Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Kegelapan di Balik Panji
Suasana di Balai Komando Kota Fajar terasa sebeku es.
Sebulan berlalu sejak Jenderal Bintang Lu dikalahkan. Di atas meja batu raksasa di tengah ruangan, terbentang peta kulit binatang dipenuhi belasan pion merah, mewakili Jenderal Bintang lain yang sudah turun dari Gerbang Bencana dan mulai mendirikan basis militer di berbagai titik strategis benua.
Satu pion merah besar diletakkan tepat di atas wilayah Danau Cermin, jalur suplai air utama di utara.
Xing Yun memindahkan pion hitam berlogo pedang menyilang, lambang Pasukan Pembelah Langit, menjauhi pion merah itu.
"Mundur," ucapnya dingin, tanpa menatap orang-orang di ruangan itu. "Tarik sisa Divisi Pertama dari Lembah Pinus. Kita serahkan wilayah itu ke Jenderal Bintang elemen Logam."
Brak!
Long Zhan menggebrak meja hingga retak. Sang Pendekar Tombak mencondongkan tubuh raksasanya ke depan, menatap Xing Yun dengan amarah membara.
"Mundur?! Kita sudah mundur tiga kali dalam dua minggu terakhir, Xing Yun!" raungnya. "Divisi Keduaku sudah gatal ingin merobek leher mereka! Kalau Cangtian ada di sini, dia tidak akan pernah membiarkan kita lari seperti anjing ketakutan!"
"Tapi nyatanya, Cangtian tidak ada di sini, Long Zhan." Xing Yun memotong tajam.
Ia mendongak, matanya sedingin batu obsidian, membalas tatapan sang naga raksasa. "Kaisar kita sedang koma di gubuk medis. Lengan kanannya nyaris diamputasi, bahu kirinya berlubang seukuran kepalan tangan. Kalau kau pikir bisa meniru aksi bunuh dirinya dengan memimpin divisimu menantang Jenderal Bintang, silakan pergi. Tapi bersiaplah melihat tiga ribu anak buahmu mati konyol dalam lima menit."
Long Zhan menggertakkan giginya. Ia tahu Xing Yun benar. Tapi darah petarungnya menolak menerima kepengecutan ini.
Su Ling'er, dengan kantung mata hitam yang menebal karena kelelahan, menghela napas pelan dari sudut ruangan.
"Lalu apa rencanamu, Xing Yun?" tanyanya. "Danau Cermin sekarang dikuasai Jenderal Bintang Mu. Mereka pakai air danau itu untuk mendinginkan tungku sihir mereka. Kalau mereka berhasil membangun benteng di sana, Kota Fajar terkepung dalam dua bulan."
Xing Yun tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya.
Ia berjalan menghampiri Ling'er, mengambil tabung bambu kecil berlapis timah dari keranjang sang tabib. Isinya cairan hitam pekat berbau busuk.
"Kau bilang ini kegagalan eksperimen saat mencoba membuat obat penambah Qi darah, bukan?" Ia mengguncang tabung itu pelan. "Sari dari Jamur Hantu yang salah diekstrak."
Ling'er mengerutkan kening. "Itu racun saraf yang sangat mematikan, Xing Yun. Merusak meridian dari dalam. Setetes saja bisa melumpuhkan ahli persilatan, dan manusia biasa akan mati kejang-kejang menyakitkan. Aku berencana membuangnya."
"Jangan dibuang." Xing Yun santai. "Beri aku tiga puluh kendi cairan ini. Divisi Bayanganku akan menyusup ke hulu sungai yang mengalir ke Danau Cermin, menuangkan semuanya malam ini."
Keheningan mencekam turun di balai komando.
Long Zhan membelalak. Bahkan Ling'er mundur selangkah dengan ekspresi ngeri.
"Kau gila?!" raung Long Zhan. "Meracuni sumber air? Itu taktik pengecut! Kita petarung, bukan pembunuh berantai sialan!"
"Dan yang lebih parah..." Suara Ling'er bergetar, menatap Xing Yun seolah menatap orang asing. "Basis Danau Cermin sedang dibangun pakai tenaga budak. Ada belasan ribu manusia fana dipekerjakan paksa di sana. Kalau kau racuni airnya, kau bukan cuma membunuh pasukan dewa, Xing Yun. Kau membantai belasan ribu rakyat kita sendiri!"
