1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 enam nama pengganti &pria tampa wajah
Buk... Buk... Buk...
Suara langkah kaki di luar ruang arsip semakin banyak.
Bukan satu atau dua orang Melainkan puluhan.
Seolah seluruh penghuni sekolah sedang berkumpul di balik pintu.
Naya memeluk Alea erat.
"Mereka mau masuk..."
Keanu mencoba membuka pintu Tidak bergerak.
Seperti terkunci dari luar.
"Percuma," katanya sambil mengembuskan napas. "Pintunya nggak bisa dibuka."
Di tengah kepanikan itu, Mira terus menatap Buku Hitam.
Air matanya jatuh satu per satu ke sampul buku.
"Aku gagal..."
bisiknya.
"Aku gagal menyelamatkan kalian."
Alea berlutut di hadapannya.
"Mira, tolong jelaskan. Apa sebenarnya yang terjadi?"
Mira mengusap air matanya.
"Dua puluh tahun yang lalu..."
"...kami datang ke Hotel Karunia untuk study tour."
"Seharusnya hanya menginap satu malam."
"Tapi seseorang membuka pintu menuju lantai 13."
Ruangan mendadak menjadi semakin dingin.
"Sejak saat itu..."
"...kami tidak pernah benar-benar pulang."
Raka menelan ludah.
"Yang membuka pintunya siapa?"
Mira menundukkan kepala.
"Aku tidak tahu."
"Yang aku ingat hanya..."
"...ada orang dewasa yang memegang kunci emas."
Semua langsung saling berpandangan Kunci emas Kunci yang sekarang berada di tangan Alea.
"Berarti..." gumam Dimas.
"...orang itu sama dengan kita?"
Mira menggeleng.
"Bukan."
"Dia guru pendamping."
Nama Pak Bima langsung terlintas di benak mereka.
Namun Alea merasa ada sesuatu yang janggal.
Pak Bima yang mereka kenal terlihat jauh lebih muda daripada pria di foto lama.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh...Halaman Buku Hitam membalik sendiri.
Tepat di tengah buku terdapat enam foto kecil.
Foto Alea,Naya,Raka,Keanu,Dimas,dan Liora.
Di bawah masing-masing foto terdapat hitungan mundur.
02:14:36
02:14:35
02:14:34
Angkanya terus berkurang.
"Apa ini?" tanya Keanu.
Mira memucat.
"Itu waktu yang tersisa."
"Waktu untuk apa?"
Mira menutup matanya.
"Sebelum nama kalian dicoret..."
"...dan kalian menjadi penghuni baru lantai 13."
Suara langkah kaki di luar berhenti.
Keheningan yang muncul justru terasa lebih menyeramkan.
Lalu terdengar suara seseorang mengetuk pintu tiga kali.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara Pak Bima terdengar dari luar.
"Alea..."
"Bukakan pintunya."
"Aku ingin membantu kalian."
Mereka saling berpandangan.
Ucapan Maya kembali terngiang.
"Jangan percaya guru pendamping kalian."
Namun kali ini...Suara Pak Bima terdengar penuh kepanikan.
"Kalau kalian tidak keluar sekarang..."
"...dia akan datang lebih dulu."
Alea menahan napas.
"Dia?"
Belum sempat ada jawaban Dari balik pintu terdengar suara lain.Suara berat,Serak,Disertai tawa pelan.
"Hahaha..."
Pak Bima langsung berteriak.
"LARI DARI PINTU!"
Brak!!
Sesuatu menghantam pintu ruang arsip dengan kekuatan luar biasa Kayunya retak.
Lalu muncul bekas sebuah telapak tangan hangus...
Yang perlahan mencengkeram sisi pintu dari luar.
Retakan di pintu kayu semakin melebar.
Telapak tangan hangus itu perlahan mencengkeram sisi pintu hingga serpihan kayu berjatuhan ke lantai.
Tak ada kulit Tak ada darah.
Hanya arang hitam yang masih mengeluarkan asap tipis.
Semua mundur beberapa langkah.
"Dia masuk..." bisik Naya dengan suara bergetar.
Mira memeluk bonekanya erat.
Wajahnya dipenuhi air mata.
"Bukan..."
"Dia belum masuk."
"Kalau dia sudah masuk..."
"...kita semua sudah mati."
Ucapan itu membuat suasana semakin mencekam.
Brak!
Pintu dihantam lagi.
Kali ini engsel bagian atas mulai terlepas.
Di sela-sela retakan, terlihat bayangan seseorang yang sangat tinggi.
Tingginya hampir menyentuh kusen pintu.
Namun yang paling mengerikan...
Sosok itu tidak memiliki wajah.
Hanya kulit hitam hangus yang rata.
Tidak ada mata.
Tidak ada hidung.
Tidak ada mulut.
Meski begitu...
Semua bisa merasakan bahwa sosok itu sedang menatap mereka.
Alea merasakan kalung angka 13 di lehernya tiba-tiba menjadi panas.
Begitu panas hingga ia refleks menggenggamnya.
Seketika terdengar suara Maya, meski sosoknya tidak terlihat.
«"Jangan biarkan dia mengambil kalung itu."»
Sosok tanpa wajah itu perlahan mengangkat tangannya.
Jari telunjuknya mengarah tepat ke Alea.
Lalu terdengar suara...
Bukan dari mulutnya.
Melainkan langsung di dalam kepala mereka.
"Berikan... milikku..."
Alea memejamkan mata.
"Tidak!"
Ia menggenggam kalung itu semakin erat.
Tiba-tiba cahaya putih memancar dari kalung angka 13.
Sinar itu memenuhi ruang arsip.
Sosok tanpa wajah langsung mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya...
Ia tampak takut.
"Apa... itu?" bisik Keanu.
Mira menatap kalung tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"Itu..."
"...Kunci Penjaga."
"Benda itu dipakai untuk menyegel pintu menuju lantai 13."
Semua terdiam.
Kalau kalung itu benar-benar kunci...
Berarti selama ini Maya tidak sedang meminta bantuan tanpa alasan.
Ia sedang melindungi sesuatu.
Di luar pintu, Pak Bima kembali berteriak.
"Alea!"
"Kalung itu jangan sampai jatuh ke tangannya!"
"Tolong percaya padaku kali ini!"
Belum sempat Alea menjawab, sosok tanpa wajah menghantam pintu sekali lagi.
DUAAAAR!!
Pintu ruang arsip hancur berkeping-keping.
Asap hitam memenuhi ruangan.
Sosok itu akhirnya masuk.
Setiap langkahnya membuat lantai kayu membusuk seketika.
Namun saat semua bersiap melarikan diri...
Sosok itu tidak menyerang siapa pun.
Ia hanya berhenti di depan Raka.
Lalu perlahan mengangkat tangan kanannya.
Di telapak tangannya muncul sebuah tulisan yang terbentuk dari bekas luka bakar.
"RIO..."
Raka membeku.
"Aku..."
"...mengenalmu?"
Sosok tanpa wajah itu mengangguk pelan.
Kemudian, untuk pertama kalinya, terdengar suara yang sangat lirih dari dalam tubuhnya.
Bukan suara monster.
Bukan suara iblis.
Melainkan suara seorang laki-laki yang sedang menangis.
«"Maafkan aku..."»
Seketika seluruh ruangan berguncang hebat.
Dan dari langit-langit ruang arsip...
Mulai berjatuhan abu hitam seperti hujan.