Seorang wanita malang yang terusir dari rumahnya sendiri tiba-tiba saja terikat dengan sistem sang pengubah takdir setelah ditabrak mobil oleh saudari tirinya sendiri.
Mendapati dirinya tak mati dan malah terhubung dengan sistem sang pengubah takdir, akhirnya dia pun memilih untuk membuat kesepakatan dengan sistem tersebut. "Jika kau tak setuju dengan syaratku maka pergilah aku juga sudah tidak ingin hidup lagi" mendengar itu sistem yang baru pertama kali aktif pun langsung menyetujui semua syaratnya karena dia tak mau lenyap sebelum sempat menyelesaikan tugas apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae Linge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Replika
Pelelangan pun terus berlanjut dan sekarang pelelangan untuk barang ketiga pun sedang berlangsung "Barang selanjutnya merupakan barang ketiga yang akan kami lelang hari ini, barang ini merupakan barang yang langka dan sangat disukai wanita, barang ini adalah tusuk rambut bunga anggrek karya master Du yang sangat terkenal dan aku yakin semua yang ada disini pasti mengetahui kehebatan master Du dan tusuk rambut ini adalah karya terakhir miliknya yang disimpan dengan sangat baik oleh keturunannya, kepada hadirin harga awalnya adalah dua puluh tael emas dengan kenaikan penawaran lima puluh tael perak" ucap menejer tersebut yang berhasil membuat para wanita diruangan itu pun menatap penuh minat ke arah tusuk rambut tersebut "Kak Dodi sepertinya tusuk rambut itu akan sangat bagus jika dikenakan di rambutku" ucap Neli Su yang duduk disebelah kiri Dodi Hu dengan suara manja dan mata yang berbinar hingga membuat Dodi Hu yang merupakan tuan muda kedua kediaman perdana menteri Hu pun menegakkan tubuhnya "Baiklah karena adik Neli menyukainya kakak akan membelikannya untuk mu" ucap Dodi Hu dengan penuh percaya diri.
"Dua puluh satu tael emas" tawar seseorang dari lantai satu, mendengar itu Dodi Hu pun segera mengajukan penawaran "Tiga puluh tael emas" ucapnya dengan penuh percaya diri, mendengar suara dari ruang itu Elisa Su pun tersenyum smirk sembari ikut melakukan penawaran "Lima puluh tael emas" ucap Elisa Su dengan suara santainya sehingga membuat Dodi Hu pun kembali ikut menaikkan tawarannya "Enam puluh tael emas" ucapnya kembali dengan suara yang keras, setelah mendengar itu Elisa Su pun tersenyum miring sembari kembali mengajukan tawarannya "Dua ratus tael emas" ucapnya dengan sangat santai, mendengar itu Dodi Hu pun ingin menaikkan kembali tawarannya namun lebih dulu di potong oleh seseorang dari ruang nomor dua "Lima ratus tael perak" ucapnya dengan santai, mendengar harga penawarannya setinggi itu Dodi Hu pun mulai goyah karena merasa jika harga itu sudah terlalu tinggi "Kak Dodi apakah kakak tak ingin memakaikan tusuk rambut itu dirambut adik secara pribadi" ucap Neli Su dengan suara manjanya sembari memeluk lengan kiri Dodi Hu dengan sangat manja, mendengar ucapan Neli Su dan mendapatkan perlakuan seperti itu, Dodi Hu pun merasa sangat senang dan kembali menegakkan tubuhnya "Tentu saja kakak akan mendapatkan tusuk rambut itu, bukankah kakak sudah berjanji kepada mu" ucap Dodi Hu dengan lembut sembari mengusap pelan tangan Neli Su yang tengah memeluk manja lengannya, mendengar perkataan itu Neli Su pun tersenyum sangat manis ke arah Dodi Hu "Terimakasih kak Dodi, memang hanya kakak yang menyayangiku dengan tulus" ucap Neli Su yang berhasil membuat Dodi Hu pun tersenyum lebar dan kembali ikut melakukan penawaran.
