Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Malam yang terlihat semakin gelap, awan hitam yang pekat, tidak ada satupun cahaya dari bintang dan bulan yang menghiasi langit malam ini. Suara petir terdengar jauh. Menambah suasana semakin mencekam.
Angin bertiup dengan kencang menggoyangkan pepohonan dan semuanya. Menerbangkan sampah dedaunan kering ke segala arah, mengikuti angin membawanya terbang.
Udara malam ini menjadi sangat dingin. Hasby berbalik menatap Tiar tajam.
"Jangan ucapkan kata-kata itu lagi!"
"Kenapa? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Apakah perempuan tadi kekasihmu? Kau meninggalkanku demi perempuan itu?" desak Tiar sembari terisak "Jawab Hasby! Jangan diam saja dan terus menghindar dariku," teriaknya marah.
"Cukup Tiar!" suara rendah Hasby terdengar dingin dan penuh tekanan.
Tiar terdiam sesaat, melihat Hasby dari balik pintu gerbang yang kokoh.
Hasby lelah benar-benar lelah menghadapi Tiar malam ini. Pikirannya berkelana pada wajah Hawa yang terlihat terluka.
"Apa perempuan itu lebih baik dari aku?? Jawab By!" Tiar meluapkan emosinya malam ini.
"Kita bicarakan besok pagi saja, sekarang kamu pulang dulu, jangan malam ini, aku minta tolong kamu pulang dan jangan bikin keributan di sini!" Hasby mencoba menahan emosinya. Ia ingin segera masuk ke rumah dan melihat Hawa.
"Kamu janji besok kita ketemu dan membicarakan hal ini kan?! Nggak bohong dan menghindariku lagi kan?!" Tiar terus saja mendesak Hasby.
"Iya, sekarang pulang!" kata Hasby rendah.
"Ok,,, kalau kamu mengingkari janjimu, aku akan datang kesini lagi," ancamnya pada Hasby. "Makasih By, aku tahu kamu pasti masih peduli sama aku," Tiar tersenyum cerah, mengusap air mata yang tersisa di pipinya. Tiar melenggang pergi, menaiki mobilnya dan pergi dari depan gerbang rumah Hasby.
Hasby menghela napas berat. Kenapa sampai seperti ini, padahal ia sudah menyelesaikan semuanya sejak dulu. Kenapa sekarang dia kembali dan membuat kacau di hidupnya.
Segera Hasby berlari ke dalam rumah, menaiki tangga dengan cepat. Napasnya terengah-engah ketika sampai didepan kamar Hawa.
Ia menempelkan telinganya pada pintu kamar Hawa, sunyi sepi. Mungkin Hawa sudah tertidur pikirnya.
Hasby ingin melihat kondisi Hawa, ia memutar gagang pintu dan ternyata terkunci dari dalam.
Dengan berat hati ia menyeret langkah kakinya menuju kamarnya. Segera bersih-bersih lalu menghampiri ranjang yang masih rapi dan terlihat dingin tak tersentuh. Ia membenamkan tubuhnya yang lelah diranjang empuknya.
Angin malam terdengar berbisik dikejauhan. Tak lama air langit saling berjauhan membasahi bumi. Seakan ikut menangisi sakit hati Hawa.
Hasby memejamkan matanya sembari mendengarkan hujan turun disertai suara petir yang menyambar di kejauhan.
Hawa duduk menekuk kakinya diatas sofa disamping jendela, memandangi hujan dan sesekali berjingkat karena suara petir yang menggelegar.
Hawa masih memikirkan kata-kata perempuan bernama Tiar Azani tadi.
"AKU CINTA SAMA KAMU BY"
Kata-kata itu selalu terngiang di telinganya terus-terusan.
Seperti mengingatkan akan kenyataan kalau ada seorang perempuan yang mencintai suaminya.
Ia memikirkan bagaimana kedepannya, hubungannya dengan Hasby baru mulai tumbuh, tapi sekarang terkena badai masalalu yang menggoyahkan hatinya.
Belum sempat akar itu menancap kuat di tanah tapi harus langsung kena badai dan tercabut akarnya.
Hancur sebelum tumbuh.
Akankah Hasby tetap mempertahankan hubungan yang sudah terjalin dengannya?
Atau lebih memilih mengakhirinya dan kembali merajut kasih dengan masalalunya itu?
Hawa meratapi nasibnya yang selalu di tinggal oleh orang-orang terkasihnya. Bapak dan Ibu meninggalkannya sendirian. Sekarang, di saat ia sudah bisa menerima Hasby kenapa harus ada orang dari masa lalu suaminya yang mendatanginya.
Meminta Hasby kembali pada orang itu.
Lama ia terdiam melihat keluar jendela kamarnya. Sampai tidak sadar jika ia tertidur di sofa dalam keadaan duduk memeluk kakinya erat.
Kepalanya terasa sakit, ia bangun dan segera ke kamar mandi, berwudhu dan melaksanakan sholat malamnya.
Matanya terlihat bengkak dan memerah. Hawa keluar kamar dan menuju dapur, segera mengambil es batu dan memasukkannya di kain tipis lalu di tempelkan di matanya yang bengkak.
Hasby merasa kering tenggorokannya, segera ia menyeret kakinya ke dapur untuk mengambil air minum. Tenggorokannya membutuhkan air cepat lantas membasahinya.
Seseorang duduk sendirian di ruang makan dengan minim penerangan, membuat Hasby terkejut. Matanya menyipit menyelidik. Jantungnya berdegup cepat, tangannya gemetar. Segera ia menyalakan lampu besar, tatapannya berhenti pada Hawa yang mengompres matanya.
Hawa terkesiap ketika lampu menyala dengan terang. Ternyata Hasby yang menyalakan lampu.
"Astaghfirullah Wa, kenapa nggak nyalakan lampu?" ucap Hasby berusaha tenang. Padahal detak jantungnya belum kembali normal.
"Maaf kak, ya sudah aku mau sholat dulu," Hawa menyembunyikan es batu nya dibalik saku gamisnya, gamis yang sama seperti tadi malam. Ia beranjak menaiki tangga, meninggalkan Hasby seorang diri.
Mata Hasby masih terus mengekori punggung Hawa, setelah tidak terlihat baru ia menghela napas berat.
Terlihat jelas kondisi Hawa yang tidak baik. wajah sembab, mata memerah bengkak, sudut bibirnya kering dan berdarah. Seperti bekas digigit.
Hasby mengusap wajahnya kasar. Hubungan yang baru seumur jagung tapi dia sudah menyakiti istrinya seperti ini. Apa yang akan dia ucapkan kepada orang tuanya ketika pulang nanti?
Bagaimana dia harus bertanggung jawab kepada almarhumah ibu mertuanya?
Dia tidak mengerti lagi. Hubungan yang dulu sempat terjalin tapi harus kandas karena suatu hal. Dia mengira sudah di selesaikan dengan baik, tapi nyatanya orang dari masa lalu itu datang dan masih memintanya untuk kembali padanya.
Pagi-pagi sekali Hawa berpamitan kepada Bik Im, ia berangkat naik motor Asrina. karena ia yang minta dijemput pagi-pagi. Sengaja memang untuk menghindar sejenak dari Hasby.
Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Pemikirannya masih terlalu labil untuk anak seumurnya. Masih ingin ego nya yang dimenangkan daripada berpikir realistis kehidupan nyata berumah tangga.