NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Gala Dinner

Rayhan masuk ke ballroom dengan wajah yang tidak menunjukkan kemarahan.

Justru karena itu, udara di meja utama berubah lebih dingin.

Dia mengenakan setelan hitam, dasinya masih rapi meski jelas datang terburu-buru dari urusan kerja. Beberapa tamu yang mengenalinya langsung berdiri setengah, sebagian karena sopan, sebagian karena refleks. Nama Rayhan Wijaya punya cara sendiri untuk membuat orang mengingat posisi mereka.

Senja masih duduk dengan tangan dingin di pangkuan.

Serena berdiri tidak jauh darinya, senyum di wajahnya belum sempat disusun ulang.

Rayhan berjalan ke kursi kosong di samping Senja.

Dia tidak langsung duduk.

Tatapannya jatuh pada Serena. "Ulangi."

Satu kata.

Tidak keras.

Namun membuat suara musik gesek di sudut ballroom terasa mengecil.

Serena berkedip. "Pak Rayhan, saya..."

"Ulangi apa yang baru kamu katakan."

Wajah Serena memucat sedikit. "Saya hanya bercanda. Kami sedang membicarakan..."

"Pernikahanku?"

Tidak ada yang bergerak.

Senja menahan napas. Dia tahu Rayhan dingin. Dia pernah melihatnya menjatuhkan staf di lobi kantor. Namun melihat dingin itu diarahkan kepada Serena, di hadapan seluruh meja, membuat dadanya terasa seperti ditarik ke dua arah: takut dan lega.

Serena mencoba tersenyum. "Saya tidak bermaksud buruk. Semua orang hanya penasaran karena pernikahan kalian begitu mendadak."

Rayhan menarik kursi, duduk di samping Senja, lalu meletakkan ponselnya di meja.

"Kalau penasaran, tanya aku. Jangan menekan istriku saat aku tidak ada."

Kata istriku jatuh jelas.

Beberapa perempuan di meja saling melirik.

Senja menunduk, bukan karena malu, tetapi karena kata itu membuat sesuatu di dadanya bergerak terlalu kuat.

Sponsor pria yang tadi ikut mempertanyakan fasilitas berdeham. "Pak Wijaya, saya rasa tidak ada yang bermaksud menekan. Ini hanya obrolan sosial."

Rayhan menoleh kepadanya.

"Obrolan sosial yang menyebut status anak angkat seseorang di meja publik?"

Pria itu langsung menutup mulut.

Rayhan melanjutkan, "Menarik. Saya baru tahu standar sopan santun di meja seni bisa serendah itu."

Pak Budiman tidak menyembunyikan kepuasannya. Dia hanya mengambil gelas air dan minum pelan.

Serena menggenggam clutch silver-nya. "Pak Rayhan, jangan salah paham. Saya hanya memberi konteks karena Senja kadang..."

"Serena Liem."

Nama lengkap itu membuat Serena berhenti.

Rayhan bersandar sedikit ke kursi, tatapannya tetap lurus. "Kamu bukan keluargaku. Jangan memanggilku seolah kita dekat."

Wajah Serena benar-benar berubah.

Beberapa tamu menahan napas.

Senja menatap Rayhan, terkejut. Bahkan dia tidak menyangka Rayhan akan memotong panggilan itu di depan umum.

"Dan soal konteks," lanjut Rayhan, "kalau kamu ingin membicarakan konteks, kita bisa mulai dari video Senopati."

Serena membeku.

Suara di meja hilang sepenuhnya.

Rayhan tidak perlu menjelaskan detail. Semua orang di ruangan ini cukup pintar untuk menghubungkan nama Serena dengan rumor yang sedang berputar.

"Tapi aku tidak membahasnya," kata Rayhan. "Karena ini gala dinner Dewan Kesenian Jakarta, bukan ruang sidang sosial untuk membedah aib keluarga Liem."

Setiap kata tersusun rapi, seperti pisau yang diletakkan satu per satu di meja.

Serena membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Rayhan menoleh ke Pak Budiman. "Pak Budiman, istri saya diundang karena tari?"

