Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Pertemuan Dua Keluarga
Pagi itu, rumah Hanifah masih diselimuti suasana yang mencekam. Tidak ada suara televisi seperti biasanya. Meja makan pun masih dipenuhi makanan yang sejak tadi tidak ada seorang pun menyentuhnya.
Hanifah memilih mengurung diri di kamar. Semalaman ia hampir tidak tidur. Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis.
"Hanifah." Suara ibunya terdengar dari balik pintu. "Nak, buka pintunya."
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Wajah Hanifah terlihat pucat. Rambutnya sedikit berantakan. Ia hanya menundukkan kepala tanpa berani menatap ibunya.
"Keluar sebentar, ya," ucap sang ibu lembut. "Kamu belum makan apa pun sejak semalam."
"Aku belum lapar, Bu," lirih Hanifah.
"Walaupun kamu tidak lapar, anak yang ada di dalam kandunganmu juga butuh makan."
Perlahan, Hanifah mengangguk. "Iya, Bu."
"Ibu ambilkan makanan dari dapur saja, kamu tunggu di sini."
Belum sempat ibu Hanifah melangkah ke ruang makan...
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuat keduanya saling berpandangan. Ibu Hanifah langsung menoleh ke arah ruang tamu. Sementara ayah Hanifah yang sejak tadi duduk diam di kursi rotan, perlahan berdiri.
"Biarkan Ayah yang buka," ucap sang ayah, suaranya terdengar berat. Beliau melangkah menuju pintu.
Saat daun pintu terbuka, tampak tiga orang berdiri di depan rumah. Arkana, ayahnya, dan ibunya.
Arkana langsung menundukkan kepala begitu melihat ayah Hanifah. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Tatapan ayah Hanifah berubah dingin.
"Kalian datang juga," tegas ayah Hanifah.
Ayah Arkana mengangguk pelan. "Maaf mengganggu pagi-pagi begini."
"Masuk." Nada bicaranya datar. Tidak terdengar ramah, namun cukup untuk mempersilakan mereka masuk.
Mereka duduk di ruang tamu dengan suasana yang canggung. Tak seorang pun berani membuka pembicaraan.
"Saya buatkan teh di belakang dulu," pamit ibu Hanifah sembari bangkit dari kursi itu dan menuju ke dapur.
Ayah Arkana berdiri dari duduknya. Beliau menatap ayah Hanifah dengan wajah penuh penyesalan.
"Sebelumnya... izinkan saya memperkenalkan diri. Saya ayah Arkana. Dan ini istri saya."
Ayah Hanifah hanya mengangguk tipis. "Saya tahu tujuan Bapak datang ke sini."
Ayah Arkana menarik napas panjang. "Saya datang bukan untuk membela anak saya." Kalimat itu membuat ayah Hanifah perlahan mengangkat wajahnya. "Saya datang untuk meminta maaf."
Tanpa diduga, ayah Arkana membungkukkan badannya cukup dalam. Istrinya ikut melakukan hal yang sama.
"Maafkan anak kami," pinta ayah Arkana dengan suara bergetar.
Ruangan mendadak sunyi. Sementara Hanifah yang berdiri di balik pintu kamar, mulai meneteskan air mata.
Ayah Hanifah tetap diam. Wajahnya sulit ditebak. Beberapa detik berlalu, barulah beliau membuka suara.
"Kalau permintaan maaf bisa mengembalikan nama baik anak saya..." Beliau menatap Arkana tajam. "...saya akan memaafkan kalian saat ini juga."
Tak ada yang mampu menjawab. Ayah Arkana kembali menundukkan kepala. "Saya mengerti perasaan Bapak."
"Tidak." Ayah Hanifah menggeleng. "Bapak tidak akan pernah mengerti."
Suasana kembali menegang. Ayah Hanifah berdiri dari duduknya.
"Saya membesarkan Hanifah dengan susah payah. Saya percaya penuh kepada anak saya. Tapi sekarang..." Beliau menatap Arkana. "...anak saya harus menanggung rasa malu karena perbuatan anak kalian."
Arkana mengepalkan kedua tangannya. Ia tahu semua ucapan itu memang pantas ia dengar. Perlahan, Arkana berdiri. Kemudian, di luar dugaan semua orang, ia berlutut tepat di hadapan ayah Hanifah.
"Arkana!" seru ibunya pelan, kaget melihat aksi putranya.
Namun Arkana tetap menundukkan kepala. "Maafkan saya, Pak. Saya datang ke sini bukan untuk mencari pembenaran. Saya datang untuk mengakui kesalahan saya." Arkana menarik napas panjang. "Dan saya ingin bertanggung jawab atas Hanifah."
Ruangan kembali hening. Hanifah yang sejak tadi berdiri di balik pintu tak kuasa lagi menahan tangisnya. Air matanya kembali mengalir. Sementara kedua orang tua Arkana hanya bisa menundukkan kepala. Mereka sadar tidak ada kata-kata yang mampu menghapus luka yang telah terjadi.
Keheningan memenuhi ruang tamu. Tidak ada yang langsung menanggapi ucapan Arkana. Semua orang seolah sedang memikirkan keputusan yang akan mengubah hidup dua anak muda di hadapan mereka.
Ayah Hanifah masih menatap Arkana yang berlutut di hadapannya. "Kamu bilang ingin bertanggung jawab?"
