Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.
Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.
Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.
Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.
Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.
Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.
Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.
Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.
Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.
Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016
Hujan Tujuh Hari
Dan kali ini, ia jauh lebih menakutkan.
Dalam mimpi ketiga, Sekar berdiri di depan rumah Kakek dan Nenek, tapi halaman itu bukan halaman yang ia kenal. Air setinggi mata kaki mengalir dari jalan, membawa daun, lumpur, dan potongan plastik. Langit gelap kehijauan. Hujan turun begitu rapat sampai pohon mangga terlihat seperti bayangan di balik tirai.
Ia mendengar suara radio dari rumah Bu Sari.
Hujan ekstrem diperkirakan terus terjadi.
Suara penyiar putus-putus, tenggelam oleh guntur.
Hari pertama, orang-orang masih tertawa di warung.
Hari kedua, jemuran tidak kering.
Hari ketiga, parit depan rumah meluap.
Hari keempat, air masuk ke rumah-rumah rendah.
Hari kelima, jalan ke pasar desa berubah menjadi sungai cokelat.
Hari keenam, suara orang meminta tolong terdengar dari bawah lembah.
Hari ketujuh, Sekar melihat Desa Lembah dari atas bukit, dikelilingi air seperti pulau kecil. Di kejauhan, tanah bergerak pelan di lereng.
Lalu suara sesuatu runtuh memecah mimpi.
Sekar terbangun dengan dada sesak.
Gelap di ruang depan masih sama. Bu Sari tidur di tikar dekat pintu, napasnya pelan. Tapi dari luar, suara yang ia dengar bukan lagi sisa mimpi.
Hujan.
Benar-benar hujan.
Air menghantam genteng tua, deras, padat, seperti ribuan jari mengetuk tanpa sabar. Sekar duduk perlahan. Jantungnya memukul dada. Ia melihat ke jendela, tapi kaca hanya memantulkan ruang gelap.
Bu Sari terbangun. "Sekar?"
"Hujan, Bu."
Bu Sari mengucek mata, lalu mendengarkan. "Memang dari sore awannya berat. Tidur lagi, Nak."
Sekar tidak bisa.
Ia menunggu sampai pagi dengan mata terbuka.
Hari pertama, Desa Lembah masih menganggap hujan itu biasa.
Bu Sari membuat bubur hangat dan berkata tanaman cabai tidak perlu disiram. Pak Darman memperbaiki saluran air kecil di depan rumah. Mas Eko menutup tumpukan kayu dengan terpal. Orang-orang di warung bercanda bahwa musim hujan akhirnya datang dengan niat penuh.
Sekar ikut tersenyum tipis saat diajak bicara, tapi tangannya sibuk.
Ia memeriksa genteng rumah Kakek Nenek, menaruh ember di dua titik bocor, menggulung karpet lama, menaikkan buku-buku ke rak yang lebih tinggi, dan memastikan tas darurat bisa keluar dalam satu pikiran. Ia mengisi semua jeriken dengan air bersih sebelum sumur berubah keruh.
Bu Sari melihatnya membawa jeriken.
"Rajin sekali kamu. Hujan begini masih angkat air."
"Untuk cadangan, Bu."
"Air malah banyak."
Sekar hanya menjawab, "Air bersih belum tentu."
Bu Sari tertawa kecil, tapi beberapa jam kemudian ia meminta Pak Darman mengisi gentong tambahan di rumah mereka.
Hari kedua, hujan tidak berhenti.
Tidak ada jeda. Kadang deras, kadang lebih deras. Langit hanya berubah dari gelap malam menjadi abu-abu siang. Halaman belakang menjadi becek. Parit di depan rumah mulai penuh. Anak-anak yang biasanya bermain di jalan tidak keluar.
Sekar menyalakan radio kecil di ruang tamu.
Siaran lokal menyebut hujan intensitas tinggi di beberapa kecamatan. Belum ada peringatan besar, hanya imbauan agar warga berhati-hati terhadap banjir dan pohon tumbang.
Kata imbauan terdengar terlalu lemah.
Hari ketiga, listrik padam.
Desa mengeluh serentak. Dari rumah-rumah terdengar suara orang memanggil, mencari lilin, menanyakan apakah jaringan ponsel masih ada. Sekar mengeluarkan senter dan baterai dari ruang penyimpanan ajaib, tapi hanya satu senter kecil ia biarkan terlihat di rumah.
