NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Keberhasilan Alya dalam merestrukturisasi Dirgantara Creative Foundation membawa atmosfer baru di Penthouse Lavender. Tidak ada lagi hari-hari membosankan yang diisi dengan lamunan kosong. Ruang kerja privat di penthouse kini dipenuhi dengan berkas-berkas program beasiswa, peta persebaran sekolah pedalaman, dan jadwal koordinasi. Alya menemukan ritme hidupnya kembali, memimpin dengan kelembutan namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan—sebuah kombinasi yang diam-diam membuat Devan semakin kagum setiap harinya.

Namun, di dunia di mana nama Dirgantara melekat, kedamaian adalah komoditas yang paling mahal. Ketika satu musuh tumbang, bayang-bayang dari arah lain selalu siap untuk menerkam.

Kamis malam, hujan badai mengguyur ibu kota. Suara petir sesekali menggelegar, memantul di kaca tebal penthouse setinggi awan itu. Devan belum pulang karena harus menghadiri jamuan makan malam bisnis dengan beberapa menteri. Alya baru saja menyelesaikan verifikasi data penerima beasiswa untuk wilayah Papua ketika ponsel pribadinya—nomor lama yang jarang sekali berdering sejak ia pindah—tiba-tiba bergetar di atas meja marmer.

Layar ponsel menampilkan nomor yang tidak dikenal.

Alya mengernyitkan dahi. Ia ragu sejenak, namun akhirnya menggeser tombol hijau. "Halo?"

"Halo, Alya Putri. Wah, wah... ternyata nomor ini masih aktif setelah kamu berhasil merangkak naik ke kasur seorang CEO," sebuah suara wanita yang sangat familiar, penuh dengan nada sinis dan racun, terdengar dari seberang telepon.

Darah Alya mendadak berdesir dingin. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa muak yang teramat sangat yang langsung bangkit dari dasar ingatannya.

Itu adalah suara **Sela**, saudara tirinya. Anak kandung dari Ratna, ibu tirinya yang kejam.

"Sela?" suara Alya mendatar, meremas pinggiran meja kerja dengan erat. "Dari mana kamu mendapatkan nomorku?"

"Itu tidak penting, Kakak Sayang," cicit Sela di ujung telepon, sengaja menekankan kata 'kakak' dengan nada yang menjijikkan. "Yang penting adalah... bagaimana bisa kamu menyembunyikan pernikahan megahmu dengan Devan Dirgantara dari kami? Ibu sangat merindukanmu, tahu. Kami bahkan harus melihat berita di televisi tentang 'Nyonya Muda Dirgantara misterius' untuk menyadari bahwa jalang kecil yang dulu kami usir dari rumah ternyata sudah menjadi ratu di menara gading."

Alya menarik napas dalam-dalam, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Hubungan kita sudah selesai sejak Ibu kandungku meninggal dan kalian menjual rumah peninggalannya. Jangan pernah berani menghubungiku lagi."

"Oh, jangan ketus begitu, Alya," potong suara lain yang tiba-tiba mengambil alih telepon. Suara yang lebih tua, lebih serak, dan penuh dengan kelicikan yang matang. Itu adalah **Ratna**, sang ibu tiri. "Kamu mengira setelah menempel pada keluarga Dirgantara, kamu bisa melupakan asal-usulmu? Jangan lupa, di atas kertas, aku masih ibu serumahmu yang sah. Jika media tahu bagaimana kamu menelantarkan ibumu yang miskin dan saudaramu yang kesusahan demi hidup mewah, menurutmu apa yang akan terjadi pada citra suci yayasan beasiswamu itu?"

Ratna tertawa sinis, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Alya meremang karena kemarahan. "Besok siang, datanglah ke Restoran Mahoni di kawasan Menteng. Tepat jam satu. Bawa uang tunai lima miliar rupiah sebagai 'uang bakti' kepada orang tua. Jika kamu tidak datang, atau mencoba membawa pengawal Dirgantara untuk mengintimidasi kami... aku tidak akan ragu untuk menyebarkan seluruh dokumen masa lalumu—termasuk catatan palsu tentang 'kenakalan remajamu' yang sudah kami siapkan—ke seluruh media infotemen!"

*Pip.*

Sambungan telepon diputus secara sepihak.

Alya mematung di kursinya, tangan yang memegang ponsel gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi karena kombinasi antara amarah dan rasa jijik yang luar biasa. Ibu tiri dan saudara tirinya adalah tipe manusia berdarah dingin yang tidak akan ragu melakukan cara sekotor apa pun demi uang. Lima miliar rupiah? Itu adalah pemerasan terang-terangan.

Tepat pada saat cemas itu melanda, sebuah kehangatan yang luar biasa pekat mendadak menjalar dari rahim Alya, mengalir ke seluruh pembuluh darahnya dan menstabilkan detak jantungnya yang berkejaran dalam sekejap.

