Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAMBILALIHAN SANG PENUAI
BAB 17: PENGAMBILALIHAN SANG PENUAI
Kapten Gareth, yang berada tidak jauh dari posisi Kael, membeku seketika.
Sepasang mata veteran miliknya membelalak tajam saat melihat sabit merah raksasa itu berputar sangat kencang, meluncur memotong udara lurus ke arah Kael.
Kael sendiri berdiri terpaku di atas tanah berpasir.
Kecepatan kembalinya sabit itu benar-benar di luar nalar, mengunci posisinya hingga ia tak memiliki celah sedikit pun untuk melangkah atau melompat menghindar.
Dari barisan pertahanan di belakang, Elena, Hugo, Ren, dan Suna berteriak histeris.
Suara kepanikan mereka pecah menembus deru angin, menyaksikan bahaya maut yang kini tepat berada di depan mata Kael.
Wuuuuuuhhhssss!
Di dalam kedalaman dimensi Void, Morthas hanya mendengus dingin. Tawa sinis yang hampa bergaung di tengah kekosongan batin Kael.
"Lihat apa yang kukatakan, Bocah?" ejek Morthas penuh keangkuhan.
"Sekarang nyawamu benar-benar di ujung tanduk. Sabit Sang Penuai Nyawa akan menuai jiwamu sendiri!"
Meski tubuh fisiknya terkunci oleh bahaya maut, pikiran Kael tetap bekerja dalam keheningan yang dingin. Ia menganalisis setiap kemungkinan dengan kalkulasi yang sangat presisi.
Di dalam dimensi batinnya, Kael membalas tatapan Morthas dengan sebuah seringai tipis yang sarat akan tantangan.
"Ya, dan kalau aku mati sekarang, kau akan membusuk dan terkurung di dalam dimensi Void ini selamanya, Morthas," sahut Kael tenang.
Seringai dan tatapan tak gentar dari Kael membuat Morthas sempat merasa gusar.
Namun jauh di dalam benak purbanya, Sang Penuai Nyawa tak bisa memungkiri rasa kagumnya.
Di situasi hidup dan mati yang teramat kritis seperti ini, anak di depannya tetap mempertahankan tekad baja yang sama sekali tak mengenal kata takut pada kematian.
"Bocah, dengarkan aku!" geram Morthas, suaranya merendah penuh penekanan.
"Hanya ada satu kesempatan. Dan aku tidak menjamin kau akan bertahan hidup atau mati setelah ini."
Morthas berhenti sejenak, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. Kael hanya terdiam di ruang batinnya, mendengarkan dengan saksama.
"Apa itu?" tanya Kael pendek.
"Turunkan seluruh benteng pertahanan wadah jiwamu dan masuklah sepenuhnya ke dalam dimensi Void," perintah Morthas.
"Biarkan aku yang mengambil alih ragamu di dunia nyata."
Kael sedikit tersentak.
Memori masa lalu berputar di kepalanya; terakhir kali kekuatan Morthas keluar secara penuh, jiwanya nyaris hancur dan ia koma selama tiga hari.
Namun Kael sadar betul, bertaruh pada risiko pengambilalihan raga jauh lebih baik daripada berdiri diam dan terbelah oleh sabitnya sendiri.
"Baiklah," jawab Kael mantap.
Morthas menyeringai puas.
Dalam hitungan fraksi detik, kesadaran jiwa Kael ambles sepenuhnya turun ke kedalaman dimensi Void.
Di dunia nyata, raga fisik Kael mendadak diambil alih.
Aura yang memancar dari tubuh pemuda itu bertransformasi secara ekstrem—bukan lagi energi Perunggu biasa, melainkan manifestasi dari konsep Kematian murni yang menusuk hingga ke tulang.
Hawa dingin yang menusuk membuat Elena, Ren, Suna, dan Hugo merinding hebat.
Bahkan Kapten Gareth yang berada di Ranah Emas merasakan naluri prajuritnya berteriak panik. Rasa takut akan kematian murni mendadak merayap ketat di dadanya.
Suara Morthas yang berat, dingin, dan bergaung purba keluar dari lisan Kael,
"Kembalilah, Sang Penuai Nyawa... kepada tuanmu! Haaaaah!"
Lengan kanan Kael terangkat ke udara.
Sabit raksasa yang tinggal beberapa meter lagi menembus dadanya perlahan-lahan menurun kecepatannya secara drastis.
WHUUUUUSSSSHH! BUUUUUMMMM!
Begitu gagang sabit merah itu tertangkap oleh kedua telapak tangan Kael, meledaklah gelombang energi hitam yang sangat masif.
Debu, kerikil, dan serpihan batu pasir terlempar ke udara, menciptakan pusaran badai kehampaan di sekitar tubuh Kael.
"Kael!" teriap Elena keras, matanya membelalak panik di balik asap yang mengepul.
Suna yang berada di sampingnya langsung menimpali dengan suara gemetar,
"Elena, tunggu! Dia... dia bukan Kael! Itu adalah entitas Misterius di dalam dirinya... Morthas, Sang Penuai Nyawa!"
Di barisan belakang, Hugo yang sedang terduduk lemas akibat menguras energi Morgrath untuk menyegel celah mendadak membeku. Wajah tambunnya pucat pasi.
"M-Mo... Morthas...?" bisik Hugo ketakutan.
