Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Igauan di Malam Hari
Helena telah pergi. Taksi itu sudah melaju meninggalkan halaman mansion, membawa Helena kembali ke kehidupannya yang penuh rahasia. Arthur berdiri di depan pintu masuk utama, menatap kepergian Helena sampai taksi itu benar-benar menghilang di tikungan jalan. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan kesedihan, tidak juga kemarahan. Ada sesuatu yang justru menguat di dalam dirinya.
Mbok Jum mendekati Arthur dengan hati-hati. "Tuan, Nona Helena sudah pergi. Apa Tuan baik-baik saja?"
Arthur menoleh, tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Mbok Jum. Sangat baik, bahkan." Dia berbalik dan berjalan masuk ke dalam mansion, langkahnya tegap dan penuh keyakinan.
Mbok Jum mengikuti dari belakang, sedikit bingung. Dia mengira Arthur akan sedih atau marah setelah Helena pergi. Tapi Arthur justru terlihat sangat tenang, seolah-olah dia baru saja memenangkan sesuatu yang sangat berharga.
Arthur berjalan ke ruang kerja dan duduk di kursi eksekutifnya. Matanya menatap layar komputer, tapi pikirannya melayang ke malam sebelumnya. Saat Helena tertidur di pelukannya, dia mendengar sesuatu. Sesuatu yang mengubah segalanya.
---
Malam tadi, setelah Arthur menggendong Helena ke kasur dan memeluknya, dia tidak bisa langsung tidur. Dia hanya berbaring di samping Helena, menatap wajah Helena yang tertidur pulas, dan mendengarkan napas Helena yang teratur. Cahaya bulan menerobos tirai, menerangi wajah Helena dengan lembut. Arthur menikmati momen itu. Momen di mana dia bisa melihat Helena begitu tenang di dekatnya.
Namun, sekitar pukul dua dini hari, Helena mulai bergerak gelisah. Tubuhnya sedikit menggeliat, keningnya berkerut, dan napasnya menjadi tidak teratur. Arthur yang masih terjaga langsung memperhatikan.
"Hel, kamu oke?" bisik Arthur, khawatir Helena akan bangun.
Helena tidak bangun. Dia malah berguling ke arah Arthur, memeluk lengan Arthur erat-erat, dan mulai berbicara dalam tidurnya. Suaranya pelan, lirih, tapi jelas terdengar di keheningan kamar.
"James... jangan pergi... Mama sayang James..."
Arthur membeku. Matanya membelalak. Dia menatap Helena yang masih tertidur, dengan air mata tipis yang mulai mengalir dari sudut mata Helena.
"James... maafkan Mama... Mama cuma mau melindungi kamu..."
Helena mengigau lagi, dan suaranya penuh dengan kerinduan yang mendalam. Dia memeluk lengan Arthur seolah-olah dia sedang memeluk seseorang yang sangat dia cintai. "James... kamu tumbuh besar... Mama bangga sama kamu..."
Arthur mendengar semua itu. Setiap kata, setiap bisikan, setiap desahan rindu. Dan dia merasakan dadanya sesak. Bukan karena marah. Tapi karena dia mendengar kerinduan yang luar biasa dari seorang ibu kepada anaknya. Seorang ibu yang telah berjuang sendirian selama lima belas tahun.
James. Nama itu kembali terngiang di telinganya. Arthur teringat foto remaja yang dia lihat di Surabaya. Wajahnya, matanya, rahangnya—semuanya sangat mirip dengan dirinya. Dan kini, mendengar Helena mengigau dengan penuh cinta, Arthur semakin yakin.
Dia adalah anakku. Helena menyembunyikan anakku dariku.
Arthur mengepalkan tangannya. Dia ingin membangunkan Helena, memaksanya bicara. Tapi dia menahan diri. Helena sudah cukup menderita. Dia tahu Helena menyembunyikan James karena suatu alasan. Mungkin karena takut. Mungkin karena ada konspirasi yang belum terungkap.
