NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Cahaya Suci di Lautan Bangkai

​Lorong tangga darurat itu gelap gulita, dingin, dan dipenuhi bau busuk yang mengendap. Bercak tangan berdarah menghiasi dinding beton, menceritakan kengerian saat para staf medis dan pasien berusaha melarikan diri dari teror yang bangkit dari kamar mayat tiga hari yang lalu.

​Bagi manusia biasa, menaiki tangga ini sama saja dengan berjalan menuju neraka. Namun bagi Han Do-Yoon dan Yoo Ji-Ah, ini hanyalah rutinitas pembersihan.

​CRAT!

​Satu ayunan Pedang Panjang Besi Hitam memotong leher dua Mayat Hidup sekaligus di perbatasan lantai tiga. Yoo Ji-Ah mendarat dengan lutut ditekuk, mengambil napas sejenak, lalu mengibaskan darah hitam dari mata pedangnya.

​"Ayunanmu terlalu lebar pada tebasan kedua," tegur Do-Yoon dari belakangnya. Pria itu menaiki anak tangga dengan santai, kedua tangannya bersembunyi di dalam saku celana. "Energi anginmu terbuang sia-sia untuk memotong udara kosong. Di dalam ruang sempit seperti ini, fokuskan sihirmu pada ujung bilah, bukan pada seluruh permukaannya."

​Ji-Ah mengangguk, menyerap instruksi tersebut tanpa membantah. "Dimengerti, Ketua."

​Mereka terus bergerak naik. Di lantai dua hingga lantai empat, Do-Yoon nyaris tidak mengangkat tangannya. Ia sengaja membiarkan Ji-Ah menghadapi puluhan Mayat Hidup yang merayap di tangga darurat. Ini adalah bentuk pelatihan kejam namun efisien untuk mempercepat penyatuan gadis itu dengan Kelas Pahlawannya.

​Meski napasnya mulai tersengal-sengal, Ji-Ah tidak mengeluh. Tingkatnya perlahan naik menjadi 16. Matanya semakin tajam, dan gerakannya kehilangan sisa-sisa kepanikan, digantikan oleh ritme seorang pembunuh monster yang dingin.

​Ketika mereka akhirnya mendorong pintu baja berat yang menghubungkan tangga darurat dengan lantai lima, hawa di sekitar mereka berubah drastis.

​Kepadatan kabut wabah di lantai ini jauh lebih pekat daripada di lobi. Dinding-dinding lorong tertutup sepenuhnya oleh sulur daging berwarna hitam yang berdenyut layaknya jantung raksasa. Udara terasa beracun dan menyesakkan.

​Namun, di ujung lorong bangsal pediatri (perawatan anak) yang panjang tersebut, terdapat sebuah pemandangan yang bertolak belakang dengan kengerian di sekitarnya.

​Sebuah kubah cahaya keemasan yang setengah transparan menutupi pintu ganda salah satu ruang rawat inap. Cahaya itu memancarkan kehangatan, kemurnian, dan harapan. Itu adalah aura suci.

​Tetapi, kubah itu tidak dalam keadaan baik. Ratusan Mayat Hidup bermutasi—sebagian besar dari mereka berjalan merangkak di dinding seperti laba-laba—sedang berkerumun, memukul, mencakar, dan menggigit perisai cahaya tersebut dengan buas.

​Di tengah-tengah kerumunan itu, berdiri sesosok monster berukuran tiga meter. Tubuhnya terbalut daging membusuk yang membengkak, dan di tangan kanannya terdapat sebuah kapak tulang raksasa yang meneteskan racun.

​[Peringatan! Anda berpapasan dengan Pemimpin Bangsal: Algojo Wabah (Tingkat D+)!]

​Setiap kali kapak tulang itu menghantam kubah keemasan, retakan-retakan halus bermunculan di permukaannya. Cahaya perisai itu berkedip redup, menandakan bahwa sang pembuat sihir di dalam sana sudah berada di ambang batas kematian akibat kehabisan Energi Sihir.

​"Perisai itu akan hancur dalam tiga hantaman lagi," ucap Do-Yoon pelan, matanya menyipit menilai ketebalan sihir suci tersebut. "Ji-Ah, kau mundurlah ke tangga. Kabut racun di lorong ini terlalu pekat untuk kau hirup lama-lama. Biar aku yang mengurus rongsokan daging ini."