"Rakyat yang sudah mati," koreksi Xing Yun datar, meletakkan kembali tabung bambu itu ke meja. "Kalian pikir budak-budak itu akan dibiarkan hidup setelah benteng selesai dibangun? Tidak. Mereka akan disembelih untuk persembahan darah."
Ia mencondongkan tubuh ke depan, menopang dagu dengan kedua tangan, matanya menyapu wajah Long Zhan dan Ling'er dengan tatap yang kejam.
"Cangtian hampir mati membuktikan kita bisa membunuh satu Jenderal Bintang dengan pedang," ucapnya pelan.
"Sekarang ada lima belas Jenderal Bintang di luar sana. Kau mau korbankan tiga ribu prajurit Divisi Kedua untuk satu benteng? Lalu siapa yang melindungi kota ini besok?"
"Ini bukan soal jumlah pasukan, Xing Yun!" bentak Long Zhan, wajahnya merah padam. "Cangtian membangun pasukan ini untuk membebaskan umat manusia! Kalau kita bantai belasan ribu manusia tak berdosa hanya demi menang satu pertempuran... apa bedanya kita dengan dewa-dewa keparat itu?!"
"Bedanya, Long Zhan," jawab Xing Yun, suaranya tajam, "kitalah yang akan menulis sejarahnya nanti."
Ia berbalik membelakangi mereka berdua, menatap peta benua yang membentang luas.
"Sejarah tidak akan peduli berapa banyak budak mati karena racun. Sejarah hanya akan mencatat Pasukan Pembelah Langit berhasil menghancurkan basis Danau Cermin tanpa kehilangan satu pun prajurit Fajar. Aku tidak butuh persetujuan kalian. Sebagai Komandan Pengganti, perintah sudah kuberikan."
"Kau..." Long Zhan mencabut tombaknya, kemarahannya meledak hingga auranya menghancurkan kursi kayu di dekatnya.
"Hentikan, Long Zhan." Suara lemah Ling'er memotong. Sang tabib memejamkan mata, air mata mengalir membasahi pipinya. Ia tahu Xing Yun punya otoritas mutlak saat Cangtian tidak ada. Pertumpahan darah di antara mereka sendiri hanya akan menghancurkan segalanya.
Ling'er menatap Xing Yun dengan kekecewaan yang sangat dalam. "Aku akan siapkan racunnya. Tapi ingat ini, Xing Yun, saat Cangtian bangun nanti, kau sendiri yang harus menatap matanya dan menjelaskan pembantaian ini."
Ia berbalik, berlari keluar dari balai komando. Long Zhan mendengus marah, meludah ke lantai, lalu pergi.
Tinggal sendirian di ruangan yang remang, Xing Yun menatap tangannya sendiri yang sedikit gemetar.
Ia bukan psikopat. Ia tahu apa yang akan dilakukannya adalah kejahatan perang yang mengerikan. Ribuan manusia tak berdosa akan mati kejang-kejang dalam kesakitan karena perintahnya. Darah mereka akan selamanya menodai tangannya.
Tapi saat bayangan tubuh Ye Cangtian yang hancur bersimbah darah terlintas di benaknya, tangan Xing Yun berhenti gemetar. Rahangnya mengeras.
Cangtian terlalu terang untuk dunia yang gelap ini, batinnya, mengepalkan tinju nya erat-erat. Dia matahari. Dan matahari tidak boleh menodai dirinya dengan dosa.
Ia menatap pion hitam di atas peta.
Biar aku yang menanggung semua dosa dan kebencian itu. Biar aku yang jadi bayangannya. Semuanya... demi Kaisarku.
Malam itu, di bawah langit tanpa bintang, sebuah kereta kuda tertutup bergerak diam-diam keluar dari Kota Fajar. Membawa racun kematian yang akan menghapus puluhan ribu nyawa dari muka bumi, dan secara perlahan, menghapus sisa-sisa kemanusiaan di dalam jiwa Xing Yun.