"Iya, Pak."
"Tanggung jawab seperti apa?"
Arkana menarik napas pelan. "Saya ingin menikahi Hanifah."
Ayah Hanifah tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. "Menikah?"
"Iya, Pak."
"Kalau kalian menikah hanya karena keadaan, apa kamu yakin bisa membahagiakan anak saya?"
Arkana mengangkat kepalanya. "Saya tidak bisa berjanji hidup kami akan selalu mudah. Tapi saya berjanji tidak akan meninggalkan Hanifah."
Ayah Arkana ikut angkat bicara. "Pak... saya tahu kesalahan anak saya sangat besar. Kalau Bapak masih memberi kesempatan, kami ingin memperbaiki semuanya."
Ayah Hanifah mengembuskan napas panjang. "Tidak ada yang bisa diperbaiki." Beliau berhenti sejenak. "Yang bisa dilakukan sekarang hanya bertanggung jawab."
Semua kembali terdiam. Beberapa saat kemudian, ayah Hanifah kembali bertanya, "Kalau kalian menikah... kalian akan tinggal di mana?"
Pertanyaan itu membuat Arkana menoleh kepada kedua orang tuanya. Mereka memang belum sempat membahasnya bersama. Arkana kembali menghadap ayah Hanifah.
"Saya sudah memikirkannya, Pak." Semua mata langsung tertuju kepadanya. "Sebelum datang ke sini, saya sudah mencari beberapa rumah."
Ayah Hanifah mengernyit, merasa heran. "Kamu sudah mencari rumah?"
"Iya, Pak. Saya memang belum memiliki banyak tabungan. Tapi saya menemukan sebuah rumah yang harganya masih bisa saya jangkau."
"Rumah seperti apa?" selidik ayah Hanifah.
"Rumah sederhana. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk kami memulai kehidupan setelah menikah."
Ruangan kembali hening. Hanifah yang sejak tadi berdiri di dekat pintu kamar, perlahan membukanya kecil dan mengintip ke arah Arkana. Ia baru mengetahui bahwa lelaki itu ternyata sudah memikirkan tempat tinggal mereka.
"Kalau Bapak mengizinkan..." lanjut Arkana. "Setelah urusan ini selesai, saya akan menemui pemilik rumah itu. Saya ingin membicarakan pembeliannya."
Ayah Hanifah menatap Arkana cukup lama. Tatapannya masih dipenuhi kekecewaan. Namun untuk pertama kalinya, ia melihat kesungguhan dalam diri lelaki itu.
"Kamu bekerja di mana sekarang?"
"Saya bekerja sebagai staf administrasi, Pak."
"Gajimu cukup?"
Arkana menggeleng pelan. "Belum terlalu besar."
"Lalu bagaimana kamu akan menghidupi istri dan anakmu nanti?"
"Saya akan bekerja lebih keras. Kalau perlu, saya akan mencari pekerjaan tambahan."
Ayah Hanifah tidak langsung menjawab. Beliau berdiri, lalu berjalan menuju jendela. Pandangannya mengarah ke luar rumah. Beberapa detik kemudian, beliau berkata pelan, "Rumah bisa dibeli. Uang bisa dicari. Tapi kepercayaan..." Beliau menoleh ke arah Arkana. "...sekali hilang, sangat sulit untuk dikembalikan."
Arkana mengangguk mantap. "Saya mengerti, Pak. Mulai hari ini... saya akan membuktikan bahwa saya pantas menjadi suami Hanifah."
Ayah Hanifah menghela napas panjang. Beliau kembali duduk, kemudian menatap istrinya yang baru kembali dari dapur sejenak sebelum akhirnya mengambil keputusan.
"Baik." Semua orang langsung mengangkat kepala. "Saya akan menikahkan kalian."
Hanifah langsung menutup mulutnya, meredam isak tangis. Air mata haru kembali jatuh di pipinya.
Namun ayahnya kembali berbicara, menahan kelegaan mereka. "Jangan salah paham. Saya melakukan ini bukan karena saya merestui apa yang sudah kalian lakukan. Saya melakukan ini karena anak yang ada di kandungan Hanifah berhak memiliki ayah."
Arkana kembali menundukkan kepala. "Terima kasih, Pak."
"Simpan ucapan terima kasihmu. Buktikan lewat perbuatan."
"Iya, Pak."
Ayah Arkana langsung berdiri. "Terima kasih, Pak. Kami akan segera mengurus semuanya."
Ayah Hanifah mengangguk pelan. "Pernikahan dilakukan sesederhana mungkin. Saya tidak ingin menjadi bahan pembicaraan lebih lama."
"Kami mengerti."
Suasana yang sejak tadi tegang perlahan mulai mencair. Meski belum ada senyum yang menghiasi wajah siapa pun, setidaknya satu keputusan besar telah diambil hari itu.
Sebelum keluarga Arkana berpamitan, ayah Hanifah kembali memanggil Arkana. "Arkana."
"Iya, Pak."
"Kalau nanti rumah yang kamu maksud memang layak... bawalah Hanifah melihatnya. Karena setelah menikah... rumah itulah yang akan menjadi tempat kalian membangun keluarga."
Arkana mengangguk mantap. "Saya akan mengajaknya, Pak."