NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang kusut

Pintu utama terbuka, menyambut Vivian pada awal kehidupan barunya.

Kemegahan rumah itu menampar Vivian. Lantai marmer, lampu kristal, ukiran indah. Semua berkilau. Semua asing.

Dan di tengah kilau itu, ia merasa dirinya paling pudar.

Raynor berjalan tenang di sampingnya, seolah merasakan kekaguman gadis itu, namun ia tetap menuntun langkah Vivian menuju ruang makan.

Di sana, Ayah dan Ibu sudah duduk berdekatan, wajah mereka penuh kebahagiaan sambil saling melempar senyum hangat, begitu mesra, seolah dunia hanya milik mereka berdua.

"Ibu..." cicit Vivian menahan senyum.

Kedua orang tua itu seketika terdiam salah tingkah. Senyum masih tersungging, sedikit kaku, karena menahan malu.

"Aduuuh... Anak-anak ayah sudah mulai akrab ajah nih. Ayo sinih duduk dulu! Sinih Putri Ayah, maaf rumah sedikit berantakan" ucap ayah yang seketika membuat Vivian tercengang.

"Tak apa ayah, istana ini bahkan jauh lebih baik dari semua tempat yang pernah Vi kunjungi" matanya berbinar.

Ia mengambil tempat duduk di samping ayahnya. Raynor mengikuti di sampingnya, namun di cegah. "Raynor, duduklah di samping ibumu" pinta ayah.

Belum sempat satu kata terucap, langkah kaki berat terdengar menyusul dari belakang. Satria muncul di ambang pintu.

Wajahnya mendung kelabu, cemberut, muram, namun matanya tak henti menatap tajam ke sana kemari. Dari tatapan Vivian yang kini terlihat begitu tenang di samping pria lain, pada keakraban Raynor yang tak pernah ia lihat sebelumnya, hingga pada keramahan keluarganya yang seolah sudah menganggap Vivian bagian dari mereka.

Perlahan namun pasti, kesadaran pahit itu merayap masuk, ia mulai mengerti, Vivian bukan sekadar tamu yang lewat. Gadis itu kini telah menetap di tempat yang sama, di dalam lingkaran yang kini tak bisa ia sentuh sembarangan.

Ayah Budi berdiri perlahan, menunjuk ke arah Satria dengan senyum hangat.

"Nah, ini dia Satria, keponakan terbaik paman" ucapnya sumringah, ia menarik Satria untuk mendekat pada putrinya, Vivian.

"Kemarin kalian belum sempat kenalan kan? Satria, ini Vivian, Putri paman. Dan Vivian, ini Satria, keponakan ayah. Dan mulai sekarang kami semua tinggal serumah"

"Hai kak Satria, aku Vivian" sapanya canggung. Tangannya menggantung di udara yang hanya dibalas tatapan kosong Satria.

Ia tak pernah mengira, kekasih yang dulu selalu ia rindukan, tapi terbentang jarak memisahkan. Sedangkan sekarang, ketika rasa itu perlahan memudar, namun semesta semakin mendekatkan.

"Minggir..." Raynor datang menepis kasar tubuh Satria yang hanya diam tak bergerak.

Satria perlahan bergeser, masih diam, terpaku kaku. Meski dalam hati sudah menduga, namun saat kata itu terucap resmi, rasanya seperti ada beban berat yang jatuh sekaligus mengikat erat di dadanya.

Sebelah hatinya bersorak senang, artinya ia bisa lebih sering bertemu Vivian. Tapi sebelah lainnya mendadak gelap dan penuh ketakutan.

Rahasia yang selama ini disembunyikan, kini terasa semakin berbahaya untuk terbongkar.

Ayah Budi melirik lembut ke arah Ibu Dina, lalu menunjuk ke meja dengan tatapan puas.

"Lihatlah sayang, anak-anak sepertinya sudah mulai akrab."

Mata mereka berdua tertuju pada Vivian dan Raynor yang kini duduk bersisian.

Tanpa banyak bicara, Raynor dengan tenang mengambil pisau dan garpu, memotong daging di piring Vivian dengan rapi dan hati-hati.

