Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Perang Bisnis Dimulai
Lalu ia berjalan pergi bersama Kevin, Morgan, dan Yolanda yang kini didorong perlahan di kursi roda, meninggalkan Rayhan berdiri di koridor dengan wajah yang akhirnya mengerti bahwa badai belum selesai.
Badai itu datang lebih cepat daripada yang diperkirakan keluarga Sutanto.
Beberapa hari setelah vonis Anya, Bu Fenny mengundang seorang pria ke Rumah Besar Sutanto. Pria itu baru kembali dari Prancis, memakai setelan abu-abu muda, sepatu kulit mahal, dan senyum yang terlalu percaya diri untuk seseorang yang baru menginjak tanah Surabaya lagi.
Lincoln Tanuwijaya.
"Saya mengikuti kasus keluarga Anda dari luar negeri," katanya sambil meletakkan koper dokumen di meja. "Masalahnya bukan Keira terlalu kuat. Masalahnya keluarga Sutanto terlalu lama bertahan secara defensif."
Bu Fenny menatapnya. "Kau bisa menjatuhkannya?"
Lincoln tersenyum. "Saya bisa membuat orang-orang melihat bahwa perempuan itu hanya beruntung punya keluarga besar di belakangnya."
Sherly yang duduk di samping Bu Fenny langsung mengangguk. "Dia memang cuma sok hebat."
Lincoln membuka tablet. Di layar, program survival trainee baru Angle Entertainment muncul. Keira akan hadir sebagai direktur manajemen dan juri tamu. Program itu sedang populer karena Bima Putra menjadi mentor utama.
"Kita serang di tempat yang membuatnya terlihat paling percaya diri," kata Lincoln. "Panggung."
Dua hari kemudian, studio rekaman Angle penuh penonton terbatas, kamera, dan trainee yang gugup. Acara itu menampilkan evaluasi kemampuan panggung, vokal, tari, dan ekspresi. Keira duduk di kursi juri dengan setelan putih sederhana. Kevin menonton dari ruang kontrol.
Lincoln datang sebagai sponsor tamu untuk salah satu produk olahraga yang baru bekerja sama dengan program itu.
Ia membawa lima atlet bela diri profesional sebagai bagian dari segmen promosi.
Pembawa acara tampak sedikit bingung saat Lincoln meminta demonstrasi mendadak. "Karena Angle ingin mencari bintang serba bisa, saya pikir menarik kalau juri juga menunjukkan standar fisik dan disiplin," katanya, tersenyum ke arah Keira. "Tentu kalau Bu Keira tidak keberatan."
Penonton langsung riuh.
Bima yang berdiri di panggung menegang. "Ini tidak ada di rundown."
Lincoln mengangkat bahu. "Improvisasi membuat acara hidup."
Kevin di ruang kontrol sudah hendak menghentikan siaran, tetapi suara Keira masuk lewat interkom.
"Biarkan."
Keira berdiri.
Ia melepas blazer putihnya, menyerahkannya kepada staf, lalu menggulung lengan kemeja. Di bawah lampu studio, plester lama di punggung tangannya sudah hilang, tetapi bekas luka halus masih tampak.
"Satu lawan satu?" tanya Keira.
Lincoln tersenyum. "Kalau Bu Keira merasa mampu."
"Terlalu lama."
Studio mendadak sunyi.
Keira berjalan ke matras promosi di tengah panggung. "Lima orang sekaligus. Kita hemat waktu."
Bima menutup mulutnya, matanya bersinar. "Itu baru Kak Kei."
Lima atlet saling pandang. Mereka jelas mengira ini hanya gimmick. Namun begitu peluit berbunyi, wajah mereka berubah.
Keira bergerak rendah.
Atlet pertama menyerang dari depan. Ia memutar pergelangan pria itu, menurunkan pusat tubuh, lalu menjatuhkannya dengan kuncian bahu. Atlet kedua mencoba menyapu kaki, tetapi Keira melompat setengah langkah, menggunakan momentum lawan untuk membantingnya ke matras.
Penonton menjerit.
Atlet ketiga dan keempat maju bersamaan. Keira mundur, membiarkan mereka saling menutup ruang, lalu masuk dari sudut buta. Siku, lutut, bahu. Tidak ada gerakan berlebihan. Semua bersih, cepat, dan terkendali.
Dalam dua menit, lima atlet itu sudah berada di matras.
