Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 09
Gejolak hormon serotonin menjadi penyebab meningkatnya libido kedua pasang suami istri itu. Aktivitas mereka menjadi semakin intens. Napas keduanya tak beraturan lagi.
"Darling! Please....!!!"
Suara manja Antika menjadi penyulut api hasrat semakin berkobar dalam diri Aldri. Ia pun menyerah pada keadaan. Hatinya menolak akal sehatnya. Aldri mengubah posisinya. Kini iya berada di atas Antika dengan bertopang pada kedua lengan kekarnya.
"Tika apa kamu tidak takut?"
Aldri bertanya dengan suara parau. Antika menggeleng dengan yakin. Kedua tangannya iya kalungkan ke leher Aldri dan membawanya mendekat hingga bibir keduanya bertemu kembali. Ciuman itu berlangsung cukup lama. Aldri pun beralih mengecup leher Antika yang jenjang lalu.....
Sunyi malam menjadi sebab suara desah nafas insan yang bergelung dengan hasrat itu semakin menggema dalam ruangan. Sepasang terkasih bagai lasak memeluk cinta. Dingin malam menjadi saksi bisu bahwa keduanya kini telah berpadu menjadi satu.
Senyuman bahagia menghiasi raut wajah cantik seorang gadis yang kini telah menginjak dewasa. Ia larut dalam buayan mimpi indah yang terasa begitu nyata.
Aldri yang terperanjak dengan segera terbangun dari mimpinya. Napas nya tersenggal senggal seakan-akan tengah berlari dari kejaran nafsu birahi. Tubuhnya basah dipenuhi keringat. Mimpi yang ia alami terasa begitu nyata. Setiap sentuhan dan bisikan yang Antika lakukan tergambar jelas dalam pikirannya. Kedua tangannya mengusap peluh pada mukanya. Pria itu segera beristighfar.
Astagfirullah..... apakah membujang selama belasan tahun bisa membuat otakku mendadak mesum. Padahal selama ini aku tidak pernah mengalami mimpi basah bersama Antika. Pikiran ini benar-benar edan.
Aldri yang masih tidak mempercayai mimpi yang baru saja ia alami terpaksa harus mandi junub. Kucuran air dingin setidaknya mampu menyegarkan otaknya yang sedang kacau. Gema adzan shubuh yang berkumandang menjadi pengingatnya bahwa ia bisa mencurahkan segala gundah gulana kepada -Nya.
Aldri bermunajat dan khusyuk memohon kepada sang pencipta untuk menjaga agar raga dan jiwanya selalu terjaga. Ia berharap pikiran-pikiran kotornya tidak akan menyakiti Antika.
Aldri menuruni anak tangga sambil memperhatikan Antika yang sedang menunggunya di meja makan bersama ibunya. Ketika ia melewati kamar Antika sekilas ia memandang ke dalam. Pikiran nya tiba-tiba mengingat mimpi semalam. Aldri menggeleng dengan cepat menepis semuanya meskipun tak bisa dipungkiri jantungnya kini berdetak dengan kencang.
Sarapan pagi ini sungguh berbeda dari biasanya. Setelah sebulan lebih mereka menghabiskan waktu lebih banyak di rumah sakit. Hari ini untuk pertama kalinya mereka kembali berada di meja makan bertiga. Namun dengan suasana dan status yang berbeda 360°.
Antika sangat ceria ketika Aldri menatapnya, wajahnya merona. Ia lebih banyak tersenyum, sedangkan Aldri seolah fokus dengan dunianya sendiri.
"Darling! Kenapa tidak makan? Apa sakit? Antika spontan meletakkan punggung tangannya ke kening Aldri. "Nggak panas."
"Ay -ah aku tidak apa-apa Tika. Hanya sedikit lelah saja."
"Kalau begitu jangan dipaksakan pergi ke kantor. Aku nggak mau Darling sakit."
"Tidak apa-apa sudah biasa. Lagi pula kalau hari ini aku tidak ke kantor semua planning ku tidak akan selesai sesuai jadwal. Aku tidak apa-apa sayang." Aldri mencoba tersenyum.
"Baiklah kalau begitu."
Indira yang memperhatikan dalam diam interaksi keduanya memilih bungkam. ia sungguh tidak dapat berbuat banyak. Hanya doa terbaik yang ia panjatkan bagi keduanya.