​Ji-Ah mengangguk patuh dan mundur satu langkah di balik pintu baja tangga darurat, meski matanya tetap mengawasi dari celah kecil.

​Do-Yoon merentangkan tangan kanannya. Bilah Penebas Malam memadat dari bayangannya, berdengung pelan seolah merasakan gairah sang tuan untuk kembali mencabut nyawa.

​Aura Ketiadaan yang hitam pekat meledak dari tubuh Do-Yoon, langsung membekukan udara di lorong sempit tersebut.

​Merasakan anomali energi mematikan dari belakang mereka, sang Algojo Wabah dan ratusan Mayat Hidup itu berhenti menyerang perisai suci. Mereka menoleh secara serentak ke arah Do-Yoon. Mata-mata hijau bernyala penuh kebencian menatap sang Pewaris Ketiadaan.

​GRAAAUUURRR!

​Sang Algojo Wabah menunjuk Do-Yoon dengan kapak tulangnya. Serentak, lautan mayat itu berbalik arah dan menerjang ke arah Do-Yoon layaknya ombak kematian di ruang tertutup.

​Bagi Pembangkit lain, terjebak di lorong sempit melawan ratusan monster adalah mimpi buruk. Menghindar ke kiri atau kanan adalah mustahil.

​Namun Do-Yoon hanya tersenyum sinis.

​"Sempurna. Kalian berbaris rapi agar aku tidak perlu repot-repot mengejar," guman Do-Yoon.

​Do-Yoon mengangkat pedang bayangannya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, lalu menyalurkan seluruh sisa Energi Sihirnya ke dalam bilah tersebut. Pedang itu memanjang dan membesar, menyerap seluruh cahaya di lorong itu hingga mengubahnya menjadi kegelapan total.

​"Tebasan Kehampaan," bisik Do-Yoon mematikan.

​Ia mengayunkan pedang raksasa itu ke bawah secara vertikal, menghantamkannya tepat ke lantai marmer lorong.

​SYRIIIIING—BOOOOM!

​Bukan tebasan biasa yang keluar. Gelombang sabit berwarna hitam pekat yang tingginya mencapai langit-langit dan lebarnya menyapu kedua sisi dinding lorong melesat maju dengan kecepatan peluru.

​Tebasan itu adalah perwujudan dari hukum penghancuran mutlak.

​Ratusan Mayat Hidup yang berada di barisan depan tidak sempat menjerit. Saat gelombang bayangan itu menyentuh tubuh mereka, daging, tulang, dan inti sihir mereka menguap menjadi debu dalam sekejap mata.

​Gelombang kematian itu terus melaju menyapu sepanjang lorong, memusnahkan apa pun yang dilewatinya. Sang Algojo Wabah mencoba mengangkat kapak tulangnya untuk menahan tebasan tersebut. Namun, sama seperti mayat-mayat lainnya, kapak dan tubuh raksasa monster itu terbelah menjadi dua, lalu hangus ditelan Ketiadaan.

​Dalam waktu kurang dari dua detik, lorong yang dipenuhi seratus lebih monster itu kembali sunyi senyap.

​Tidak ada darah. Tidak ada potongan tubuh. Hanya ada abu kelabu yang melayang di udara dan retakan memanjang di lantai marmer yang membelah lorong itu menjadi dua.

​[Anda telah melakukan Pembantaian Massal Absolut!]

[Anda telah mengalahkan Algojo Wabah (Tingkat D+).]

[Poin Pengalaman meningkat pesat!]

[Tingkat Anda telah naik!]

[Tingkat Anda saat ini adalah 27.]

[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' tersedak oleh ludahnya sendiri melihat daya hancur Anda di ruang sempit!]

[Rasi Bintang 'Penguasa Wabah' menjerit frustrasi melihat pasukannya musnah tanpa sisa!]

​Do-Yoon mengibaskan pedangnya hingga menghilang. Ia menyusuri lorong yang kini bersih dari monster, berjalan di atas lautan abu.

​Tepat saat ia tiba di depan pintu ganda ruang rawat inap anak, kubah cahaya keemasan yang melindungi pintu tersebut retak hebat layaknya kaca yang dihantam palu, lalu hancur berkeping-keping menjadi partikel cahaya yang pudar di udara.