Keira berdiri di tengah, napasnya sedikit lebih cepat, tetapi wajahnya tetap tenang.
Tepuk tangan meledak.
Di layar komentar live, kata-kata bergerak liar.
Bu Keira siapa sebenarnya?
Ini bukan juri, ini final boss.
Bima melompat kecil di sisi panggung. "Aku bilang juga apa!"
Lincoln tidak lagi tersenyum.
Saat itulah layar besar studio tiba-tiba menampilkan video call dari seorang pria tua berambut putih yang berada di aula latihan luar negeri. Ia berbicara dalam bahasa Inggris, tetapi subtitle Indonesia langsung muncul.
Saya mengenali gerakan itu. Dia murid termuda yang pernah mengalahkan tiga instruktur saya. Kami memanggilnya Guru K.
Studio meledak lebih keras.
Keira menoleh ke ruang kontrol.
Kevin mengangkat kedua tangan, pura-pura tidak tahu. Namun senyumnya jelas mengatakan ia yang menyiapkan video itu sebagai cadangan jika Lincoln bermain kotor.
Keira berjalan turun dari panggung dan berhenti di depan Lincoln.
"Terima kasih atas segmennya. Rating kita pasti naik."
Lincoln menegang. "Ini belum selesai."
"Benar."
Plak!
Tamparan pertama membuat wajah Lincoln menoleh.
Plak!
Tamparan kedua membuat seluruh studio diam.
"Yang pertama untuk mencoba mempermalukan stafku di acara resmi. Yang kedua untuk berpikir aku hanya bisa menang karena keluargaku."
Lincoln memegang pipinya, mata penuh amarah, tetapi kamera masih menyala. Ia tidak bisa membalas tanpa menghancurkan citranya sendiri.
Sore itu, potongan video Keira menjatuhkan lima atlet dan ditamparnya Lincoln mendominasi TikTok dan Instagram. Namun saat publik sibuk membicarakan "Guru K", Keira sudah berada di ruang rapat Andalan Properti.
Efeknya tidak berhenti di komentar.
Produk olahraga yang dibawa Lincoln langsung mengirim surat permintaan maaf kepada Angle, menyatakan demonstrasi mendadak itu tidak pernah disetujui sebagai tindakan mempermalukan juri. Dua trainee yang selama ini ditekan manajer lama mengunggah ucapan terima kasih kepada Keira karena berani membersihkan panggung dari permainan sponsor kotor.
Lincoln membaca semua itu di mobilnya dengan wajah merah.
"Dia membalik semuanya," gumamnya.
Di sebelahnya, asisten tidak berani menjawab.
Lincoln menutup ponsel keras-keras. "Kalau panggung tidak cukup, kita hancurkan dia lewat bisnis."
Ia masih percaya uang bisa membeli akhir cerita.
Tender lahan komersial di Surabaya Barat diumumkan pukul lima.
Sutanto Corporation kalah.
Pemenang: Andalan Properti.
Perusahaan kecil yang tidak diperhitungkan siapa pun itu mendadak muncul dengan proposal paling rapi, dana paling jelas, dan dukungan legal paling bersih. Bu Fenny yang menonton pengumuman dari kantor Sutanto hampir menjatuhkan cangkir.
"Bagaimana bisa perusahaan kecil mengalahkan kita?"
Sherly membuka berita dengan tangan gemetar. "Ma... pemilik baru Andalan Properti tidak disebut."
Di layar lain, Lincoln menerima pesan dari kontak pasar modal.
Saham Sutanto Corporation mulai turun karena kekalahan tender dan skandal keluarga sebelumnya.
Bu Fenny panik. "Jual sebagian saham kecil dulu. Kita butuh likuiditas sebelum berita makin buruk."
Lincoln mengangguk. "Saya punya pembeli aman. Perusahaan cangkang, tidak akan menarik perhatian."
Di kantor Andalan, Keira membaca laporan yang sama.
Kevin berdiri di belakangnya. "Mereka mulai panik."
Keira menatap nama perusahaan cangkang yang ditawarkan kepada Bu Fenny.
Emmanisa Corp.
Perusahaan yang baru saja ia bentuk tiga hari lalu.
"Biarkan mereka menjual," kata Keira. "Semakin mereka takut, semakin murah harga yang mereka berikan."
Ia menutup map tender.
"Perang bisnis dimulai."