Hi teman, ini adalah karya pertama aku di noveltoon.
Disini saya hanya belajar menulis, dan saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang perjalanan kehidupan, seorang Aditya Koesdiansyah.
Seorang pemuda tampan, yang menjadi tulang punggung keluarganya, setelah Dokter memvonis Ayahnya sakit.
Bagaimana kelanjutanya, tetep mampir di karya Author yang baru ini.
Karena insya Alloh Author akan rajin Update tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GANTENG KALEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJUJURAN
Di rumah sakit, Abraham geram melihat putranya yang terkapar tak berdaya dengan kedua tangan yang telah di gip oleh tenaga medis.
"Katakan David, siapa orangnya yang berani melakukan ini padamu, cepat katakan!" Abraham yang sudah di kuasai emosi.
"Aku tidak tahu siapa dia Ayah, tiba tiba saja dia menyerangku dari belakang membabi buta menghajarku tanpa ampun, aku mencoba melawanya. Tapi dia terlalu kuat untuk ku hadapi." jawab David dengan memutar balikan fakta.
"Tenang saja, David. Aku tak akan membiarkan hidup orang itu tenang, akan kubuat hidupnya seperti di neraka." Abraham mengepal tanganya dengan wajah yang kini sangat murka.
"Sekarang kau tidur dan beristirahatlah David, biar Papa yang menyelesaikan semua masalah ini." Abraham berlalu meninggalkan ruang rawat inap dimana David di rawat.
Para Bodyguard Abraham sudah siap menunggu perintah sambil berjalan mengikuti Abraham dari belakang.
"Sekarang, kalian temui security di perusahaan, dan kalian cek langsung, pastikan untuk langsung melaporkan ciri ciri pelaku penganiaya anaku!" titah abraham pada semua Bodyguardnya.
Semua Bodyguard langsung mengerjakan apa yang di perintahkan Abraham pada mereka. Dan mereka semua langsung kembali ke perusahaan menuju Ruang CCTV utsma
Sampainya mereka disana, para Bodyguard langsung menuju ruang cctv di temani kepala security. Kepala security memerintahkan bawahanya untuk memutar ulang rekaman cctvnya.
Mereka semua penasaran dengan pelaku di balik kejadian yang meresahkan bos besarnya.
Semua mata membulat dan bibir menganga setelah melihat isi rekaman cctvnya.
Semua orang tak menyangka, bahwa semua masalah penganiayaan itu bersumber dari David sendiri.
"Bos, bagaimana ini?" tanya kepala security pada kepala Bodyguard.
Kepala Bodyguard merasa bingung, dengan apa yang harus ia laporkan pada Abraham atasnya. Karena bagaimana pun juga, David selalu d belanya walau ia dalam posisi salah.
"Begini saja, kau lihat dan saksikan. Pastikan plat mobil yang di gunakan si pelaku, untuk masalah laporan biar aku yang mengurusnya." ucap kepala Bodyguard pada kepala Security.
"Siap, Bos." kepala security mengangguk dan kembali fokus pada rekaman cctvnya.
"Baiklah, aku pamit pergi dulu. Nanti kau hubungi aku." ucap kepala Bodyguard sambil berlalu meninggalkan ruangan cctv.
Kring.. Kring...
Suara bel sepeda Aditya yang baru saja sampai di depan rumahnya.
"Tuh anak kita sudah pulang," ucap Herman pada Siti yang sudah terlihat gelisah pada laki lakinya.
"I ya, Pak." Siti bangun dari duduk dan melangkah membukakan pintu untuk anaknya.
"Sudah pulang, Dit?" tanya Siti pada Adit yang baru saja melangkah masuk kedalam rumahnya.
Adit duduk di kursi ruang tamu dan menyimpan tas gendongnya. Dia menghela nafas dan membuaangnya dengan kasar.
"Kamu sudah makan apa belum, Dit?" tanya lagi Siti sambil mengelus kepala anaknya.
Adit terlihat sedikit memaksakan senyumnya pada kedua orangtuanya yang duduk tidak berjauhan dengan dirinya.
"Pak, Mak. Adit mau mandi dulu, setelah itu Adit pengen bicara sama Bapak dan Emak." Adit dengan malas menuju kamar mandinya.
Herman dan Siti saling bertatap muka, Herman menggedikan kepala pada Siti bertanya ada apa gerangan yang terjadi pada anaknya.
"Ibu juga tidak tahu, Pak. Kita tunggu saja sampai Adit selesai dengan mandinya." jawab siti.