Pak Budiman menjawab tanpa ragu. "Benar. Saya melihat sendiri kualitasnya di Sanggar Tari Jefri. Dia punya dasar gerak Jawa yang kuat dan interpretasi kontemporer yang menarik."

"Terima kasih." Rayhan mengalihkan pandangan ke meja. "Maka untuk urusan seni, orang yang tidak pernah melihatnya menari sebaiknya tidak berbicara seolah punya penilaian."

Tidak ada yang membantah.

"Dan untuk urusan pernikahan," suaranya turun sedikit, "itu urusanku dan Senja. Bukan bahan hiburan meja makan."

Senja merasakan napasnya kembali masuk.

Dia tidak tahu apakah Rayhan sedang melindungi rahasia kontrak, menjaga nama Wijaya, atau membelanya. Mungkin ketiganya. Tetapi saat itu, di meja yang sejak tadi membuatnya merasa sendirian, Rayhan duduk di sebelahnya dan menarik semua serangan ke dirinya.

Itu cukup.

Serena memaksa tertawa kecil. "Pak Rayhan... Anda terlalu serius. Senja tahu saya hanya bercanda."

Rayhan tidak tersenyum.

"Istriku tidak terlihat terhibur."

Kata itu lebih memalukan daripada teguran panjang.

Mata Serena memerah karena marah, tetapi dia tidak bisa meledak di sini. Tidak dengan video Senopati menggantung di udara. Tidak dengan Rayhan Wijaya duduk tepat di seberangnya.

Seorang perempuan paruh baya buru-buru berkata, "Mungkin kita kembali ke acara utama. Lelang berikutnya akan dimulai."

"Ide bagus," kata Rayhan datar.

Namun sebelum percakapan benar-benar bergeser, dia mengambil gelas air hangat di depan Senja dan menyentuh bagian luarnya.

"Dingin," katanya.

Senja tidak mengerti. "Apa?"

Rayhan melirik staf hotel. "Air hangat baru untuk istri saya. Tanpa lemon, tanpa almond syrup, tanpa garnish kacang apa pun."

Staf itu langsung mengangguk. "Baik, Pak Wijaya."

Permintaan kecil itu terdengar jelas di meja.

Orang-orang yang tadi membicarakan status Senja kini melihat Rayhan mengingat alerginya sampai detail hiasan gelas.

Serena menatap meja, rahangnya tegang.

Senja merasa wajahnya memanas. "Aku bisa minta sendiri."

"Tapi kamu tidak."

"Karena tadi..."

"Karena tadi mereka terlalu sibuk membuatmu menjawab hal yang tidak perlu."

Kalimat itu cukup pelan, hanya untuknya, tetapi beberapa orang terdekat masih mendengar.

Senja tidak tahu harus marah atau tersentuh.

Air hangat baru datang. Rayhan menggesernya ke depan Senja.

"Minum."

Senja memegang gelas itu. Panasnya menembus telapak tangan, mengembalikan rasa ke jari-jarinya.

Acara lelang berlanjut. Pembawa acara mencoba membangun suasana lagi. Namun meja utama tidak pernah kembali seperti semula. Setiap kali seseorang ingin berbicara tentang Senja, mata mereka otomatis melirik Rayhan dulu.

Itu perubahan kecil.

Tetapi dalam ruang seperti ini, perubahan kecil bisa menyelamatkan seseorang dari puluhan tusukan.

Perempuan berkalung mutiara yang sejak awal banyak tersenyum tipis akhirnya mencondongkan badan ke arah Senja.

"Nyonya Wijaya," katanya dengan suara lebih rendah dari sebelumnya, "saya minta maaf kalau obrolan tadi membuat Anda tidak nyaman."

Senja terkejut.

Dia tahu permintaan maaf itu tidak sepenuhnya lahir dari hati. Sebagian besar mungkin lahir dari rasa takut pada Rayhan. Namun tetap saja, mendengar kata maaf di meja yang beberapa menit lalu menilainya seperti barang lelang membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Sebelum Senja menjawab, perempuan itu melirik Rayhan. "Pak Wijaya, kami tidak bermaksud..."

"Minta maaf kepada dia," potong Rayhan. "Bukan kepadaku."

Wajah perempuan itu memerah.

