NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Malam semakin larut. Restoran yang semula dipenuhi suara tawa kini mulai lengang. Beberapa tamu memilih pulang, sementara pelayan mulai merapikan meja-meja yang telah kosong.

Namun di meja, suasana justru semakin tegang.

Ratna mengusap lembut punggung Sari yang masih berpura-pura sesenggukan. "Sudah, Sayang. Tante kenal Danis. Dia memang keras kepala kalau sedang marah."

Sari mengangguk pelan sambil mengusap air matanya. "Tapi... Tante, aku benar-benar nggak ada hubungan apa-apa sama laki-laki itu. Itu cuma teman."

Ratna menggenggam kedua tangan Sari. "Tante percaya sama kamu."

Senyum tipis hampir saja terbit di bibir Sari. Beruntung, ia segera menundukkan wajah agar tidak terlihat.

"Danis itu cuma salah paham."

Ratna mengembuskan napas panjang. "Nanti biar Tante yang bicara."

Rania ikut mengangguk. "Iya. Danis itu memang kadang terlalu cepat mengambil kesimpulan."

Sari kembali berpura-pura menangis. "Kalau Mas Danis benar-benar ninggalin aku gimana, Tante?"

Ratna langsung menggeleng. "Tidak akan. Tante nggak akan membiarkan itu terjadi."

Ucapan itu membuat hati Sari bersorak. Persis seperti yang ia inginkan. Selama Ratna masih berada di pihaknya... Kesempatan menjadi nyonya Arganta belum sepenuhnya tertutup.

Di sisi lain...

Danis dan Faas baru saja keluar dari area parkir klub. Angin malam berembus cukup kencang. Danis berdiri di samping mobilnya tanpa sedikit pun berniat masuk. Tatapannya kosong menembus jalan raya. Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini... Nama yang muncul membuat Danis langsung mengembuskan napas kasar.

Mama.

Faas melirik layar ponsel itu. "Nggak diangkat?"

Danis mengangkat panggilan tersebut. "Ma."

"Danis!" suara Ratna langsung terdengar tinggi. "Kamu keterlaluan!"

Danis menutup matanya sejenak. "Apa lagi sekarang?"

"Apa lagi katanya? Kamu tega bikin Sari nangis!"

Danis tertawa pelan. Tawa yang terdengar begitu hambar. "Nangis?"

"Iya! Dia terus menangis sejak teleponmu diputus." Ratna melanjutkan dengan nada penuh pembelaan. "Kamu itu laki-laki harusnya mendengar penjelasan dulu. Jangan asal menuduh."

Danis mengangkat wajahnya menatap langit malam. "Menuduh?"

"Iya. Itu cuma teman Sari. Teman kerja."

Danis mengusap pelipisnya. "Ma... Aku melihat semuanya."

Ratna terdiam beberapa detik. "Tapi..."

"Aku melihat sendiri. Dia dipeluk. Dia peluk balik. Dia dicium. Dan dia tidak menolak." Suara Danis tetap tenang. Justru ketenangan itu terdengar lebih menyeramkan.

Ratna masih berusaha mencari pembelaan. "Siapa tahu itu cuma...."

"Cukup." Danis memotong. "Kalau Mama tetap mau membelanya... Itu hak Mama. Tapi mulai malam ini... Aku sudah selesai dengan Sari. Tidak ada lagi yang perlu dibahas."

"Danis!"

Klik.

Sambungan telepon kembali terputus.

Ratna menatap layar ponselnya dengan wajah merah padam. "Anak itu!"

Rania menghela napas. "Ma, tenang dulu."

"Tidak bisa!" Ratna membanting sendok ke atas meja. "Sejak kenal Calista, sifat Danis berubah!"

Kalimat itu membuat Sari menundukkan kepala agar senyum tipisnya tidak terlihat. Di dalam hatinya... Ia justru sedang menyusun rencana lain.

 "Kalau jalan lembut sudah tidak berhasil... Berarti aku harus memakai cara yang lebih licik." Batin Sari. Ia mengangkat wajahnya perlahan.

"Tante..."

Ratna langsung menoleh.

"Aku nggak mau kehilangan Mas Danis. Aku sayang sama dia." Suara Sari terdengar lirih. Begitu meyakinkan.

Ratna langsung memeluknya lagi. "Kamu tenang. Tante yang akan mengurus semuanya. Tante janji."

Sari mengangguk pelan. Namun di balik pelukan itu... Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk seringai tipis. Tak seorang pun menyadari perubahan raut wajahnya.

"Danis... Kalau cara baik-baik tidak berhasil membuatmu kembali... Maka aku akan membuatmu tidak punya pilihan selain menikah denganku." Batin Sari. Kilatan licik memenuhi kedua matanya. Malam itu... Permainan Sari yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Keesokan harinya... Matahari baru saja naik ketika jalanan ibu kota mulai dipenuhi kendaraan.

Calista berjalan pelan di atas trotoar. Sebuah tas ransel kecil tersampir di bahunya, sementara koper yang kemarin ia bawa telah ia titipkan di sebuah rumah kontrakan sederhana yang berhasil ia sewa dengan sisa tabungannya.

Langkahnya masih terasa berat. Bekas luka di hatinya belum sempat mengering. Bekas nyeri di tubuhnya pun masih sesekali terasa setiap kali ia berjalan terlalu cepat. Namun ia terus melangkah.

Mulai hari ini... Ia harus belajar hidup sendiri. Ia menundukkan kepala sambil menggenggam map berisi beberapa berkas lamaran kerja. "Ayah..." bisiknya lirih "Calista pasti bisa."

