~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12 RAMALAN.
Keesokan harinya di istana kekaisaran Valeria.
Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh aroma khas kayu tua dan dupa kerajaan yang terbakar perlahan di pojok ruangan. Dindingnya dipenuhi rak buku kulit bersampul emas dan peta-peta tua kerajaan. Sebuah meja kerja berukir lambang Valeria naga bersayap kembar berdiri kokoh di tengah ruangan, memisahkan dua laki-laki bangsawan yang tengah berdiri saling menatap, Kaisar Severan Althorion Valeria dan Grand Duke Darian, adiknya.
Pagi itu tidak seperti biasanya.
Kaisar Severan memutar cincin di jarinya dengan gelisah. Wajahnya yang selalu tampak tak tergoyahkan, hari ini tampak diliputi kekhawatiran yang belum terucapkan.
“Aku tidak suka membicarakan ramalan,” katanya akhirnya, suaranya berat dan pelan. “Tapi pagi ini, penyihir agung dari Menara Askaroth datang tanpa diundang. Katanya, dia melihat cahaya yang mengoyak lapisan sihir dunia.”
Darian berdiri tegak di hadapannya, mengenakan seragam kerja kebesaran tanpa jubah luar. Dingin dan tenang, seperti biasanya.
“Ramalan?” ulangnya pendek. “Tentang apa?”
Pintu kayu berat itu terbuka perlahan. Seorang pria tua melangkah masuk. Tubuhnya dibalut jubah biru pekat bersulam simbol kuno. Rambutnya abu-abu, panjang dan lurus, namun tidak menunjukkan kelemahan usia. Mata birunya tajam seperti mereka yang melihat sesuatu yang lebih dari sekadar dunia ini.
“Grand Duke Darian,” ucapnya sambil menunduk sedikit. “Kaisar Agung.”
“Penyihir Eldemar,” sapa Severan singkat. “Katakan apa yang kau lihat.”
Eldemar tidak duduk. Ia berdiri di tengah ruangan dan mengangkat tongkat kristalnya yang ujungnya menyala lembut.
“Pagi tadi, di sela meditasi penguatan pilar sihir selatan, saya melihat cahaya yang menembus lapisan dimensi. Bukan sinyal biasa. Ini... sebuah kelahiran. Tapi tidak seperti kelahiran anak manusia atau makhluk sihir biasa.”
Darian menyipitkan mata. “Maksudmu?”
“Yang akan lahir adalah kekuatan. Bukan sekadar darah bangsawan. Bukan sekadar warisan. Tapi... kekuatan purba yang belum pernah tercatat dalam sejarah Valeria,” jawab Eldemar, suaranya seperti gemuruh yang ditahan.
Kaisar Severan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Lanjutkan.”
Penyihir itu menutup matanya sesaat. “Saya tidak tahu siapa ibu kandungnya. Tapi... Saya melihat aura kekuatan itu terikat pada dua warna, biru kelam dan perak. Warna milik klan Ravengard dan Draewyn.”
Darian mengerutkan kening.
“Bayi itu akan menjadi pewaris kekuatan baru. Tapi dengan syarat—seseorang yang sangat mencintainya... akan menjadi korban pertama dari kebangkitannya.”
Ruangan langsung sunyi.
Darian mengangkat dagu. “Korban? Maksudmu... mati?”
“Tidak selalu dalam bentuk kematian tubuh,” jawab Eldemar pelan. “Tapi pengorbanan terbesar. Jiwa. Kehendak. Cinta yang tak bersyarat.”
Severan menatap adiknya dalam-dalam. “Darian... kau tak ingin mengatakan sesuatu?”
Darian mengingat sesuatu. Sebuah percakapan yang dikuburnya beberapa minggu lalu—sebuah peringatan dari Tabib Eldric istana, saat memeriksa kondisi Iris.
"Kondisi Grand Duchess stabil... tapi denyut sihir bayi itu tidak biasa, Yang Mulia."
"Tidak biasa bagaimana?"
"Seakan... denyut sihirnya lebih kuat dari Grand Duke sendiri. Ini bukan sihir bawaan dari garis darah biasa, ini seperti... resonansi dari kekuatan lama yang bangkit."
"Itu tidak masuk akal."
"Tapi itu yang saya lihat. Tubuh Grand Duchess kesulitan menyesuaikan diri—itu sebabnya rasa sakitnya bisa datang sewaktu-waktu meski tidak ada gangguan medis, mengingat kedua aliran anda berlawanan."
Darian mengepalkan tangan di balik punggung. Ucapan sang tabib kini bergema lebih kuat dengan ramalan Eldemar.
“Apakah kau tahu siapa yang akan dikorbankan?” tanyanya datar.
Eldemar menggeleng. “Ramalan tak memberi nama. Hanya perasaan. Dan pancaran perasaan itu... begitu dalam. Begitu penuh kasih, sampai menyesakkan. Seperti api yang siap padam demi cahaya lain.”
Darian menunduk. Genggaman di tangannya mengeras.
“Iris...” bisiknya dalam hati.
Sang Kaisar berdiri, menghampiri jendela besar yang menghadap ke arah Timur. Matahari pagi menyinari permukaan marmer ruang itu dengan keemasan pucat.
“Jika ramalan ini benar,” ucap Severan, “maka anak itu bisa menjadi senjata... atau kutukan. Kita harus mempersiapkan diri.”
Darian mengangkat kepala. Matanya kembali dingin.
“Jika ada yang mencoba menyentuh anak itu, maka mereka akan berurusan denganku lebih dulu.”
Eldemar mengnoduk pelan, seolah sudah menduga reaksi itu. “Itulah sebabnya saya datang hari ini. Karena ramalan ini bukan tentang kehancuran. Tapi tentang pilihan. Jika si anak lahir tanpa cinta dan pengorbanan... dia akan menjadi kehancuran. Tapi jika lahir dengan penerimaan dan perlindungan... dia akan menjadi cahaya penyeimbang dunia.”
Kaisar menoleh ke adiknya. “Dan kau... Darian. Apakah kau siap menjadi penyeimbang itu?”
Darian tidak menjawab. Tapi matanya tak goyah.
“Aku akan menjaganya. Dan ibunya. Sampai napas terakhir.”
Eldemar menunduk dalam-dalam. “Maka semoga cahaya para leluhur menyertaimu. Karena di masa mendatang, bukan hanya pasukan dan pedang yang akan kau butuhkan... tapi keberanian untuk memilih cinta... atas kekuasaan.”
Saat penyihir itu berlalu meninggalkan ruangan, Darian tetap berdiri membisu. Hatinya riuh. Sejak pertemuan itu, untuk pertama kalinya... ia mulai menyadari bahwa perasaan yang tumbuh pada Iris bukan sekadar tanggung jawab. Tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Dan ketika cinta dipertaruhkan melawan takdir... siapakah yang benar-benar bisa menang?
Cahaya mentari sore menyelinap melalui celah-celah jendela besar, melukis dinding batu dengan warna jingga keemasan. Angin lembut dari pegunungan Valeria membelai tirai dan membawa aroma mawar liar dari taman luar.
Darian berdiri di ambang pintu kamar, diam.
Di dalam, Iris tampak sibuk mengatur meja kecil di sisi tempat tidur. Sepasang sarung tangan kulit yang biasa ia rawat sendiri untuk Darian kini telah dipoles dan dilipat rapi. Di sisi lain, ia menyusun lembaran dokumen dan mantel kerja sang suami yang biasa dipakai di ruang strategi.
“Darian bilang ingin mengenakan mantel biru untuk esok hari, bukan yang hitam...” gumam Iris sendiri, menyisir mantel dengan jari-jari pelan. “Dan ini... butuh sedikit kancing baru.”
Tangannya bergerak cekatan, tapi sesekali ia berhenti, menyentuh punggungnya dengan raut wajah menahan nyeri. Pinggangnya terasa berat, dan perutnya... mulai terasa tegang. Tapi ia terus bergerak.
Darian tidak langsung memanggil.
Ia hanya berdiri, mematung seperti batu penjaga istana. Matanya menatap setiap gerak Iris dengan sorot yang dalam, seperti sedang berusaha memahami sesuatu yang tak kasat mata.
Perempuan itu...
Ia bukan Iris yang dulu.
Dulu, Iris adalah sosok yang kaku dan penuh jarak. Setia, ya. Taat pada tugas dan protokol. Tapi hatinya... dingin. Wajahnya nyaris tak pernah menunjukkan emosi selain formalitas. Ia adalah Grand Duchess yang sempurna secara tata cara, tapi nyaris seperti patung marmer yang bergerak.
Namun wanita yang sekarang... menyentuh barang-barangnya dengan penuh kelembutan. Menyusun peralatannya dengan perhatian yang tidak terucap. Kadang berbicara pada dirinya sendiri. Kadang mengeluh pelan sambil mengusap perutnya. Kadang bahkan tersenyum... hanya karena bunga kecil di vas kamar mekar lebih cepat.
Dia adalah Iris... tapi bukan.
Dan entah mengapa, Darian lebih menyukai versi ini.
Rasa itu muncul di dadanya. Bukan sekadar curiga. Tapi semacam... kesedihan dan keterikatan yang tumbuh bersamaan. Seperti sedang menyukai seseorang, namun tidak yakin apakah ia berhak.
Iris menyadari kehadirannya saat hendak meletakkan sisir peraknya kembali di laci.
Ia menoleh.
“Darian?” suaranya lirih. Terkejut, tapi bukan takut.
Darian melangkah masuk. Langkahnya tenang, terukur. “Aku bilang padamu untuk tidak membereskan semua ini.”
Iris tersenyum pelan, berdiri tegak meski tubuhnya tampak sedikit lelah. “Aku tahu. Tapi aku juga tahu kau akan lupa membawa laporan dari perbatasan kalau aku tidak menaruhnya di tas kerjamu.”
Darian menatap dokumen yang dimaksud.
“Jadi kau menyentuh ruang kerjaku?”
Iris menaikkan alis. “Sedikit. Hanya bagian yang tak berdebu. Kau tahu, bagian yang tidak penuh peta berdarah dan catatan perang.”
Darian menarik napas, menahan senyum yang hampir muncul. Ia mendekat.
“Dan kau duduk terlalu lama. Aku melihat cara kau mengusap punggung dan perutmu tadi.”
Iris menahan napas, lalu pura-pura bersikap tegar. “Aku baik-baik saja. Hanya... penyesuaian. Kau tahu, ada makhluk kecil di dalam tubuhku yang suka menendang kalau aku terlalu lama berdiri.”
Darian berdiri di hadapannya kini. Jarak mereka hanya sehelaan napas.
“Iris... kenapa kau bersikeras melakukan semua ini sendiri?” Suaranya rendah. Nyaris seperti desahan.
Iris menatap mata suaminya. Lama. Lalu menjawab pelan, “Karena aku ingin. Bukan karena kewajiban. Bukan karena tata cara. Tapi karena... aku peduli padamu.”
Darian nyaris memejamkan mata. Ucapan itu menghantamnya lebih dalam dari yang ia perkirakan.
“Dan...” Iris menambahkan, tangannya menyentuh perutnya perlahan, “...aku ingin bayi ini tumbuh dalam rumah yang hangat. Yang penuh dengan hal-hal sederhana seperti... ayahnya tak perlu mencari mantelnya sendiri.”
Darian mendekat. Tangannya kini menyentuh punggung Iris, perlahan mengusap ke sisi pinggang. “Kalau kau merasa sakit, kau harus bilang.”
Iris mendongak, tersenyum tipis. “Kalau aku bilang, kau akan melarangku bergerak, bukan?”
“Ya,” jawab Darian tanpa ragu. “Dan mungkin akan memanggil tiga tabib dan dua penyihir istana untuk memastikan kau baik-baik saja.”
Iris tertawa. Suara itu jernih dan meleburkan keheningan.
“Darian...” ujarnya pelan, “boleh aku bertanya sesuatu?”
“Hm?”
“Apakah... kau percaya bahwa seseorang bisa... berubah sangat banyak, tapi tetap mencintai hal yang sama?”
Darian diam. Matanya menatap ke dalam mata Iris seolah ingin melihat lebih dalam dari yang tampak.
“Aku percaya,” ujarnya akhirnya. “Dan aku juga percaya... bahwa seseorang bisa mulai mencintai dari awal, meski mereka pikir sudah mengenal segalanya.”
Iris tersenyum. Matanya berkaca, tapi ia tidak menangis.
“Aku... terima kasih.”
Darian menyentuh pipinya. Lalu menunduk perlahan dan mengecup dahinya—hangat, lembut, dan sarat perlindungan.
“Sekarang... duduklah. Aku yang akan menyelesaikan sisanya.”
Iris tertawa sambil membiarkan dirinya dibimbing duduk di tepi tempat tidur.
“Grand Duke Darian membantu melipat pakaian. Ini harus dicatat dalam sejarah kekaisaran.”
“Jangan memprovokasiku untuk merobek mantelmu,” gumam Darian dingin.
Iris nyaris tertawa terbahak. “Kau bilang itu sebagai ancaman atau janji?”
Darian menoleh sekilas. “Tergantung. Kalau kau tetap keras kepala seperti ini... mungkin keduanya.”
Dan malam pun turun perlahan di tanah Valeria.
Dengan dua hati yang masih menyimpan rahasia masing-masing, namun untuk pertama kalinya berjalan berdampingan dengan jujur.