak memandang fisik. Dia justru terjebak cinta Irvan si ketua OSIS dan Pak Eza, guru muda yang baru saja mengajar di sekolahnya dengan sejuta misterinya.
Pada siapa Andini menjatuhkan pilihannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Not This Time
"Ren, lo pulang pake ojol aja ya. Mobil gue biar di sini." kata Eza sambil membuka pintu mobilnya setelah mereka sampai di depan rumah Andini dari rumah sakit.
"Asiap." Rendi juga keluar dari mobil. "Gak butuh bantuan lagi bos? Bantu gendong dia misalnya."
Lagi-lagi Eza menatap tajam Rendi. "Kalau mau jadi player itu tahu tempat."
"Cuma bercanda bos." Rendi terkekeh. Sedari tadi dia terus menggoda bos bucin itu.
"Tunggu dulu, lo bukain dulu pintu rumahnya. Ni kuncinya."
Rendi menurut begitu saja sambil terus tertawa penuh arti.
Setelah Andini berada di gendongannya, Eza segera masuk ke dalam rumah.
"Selamat menikmati hari bos." kata Rendi sambil menutup pintu.
"Hmm, maaf Pak. Saya bisa sendiri. Pak Eza lebih baik pulang saja." Andini merasa tidak nyaman karena sedari tadi sudah beberapa kali digendong Eza.
"Gak usah didengerin kata si player barusan Lagian kata Dokter kaki kamu tidak boleh digerakkan dulu biar cepat sembuh. 2-3 hari kamu harus istirahat total." Eza berjalan mendekati sebuah pintu yang tertutup. "Ini kamar kamu?"
Andini mengangguk pelan.
Eza masuk ke dalam kamar Andini lalu merebahkan tubuh Andini di atas ranjang. Ranjang yang biasanya hanya bisa Eza lihat lewat video call.
"Masih terasa sakit?" Eza duduk di tepi ranjang sambil mengusap pelan sekitar kaki Andini yang sudah terbalut perban coklat.
"Sedikit." Sebenarnya Andini ingin ke kamar mandi dan ingin membasuh dirinya karena rasanya sangat gerah. Tapi haruskah minta tolong sama Eza. Andini hanya mampu menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa? Lapar? Bentar aku order makanan dulu ya."
Andini menggeleng pelan. "Saya mau ke kamar mandi. Tapi biar saya sendiri saja." Dia berusaha menurunkan kakinya.
"Jangan! Biar aku gendong. Kaki kamu gak boleh gerak dulu."
"Saya gak enak sama Pak Eza. Saya tidak mau terus merepotkan seperti ini."
Eza justru mengusap pipi Andini dengan lembut. "Kamu pernah bilang kan, gak ada yang merawat kamu ketika kamu sakit. Mulai sekarang aku siap merawat kamu." katanya dengan lembut.
Andini hanya terdiam saat Eza kembali menggendong dirinya menuju kamar mandi yang memang terpisah dari kamar tidur. Kamar mandi itu berada di dekat dapur.
"Bisa? Yakin bisa?" tanya Eza sekali lagi.
Andini meragu. Dia nampak berpikir lagi. Apa minta tolong sama Mbak Sita tetangga sebelah saja. Eh, tapi mereka semua sangat sombong. Bahkan menyapanya saja tidak pernah. Memang gadis yang malang.
"Kalau gak bisa, aku bisa bantu man..."
"Tidak usah Pak. Bapak tunggu diluar saja." jawab Andini cepat saat Eza sudah menurunkannya di dalam kamar mandi dekat bak air. Ingin memandikannya? Impossible.
"Oke. Aku tunggu di depan ya. Kalau ada apa-apa atau udah selesai kamu panggil aja." Lalu Eza keluar dan menutup pintu kamar mandi.
Sambil menunggu Andini mandi, Eza mengorder makanan. Karena untuk sampai di rumah biasanya butuh waktu cukup lama.
Cukup lama Andini di dalam kamar mandi, hingga beberapa saat kemudian terdengar sebuah teriakan.
"Aawww..."
Eza segera berdiri dan berlari menuju kamar mandi. Tanpa berpikir panjang dia langsung membuka pintu kamar mandi tapi justru teriakan Andini semakin keras.
Andini yang saat itu memang sedang terjatuh di kamar mandi dengan hanya bertumpu tangan seketika memutar tubuh polosnya memunggungi Eza yang tengah berdiri terpaku di ambang pintu.
"Pak Eza ngapain masuk!?" Andini mendekap dirinya sendiri. Dia rasanya ingin lenyap saja dari bumi ini sekarang juga.
Eza terpaku beberapa saat tak juga menjawab Andini. Dia telan salivanya beberapa kali. Ada rasa yang langsung dihantar oleh mata menuju dada yang membuatnya berdesir seolah membakar diri. Punggung mulus seputih susu itu seolah ingin mematikan akal sehatnya.
No!! Not this time!