"Aku berangkat ya. Hati hati di rumah bersama ibu." Antika mengangguk dan mencium punggung tangan suaminya. Ia ingin sekali mengecup bibir sang suami, tetapi urung dilakukan karena ada ibunya. Gadis itu memilih mencium kening Aldri sambil berjinjit. Aldri akhirnya melakukan hal yang sama.
Kini hanya kecupan di kening saja bisa membuat jantung Aldri berjoget tak karuan. Apakah ini efek dari sebuah ikatan pernikahan? Entah lah semua terasa berbeda dan baru bagi Aldri.
Suasana kantor di Jakarta tidak jauh berbeda dengan di Surabaya. Seperti biasa Aldri akan mengecek grafik perkembangan hasil penjualan setiap hari.
Setelah menyelesaikan pengecekan Aldri menuju ke kantor ditemani sang sekretaris yang notabennya sahabat karibnya sejak sekolah dasar. Wanita tomboy yang terlihat cuek dan dingin.
"Akhirnya kamu balik lagi ke sini hah?" Ucap Egi sang sekretaris. Tanpa diminta ia dengan santai duduk di sofa ruang kerja Aldri.
"Ya, siapa yang menyangka semua yang terjadi sungguh di luar dugaan."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Banyak." Aldri menghela nafas selalu mengikuti sekretarisnya duduk di sofa yang berbeda.
"Coba ceritakan padaku."
"Nanti saja. Saat ini aku sedang tidak ingin membicarakannya."
"Apakah sangat menyakitkan? Seperti yang dulu kamu alami? Apakah ini masalah asmara lagi?" Egi sahabatnya sejak kecil, maka dari itu ias begitu mengenal perangai sahabat baiknya itu.
"Entah lah, Gi. Apakah bisa disamakan atau tidak? Karena keduanya saling terkait." Aldri bersandar pada punggung sofa. Ia memijat keningnya.
"Sudahlah kalau tidak ingin membicarakannya. Ehmm.... bagaimana kalau kita bersama? Aku yang traktir sebagai perayaan kembalinya sang miliarder di perusahaan ini. Bagaimana apa kamu setuju?" tawar Egi sambil mengeringkan mata.
"Miliarder nenekmu, Gi. Sejak kapan aku menjadi miliarder? Kalau benar aku akan membeli semua saham yang ada di negeri ini." Aldri tertawa lepas.
"Nah! Begitu lah, Al. Begini lah Aldri yang aku kenal, selalu ceria dan pantang putus asa. Semakin tua kok semakin melempem."
"Hai! Siapa yang tua?" Aldri melempar bantal sofa ke muka Egi. Wanita itu pun tak dapat menahan tawanya.
"Ngomong - ngomong kamu lagi single kan? Bagaimana kalau kita coba kencan?"
"Edan!" Egi tertawa semakin lebar. Jauh di lubuk hati keduanya saling memahami hal itu tidak akan mungkin.
"Lagi pula siapa yang mengatakan aku masih single? Itu hanya pikiranmu saja."
"Hah! Jadi maksudmu kamu sudah punya pasangan?"
"Lebih tepatnya istri."
Egi yang sedang meminum air putih saat itu sentak menyemburkan air dari mulutnya. Ia terbatuk karena tersedak.
"Ih, Egi! jorok sekali kamu. Hati hati kalau minum." Aldri menyodorkan sekotak tisu kering kepada Egi.
"Jangan bercanda kelewatan dah. Kalau memang sudah merit mengapa tidak undang aku? Tega sekali kamu."
"Maafkan aku! Semua terjadi mendadak dan di luar rencana."
"Tunggu - tunggu. Tunggu sebentar. Di luar rencana? Apa jangan-jangan kamu menghamili anak gadis orang, hah? Al, aku tidak sangka kamu seperti itu."
"Edan! Mana mungkin aku melakukan itu. Kamu tahu aku sangat menghormati perempuan seperti aku menghormati ibuku, kecuali Kamu yang edan tapi waras ini."
Egi tertawa lebar sama sekali tidak ada rasa tersinggung dalam hatinya. Karena ia tahu sifat dan perilaku dirinya yang bahkan lebih kuat dibandingkan laki-laki.
"Hah..... sepertinya gelar sebagai pria incaran janda kembang akan tanggal, nih, aduh sayang sekali, Al."
"Makin edan omongan." kedua nya pun pecah dalam tawa.
"