Di dalam kepalanya, suara Baby El bergaung dengan nada yang sangat dingin, berat, dan dipenuhi oleh aura kemurkaan seorang penguasa tertinggi. Janin ajaib itu rupanya langsung terbangun begitu merasakan lonjakan emosi negatif ibunya.

> *[Hmph! Dua ekor tikus selokan dari masa lalu rupanya mencium bau uang kita, Ibu! Berani-beraninya mereka mengancam Ibuku dengan trik murahan seperti itu?!]*

> *[Lima miliar? Bahkan untuk satu sen pun, mereka tidak layak mendapatkannya! Mereka mengira bisa memeras Nyonya Muda Dirgantara? Mereka belum tahu bahwa di dalam rahim ini, ada kaisar bisnis yang memegang kendali atas takdir finansial mereka!]*

Alya mengelus perutnya dengan lembut, mencoba menenangkan bayinya. "El... mereka sangat licik. Mereka memegang dokumen-dokumen lama dan tidak segan untuk membuat rumor palsu di media. Ibu takut hal itu akan mempengaruhi posisi Devan di Dirgantara Group."

> *[Ibu, dengarkan aku. Di kehidupan laluku sebagai Elio Vance, aku telah menghancurkan ratusan spekulan pasar dan pemeras kelas kakap sebelum mereka sempat mengedipkan mata. Tikus-tikus seperti Ratna dan Sela ini hanyalah kerikil kecil. Jangan beritahu Ayah Dingin dulu, dia terlalu sibuk dengan urusan diplomatik menteri malam ini. Kita akan menyelesaikan ini dengan cara kita sendiri esok hari!]*

> *[Besok jam satu siang... kita akan datang ke Restoran Mahoni. Tapi bukan untuk membawa uang, melainkan untuk membawa kontrak kehancuran total bagi sisa hidup mereka!]*

Mendengar rencana Baby El yang begitu percaya diri dan penuh otoritas, kecemasan Alya perlahan memudar, digantikan oleh rasa aman yang kokoh.

---

Keesokan harinya, tepat pukul dua belas siang, Devan sedang berada di kantor pusat melakukan rapat evaluasi kuartal. Alya meminta Yudha untuk menyiapkan mobil dan pengawalan standar ke kawasan Menteng dengan alasan ingin makan siang di luar penthouse. Yudha yang tidak menaruh curiga segera menyiapkan segalanya.

Pukul satu kurang lima belas menit, Rolls-Royce hitam yang membawa Alya berhenti di depan Restoran Mahoni—sebuah restoran klasik dengan privasi tinggi yang biasa digunakan oleh kalangan elit.

Alya melangkah masuk dengan gaun hamil rajut putih bersih dipadukan dengan celana denim kasual yang nyaman, menampilkan kesan elegan namun santai. Cincin berlian platinum di jarinya berkilau diterpa lampu gantung restoran. Dua pengawal Dirgantara tetap berjaga di luar pintu masuk atas permintaan Alya demi memancing musuh masuk ke dalam jebakan.

Di sudut ruangan VIP nomor 07, Ratna dan Sela sudah duduk menunggu. Sela mengenakan pakaian bermerek yang terlalu mencolok dan riasan tebal, sementara Ratna sibuk menghitung waktu di jam tangannya.

Begitu pintu geser ruangan terbuka dan melihat Alya masuk, seringai kemenangan langsung terpancar di wajah kedua wanita itu.

"Wah, Nyonya Muda Dirgantara akhirnya tiba," sindir Sela, menatap Alya dari atas ke bawah dengan tatapan penuh iri dengki. "Lihatlah kulitmu yang semakin terawat. Hidup dengan uang konglomerat benar-benar mengubah sampah menjadi berlian, ya?"

Alya tidak membalas sindiran itu. Ia duduk di kursi seberang mereka dengan tenang, melipat kedua tangannya di atas meja. "Di mana dokumen yang kalian katakan semalam?" tanya Alya datar, langsung pada inti masalah.

Ratna mendengus pelan, menepuk sebuah tas jinjing kulit imitasi di sampingnya. "Uang lima miliarnya dulu, Alya. Jangan mencoba bermain trik. Kami tahu suamimu kaya raya, uang segitu hanyalah recehan bagi keluarga Dirgantara."

> *[Recehan? Tentu saja itu recehan bagi kami, Pria Tua Bangka di kehidupan laluku bahkan biasa membakar uang sebanyak itu hanya untuk cerutu pagi. Tapi untuk kalian? Uang itu akan menjadi tali gantung diri yang sangat pas!]*

> *[Ibu, ulurkan tangan kananmu ke atas meja. Biarkan cincin giok keluarga Dirgantara yang kau simpan di tas memancarkan resonansi spiritual denganku sekarang.]*

Alya mengikuti instruksi bayinya. Ia membuka tas kecilnya, mengambil cincin giok besar pemberian Tuan Besar Abraham yang sengaja ia bawa, dan meletakkannya di atas meja marmer. Begitu cincin giok itu menyentuh permukaan meja, sebuah getaran tak kasatmata yang sangat halus namun bermuatan energi spiritual tingkat tinggi mendadak meledak dari rahim Alya, merangsek masuk ke dalam cincin giok, dan menyebar ke seluruh ruangan VIP.