Senja menatap Rayhan.

Dia tidak menatap balik. Seolah kalimat itu bukan sesuatu yang luar biasa. Seolah memang seharusnya orang yang dilukai menerima permintaan maaf langsung, bukan melalui pria yang berdiri di sampingnya.

Perempuan itu akhirnya menghadap Senja sepenuhnya. "Maaf, Nyonya Senja."

Senja menahan napas. Nama itu, tanpa embel-embel anak angkat atau istri siapa, terdengar asing tetapi baik.

"Saya terima," jawabnya.

Serena menatap adegan itu seperti seseorang yang menyaksikan kursi di bawahnya ditarik pelan.

Pada sesi donasi seni, Pak Budiman mengumumkan program pelatihan tari untuk anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Senja mendengarkan dengan mata lebih hidup. Ketika Pak Budiman menyebut Sanggar Tari Jefri sebagai salah satu calon mitra, beberapa orang menoleh kepada Senja, kali ini bukan dengan ejekan.

"Kamu tahu soal program itu?" tanya Rayhan pelan.

"Ko Jefri pernah membahas, tapi belum pasti."

"Kalau butuh lampu panggung, Wijaya bisa bantu."

Senja menatapnya cepat.

Rayhan menambahkan, "Tanpa menaruh namaku di depan, kalau itu yang kamu mau."

Dia mengingat.

Senja menggenggam gelas. "Aku mau tanya Ko Jefri dulu."

"Bagus."

Kata itu lagi.

Malam berjalan sampai akhir dengan Serena lebih banyak diam. Dia masih sesekali tersenyum kepada orang lain, tetapi tidak lagi mengarahkan pisau ke Senja. Bukan karena dia berubah baik. Hanya karena malam itu, setiap pisau yang dilempar akan kembali ke tangannya sendiri.

Saat acara selesai, Rayhan berdiri lebih dulu dan menunggu Senja mengambil clutch.

Pak Budiman menghampiri mereka. "Senja, saya berharap kamu tetap datang ke diskusi koreografi bulan depan. Jangan biarkan obrolan meja mengganggumu."

Senja tersenyum. "Terima kasih, Pak. Saya akan datang."

Rayhan mengangguk kepada Pak Budiman. "Kirim detail acaranya ke kantor saya juga."

Pak Budiman tersenyum lebih lebar. "Tentu, Pak Wijaya."

Di pintu ballroom, Serena berdiri bersama dua perempuan. Dia tidak menatap Senja, tetapi Senja bisa melihat jari-jarinya mencengkeram clutch.

Rayhan tidak memberi Serena satu pandangan pun.

Itu mungkin hukuman paling dingin.

Di mobil pulang, hujan tipis mulai turun lagi. Jakarta malam memantulkan lampu-lampu di kaca jendela. Senja duduk diam, clutch di pangkuan, gelas air hangat dari hotel masih terasa di telapak tangannya meski sudah tidak ada.

Rayhan duduk di sampingnya, membaca pesan kerja.

Keheningan kali ini tidak seberat malam pertama.

Setelah beberapa menit, Senja berkata, "Tadi kamu tidak perlu sejauh itu."

"Perlu."

"Mereka mungkin akan makin banyak bicara."

"Biarkan."

Senja menoleh. "Kamu tidak peduli?"

Rayhan mematikan layar ponsel. Dalam cahaya redup mobil, wajahnya terlihat lebih tajam.

"Aku peduli kalau mereka membuatmu duduk diam seperti terdakwa."

Senja menahan napas.

Rayhan melihat ke depan lagi. "Mulai sekarang, siapa pun yang berani mengatakan satu kata buruk tentangmu, beri tahu aku."

Kalimat itu keluar dingin, hampir seperti instruksi bisnis.

Namun jantung Senja melompat satu ketukan.

"Satu kata pun?"

"Satu kata pun."

Di luar, hujan menempel di kaca. Di dalam mobil, Senja menatap profil Rayhan yang tetap keras, tetap sulit disentuh, tetapi malam itu untuk pertama kalinya berdiri jelas di sisinya.

Dia menggenggam clutch lebih pelan.

Jantungnya, anehnya, tidak ikut tenang.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!