"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Kembali ke Layar
"Sebentar lagi," katanya pelan.
Tiga hari kemudian, `sebentar lagi` itu berubah menjadi udara sejuk Bandung yang menyentuh wajah Wenny saat ia turun dari mobil produksi.
Lokasi kedua `Skandal Cinta` berada di kawasan perbukitan, jauh dari pantai Bali yang hangat dan terbuka. Vila baru itu berdinding kaca, menghadap taman luas dan barisan pohon pinus. Udara pagi membawa aroma tanah basah setelah hujan tipis. Kabut masih menggantung rendah di ujung halaman, membuat semuanya terlihat seperti adegan pembuka drama.
"Kamu senyum sendiri lagi," kata Lilian dari belakangnya.
Wenny langsung menegakkan wajah. "Aku menikmati udara."
"Udara Bandung memang mirip penyanyi tertentu?"
"Lilian."
"Baik. Aku diam." Lilian menyerahkan tas kecil berisi obat alergi, camilan aman, dan botol minum. "Makanan tetap dicek. Jangan ambil apa pun dari meja umum sebelum tim memastikan."
"Aku tahu."
"Dan jangan membiarkan REYN menjadi satu-satunya orang yang mengingatkanmu."
Nasihat itu terdengar praktis, tetapi Wenny mendengar lapisan khawatir di baliknya.
Kalimat itu membuat pipi Wenny hangat meski udara dingin.
Ia masuk ke halaman utama dengan senyum kamera yang sudah terlatih. Koko menyambut dari depan pintu, kali ini memakai jaket tebal dan topi yang membuatnya tampak seperti pemandu wisata terlalu bersemangat.
"Selamat datang di Bandung! Musim kedua, rasa makin naik!"
"Ini masih episode kedua, bukan musim kedua," koreksi Stella dari sofa luar ruangan.
"Secara rating, rasanya sudah seperti musim baru," jawab Koko tanpa malu.
Kevin langsung berdiri begitu melihat Wenny. "Akhirnya datang juga pusat gravitasi acara ini."
Wenny tertawa. "Kamu sehat, Kevin?"
"Sehat, tapi mental belum siap. Sejak Bali, ibuku terus kirim video WenReyn dan bertanya kenapa aku cuma jadi komentator hidup."
Natasha menutup mulut menahan tawa. Felix duduk di sisi Stella, memegang gelas teh hangat. Rosa berada di dekat meja kopi, senyumnya rapi seperti biasa, tetapi matanya cepat turun ke tas kecil di tangan Wenny.
Wenny menangkap gerakan itu.
Sekilas saja.
Namun cukup untuk membuatnya mengingat percakapan di Bali tentang gluten.
"Perjalananmu lancar?" tanya Rosa manis.
"Lancar."
"Bagus. Bandung dingin, jangan sampai sakit."
"Terima kasih atas perhatiannya."
Kata itu terdengar biasa, tetapi keduanya tahu ada garis tipis di bawahnya. Stella menatap mereka berdua sebentar, lalu kembali menyeruput teh.
Di layar besar dekat pintu, siaran live pra-rekaman sudah berjalan. Komentar penonton muncul seperti hujan.
`Wenny sudah datang!`
`Mana REYN?`
`Bandung dingin, WenReyn harus dekat biar hangat.`
`Rosa senyumnya kenapa bikin merinding?`
`Kalau REYN masuk dan langsung cari Wenny, aku resmi percaya takdir.`
Wenny pura-pura tidak melihat komentar terakhir.
Koko mengumpulkan semua peserta di aula utama. Ruangan itu luas, lantainya kayu, dengan perapian dekoratif yang sebenarnya tidak dinyalakan. Kamera ditempatkan di sudut-sudut baru. Lebih banyak dari Bali, Wenny sadari. Rating episode pertama pasti membuat tim produksi semakin berani.
"Hari ini kita mulai dengan reuni ringan," kata Koko. "Tidak ada permainan berat dulu. Peserta terakhir sedang dalam perjalanan."
Tidak ada yang perlu bertanya siapa.
Kevin tetap mengangkat tangan. "Apakah peserta terakhir punya kebiasaan masuk dramatis? Aku mau siapin jantung."
"Kali ini tidak ada helikopter," kata Koko.
"Syukurlah."
"Tapi mungkin efeknya tetap sama."
Ucapan itu membuat ruangan mendadak lebih sunyi.
Wenny menatap pintu kaca di ujung aula. Ia membenci dirinya sendiri karena langsung melakukan itu. Seolah tubuhnya mendengar nama yang bahkan belum disebut.
Lilian benar.
Jangan membiarkan REYN menjadi satu-satunya orang yang mengingatkanmu.
Terlambat.
Karena bahkan sebelum REYN muncul, Wenny sudah mengingatnya.
Tiga hari di Jakarta sebenarnya cukup singkat. Ia syuting, meeting, fitting, dan menjawab pertanyaan Lilian dengan kalimat yang selalu terdengar terlalu datar. REYN tidak mengirim pesan pribadi. Tidak menelepon. Tidak tiba-tiba muncul di depan apartemennya seperti tokoh drama.
Justru karena itu, Wenny makin sering memikirkan hal-hal kecil.
Buket kamboja yang sudah mengering di naskahnya. Video `Bertemu di Puncak` yang masih muncul di beranda. Daftar following yang hanya berisi namanya. Kalimat REYN di pantai, saat ia berkata tidak sedang berakting.
Jika semua itu hanya bagian dari acara, mengapa rasanya tetap tinggal bahkan saat kamera tidak ada?
Wenny menggenggam ujung tas kecil dari Lilian.
Ia tidak sedang menunggu.
Ia hanya ingin tahu apakah perasaan aneh itu akan hilang saat melihat REYN lagi.
Suara mobil berhenti di luar.
Komentar live bergerak lebih cepat.
Pintu kaca terbuka.
REYN masuk tanpa musik, tanpa helikopter, tanpa jaket panggung. Hanya sweater hitam, celana gelap, rambut sedikit basah oleh kabut, dan gelang pudar yang sekilas terlihat di pergelangan tangannya sebelum tertutup lengan.
Semua orang menyapanya bersamaan.
Kevin berseru paling keras. Natasha melambaikan tangan. Koko membuka mulut untuk membuat komentar. Rosa membetulkan posisi duduk. Kamera bergerak mendekat.
REYN mengangguk singkat pada mereka.
Lalu matanya menemukan Wenny.
Perubahan itu halus.
Terlalu halus untuk orang yang tidak memperhatikan.
Tapi kamera memperhatikan.
Jay di ruang observasi pasti memperhatikan.
Dan Wenny, yang selama tiga hari mencoba tidak menunggu, merasakannya langsung di dada.
REYN berjalan melewati Kevin yang masih mengoceh, melewati Koko yang belum selesai menyambut, melewati jarak aman yang seharusnya dijaga peserta baru datang.
Ia langsung menuju Wenny.
Lima puluh juta penonton menahan napas.