*BZZZZT!*

Lampu di dalam ruangan VIP mendadak berkedip redup. Suhu udara seketika turun drastis hingga mencapai titik beku, membuat Ratna dan Sela tiba-tiba menggigil ketakutan tanpa alasan yang jelas.

Di dalam pusat kesadaran Ratna dan Sela, visi mengerikan yang diproyeksikan secara paksa oleh Baby El langsung berputar dengan kecepatan penuh.

Dalam visi batin tersebut, Ratna melihat dirinya sendiri mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye, duduk di balik jeruji besi yang dingin dan dipenuhi tikus karena kasus penipuan dan pemerasan berencana. Sementara Sela melihat seluruh akun banknya dibekukan, nama baiknya hancur total di media sosial, dan ia dikejar-kejar oleh penagih utang kejam hingga harus mengemis di lampu merah dengan pakaian robek-robek.

Dan bersamaan dengan visi mengerikan itu, sebuah suara anak kecil yang penuh wibawa ilahi dan kekejaman absolut bergaung menghancurkan dinding kewarasan mereka:

> *[Dengarkan baik-baik, manusia-manusia serakah! Aku adalah anak di dalam kandungan ini, pewaris mutlak imperium Dirgantara! Jika kalian berani menggores nama Ibuku bahkan dengan satu patah kata pun di media, aku bersumpah visi kehancuran ini akan menjadi kenyataan dalam waktu dua puluh empat jam!]*

> *[Seluruh utang judi rahasia suamimu, Ratna... dan rekaman video ilegal milikmu di kelab malam, Sela... semuanya sudah berada di dalam sistem server kejaksaan agung atas perintah batiniahku! Satu gerakan salah dari kalian, dan hidup kalian akan berakhir di neraka dunia!]*

"Aaaakh! Ampun! Hentikan!"

Sela tiba-tiba menjerit histeris, memegangi kepalanya dan jatuh dari kursi hingga tersungkur di lantai restoran. Wajah tebal dengan riasannya kini dipenuhi keringat dingin dan air mata ketakutan yang luar biasa.

Ratna sendiri membelalakkan matanya dengan horor yang teramat sangat. Ia memegangi dadanya yang mendadak terasa sangat sesak seolah-olah sedang dihimpit oleh batu raksasa. Bagaimana mungkin rahasia utang judi suaminya dan video Sela bisa diketahui oleh Alya—atau lebih tepatnya, oleh suara anak kecil yang berbicara langsung di dalam otak mereka?!

"K-kamu... monster apa kamu?!" bisik Ratna dengan bibir bergetar biru, menatap perut Alya dengan ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Alya berdiri dari kursinya dengan keanggunan seorang Nyonya Muda yang sesungguhnya. Ia mengambil kembali cincin gioknya dan memasukkannya ke dalam tas. Tatapannya dingin, tanpa ada lagi sisa keterikatan masa lalu.

"Simpan dokumen palsu kalian," ucap Alya tegas. "Dan ingat kata-kata anakku tadi. Mulai hari ini, jika wajah kalian muncul lagi di hadapanku, bersiaplah untuk kehilangan semua yang kalian miliki."

Alya berbalik dan melangkah keluar dari ruangan VIP dengan kepala tegak, meninggalkan Ratna yang sedang sibuk menenangkan Sela yang terus menangis histeris di lantai.

Begitu melangkah keluar dari restoran, sosok Devan sudah berdiri di depan mobil Rolls-Royce dengan ekspresi yang sangat tegang. Pria itu rupanya langsung menyusul begitu sistem pelacak internal mendeteksi Alya berada di kawasan Menteng yang bukan area rutenya.

Devan langsung melangkah maju, menarik Alya ke dalam dekapan hangat dadanya yang bidang di bawah rintik hujan yang mulai turun lagi. "Alya! Kenapa kamu ke sini tanpa memberitahuku? Yudha bilang kamu ingin makan siang, tapi tempat ini—"

"Aku tidak apa-apa, Devan," potong Alya lembut, membalas pelukan hangat suaminya dengan erat, menyerap aroma maskulin yang selalu menenangkannya. "Aku hanya sedang menyelesaikan beberapa urusan masa lalu... dan anak kita baru saja membantuku membereskannya dengan sangat bersih."

Devan tertegun, lalu perlahan mengulas senyuman tipis penuh kebanggaan seraya mengecup puncak kepala Alya dengan penuh kasih sayang. Di dalam rahim Alya, Baby El kembali menguap kecil dengan penuh kemenangan, siap untuk melanjutkan tidur siang spiritualnya yang sempat terganggu oleh tikus-tikus selokan.

1
beybi T.Halim
yaa jgn nama juga laa.,bisa hubby,ayah.,ayang beb🤭kannn gak sopan manggil nama doank
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!