​Pembangkit di dalam sana telah mencapai batas maksimalnya.

​Do-Yoon mendorong pintu ganda itu perlahan.

​Di dalam ruangan yang remang-remang, udara terasa hangat dan suci, jauh dari bau busuk kematian di luar. Di sudut ruangan, bersembunyi di balik ranjang besi, terdapat tiga orang perawat dan enam anak kecil berpakaian pasien yang saling berpelukan sambil menangis tanpa suara.

​Di depan mereka semua, berlutut seorang wanita muda berusia awal dua puluhan.

​Ia mengenakan jas dokter yang telah kotor, rambut panjang bergelombangnya berantakan. Darah segar menetes dari hidung dan sudut bibirnya—tanda bahwa ia telah membakar energi kehidupannya sendiri saat Energi Sihirnya habis demi mempertahankan perisai suci tersebut.

​Wanita itu adalah Seo Ah-In.

​Mendengar suara pintu terbuka, Ah-In mendongak dengan susah payah. Mata cokelatnya yang indah terlihat sayu dan dipenuhi keputusasaan. Ia mengira bahwa perisainya telah hancur dan monster-monster itu akhirnya masuk untuk membantai anak-anak di belakangnya.

​Namun, alih-alih monster mengerikan, ia melihat siluet seorang pria berjas hitam yang berdiri tegap di ambang pintu, berlatar belakang lorong yang kini kosong melompong.

​Do-Yoon menatap wanita itu. Ingatan dari kehidupan lalunya berkelebat singkat—Seo Ah-In di masa depan adalah 'Orang Suci' yang mengorbankan nyawanya untuk memurnikan racun dari tubuh ribuan penyintas. Ia adalah pahlawan sejati yang selalu mendahulukan orang lain, sifat yang sangat ditentang oleh Do-Yoon, namun sangat ia hargai sebagai aset.

​"K-kau... manusia?" bisik Ah-In dengan suara sangat lemah, pandangannya mulai mengabur.

​"Monster-monster di luar sana sudah musnah," jawab Do-Yoon, melangkah masuk ke dalam ruangan. Suaranya datar, namun membawa bobot kepastian yang tak terbantahkan. "Tugasmu sudah selesai."

​Mendengar konfirmasi itu, senyum lega terukir di wajah pucat Seo Ah-In. Beban berat yang ia pikul sendirian selama tiga hari penuh akhirnya terangkat. Kesadarannya putus, dan tubuhnya ambruk ke lantai.

​Sebelum kepala wanita itu menghantam ubin yang keras, Do-Yoon melesat dalam sekejap dan menahan bahu Ah-In.

​Di belakangnya, Yoo Ji-Ah baru saja berlari menyusul masuk ke dalam ruangan. Gadis itu terkesiap melihat anak-anak kecil yang ketakutan dan wanita muda yang pingsan di pelukan Do-Yoon.

​"Apakah dia... Seo Ah-In yang kau bicarakan?" tanya Ji-Ah, segera bergegas mengeluarkan botol air minum dari ranselnya.

​"Ya. Target nomor tiga," Do-Yoon membaringkan Ah-In dengan hati-hati, lalu menoleh ke arah para perawat yang masih gemetar di sudut ruangan. "Apakah ada Pembangkit lain di ruangan ini selain dokter ini?"

​Salah satu perawat yang lebih tua menggeleng cepat, air mata mengalir di pipinya. "T-tidak, Tuan! Hanya Dokter Seo! Selama tiga hari ini, dia menolak makan minum dan menggunakan semua kekuatannya untuk menciptakan perisai itu agar monster-monster tidak memakan anak-anak ini. Tolong... tolong selamatkan dia!"

​Do-Yoon mengamati wajah Ah-In yang pucat. Pembangkit kelas Penyembuh memang langka, dan Kelas Penyembuh Jiwa Suci adalah yang tertinggi di antara mereka. Kelemahannya adalah mereka sangat bergantung pada pengorbanan energi.

​"Dia tidak terluka, hanya mengalami Kelelahan Sihir Ekstrem," Do-Yoon membuka antarmuka Ruang Penyimpanan-nya. "Ji-Ah, berikan dia Ramuan Pemulih Stamina. Jangan ramuan penyembuh luka, tubuhnya akan menolaknya karena dia tidak memiliki luka fisik."