"Lima ratus lima puluh tael perak" ucap Dodi Hu dengan penuh percaya diri, mendengar itu Elisa Su pun kembali menaikkan tawarannya dengan berani "Sembilan ratus tael perak" ucapnya dengan begitu santai "Tentu saja dengan harga segini aku juga tidak akan rugi, bahkan jika harganya mencapai dua ribu tael perak juga aku masih mendapatkan keuntungan besar" ucap Elisa Su di dalam hatinya setelah memerintahkan Coco untuk memeriksa nilai tukar tusuk rambut tersebut jika dijadikan uang di dunia nyatanya. Mendengar harga penawaran dari ruang nomor tiga yang sangat tinggi Neli Su pun segera memandang dengan wajah sedih ke arah Dodi Hu "Kak Dodi walaupun adik menyukai tusuk rambut tersebut, tapi adik tak ingin menyusahkan kakak lagi" ucap Neli Su dengan air mata yang sudah mengenang di ujung matanya melihat itu Dodi Hu pun menguatkan hatinya "Sembilan ratus lima puluh tael perak" ucap Dodi Hu dengan tegas, mendengar tawaran itu Elisa Su pun mendecakkan lidahnya dengan sengaja hingga terdengar ke ruang milik kediaman Hu itu "Tuan muda jika ingin benar-benar mendapatkan barang ini, tolong jangan menambah penawaran harganya dengan serendah itu, karena itu hanya akan membuang-buang waktu saya saja, setidaknya tuan muda harus menawar dua kali lipat lebih tinggi dari tawaran saya, siapa tau saja dengan begitu nanti saya tidak akan sanggup lagi ikut menawar barang tersebut" ucap Elisa Su yang berhasil membuat Dodi Hu pun mengepalkan tangannya karena marah dan merasa telah direndahkan oleh seorang wanita, selain itu juga saat ini ada wanita yang disukainya tengah duduk bersamanya "Seribu dua ratus tael emas" ucap Elisa Su kembali sembari menyebutkan tawarannya dengan santai.
"Kak Dodi ini semua salah adik, andai saja adik tidak menginginkan tusuk rambut itu pasti kak Dodi tidak akan mendapatkan penghinaan seperti ini, adik sadar ini semua kesalahan adik jadi adik tak menginginkan lagi tusuk rambut itu walaupun sebenarnya sangat menyukainya" ucap Neli Su sembari berpura-pura menangis setelah melihat Dodi Hu yang sempat mengepalkan tangannya karena marah setelah mendengar ucapan dari wanita yang berada di ruang khusus nomor tiga itu. "Tidak, ini semua bukan salah adik, tenang saja karena kakak sudah berjanji kakak pasti akan mendapatkan tusuk rambut itu untuk adik" ucap Dodi Hu dengan lembut namun matanya menatap tajam ke arah ruang tiga dimana Elisa Su berada "Seribu lima ratus tael emas" ucap Dodi Hu yang berhasil membuat keributan di seluruh lantai tersebut, mendengar itu Elisa Su pun tersenyum smirk karena telah berhasil mendapatkan hasil yang dia inginkan sehingga dia pun tak lagi ikut dalam penawaran tersebut.
"Apakah masih ada yang menawar, seribu lima ratus tael emas sekali, seribu lima ratus tael emas dua kali, seribu lima ratus tael emas tiga kali, selamat kepada tuan yang berada di ruang nomor delapan telah mendapatkan tusuk rambut peninggalan terakhir master Du ini" ucap menejer tersebut dengan senyum lebarnya karena tak menyangka jika telah berhasil menjual tusuk rambut tersebut dengan harga setinggi itu, bahkan dia pun sempat melirik ke arah ruang tiga dimana Elisa Su berada sembari menatap penuh kagum dan juga hormat "Benar-benar dewi pembawa keberuntunganku" ucap menejer tersebut di dalam hatinya.
"Tuan muda kedua, apakah ini tidak apa-apa, bagaimana jika nanti kita tidak dapat membeli barang yang diinginkan tuan besar" ucap pengawal Dodi Hu dengan berbisik di sebelah telinga kanan Dodi Hu, mendengar itu Dodi Hu pun tak terlalu menanggapi serius kata-kata pengawalnya karena menurutnya harga pil yang diinginkan ayahnya paling tinggi hanya sekitar dua ribu tael emas saja, sehingga tak masalah jika dia menggunakan uang sisanya "Tenang saja, aku sudah mempertimbangkan semuanya" ucap Dodi Hu dengan penuh percaya diri, mendengar itu pengawal tersebut pun tak dapat mengatakan apa-apa lagi dan hanya bisa kembali ke tempatnya semula.
