NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001

Suara di Frekuensi Badai

“Nusantara 4521, deviasi ke kiri tidak dapat disetujui karena ada pesawat lain. Belok kanan ke heading 310 sekarang, atau beri tahu jika memilih pola tunggu.”

Kilatan merah dan ungu menutupi hampir separuh layar radar. Di luar gedung Jakarta Approach, hujan menghantam kaca seperti ribuan butir kerikil. Di dalam ruang kendali, suara Laras justru terdengar lembut, nyaris terlalu manis untuk perintah setegas itu.

Kapten Nusantara 4521 tidak segera membaca ulang.

“Jakarta Approach, apa cuma bisa dari kanan? Sel badai di depan kami makin menutup.”

Jari Laras berhenti di atas strip elektronik penerbangan itu. Di sisi kiri pesawat ada dua lalu lintas yang sedang turun, masing-masing membawa ratusan nyawa. Citra cuaca di layar mereka terlambat beberapa menit. Yang bisa melihat celah awan secara langsung hanyalah radar cuaca di kokpit.

Ia menekan tombol transmisi.

“Nusantara 4521, sisi kiri tidak tersedia. Ada pesawat yang mendekat dari arah pukul sepuluh, jarak dua belas mil. Belok kanan ke heading 310. Jika sudah memungkinkan, lanjutkan langsung ke rute dan laporkan setelah keluar dari area cuaca buruk.”

Kali ini jawaban datang tanpa bantahan.

“Belok kanan heading 310, akan melapor setelah keluar dari area cuaca buruk, Nusantara 4521.”

Laras baru melepaskan tombol ketika Rosa, yang duduk di posisi planner di sebelahnya, mendorong segelas air ke dekat sikunya.

“Tiga pesawat holding, dua minta deviasi, satu mulai hitung bahan bakar,” bisik Rosa. “Aku sudah koordinasi. Kalau angin geser muncul lagi, Tower mungkin tutup sementara 25L.”

Laras mengangguk tanpa mengalihkan mata dari layar. “Siapkan Halim dan Kertajati untuk opsi pengalihan. Yang bahan bakarnya paling ketat taruh di urutan pertama setelah celah terbuka.”

“Siap.”

Frekuensi kembali dipenuhi suara berlapis. Permintaan turun, laporan turbulensi, bunyi peringatan, dan desis statis saling mengejar. Di layar, label-label kecil bergerak menuju Soekarno-Hatta dari berbagai arah, sementara badai memaksa semuanya berebut jalur sempit yang sama.

Laras merapikan jarak satu penerbangan, menahan penerbangan lain di ketinggian delapan ribu kaki, lalu memindahkan pesawat yang bahan bakarnya menipis ke depan antrean. Bahunya kaku. Bantalan headset menekan pelipisnya, tetapi suaranya tak berubah sedikit pun.

“Jakarta Approach, Nusantara 8966, sedang turun melewati FL100, informasi Kilo, meminta pendekatan ILS runway 25L.”

Tangan Laras membeku sepersekian detik.

Suara itu rendah dan dingin. Tidak tergesa meski awan badai memenuhi jalur kedatangan. Setiap katanya jatuh bersih, tanpa satu suku kata berlebih.

Aneh. Ia merasa pernah mendengarnya.

“Nusantara 8966, Jakarta Approach, kontak radar. Turun ke ketinggian 6.000 kaki, QNH 1008. Karena cuaca, bersiap menerima panduan radar.”

“Turun ke 6.000 kaki, QNH 1008, Nusantara 8966.”

Pesawat itu muncul di tepi sel cuaca. Jalur yang beberapa menit lalu terbuka kini menyempit pada layar Laras. Ia tidak bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan warna yang mungkin sudah terlambat dua atau tiga menit.

“Nusantara 8966, konfirmasi mampu mempertahankan heading saat ini. Sel cuaca di arah pukul dua belas, jarak lima belas mil.”

Hanya ada satu detik desis statis sebelum suara berat itu kembali.

“Mampu. Celah terlihat aman pada radar kami. Kami dapat melanjutkan.”

Tidak ada keluhan. Tidak ada usaha memaksakan prioritas.

Ia memberi Laras informasi yang dibutuhkan, lalu menunggu keputusan.

Entah mengapa, detak jantung Laras ikut menyesuaikan irama suara itu.

“Nusantara 8966, pertahankan heading saat ini. Turun ke ketinggian 5.000 kaki, kurangi kecepatan menjadi 210 knot.”

“Pertahankan heading, turun ke 5.000 kaki, kecepatan 210 knot, Nusantara 8966.”

Mereka bergerak seolah telah berkali-kali melakukan ini bersama. Laras menutup jarak di belakang pesawat pertama, menggeser satu lalu lintas ke kanan, lalu memasukkan Nusantara 8966 tepat ketika celah di antara dua sel hujan terbuka.

Garis lintasannya bersih.

“Nusantara 8966, belok kiri heading 250, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25L. Hubungi Tower di 118.75.”

Suara itu terdengar sekali lagi di telinganya.

“Belok kiri heading 250, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25L. Tower 118.75. Terima kasih, Nusantara 8966.”

Terima kasih.