"Ya sudah, sementara Adit mandi. Sekarang, Ibu siapkan makanan saja untuk Adit." titah Herman yang langsung di kerjakan Siti.
Mak Siti menggorng telur ceplok dan membuatkan mie goreng pedas kesukaan Adit untuk menu makan malam anaknya.
Dan setelah selesai, Siti segera membawanya ke ruang makan untuk di suguhkan pada anaknya.
Adit yang telah selesai dengan ritual mandinya, dirinya langsung mengganti baju dengan baju santainya. Dia keluar dari kamar dan bergegas menuju ruang makannya.
"Dit, ini Ibu sudah siapakan makananya. Buruan kamu makan nanti keburu dingin." ucap Siti yang melangkah dari ruang makan menuju ruang tamunya.
"Sudah, Bu?" tanya Herman yang melihat istrinya kini duduk di sampingnya.
"Sudah, Pak. Tuh anaknya lagi makan sekarang." Siti menyenderkan kepalanya di bahu Herman.
"Kenapa lagi, bu?, Kok hari ini Bapak lihat Ibu gelisah terus." Herman merangkul Siti dan mengusap usap bahunya.
"Ibu juga gak tahu, Pak. Tadi siang Ibu mimpi, Adit di seret pihak kepolisian tanpa sebab yang Ibu sendiri tidak tahu apa." Siti beranjak dari bahu Herman dan menatap lekat mata suaminya.
"Bu, itukan cuma mimpi. Dan belum tentu kenyataanya, lagi pula kita kan lihat, Adit baik baik saja." ucap Herman yang coba menenangkan istrinya.
Adit yang sudah selesai dengan acara makan malamnya. Dirinya langsung mencuci bekas piring makan dan minumnya. Dan setelah selesai, ia langsung menyusul kedua orangtua yang sudah menunggunya sedari tadi di ruang tamu.
"Pak, Mak." Adit yang baru saja datang, dia kini duduk di hadapan kedua orangtuanya.
Siti yang sedari tadi sudah terlihat gelisah, dirinya memberanikan diri untuk sekedar bertanya pada anaknya.
"Kamu kenapa, Dit?" kok wajahnya di tekuk gitu?" tanya Siti mengawali percakapanya.
"Pak, Mak. Adit pengen minta maaf." ucap Adit dengan menundukan kepalanya.
"Kamu kenapa lagi, Dit?, gak seperti biasanya." ucap Herman yang kini terlihat penasaran.
"Pak, Mak. Tadi siang, Adit berantem dengan orang, dan orang itu kini mengalami patah di bagian tanganya." Adit dengan berat menjelaskan pada kedua orangtuanya.
Mendengar penuturan anaknya, Siti seketika memegang dada dan menutup mulutnya yang ternganga dengan tangan.
"Kok bisa, Dit?, Mak sama Bapak tidak pernah mengajarkan kamu untuk menyakiti orang, apalagi sampai mematahkan tanganya." Siti menangis kecewa mendengar pengakuan anaknya.
"Tenang, Bu. Kita dengar dulu penjelasan lengkap dari Adit, Bapak yakin Adit tidak mungkin melakukannya dengan sengaja kalau tidak penyebabnya, dan Bapak yakin akan hal itu." Herman yang sudah tahu akan watak anaknya.
"Pak, Mak. Jadi begini...," Adit mencoba menceritakan kronologis kejadian yang menimpa dirinya, dan Adit menjelaskan pula emosinya tersulut ketika nama kedua orangtuanya di bawa bawa dan di samakan dengan sampah.
"Tuh, dengar sendiri kan, Bu." Herman memantapkan pendapat tentang watak anaknya pada Siti.
"Tapi Pak...," Adit tak langsung meneruskan ucapanya.
"Tapi kenapa lagi, Dit?" tanya Herman.
Adit memandang kedua orangtuanya dan kembali menunduk.
"Orang yang Adit pukul, dia adalah anak seorang pengusaha kaya, sekaligus rekan bisnis Non luna."
"Waduh," Herman membulatkan matanya.
"Adit takut kehilangan pekerjaan, karena ulah ini." Adit menutup muka dengan kedua telapak tanganya.
Herman bangun dari duduk, dan berpindah ke sebelah Adit.
"Dengarkan Bapak, dit. Sampai kapan pun, jika kamu dalam posisi kebenaran. Bapak insya allah akan mendukung kamu." Herman menepuk pundak Adit.
Siti pun terlihat mengangguk, dengan apa yang telah di ucapkan suaminya.
semanhat bang😊😊😊