Pelelangan pun terus berlanjut hingga tak sadar telah sampai pada barang kedelapan dari sepuluh barang yang dilelang hari itu "Baiklah selanjutnya barang kedelapan yang kami siapkan untuk acara lelang kali ini adalah sebuah pedang harimau milik jenderal Ru yang yang sudah ratusan tahun menghilang dan baru saja ditemukan kembali oleh seorang pendekar pengembara yang sangat beruntung, karena pendekar pengembara itu sudah memiliki pedang sendiri yang juga merupakan pedang peninggalan gurunya sehinnga dia pun tak menggunakan pedang tersebut dan memutuskan untuk melelang pedang tersebut agar pedang tersebut dapat menemukan orang yang berjodoh dengannya, harga awalnya lima ratus tael emas dengan kenaikan lima puluh tael emas" ucap menejer tersebut, mendengar itu semua orang yang berada di tempat tersebut termasuk orang-orang yang berada di ruang khusus lantai dua pun mengalihkan pandangan mereka ke arah pedang tersebut.
"Coco, apakah benar pedang itu memang seterkenal itu, entah kenapa aku merasa jika pedang itu hanyalah replika saja" ucap Elisa Su di dalam hatinya setelah memandang pedang itu dengan seksama beberapa menit "Host memang benar, itu hanyalah pedang replika saja pedang aslinya sudah lama terbelah menjadi dua, namun tidak ada yang mengetahui kebenarannya, semua ini bermula pada saat seorang pemburu yang pergi ke hutan untuk berburu namun dia masuk terlalu dalam dan tanpa sengaja menemukan potongan pedang yang asli, setelah melihat-lihat ukiran yang ada pada pedang tersebut pemburu itu pun sangat menyukainya sehingga dia memutuskan untuk membawa pulang pedang tersebut dan segera pergi ke penempa pedang yang ada di desanya untuk membuat pedang dengan ukiran yang sama bahkan juga dengan panjang yang sama, melihat pedang tersebut yang terlihat sangat tua dan telah patah menjadi dua penempa itu pun mengira jika pedang tersebut merupakan harta peninggalan milik kelurga pemburu itu, jadi dengan rasa kasihan dia pun setuju untuk membuat pedang yang sama persis dengan pedang yang didapatkan oleh pemburu tersebut, setelah pedang itu selesai pemburu itu pun mengambilnya dan selalu menyarungkannya di pinggangnya sedangkan pedang yang asli diberikannya kepada penempa tersebut sebagai bayaran untuk menempa pedang yang kini dibawanya selain itu pedang yang asli pun telah diubah oleh penempa tersebut menjadi pisau kecil. Pemburu menggunakan pedang itu kadang-kadang untuk memotong hasil buruannya, bahkan dia juga terkadang membiarkan istrinya memakai pedang itu untuk memotong sayuran di dapur saat tak menemukan pisau, setelah bertahun-tahun digunakan untuk membantu keperluan sehari-hari pedang itu pun terlihat seperti pedang lama, belum lama ini pedang itu pun terjatuh dari pinggang sang pemburu pada saat melewati hutan lebat ketika ia pergi menuju ke kota sebelah untuk pindah sehingga dia pun tak mencari lagi keberadaan pedang tersebut. beberapa bulan setelah pedang itu jatuh pendekar pengembara itu pun menemukan pedang tersebut dan membawanya bersamanya karena dia merasa jika pedang tersebut bukanlah pedang yang biasa, hingga tibalah saat dimana pendekar pengembara tersebut bertemu dengan keturunan jenderal Ru dia pun baru mengetahui kebenaran tentang pedang itu dan ingin mengembalikan pedang tersebut kepada mereka, namun keturunan jenderal Ru tak mau menerimanya dan menyerahkan pedang tersebut sepenuhnya kepada pendekar pengembara tersebut dengan alasan keduanya berjodoh, mendengar itu akhirnya pendekar pengembara pun menyetujuinya, tak lama setelah itu dia pun mendengar rumah lelang ini akan segera mengadakan pelelangan jadi setelah lama menimbang-nimbang akhirnya dia pun memutuskan untuk melelang pedang tersebut agar bertemu dengan orang yang benar-benar berjodoh dengannya" ucap Coco dengan panjang lebar hingga membuat orang-orang yang mendengar percakapan mereka pun terkejut.