Dua kata sederhana itu terasa terlalu lama tertinggal setelah label penerbangannya berpindah dari frekuensi Laras.

Beberapa menit kemudian, peringatan angin geser kembali muncul. Tower menahan kedatangan berikutnya. Satu penerbangan memilih berputar, dua lainnya mulai membahas pengalihan.

Rosa melirik layar koordinasi, lalu menyentuh lengan Laras singkat.

“Delapan sembilan enam enam sudah mendarat. Dia satu-satunya yang berhasil masuk sebelum 25L ditahan.”

Laras menelan ludah. “Bagus.”

Hanya itu jawabannya. Ia kembali mengatur langit, tetapi suara kapten tadi terus berputar di kepalanya sampai akhir giliran kerja.

Saat Laras keluar dari gedung JATSC lewat tengah malam, hujan telah berubah menjadi gerimis. Udara Tangerang berbau aspal basah. Ia masuk ke mobil daring, menyandarkan kepala, lalu memejamkan mata.

Suara rendah itu datang lagi di sela deru ban.

Pertahankan heading.

Terima kasih.

Lalu, tanpa diundang, satu nama lama naik dari tempat paling dalam di ingatannya.

Arkananta.

Laras membuka mata begitu cepat sampai pengemudi di depan sempat menatapnya lewat kaca spion.

“Mbak nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Pak. Maaf.”

Ia memalingkan wajah ke jendela. Konyol. Sudah lebih dari sepuluh tahun, dan satu suara asing saja masih bisa menyeretnya kembali kepada laki-laki itu.

Sesampainya di rumah, Laras tidur tanpa sempat mengganti kaus. Namun, tidurnya dangkal. Ia bermimpi berdiri di bawah langit hitam, memanggil sebuah pesawat yang tak pernah menjawab. Ketika terbangun menjelang siang, dadanya masih sesak oleh nama yang sama.

Ponselnya menampilkan enam pesan dari Mama.

Mama:

Bangun belum?

Mama:

Jangan lupa jam dua.

Mama:

Mama sudah bilang kamu datang.

Mama:

Sekali ini aja, Nak. Kalau nggak cocok, Mama nggak paksa.

Laras mengusap wajah. Seminggu terakhir, Wulan membicarakan pertemuan itu seolah anaknya akan menghadapi wawancara kerja, bukan sekadar dikenalkan dengan putra seorang kenalan.

Ia menelepon balik sambil berjalan menuju dapur.

“Ma, Laras baru selesai shift malam.”

“Makanya Mama pilih jam dua, bukan jam sembilan pagi.” Suara Wulan terdengar bersama bunyi mesin penggiling kopi dari Kopi Wulan. “Datang, ngobrol baik-baik, minum kopi. Habis itu kalau kamu nggak suka, pulang.”

“Memangnya dia mau datang?”

“Mau. Mamanya sendiri yang bilang.”

“Itu bisa berarti dia juga dipaksa.”

Wulan tertawa kecil. “Berarti kalian sudah punya satu kesamaan.”

Laras tak bisa menahan senyum tipis. “Iya, iya. Laras datang.”

“Pakai yang rapi.”

“Laras cuma minum kopi, Ma.”

“Minum kopi juga jangan pakai kaus bekas tidur.”

Sambungan berakhir sebelum Laras sempat membantah.

Ia kembali ke kamar. Saat menarik laci untuk mencari jam tangan, ujung jarinya menyentuh sebuah buku bersampul biru tua di bagian paling belakang.

Gerakannya terhenti.

Karet pengikat buku itu sudah longgar. Sudut sampulnya aus, tetapi Laras tahu persis apa yang tersimpan di setiap halaman. Nama yang tadi muncul di mobil memenuhi terlalu banyak lembar di dalamnya.

Ia menarik buku harian itu setengah keluar. Ibu jarinya menekan tepi halaman, nyaris membukanya.

Tidak.

Laras mendorongnya kembali, menutup laci, lalu memutar kunci kecil yang selalu dibiarkan tergantung di sana.

Pukul setengah dua, ia baru memesan mobil menuju sebuah kafe di Jakarta Selatan. Ia tidak memakai riasan selain tabir surya dan lip balm. Blus putih sederhana dipadukan dengan celana panjang hitam. Rambutnya hanya diikat rendah.

Ia benar-benar berniat datang, menyelesaikan kewajiban, lalu pulang dan tidur lagi.

Kafe itu ramai oleh percakapan pelan dan aroma biji kopi yang baru dipanggang. Laras memeriksa pesan dari Wulan sekali lagi.

Meja dekat bar. Kemeja hitam.

Ia melangkah masuk sambil mencari sosok yang dimaksud.

Pandangan Laras berhenti pada seorang pria yang duduk santai di kursi tinggi dekat bar. Kemeja hitamnya digulung sampai siku. Sebelah tangannya memegang cangkir, sementara wajahnya menoleh sedikit ke arah jendela.

Garis rahang itu.

Mata tenang yang dulu hanya berani ia pandangi dari ujung koridor sekolah.

Laras berhenti bernapas.

Suara di frekuensi semalam. Nama yang memenuhi buku hariannya. Laki-laki yang membuatnya memilih jalan menuju langit meski ia sendiri takut pada ketinggian.

Arkan.

Ternyata dia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!