Ia ingat betul betapa mengerikannya aura Morthas saat berhadapan dengan Morgrath di lapangan latihan beberapa waktu lalu.
Saat debu di lapangan perlahan menipis, sosok Kael yang kini dikendalikan penuh oleh Morthas terlihat menyeringai sinis.
Manik matanya menyala merah darah, dibungkus oleh kobaran aura hitam pekat yang mengintimidasi alam.
"Inilah saatnya... aku bersenang-senang dengan nyawa Beast busuk ini!" seru Morthas melalui tubuh Kael.
WUSH!
Tubuh Kael mendadak melayang melintasi udara tanpa menyentuh tanah.
Dengan dorongan kecepatan Void yang mengerikan, Morthas meluncur menerjang sisa-sisa Beast kecil yang berlarian panik di dalam ngarai.
Wush! Wush! Crak!
Hanya dalam satu ayunan melingkar dari sabit merah, puluhan Beast Kelas Rendah langsung terpotong menjadi bongkahan bangkai yang mengering.
Bahkan sebelum tubuh Beast-Beast itu menyentuh tanah, inti kristal di dalam dada mereka telah tersedot habis, terhisap masuk ke dalam daya tarik konseptual sabit Morthas.
Namun di dalam dimensi Void, jiwa Kael mulai mengalami tekanan hebat.
Kapasitas wadahnya yang masih berada di Ranah Perunggu terus terkoyak oleh daya tempur Morthas yang terlalu masif.
"Morthas... kalau kau terus memaksakan ragaku... jiwaku akan..." bisik Kael dalam batinnya.
Napas jiwanya mulai memburu sengal di tengah kegelapan Void, "Cepatlah... aku sudah di batas akhir..."
Morthas hanya terkekeh dingin, tetap melanjutkan pembantaian liar terhadap sisa-sisa Beast yang berlarian ke sana kemari ketakutan.
Setelah tidak ada lagi satu pun Beast yang tersisa di celah ngarai, Morthas mendengus puas.
Wush!
Aura hitam pekat itu perlahan menyusut dan ditarik kembali ke dalam Ranah Jiwa.
Morthas menyerahkan kembali kendali raga penuh kepada Kael, melayang surut menuju dimensi batin.
Begitu kesadarannya kembali ke dunia nyata, raga fisik Kael langsung ambruk dan berlutut di atas tanah berbatu.
"Uhuuuk! Uhukkk!"
Darah segar berwarna merah pekat memancur keluar dari mulut Kael.
Wadah jiwanya yang sempat dipaksa menampung Morthas mengalami keretakan internal yang teramat parah.
Melihat Kael yang limbung hampir terkapar, Elena melesat cepat ke udara bersama sayap ilusi Pyrael.
Gadis itu menukik turun dan menangkap tubuh Kael tepat sebelum wajah pemuda itu menghantam bebatuan.
"Bodoh! Apa yang sebenarnya kau pikirkan, hah?!" bentak Elena, suaranya terdengar panik bercampur kekesalan yang emosional.
Tanpa membuang waktu, Elena menyalurkan keunikan energi Phoenix murni dari Pyrael ke dalam dada Kael. Hawa hangat berpenyembuh mengalir perlahan, mencoba menutup luka-luka internalnya.
Meski daya penyembuh Phoenix tidak bisa memulihkan total karena luka yang dialami Kael terletak pada batas wadah jiwanya, aliran hangat itu setidaknya sanggup menahan napas Kael agar tidak terputus.
Suna, Ren, dan Hugo berlari mendekat.
Wajah mereka bertiga dipenuhi rasa cemas yang mendalam melihat paras Kael yang sepucat mayat dengan bercak darah di dada jubahnya.
Kapten Gareth melangkah cepat menghampiri mereka.
Pria veteran itu merogoh saku zirahnya, mengeluarkan sebutir obat berbentuk bundar yang memancarkan pendaran cahaya spiritual lembut.
"Telan ini, Kael! Ini pil pemulih jiwa tingkat tinggi!" perintah Kapten Gareth tegas seraya menyodorkan obat tersebut.
Kael yang masih lemas hanya bisa mengangguk pelan, menerima pil itu dan langsung menelannya bulat-bulat. Khasiat hangat dari obat itu perlahan merambat, menambal dinding wadah jiwanya yang sempat goyah.
"Kalian jaga Kael di sini! Aku akan memastikan area sekunder ini aman total!" seru Kapten Gareth seraya memutar tubuhnya ke arah dinding reruntuhan.
Sang Kapten berjalan mendekati tebing yang kini telah tertutup rapat oleh perpaduan batu gunung dan elemen tanah Morgrath. Di dalam benaknya, veteran Ranah Emas itu tak henti-hentinya merasa kagum.
Keunikan Anima Mitologi benar-benar tidak masuk akal. Tanpa elemen tanah Morgrath milik Hugo, celah ini mustahil bisa tersegel sekokoh ini dalam waktu singkat, batin Kapten Gareth.
Sementara itu, beberapa kilometer ke arah timur, pertempuran di benteng utama Kerajaan Volcania masih membara hebat. Asap hitam dan gempuran gelombang Beast dari retakan utama terus menerjang tanpa henti.
Meski sebagian besar Beast di area tersebut hanyalah kelas menengah, jumlah mereka yang masif perlahan-lahan mulai meruntuhkan garis pertahanan para prajurit kerajaan