Lunna itu cuma anak kelas sebelas SMA. Rada julid, lumayan kalem, irit komentar, tapi kadang bisa juga cerewet bin rempong. Tapi walau kadang mukanya keseringan datar, Lunna itu sebenarnya asyik kok.
Lunna punya temen cewe. Namanya Kira, panjangannya Arkiera, guru-guru sering salah manggil, disebut lebih bagusan kalau Aksara.
Lunna juga suka novel fantasi. Tapi apa dia tahu... kalau sihir itu sesungguhnya ada? Bahkan pada dirinya sendiri?
Lunna itu rahasia, misteri dengan sejuta kata.
Lunna itu berbahaya, tapi juga amat memesona.
Kau tahu legenda tentang Razenskalavia? Negeri dongeng yang jauh di dimensi sihir sana? Karena ternyata, Lunna adalah anggotanya....
'Hello, Bangsawan Razenskalavia... masih ingat dengan Mitos Balaur dan Wiz?'~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafitria_571, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 17
Lunna menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan sinis. Jengah, ia jengah dengan ancaman nenek tak berperikemanusiaan ini. Ia menoleh ke samping. Tidak ada hewan berbulu lembut lagi di sebelahnya. Tatapan matanya lalu kembali memandang nenek itu.
Dia mencekik Drole di tangannya. Entah sejak kapan kucing perak itu ada di sana. Ia bahkan tidak menyadari pergerakan apapun. Nenek ini tak bisa ia anggap remeh. Kemampuan apa yang dimiliki orang tua itu?
"Jadi, Nenek mengancamku?"
"Terserah kau mau menganggapnya apa. Yang nenek inginkan hanyalah kau pulang dengan semua bahan karena kucing gemuk ini akan menjadi taruhannya."
"Saya kan tadi sudah minta maaf."
"Dan kau tadi juga sudah menyanggupi apa pun yang nenek minta," balasnya tak mau kalah.
Lunna mengeram. Menjengkelkan. Bilang saja kalau nenek itu tak mau membantu, tidak perlu menyusahkan orang dan mengancam seenak jidat. Sungguh tak elit.
"Untuk sementara hewan ini akan bersama nenek sebagai jaminan. Kau tidak akan meninggalkan teman yang sudah menemanimu kan?"
Lunna memperlihatkan sorot datar. Tidak menunjukkan reaksi yang kentara. Di dalam pikirannya ada banyak hal yang berseliweran. Jelas tidak mungkin ia meninggalkan Drole. Hewan itu sudah membantu banyak. Tak ada pilihan lain, pada akhirnya ia harus mengalah.
Lunna menghela napas. Kilatan emosi yang terpancar di iris cokelat itu melunak. "Ya sudah. Nenek jangan macam-macam dengannya, dan tolong jangan kasar kepadanya. Aku akan kembali secepatnya."
"Anak pintar. Pastikan kau pulang sebelum hari gelap. Karena jika malam hari, banyak hewan buas yang mencari makanan," nenek itu memeringatkan. Lalu ia berjongkok di tanah. Dan memasukkan Drole ke dalam sangkar berbentuk tabung.
Lunna mengrenyit. Tidak menyadari sejak kapan benda itu ada di sana. Jelas-jelas di samping nenek itu tadi tidak ada apa pun. Wanita tua itu sangat mencurigakan.
"Baiklah, aku pergi sekarang. Drole, jaga dirimu," pamit Lunna. Menatap hewan yang kini sudah terkurung.
Hewan itu mengeong lemah. Tampak khawatir dengan kondisi Lunna. Dia juga terlihat tidak yakin kalau nonanya akan berhasil. Bagaimanapun juga, gadis itu tak tahu apapun tentang dunia ini. Kalau sampai terjadi apa-apa, ia akan menyalahkan dirinya untuk selamanya.
Lunna mengangguk yakin. Ia percaya ia tak selemah itu hingga menyerah bahkan sebelum mulai. Ia adalah gadis kuat, ia pasti berhasil. Itu adalah kata-kata yang selalu kakek ucapkan padanya saat ia tersandung masalah.
"Sampai kapan kau akan berdiri di situ, hah?" Bentakan nenek galak itu membuat Lunna memutuskan kontak mata dengan Drole. Diam-diam gadis itu mengumpat dalam hati.
Dasar nenek sialan!
Lunna mendengus sengit, matanya menyipit tak suka. Ia kemudian berbalik badan dan mulai berjalan menjauh. Menuju Hutan Hujan Timur yang berada di depan mata. Kenapa harus hutan lagi? Keluhnya lelah. Langkahnya yang berat dan terseok-seok menjadi pembuka petualangan barunya.
Hutan ini sangat rimbun oleh pepohonan besar. Dengan diameter batang yang mencapai belasan meter. Memenuhi nyaris setiap sudut hutan. Menjulang sampai tak terlihat ujungnya.
Tanah di hutan ini lembab, tertutup oleh sisa sampah organik seperti daun dan bangkai makhluk hidup lain. Daun berkanopi yang bertumpuk-tumpuk di setiap cabang pohon membuat matahari tak menjangkau dasar hutan.