Bu Sari datang membawa lampu minyak.
"Pakai ini dulu kalau belum punya."
Sekar menerima, lalu memberikan salah satu senter cadangan yang sengaja ia keluarkan dari ruang.
"Saya punya lebih, Bu. Bu Sari pakai ini saja. Lebih aman."
Bu Sari terdiam sebentar, lalu mengambilnya. "Kamu benar-benar banyak persiapan."
"Saya takut gelap."
Itu jawaban yang cukup benar.
Hari keempat, air parit meluap.
Jalan kecil di depan rumah berubah menjadi aliran cokelat setinggi mata kaki. Pak Darman dan Mas Eko bekerja bersama beberapa tetangga membersihkan sampah yang menyumbat saluran. Sekar ikut membawa karung kosong dan tali rafia, mengatakan itu sisa bersih-bersih gudang. Mereka mengisi beberapa karung dengan tanah untuk menahan air di depan rumah yang lebih rendah.
"Sekar, jangan angkat berat," kata Mas Eko.
"Saya bisa."
Tangannya sakit, tapi ia tetap mengangkat karung kecil. Tidak sekuat Mas Eko. Tidak secepat Pak Darman. Tapi setiap karung yang ia pindahkan membuat satu pintu rumah tetangga sedikit lebih aman.
Hari kelima, pasar desa tutup.
Tidak ada pedagang sayur datang. Jalan ke pasar tergenang. Di warung, stok telur dan mie instan mulai dibicarakan. Orang-orang masih belum panik, tapi tawa mereka sudah pendek.
Sekar duduk di teras, mendengar percakapan itu sambil mengupas singkong rebus pemberian Bu Sari. Di ruang penyimpanan, beras 200 kg dan mie instan 200 dus berdiri rapi. Ia merasa bersalah dan lega pada saat yang sama.
Sore itu, seorang tetangga datang ke rumah Bu Sari untuk meminjam beras dua liter. Bu Sari memberikannya tanpa banyak bertanya, tapi setelah tetangga itu pergi, ia menatap karung beras di sudut dapur lebih lama dari biasanya.
"Kalau hujan begini sampai besok, orang mulai susah masak," gumam Bu Sari.
Sekar memegang mangkuk singkongnya. Ia ingin berkata bahwa besok bukan akhir. Justru awal. Tapi yang keluar hanya, "Bu Sari simpan beras di tempat kering. Jangan di lantai."
Bu Sari mengangguk pelan, kali ini tidak tertawa.
Hari keenam, sumur beberapa rumah mulai keruh.
Bu Sari mengeluh air di embernya berbau tanah. Sekar pura-pura memeriksa, lalu malamnya mengeluarkan beberapa galon air mineral dan menaruhnya di dapur lama. Ia tidak bisa memberikan semuanya sekaligus. Terlalu mencolok. Tapi ia mulai menghitung cara membantu tanpa membuka rahasia.
Hari ketujuh, suara hujan tidak lagi terdengar seperti cuaca.
Ia terdengar seperti sesuatu yang sengaja menekan desa.
Radio menyala sejak pagi. Sinyalnya buruk. Suara penyiar terputus-putus oleh statis.
Beberapa wilayah rendah di Provinsi Tengara dilaporkan tergenang. Warga diminta menjauh dari bantaran sungai. Akses jalan utama menuju Kota Angin mengalami gangguan.
Bu Sari, Pak Darman, Mas Eko, dan Sekar berdiri di ruang tamu rumah Bu Sari, mendengarkan radio kecil di atas meja.
Dek Bayu memeluk kaki Mbak Ratna, wajahnya bingung.
"Berarti kota bawah banjir?" tanya Mas Eko.
Pak Darman tidak langsung menjawab. "Kalau hujan begini terus, bukan cuma kota bawah."
Sekar menatap jendela. Dari sana, ia bisa melihat jalan kecil depan rumah sudah berubah menjadi aliran air yang tidak putus. Mimpinya kembali satu per satu. Parit meluap. Jalan menjadi sungai. Desa seperti pulau.
Lalu penyiar mengucapkan kata yang membuat semua orang di ruangan itu diam.
Banjir besar.