NovelToon NovelToon
MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

Status: sedang berlangsung
Genre:Kerajaan / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 : Benteng Pertahanan Terakhir Sang Ksatria

Gerbang Dalam yang Terkunci

Setelah melintasi ruang arsip rahasia, langkah Cassian, Aurelia, dan Panglima Kaelen terhenti di hadapan sebuah gerbang besi obsidian berukuran raksasa. Gerbang tersebut dipenuhi pahatan simbol-simbol kuno yang menyala merah darah, memancarkan gelombang hawa panas dan aroma belerang yang sangat menyengat. Di balik pintu raksasa inilah letak Altar Utama, tempat Lord Malakor tengah menjalankan ritual kebangkitan Raja Iblis Kuno.

"Pintu ini tidak memiliki selot atau kunci fisik," ujar Kaelen seraya menyapu pandangan ke sekeliling bingkai gerbang yang terbuat dari batu granit tebal. "Seluruh permukaannya dilapisi oleh Sihir Pengikat Jiwa. Tanpa menghancurkan simpul utamanya, pintu ini tak akan pernah bisa didobrak."

Aurelia melangkah mendekat, mengarahkan tongkat sihir Mawar Emasnya ke arah simbol utama di tengah pintu. "Simpul sihirnya terhubung langsung dengan lima pilar penopang di sekeliling aula ini. Jika kita mencoba membukanya secara paksa dari luar, energi reaksi baliknya akan meledakkan seluruh lorong ini dan mengubur kita hidup-hidup."

Cassian mengepalkan tinjunya, menatap tajam ke arah nyala merah pada pintu tersebut. "Lord Malakor tahu kita akan sampai di sini. Ia sengaja mengulur waktu agar ritualnya selesai sebelum kita sempat menembus pintu ini."

Kemunculan Pengawal Bayangan Abadi

Sebelum mereka sempat menyusun rencana untuk menetralkan kelima pilar sihir tersebut, lantai batu di bawah kaki mereka mendadak bergetar hebat. Retakan-retakan hitam bercahaya keunguan merekah di sepanjang lorong, dan dari dalam tanah bermunculan lima sosok ksatria berzirah hitam kelam. Mereka adalah Pengawal Bayangan Abadi, elit pertahanan terkuat yang diciptakan khusus dari jiwa-jiwa prajurit kuno yang telah disesatkan oleh sihir Lord Malakor.

Masing-masing pengawal menggenggam pedang dua tangan yang dikelilingi api hitam mematikan. Matanya menyala merah tanpa ekspresi, siap membantai siapa saja yang mendekati pintu utama.

"Kalian bertiga tidak akan pernah bisa melangkah lebih jauh!" seru salah satu Pengawal Bayangan dengan suara bergema yang dalam dan tidak manusiawi. "Ritual Tuanku Lord Malakor hampir sempurna. Kebangkitan kegelapan abadi sudah di depan mata!"

"Barisan perisai, siapkan pertahanan!" teriak Kaelen memimpin para prajurit gabungan yang tersisa. "Jangan biarkan mereka menembus barisan belakang!"

Pertempuran Sengit di Lorong Granit

Pertempuran sengit tak terelakkan terjadi di ruang lorong yang sempit. Cassian melompat ke depan, mengayunkan pedang besarnya yang diselimuti es abadi untuk menahan tebasan api hitam dari Pengawal Bayangan pertama. Dentuman keras berkumandang saat es dan api hitam bertabrakan, menciptakan gelombang uap panas yang memenuhi ruangan.

Di sampingnya, Aurelia terus merapalkan mantra pelindung, membentangkan perisai cahaya keemasan untuk melindungi para prajurit dari percikan api hitam yang beracun. Namun, kekuatan para Pengawal Bayangan ini jauh lebih tangguh daripada prajurit Kultus yang mereka hadapi sebelumnya. Setiap tebasan mereka mampu meretakkan baju zirah besi dan memancarkan tekanan aura yang menekan jiwa.

"Cassian, Aurelia! Jalur menuju pilar sihir di sebelah kanan terbuka!" seru Panglima Kaelen di tengah kecamuk perang. Tombak kembar emas milik Kaelen berkilat cepat, menancap tepat di leher salah satu Pengawal Bayangan dan menahannya ke dinding batu.

"Kaelen, kita harus menghancurkan kelima pilar itu bersama-sama!" balas Cassian seraya menebas dada musuh di hadapannya hingga membeku dan hancur berkeping-keping.

"Tidak ada waktu!" teriak Kaelen dengan suara tegas namun penuh emosi. "Jika kalian bertarung di sini, energi kalian akan habis sebelum berhadapan dengan Lord Malakor. Pergilah menembus pintu itu begitu aku membuka celahnya!"

*•*

*•*

Keputusan dan Pengorbanan Kaelen

Panglima Kaelen menarik napas panjang. Ia memusatkan seluruh sisa energi sihir dan daya hidupnya ke dalam dua tombak kembar pusaka keluarganya. Aura keemasan membara yang sangat terang mendadak menyelimuti tubuh Kaelen, memancarkan tekanan sihir murni yang mendorong mundur para Pengawal Bayangan.

"Kaelen, apa yang akan kau lakukan?!" teriak Aurelia dengan mata berkaca-kaca, menyadari bahwa Kaelen sedang memicu teknik terlarang Pengorbanan Jiwa Ksatria untuk menyegel kelima pilar sekaligus.

"Tugasku adalah memastikan Sang Pengantin Kerajaan dan Pemimpin Kami sampai ke tujuan akhir dengan selamat," ujar Kaelen seraya menoleh sebentar, memberikan senyuman bangga dan tulus kepada Cassian dan Aurelia. "Ingat janji kita... bebaskan benua ini dari kegelapan!"

Dengan teriakan gemuruh yang menggetarkan seluruh benteng, Kaelen menghujamkan kedua tombak kembarnya ke inti lantai batu. Gelombang ledakan cahaya emas yang dahsyat meledak ke segala arah, menjalar cepat menembus dan menghancurkan kelima pilar sihir di sekeliling ruangan secara bersamaan. Bersamaan dengan hancurnya pilar-pilar tersebut, seluruh Pengawal Bayangan hancur terurai menjadi debu, dan gerbang besi raksasa di hadapan mereka akhirnya roboh terbuka lebar.

"KAELEN!" teriak Cassian, namun gelombang energi emas yang menahan reruntuhan pintu memaksa Cassian dan Aurelia terdorong masuk ke dalam Ruang Altar Utama.

Di dalam Ruang Altar Utama yang sangat luas, Lord Malakor tampak berdiri di atas podium batu tinggi, dikelilingi oleh pusaran api hitam dan jiwa-jiwa liar yang melayang di udara. Pintu di belakang Cassian dan Aurelia tertutup rapat oleh reruntuhan batu, mengunci mereka di dalam arena pertempuran penentu.

Dengan duka yang mendalam atas pengorbanan Kaelen, Cassian dan Aurelia menggenggam senjata mereka erat-erat, menatap langsung ke mata merah Lord Malakor. Perjalanan panjang dan penuh pengorbanan ini kini telah mencapai ambang batasnya.

1
Anisa Nur Afifah
haii kak baguss bngett sukaaa ceritanyaaa,

ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!