Ada banyak bebatuan di sini. Tertutup lumut dan kerak. Nyaris semua terlihat sama, hijau kehitaman. Akar-akar tanaman yang mencuat di permukaan menjadi tantangan tersendiri untuk melaluinya.
Lunna merapatkan mantel cokelatnya. Suhu udara di sini sejuk dan segar. Namun juga teramat dingin untuk ukuran hutan tropis.
Perhitungannya mungkin suhunya mencapai angka lima belas derajat celsius atau kurang. Oh, perlu diingat, perhitungan ataupun perkiraan gadis itu tak pernah akurat. Jadi jangan dipercaya.
"Huhhhh," Lunna meniup tangan yang ia satukan di depan wajah. Lalu menggosoknya, mencoba mencari kehangatan. Bahkan ia bisa melihat hembusan napasnya sendiri yang terlihat seperti asap.
Lunna. kembali melihat daftar bahan yang diberikan nenek itu. Ia mengacak rambut frustasi. Mengumpat sebal terhadap nasib sial yang mengikutinya sejak pertama kali tiba di dimensi ini. Apa ia melakukan dosa besar sampai Tuhan menghukumnya seperti ini?
"Aaakhhh, sial! Harus kucari kemana bahan ini? Hutan ini bahkan tidak kuketahui luasnya. Apa aku harus mencari di setiap titik?" gadis itu menutup gulungan kertas kusam dengan kasar.
"Dasar kucing garong! Dia tidak bilang tempatnya secara spesifik, bagaimana aku bisa menemukan bahan ini?! Hah!!"
Lunna berteriak keras. Mengeluarkan semua kekesalannya. Ia bahkan meneriaki setiap daun yang ia lihat, memelototi setiap capung yang melewatinya begitu saja dengan santai. Ia seball, saking sebalnya sampai melihat batu pun ia murka.
Lunna terengah sedikit. Ia duduk di bawah pohon besar. Tepatnya pada akar yang menyembul di tanah. Menyenderkan kepala di sana. Cukup. Ia sudah cukup mengamuk saat ini. Nanti lagi karena ia lelah sekarang.
Ini adalah salah satu hal tersulit. Ia seperti mencari jarum di tumpukan jerami- ralat, lautan jerami. Ia bahkan mulai meragukan kepercayaannya terhadap motto hidupnya. Yang berbunyi persis seperti ultimatum ujian nasional. Jangankan sampai hari gelap, sampai tahun depan saja belum tentu selesai ini.
Perlahan, emosi menggebu tadi mulai mereda. Gadis bersurai panjang itu kelelahan. Lalu tanpa ia sadari kelopak matanya memberat, dan mulai menutup. Gadis itu terlelap dengan kicauan burung sebagai lagu pengantar tidurnya.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewat. Tak cukup dengan sejam, gadis yang meringkuk mengenaskan di salah satu akar pohon itu membuang waktu empat jam untuk menjelajahi alam mimpi. Ia terbangun saat kepalanya tak sengaja menunduk terlalu dalam, membuat tubuhnya goyah dan nyaris mencium tanah.
"HAH? JAM BERAPA SEKARANG?" kaget Lunna. Ia bangkit berdiri dengan tergesa.
Gadis itu panik saat menyadari langit di atas sudah bewarna jingga. Yang menandakan bahwa senja mulai datang dan hari ini akan segera berakhir. Matahari yang mulai tenggelam itu terlihat melambai sendu. Seolah mempertegas bahwa keyakinan Lunna akan keberhasilannya adalah hal mustahil.
"Ya, Tuhan! Aku bahkan belum dapat bahan satu pun. Astaga bodohnya aku!" rutuk Lunna.
Menyesal telah membiarkan rasa kantuk menguasai dirinya. Padahal ia sedang mempertaruhkan nyawa temannya, bagaimana ia bisa tidur seperti itu tadi? Gadis itu buru-buru berjalan.
Ia menyibak setiap tumbuhan perdu dan menangkis setiap sulur rambat yang ditemui. Tidak peduli dengan berbagai macam serangga atau hewan melata yang tak sengaja ia sentuh. Ia sedang mengejar waktu, antara hidup dan mati.
Kalau sampai ia terlambat datang, habis sudah nasib Drole. Ia tak akan pernah memaafkan dirinya. Ia juga akan memberikan pemakaman yang layak serta peti mati yang bagus. Supaya setidaknya rasa bersalah itu tidak kian menggunung. Tapi semoga hal itu tak terjadi.
Lunna terus berjalan menelusuri hutan itu. Entah sudah berapa lama. Ia juga tidak tahu. Ia kembali membuka gulungan kertas. Mungkin yang paling mudah dikenali adalah anggrek kuning dan mawar putih.
Karena itu, ia akan mencari keduanya terlebih dahulu. Ia membuka langkah lebar. Melewati akar pohon yang cukup besar. Tangannya menyingkap dedaunan yang menghalangi penglihatan. Lalu kemudian...
"Wahhh!"
like blk karyaku ya
cinta rasa covid -19
the Thunder's love
bdw mampir juga ya kak di novel Ku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
mampir ya