Wajahnya tetap tampak dingin dan datar seperti biasa, namun semburat merah samar tak sengaja menyelinap di telinganya. Sedangkan Vivian hanya bisa menunduk dalam, pipinya merona malu, tak berani menatap siapa pun.

Suara tawa kecil terdengar dari kedua orang tua mereka, merasa bahagia melihat keharmonisan itu.

Namun di kursi seberang, tangan Satria meremas gagang garpu di bawah meja, begitu erat hingga buku jarinya memutih. Giginya gemeretup pelan, menahan segala rasa cemburu dan sakit yang meluap-luap.

Ia ingin sekali berteriak, ingin menarik Vivian pergi dari sana. Tapi ia tak berdaya. Hubungan mereka yang tak seorang pun tahu, kini terhalang dinding tak terlihat bernama kekeluargaan.

Ia tak bisa menuntut apa pun, karena sekarang... mereka memang benar-benar hanya sepupu.

Raynor berdiri perlahan sambil merapikan jasnya. "Maaf, saya harus pamit duluan. Ada urusan pekerjaan yang belum selesai." Tanpa menoleh lebih lama pada siapa pun, ia melangkah pergi meninggalkan ruang makan.

Setelah hidangan terakhir selesai disantap, Ayah Budi menatap Satria dengan senyum ramah.

"Satria, kamu bisa pilih kamar di lantai dua. Kamar Vivian juga sudah disiapkan di sana, tepat di sebelah kamar Raynor. Kamu bisa ke atas sekarang, sekalian antar Vivian yah"

Titah itu bagaikan sebuah emas. Jika Raynor bisa dekat dengan Vivian sebagai kakak, maka ia juga bisa sedekat itu sebagai sepupu. Ia tersenyum licik, sangat samar, tak ada yang mampu membacanya.

Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri lorong lantai dua. Sepanjang jalan berusaha bersikap biasa, seolah tak ada perasaan yang tersembunyi di antara mereka.

Namun saat lorong mulai sepi, Satria tiba-tiba menyambar jemari Vivian, menggenggamnya erat. Sebuah senyum manis yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain tersungging di wajahnya.

"Aku tak pernah menyangka... ternyata kita bisa menjadi sepupu. Kita bisa sedekat ini setiap hari."

Vivian seketika membuang muka, jantungnya berpacu kencang. Ia ingin melepaskan genggaman itu, namun ada rasa rindu yang selama ini ia tahan membuatnya terpaku.

"Satria..." bisiknya pelan.

"Kita tak perlu menyembunyikan apa-apa lagi di sini," bisik Satria semakin mendekat, matanya berbinar penuh harap sekaligus kecemburuan yang masih tertahan. "Kamu milikku, Vivian. Hanya milikku."

Belum sempat Vivian menjawab, langkah kaki berat terdengar dari ujung lorong. Keduanya tersentak kaget, melepaskan genggaman secara refleks serentak menoleh ke sumber suara.

Di ujung lorong berdiri Raynor. Wajahnya datar, dingin seperti biasa, namun sorot matanya tajam menembus, seolah baru saja menangkap sesuatu yang tak seharusnya ia lihat.

"Ada barang yang tertinggal" ucapnya singkat, suaranya tenang namun membawa tekanan yang membuat suasana makin mencekam.

Tanpa menambah kata, ia melangkah lewat begitu saja di hadapan mereka. Namun saat berpapasan, sekelebat tatapan itu sempat jatuh pada tangan Vivian yang masih terasa hangat bekas genggaman Satria.

Pintu kamar Raynor tertutup pelan namun terasa nyaring membelah kesunyian. Satria kembali menatap Vivian, masih menyisakan senyum yang dipaksakan, namun gadis itu hanya diam mematung, hati kecilnya mulai bertanya, apakah kedekatan ini benar-benar anugerah, atau justru awal dari luka yang tak akan usai?

Di rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan, kini tiga hati terjalin dalam benang kusut yang tak terlihat. Dan tak ada satu pun dari mereka yang tahu, benang mana yang nantinya akan putus, atau justru makin mengikat erat hingga tak bisa lepas.

1
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
kelinci kecil
greget banget sama stela, pengen ikutan Jambak rambutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!