Tapi sekarang, Arthur tidak akan tinggal diam lagi. Dia sudah tahu bahwa James ada di Surabaya. Dia sudah tahu bahwa James adalah anaknya. Dan dia sudah tahu bahwa Helena sangat mencintai James.
Kau tidak perlu takut lagi, Hel. Aku akan melindungi kalian berdua.
---
Kembali ke pagi hari, Arthur duduk di ruang kerjanya, menatap ponselnya. Dia menekan kontak Aldi.
"Aldi, aku punya tugas baru untukmu," ucap Arthur, suaranya tegas.
Aldi merespons cepat. "Saya siap, Pak. Apa yang harus saya lakukan?"
Arthur mengambil napas dalam. "Kamu harus mengawasi Helena. Dia baru saja meninggalkan mansionku, menuju Surabaya. Aku ingin kamu memastikan dia tiba di rumahnya dengan selamat. Jangan sampai dia diganggu oleh siapa pun. Dan aku ingin laporan setiap pergerakannya."
Aldi terdengar sedikit terkejut. "Jadi, Tuan membiarkan Nona Helena pergi?"
Arthur tersenyum tipis. "Aku membiarkannya pergi karena aku tahu dia harus pulang ke anaknya. Tapi aku tidak akan membiarkannya sendirian lagi. Aku akan menyusul Helena. Malam ini, setelah urusan kantor selesai, aku akan terbang ke Surabaya."
Aldi memahami maksud Arthur. "Saya akan menyiapkan tim pengawalan, Pak. Nona Helena akan diamati dari jarak jauh. Tidak akan ada yang mengganggu."
"Lakukan dengan hati-hati. Jangan sampai dia tahu dia diawasi," perintah Arthur.
"Dimengerti, Pak. Saya akan laporkan perkembangannya," jawab Aldi.
Arthur menutup telepon, lalu kembali menatap layar komputernya. Di layar itu, dia membuka foto James yang sudah dia simpan. Remaja itu tersenyum, dan Arthur merasakan ada ikatan yang tidak bisa dia jelaskan.
"James... aku ayahmu. Aku tidak tahu kamu ada di dunia ini. Tapi aku akan menemuimu. Dan aku akan memberitahumu siapa aku sebenarnya."
Arthur menekan tombol interkom, memanggil sekretarisnya. "Batalkan semua meeting malam ini. Ada urusan pribadi yang tidak bisa saya tunda."
Sekretarisnya menjawab, "Tapi Pak, meeting dengan investor dari Jepang sangat penting—"
"Batalkan," potong Arthur tegas. "Aku akan menggantinya lain waktu. Tidak ada yang lebih penting dari urusan ini."
Arthur menutup interkom. Dia berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap langit Jakarta yang cerah. Di dalam hatinya, dia sudah memutuskan. Malam ini, dia akan ke Surabaya. Dan dia akan bertemu dengan Helena, serta dengan James, anak yang telah dia cari tanpa sadar selama lima belas tahun.
---
Sore harinya, Arthur menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat. Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya. Dia sudah memberi instruksi pada Aldi untuk menyiapkan mobil dan kru pengawalan. Semuanya sudah siap.
Saat matahari mulai tenggelam, Arthur sudah berada di dalam mobil menuju bandara. Dia mengenakan pakaian yang lebih santai—kemeja hitam dan celana jeans—agar tidak terlalu mencolok saat tiba di Surabaya.
Di dalam mobil, ponselnya bergetar. Itu pesan dari Aldi.
"Nona Helena sudah tiba di rumahnya, Pak. Tidak ada yang mencurigakan. Dia langsung masuk dan tidak keluar lagi. Tim pengawasan sudah ditempatkan."
Arthur membalas. "Bagus. Terus pantau. Aku akan sampai di Surabaya pukul 21.00."
Arthur mematikan ponselnya, menatap jalanan Jakarta yang mulai gelap. Di depannya, ada perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Dia akan bertemu James, dan dia akan mengungkap semua rahasia yang Helena sembunyikan.
Tunggu aku, James. Ayah akan datang.