Meski suara itu terdengar begitu pelan, kalimat tersebut menjadi satu-satunya penyemangat yang masih ia miliki.

Di sisi lain. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di lampu merah.

Ratna duduk di kursi belakang. Di sampingnya, Rania sibuk memperbaiki riasan wajah menggunakan cermin kecil.

"Mama, nanti kita langsung ke butik atau ke salon dulu?"

"Ke butik dulu." Ratna menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari luar jendela.

Namun... Tatapannya mendadak membeku. "Itu..."

Rania ikut menoleh. Matanya langsung menyipit. "Calista?"

Di seberang jalan, perempuan berhijab krem itu sedang berjalan seorang diri.

Pakaiannya sederhana. Sepatunya pun tampak sudah usang.

Ratna langsung mendengus. "Dasar."

Lampu lalu lintas berubah hijau. Alih-alih melanjutkan perjalanan, Ratna justru memerintahkan sopir menghentikan mobil di tepi jalan.

"Berhenti."

"Baik, Bu."

Mobil itu menepi.

Belum sempat Calista menyadari keberadaan mereka, pintu mobil sudah terbuka.

Rania turun lebih dulu. Disusul Ratna. Langkah keduanya langsung mengarah kepada Calista.

Calista yang sedang menatap berkas di tangannya baru menyadari kehadiran mereka ketika sebuah suara sinis menyapa.

"Wah... ternyata belum jauh juga perginya."

Calista mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan Ratna dan Rania. Jantungnya langsung berdegup tidak nyaman. Ia menarik napas pelan.

"Assalamualaikum."

Tak ada jawaban.

Ratna hanya menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. "Lihat, Ran. Baru sehari keluar dari rumah sudah seperti orang kehilangan arah."

Rania tersenyum mengejek. "Aku kira setelah cerai hidupmu bakal lebih hebat. Ternyata tetap saja menyedihkan."

Calista menundukkan kepala. "Saya permisi." Ia mencoba melangkah melewati mereka.

Namun... Rania sengaja menghalangi jalannya.

"Mau ke mana?"

"Saya ada urusan."

"Kerja?"

Calista mengangguk kecil.

Rania tertawa. "Memangnya ada perusahaan yang mau menerima janda miskin sepertimu?"

Kalimat itu membuat beberapa pejalan kaki mulai menoleh.

Calista berusaha tetap tenang. "Tolong minggir."

"Oh..."

"Berani juga sekarang."

Ratna melangkah mendekat. "Kamu lupa, ya? Kalau bukan karena keluarga kami, mungkin kamu masih tinggal di rumah reyotmu."

Calista mengepalkan jemarinya. "Saya tidak pernah meminta dinikahi."

"Tapi kamu menikmati semua fasilitas keluarga kami!" bentak Ratna.

Calista menggeleng. "Saya tidak pernah mengambil apa yang bukan hak saya. Mulai dari pakaian sampai perhiasan, semuanya saya tinggalkan."

Ratna justru mendengus. "Itu memang bukan milikmu."

Suasana mulai memanas. Beberapa orang berhenti berjalan, memperhatikan keributan yang mulai terjadi.

Rania memandang Calista dengan penuh kebencian. Entah dorongan apa yang menguasainya. Dengan langkah cepat, ia mendekati Calista.

"Kamu masih berani tampil sok suci begini?" Tangan Rania terangkat. Ia meraih ujung jilbab Calista dengan kasar.

"Mbak... jangan!" Calista spontan memegang jilbabnya.

Namun tenaga Rania jauh lebih kuat. Dalam satu sentakan keras... Jilbab Calista terlepas dari kepalanya dan jatuh ke trotoar. Rambut panjang Calista yang selama ini tertutup langsung terurai.

Calista refleks memeluk kepalanya dengan kedua tangan. Wajahnya memucat. Matanya membesar karena terkejut.

Beberapa orang yang melihat kejadian itu langsung bergumam pelan. Seorang ibu paruh baya tampak menggeleng prihatin.

Seorang pemuda bahkan melangkah satu langkah ke depan seolah ingin membantu, tetapi masih ragu karena melihat pertengkaran itu adalah urusan pribadi.

Calista segera berjongkok hendak mengambil jilbabnya. Namun sebelum sempat meraihnya... Rania menendang kain itu hingga bergeser beberapa meter.

"Tutup kepalamu nanti saja!" ejeknya.

Air mata Calista langsung menggenang. Bukan karena jilbabnya terlepas. Melainkan karena harga dirinya kembali diinjak di depan banyak orang. Dengan tangan gemetar, ia melangkah mengambil jilbabnya. Tangannya bergerak cepat menutupi kembali rambutnya. Napasnya memburu. Namun di tengah rasa malu yang begitu besar, ia tetap berusaha menahan diri. Ia tidak membalas. Ia tidak berteriak. Ia hanya memandang Ratna dan Rania dengan mata yang berkaca-kaca.

"Saya harap... setelah ini Ibu dan Mbak tidak mengganggu hidup saya lagi." Kalimat itu keluar begitu lirih.

Lalu Calista membungkukkan badan mengambil map lamaran kerjanya yang terjatuh. Beberapa lembar berkas telah berserakan di trotoar, terbawa angin pagi. Satu per satu ia memungutnya dalam diam, sementara tatapan orang-orang di sekitar mulai berubah—bukan lagi kepada Calista, melainkan kepada Ratna dan Rania yang berdiri dengan wajah angkuh di tengah keramaian.

"Kami juga tidak sudih bertemu dengan kamu lagi Cuih!"

#Lanjut gak?!

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!