​Ji-Ah segera mematuhi, meminumkan cairan biru menyegarkan itu secara perlahan ke mulut Ah-In.

​Beberapa saat kemudian, napas Ah-In mulai teratur. Warna kemerahan perlahan kembali ke pipinya yang pucat. Kelopak matanya bergetar, lalu perlahan terbuka.

​Ah-In menatap Ji-Ah yang tersenyum lega, lalu menatap Do-Yoon yang berdiri menjulang di belakang dengan wajah tanpa ekspresi.

​"Di mana... di mana aku?" gumam Ah-In kebingungan. Ia mencoba bangkit dibantu oleh Ji-Ah.

​"Kau aman," jawab Do-Yoon, langsung to the point. "Namaku Han Do-Yoon. Pemimpin Serikat Ketiadaan. Aku datang ke rumah sakit busuk ini khusus untuk menjemputmu, Seo Ah-In."

​Ah-In terbelalak kaget. "K-kau tahu namaku? Dan kau... datang hanya untukku? Tapi bagaimana dengan anak-anak ini? Mereka harus diselamatkan!"

​Ah-In segera menoleh panik ke arah sudut ruangan, bernapas lega saat melihat anak-anak itu masih hidup dan menatapnya dengan khawatir. Sifat keibuannya langsung mengambil alih.

​Melihat hal itu, Do-Yoon menyilangkan lengannya di depan dada. Ia tahu, merekrut Ah-In tidak akan semudah Kang Tae-Ho yang memiliki pemahaman tentang pertarungan, atau Ji-Ah yang memegang dendam masa lalu. Wanita ini adalah perwujudan dari belas kasih buta. Jika ia tidak menanganinya dengan benar, Ah-In akan menjadi beban moral bagi serikatnya.

​"Aku memiliki satu aturan mutlak di serikatku, Seo Ah-In," ucap Do-Yoon, memotong reuni haru wanita itu. Suaranya sedingin es di tengah musim dingin. "Aku melindungi mereka yang berguna, dan aku tidak memberikan amal gratis kepada orang luar."

​Ah-In tersentak. Ia menatap pria berpakaian hitam di depannya dengan tatapan tidak percaya. "A-apa maksudmu? Anak-anak ini tidak bersalah! Mereka manusia!"

​"Di dunia yang baru, keluguan bukanlah mata uang yang berlaku," Do-Yoon mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dalam jiwa Ah-In. "Aku akan membawa anak-anak dan para perawat ini keluar dari rumah sakit, memberi mereka makan, dan menempatkan mereka di Zona Aman yang kumiliki."

​"Benarkah?" Mata Ah-In berbinar, setitik harapan kembali muncul.

​"Sebagai bayarannya," lanjut Do-Yoon, menghancurkan senyum wanita itu dengan syarat mutlaknya, "seluruh sisa nyawamu, kekuatan suci penyembuhanmu, dan kesetiaan mutlakmu adalah milikku. Kau akan menyembuhkan orang-orang yang kuperintahkan untuk disembuhkan, dan kau akan membiarkan mati orang-orang yang kuperintahkan untuk mati. Jika kau melanggar perintahku satu kali saja karena rasa ibamu yang naif... aku akan melemparkan semua anak kecil ini kembali ke jalanan yang dipenuhi monster."

​Keheningan seketika mencekik ruangan tersebut. Yoo Ji-Ah bahkan menahan napasnya, tidak menyangka Ketua-nya akan memberikan ancaman sekejam itu kepada seorang wanita suci yang baru saja mengorbankan nyawanya.

​Namun, Do-Yoon tahu apa yang ia lakukan. Belas kasih Ah-In harus dirantai dengan tanggung jawab ekstrem, atau wanita itu akan mati konyol di kemudian hari.

​Ah-In menatap Do-Yoon dengan mata gemetar. Air mata kembali menggenang. Ia melihat ke arah anak-anak yang menatapnya dengan penuh harap, lalu kembali menatap pria yang layaknya iblis tawar-menawar jiwa tersebut.

​Perlahan, wanita itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Aku... aku berjanji," bisik Ah-In dengan suara parau yang dipenuhi tekad. "Jika kau melindungi nyawa mereka... aku akan menjadi milikmu. Perintahmu adalah kehendakku, Tuan."

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!