Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 Kebohongan Terbongkar, kehangatan warga
Slamet kelihatan kebingungan, wajahnya memerah seperti kerang rebus, badannya mulai mengeluarkan keringat.
"Apa yang harus Aku katakan ya?" Pikir Slamet didalam hati.
Sedangkan Sari dan Jhon saat ini, memandangi dengan mata tajam, seperti kilatan petir yang akan menyambar apa saja yang ada di dekatnya. Mereka memandang dengan serius menantikan Jawaban dari Slamet.
“Bagaimana ini Met? Apa sebenarnya yang Kau janjikan kepada Wati?” Jhon mulai tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Slamet.
“Em mm..., itu...e...,“ Slamet menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sambil tersenyum cengengesan.
"Apa..."
Sari bertanya dengan cepat. Sebelum Slamet sempat memberi jawaban.
"Em.. m..., Ng..Ngak."
Slamet menelan ludahnya, sambil wajahnya memandang ke kanan dan ke kiri. Dia kelihatan sangat bingung sekali.
"Jangan cuma, Em.. em... Mulu kamu... Jelasin sekarang juga kepada Kami bertiga." Sari mencoba mendesak Slamet, supaya mau berbicara jujur kepada mereka.
Wati tetap memandang dengan mata tajam seperti elang hendak memangsa, mangsanya ke arah Slamet. Dia Menantikan jawaban dari Slamet.
Jhon diliputi rasa malu didalam dirinya. Kebahagiaan yang semula ada di dalam pikiran dan hatinya luntur sekejap, berubah menjadi rasa malu.
"Ja.. Jadi be..gi..ni, A..A..ku mengata..kan A..A..ku bi..bisa pertemukan Wa..Wati dan Ka..Kamu Jhon." Jawab Slamet terbata-bata.
" Aa..ku ng...gak pernah bii..bilang ma..u memper...temukan Wati de.. dengan Jo." Sambung Slamet masih dengan suara terbata-bata.
"Bohong. Jangan bohong kamu Slamet. Aku bilang mau bertemu dengan Jo bukan yang lelaki lainnya!" Wati menjawab dengan tegas.
"Ha.. Benarkan John. Ini kan John, mana ada John yang lain di kampung ini."
Slamet memotong perkataan Wati dengan cepat, Dia ingin membelokkan, mengganti Jo dengan John, karena nama itu mirip.
"Tetapi aku bilang padamu, yang aku mau jumpai adalah Jo. Lelaki yang aku jumpai waktu pertemuan Penyuluhan Pertanian Lapangan. Jangan bohong kamu. Aku jelas-jelas mengatakan ingin bertemu dengan Harjo, tetapi kamu malahan mengganti nama Harjo dengan panggilan kecilnya Jo. Aku saja tidak tahu kalau Harjo dipanggil dengan Jo kalau tidak kamu yang memberitahukannya kepada ku."
Wati mempertegas siapa yang akan dirinya temui sebenarnya. Dia mencoba meyakinkan Jhon dan Sari juga. Dia tidak mau dianggap sebagai orang yang berbohong, sebab Slamet-lah yang telah berbohong sebenarnya.
"Oh, begitu. Aku juga kenal Jo atau Harjo. Kami bertiga memang teman akrab di kampung ini." Jhon coba mempercayai penjelasan Wati.
*Iya benar, aku juga kenal dengan Jo. Dia Lelaki yang bekerja sebagai petani yang rajin dan ulet. Aku sering mendengar hasil panen pertaniannya selalu melimpah, dibandingkan petani lain di kampung ini. Dia juga mau mengikuti bimbingan dari Penyuluh Pertanian. Kita tahu sendiri petani di kampung kita ini banyak yang menolak. Dan Aku dengar juga Dia mampu memperluas atau membeli lahan pertaniannya dari petani lainnya dengan uangnya sendiri, tanpa bantuan dari keluarga ataupun kerabat. Sebab Dia sudah yatim piatu dan tidak punya keluarga lain di kampung kita ini."
Sari menjelaskan dengan lengkap dan terperinci, seolah-olah Dia sudah tahu benar bagaimana riwayat hidup dari keluarga Harjo.
"Oh, kamu tahu banyak ya tentang Jo. Kalau tahu begitu dari dahulu aku lebih baik tanya padamu. Aku nggak tahu kamu berteman baik dengan Jo! Karena saat pertemuan waktu itu, kamu tidak ada berbicara dengan Jo. Bahkan kamu kelihatan seolah-olah menjauh atau sibuk dengan kegiatan lainnya."
Wati coba menjelaskan dan mengingat kembali kejadian waktu di kegiatan Penyuluhan Pertanian yang diadakan oleh Dinas Pertanian dari Kota.
"Jadi aku kira Kamu dan Jo tidak saling kenal juga, sama seperti Aku dan Jo." Wati melanjutkan perkataannya.
"Em...,nggak.. nggak.. Kenal dekat, kok.. Jangan salah paham." Sari kelihatan malu-malu, dan grogi.
Dalam hati Sari berkata:
"Sia lan Aku berkata apa sih tadi? Mengapa bisa kebanyakan Aku bicara? Mengapa Aku jadi berbicara seperti tadi ya? Oh.. Tuhan jangan sampai mereka curiga, berpikiran aneh-aneh tentang aku dan perasaanku ke Jo"
Sari merutuki kebodohannya yang sudah berbicara terlalu banyak.
