"Kamu pahlawanku. Kamu cinta pertamaku. Kamu teman terbaikku. Tapi siapa sangka jika selama ini, kamu adalah anak dari pembunuh Ayahku." ~Pinky~
Dari pengkhianatan seorang pacar membuat Pinky Arkananta tak sengaja bertemu kembali dengan Arion.
Reyhan, Ayah tiri Pinky melarang keras Arion untuk mendekati anak-anaknya. Seperti merpati yang baik akan tau jalan pulang, ya begitulah kisah cinta mereka. Sekuat apapun Rey menjauhkan sepertinya akan percuma. Tapi, jika Pinky mengetahui kenyataan sebenarnya apakah cinta mereka akan tetap sama?
"Jika aku bisa memilih siapa orang tuaku, aku pasti tidak akan memilihnya sebagai Ayahku. ~Arion~
Ada juga Aero, adik Pinky yang menjadi rebutan tiga teman wanitanya!
Area 21+
Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okta Diana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan
"Idih, emang kamu pacarku?"
Arion melirik pemilik wajah cantik yang memeluknya dari belakang. "Ya kamu mau gak jadi pacarku?" Arion menipiskan bibir seraya menahan tawa.
Pinky tak mampu menahan gejolak yang ada di dalam dadanya. Dia berpura-pura tak mendengar pertanyaan Arion. "Ulangi sekali lagi! Aku tak begitu mendengar. Anginnya terlalu kencang." Pinky berteriak di dekat telinganya.
Arion tertawa. "Gak apa-apa aku cuma bercanda." Pinky mendengus kesal. Kenapa harus bercanda? Dirinya kini seperti di bawa terbang ke langit lalu di hempaskan begitu saja ke bumi. Tak ada senyum terlukis di wajahnya lagi.
Arion melirik lagi. "Kenapa? Kok diem." Pinky hanya menggelengkan kepala. "Kamu gak niat cari cowok lagi?"
"Gak, cowok sama aja."
"Wuih ... termasuk aku?"
Pinky tak menjawabnya dia masih kesal dengan cowok itu. Tiba-tiba tangan Arion memegang tangan Pinky yang masih melingkar di perutnya. Mereka kini saling melepas pandang sampai tak memperhatikan jalan.
"Eh kucing ...." teriak Pinky. Arion mengerem mendadak motor sportnya. Mereka hampir saja terpental beruntung Arion mampu menahannya. Pinky memukul bahu cowok itu. "Kamu gak fokus."
"Maaf." Mereka melanjutkan perjalanan kembali. "Kamu phobia kucing sejak kapan?"
"Sejak kecil."
"Apa penyebabnya? Padahal aku suka banget sama kucing. Aku takut kita gak sejodoh," goda Arion.
"Ih ... apa hubungannya sama jodoh? Aku geli aja sama binatang berbulu."
"Aneh ...."
Pinky hanya mengernyitkan wajahnya. "Kamu gak cari cewek?"
"Ngapain cari cewek? Kalau di belakang aku udah ada cewek." Pinky memukul pelan bahunya lagi, kemudian memeluknya kembali.
Sesampai di restoran, Arion masih duduk di motornya. "Kamu gak masuk dulu?" tanya Pinky. Dia berharap Arion tak buru-buru untuk pulang. Rasanya ingin terus melihat dan bersamanya.
"Aero ada gak?"
Pinky mengangkat kedua bahunya dan membuang wajahnya yang cemberut. Dia kecewa kenapa yang ditanya malah Aero?
Arion memiringkan kepalanya, dan mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?" Cowok itu malah berbalik tanya. Kenapa cowok susah untuk peka terhadap perasaan cewek?
"Ya udah aku mau masuk dulu." Dia beranjak meninggalkan cowok yang menurutnya mengombang ambingkan perasaannya itu.
Arion langsung menarik tangannya pelan hingga membuat jarak antara hidung mereka tak lebih dari satu senti. Mata mereka saling memandang, ada rasa berdesir di hati.
"Aku sayang sama kamu. Dari dulu, dari kita awal bertemu. Aku gak bisa lupakan itu. Kamu tau gak aku sedih banget saat kamu tiba-tiba pindah sekolah. Aku kira kamu sakit, aku nungguin kamu dan setiap hari nyariin kamu di depan kelas. Tapi kamu gak ada. Sampai aku tanya ke guru, hati kecilku rasanya sakit sekali saat guru bilang kamu pindah sekolah."
Arion memegang kedua tangan Pinky dan menatapnya kembali. Mata Pinky berkaca-kaca mendengarnya. Arion melanjutkan kembali ungkapan perasaannya, "Aku bahagia, saat Tuhan tiba-tiba mempertemukanku dengan mu lagi. Aku bahagia Tuhan mengizinkanku untuk melihatmu kembali. Aku akan terus menyayangimu dan mencintaimu. Aku sangat bahagia jika kamu membalas perasaanku. Tapi, jika tidak pun aku tak apa. Aku tau aku bukanlah tipe laki-laki impianmu. Kamu boleh berpacaran dengan laki-laki manapun. Namun, jangan menyuruhku berhenti mencintaimu. Aku tidak bisa."
Arion masih terus menatap Pinky. Wanita itu kini kebingungan. Lalu dia harus menjawab apa? Arion hanya mengungkapkan perasaannya bukan menjadikan pacarnya. Dia menghela napas kasar. "Makasih Arion." Arion hanya mengangguk. Ah, kenapa tak bertanya 'mau tidak menjadi pacarku?' dan semua akan beres.
padahal ciuman aja belum pernah..eh ini sampe ngasih keperawanan.. terlalu sihh, syeremmm