"Ng... ngak..kk.. Yang Aku dengar itu Jhon, yang kamu katakan sama Aku teman akrab aku Jhon, dan Aku lebih dekat dengan Jhon daripada Jo, Dia cuma lelaki yang bekerja sebagai petani, tidak ada waktu Aku bersama-sama dengan Dia."
Slamet membela diri, dengan mengatakan bahwa hubungannya dengan Jo, tidaklah terlalu akrab.
"Iya, tetapi Aku sudah menjelaskan padamu, yang aku mau temui itu Harjo, yang adalah petani, yang mengikuti pertemuan Penyuluhan Pertanian. Aku nggak minta bertemu dengan teman akrab-mu, Kamu akrab atau tidak dengan Jo. Aku tetap hanya mau bertemu dengan Jo, bukan yang lain. Keakrabanmu bukan menjadi patokan untuk Ku mau bertemu dengan siapa."
Wati sudah kelihatan marah dan segera mengambil tasnya pergi begitu saja dari rumah makan itu. Meninggalkan mereka bertiga.
"Tuh kamu kurang ajar sekali, telah menipu Aku, kakakku Jhon dan Wati." Sari pun ikut pergi dan mengejar Wati.
Jhon yang melihat Sari pergi, harus mengejarnya. Matanya kelihatan tajam sekali memandang Slamet, Dia segera berlari cepat mengejar kepergian Sari.***
Di tempat lain, warung Widuri
Harjo lagi asik ngobrol panjang lebar dengan pengunjung warung Widuri. Dia yang hanya menghabiskan hari Sabtunya di warung Widuri, hal ini dikarenakan Harjo sering bersin-bersin. Merasa kurang nyaman untuk ke kebun, maka Harjo memanfaatkan waktu untuk bercengkrama dengan warga kampungnya. Dia juga berbagi cerita tentang pengalamannya pada saat berkebun.
"Bang bagi ilmu dong, Aku dengar hasil panen Abang selalu banyak. Bagaimana sih caranya, agar hasil panen Ku banyak juga bang." Moko mulai bertanya dengan serius kepada Harjo.
"Sebenarnya kan sudah diajarkan waktu itu, pada saat Penyuluh Pertanian datang ke Kampung kita ini. Mereka memberi penjelasan yang kalau Kita terapkan pasti akan membuat hasil panen Kita jauh lebih meningkat. Banyak teknik penanaman yang mereka ajarkan, dan tentunya Kita bisa saling bertanya dan jawab di sana. Mereka pasti segera menjawab pertanyaan kita, sehingga permasalahan dari pertanian Kita dapat Kita ketahui dengan cepat dan mudah."
Harjo mencoba menjelaskan panjang lebar, Dia berniat mengingatkan warga supaya ikut serta nantinya dalam kegiatan Penyuluhan Pertanian. Harjo berniat mendorong mereka menjadi petani yang lebih maju. Tentunya dengan mengikuti kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh PPL.
Moko mulai menundukkan kepalanya sedikit, dia merasa malu dan juga menyesal karena tidak mengikuti kegiatan Penyuluhan Pertanian pada waktu itu.
"Iya bang aku menyesal sekali, telah turut mengikuti perkataan petani lain yang tidak mau mengikuti kegiatan itu." Jawab Moko memelas.
"Tetapi apakah Aku boleh ikut di kegiatan berikutnya?" Tanya moko lagi, memastikan apakah dirinya boleh ikut serta dalam kegiatan penyuluhan pertanian di lain waktu.
"Tentu, tentu saja boleh. Bahkan mereka akan sangat senang sekali, kalau semakin banyak petani yang mau ikutan."
Harjo mencoba menenangkan Moko dan Dia memberi tahu bahwa orang seperti Moko dapat ikut serta kegitan tanpa rasa takut dalam kegiatan Penyuluhan Pertanian yang dilakukan di Kampungnya tanpa perlu merasa takut atau malu sama sekali.
Tujuan Penyuluhan Pertanian adalah untuk membantu dan mengajarkan para petani cara mengembangkan dan memperbaiki cara bertani yang selama ini masih belum tepat dari para petani. Baik itu mulai dari awal sebelum proses penanaman dilakukan, perawat meliputi penyitaan, pengairan penggunaan pupuk, pestisida dll. Serta masa panen. Bagaimana cara menyimpan hasil panen, proses sebelum penjualan hasil panen agar memperoleh harga yang lebih baik. Dan juga pemanfaatan sisa tanaman, untuk pemupukan, pakan ternak dan sebagainya.
"Baguslah kalau begitu bang lain kali Aku pasti akan ikut serta. Tetapi Aku perlunya saat ini, panen ku kemarin baru saja gagal." Moko menjawab dengan wajah memelas.
"Bisakah Abang membantu Saya memberi masukan. Tanaman apa yang cocok untuk Saya tanam saat ini? Apa yang harus Saya lakukan untuk merawatnya, agar hasil panen Saya nantinya berhasil setidaknya meningkat?" Moko melanjutkan pertanyaannya, dan berharap Harjo mau membantunya.
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru