"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Kanker
Anthony Halim pulih lebih cepat daripada perkiraan banyak orang.
Tiga hari setelah operasi trauma, tekanan darahnya stabil tanpa dukungan besar. Drain perut berkurang. Napasnya lebih tenang. Fraktur yang distabilkan tidak menunjukkan komplikasi awal. Cedera kepala tidak memburuk.
Untuk pasien yang datang dalam keadaan hampir mati, itu hasil yang terlalu baik.
Robert menyebutnya keajaiban.
Anthony tidak.
Ia tahu keajaiban sering kali hanyalah nama yang diberikan orang awam kepada kerja keras yang tidak mereka lihat.
Pagi itu, Rangga masuk bersama dr. Alya untuk pemeriksaan harian.
"Kalau semua hasil tetap stabil, dua atau tiga hari lagi Bapak bisa pindah dari pemantauan ketat ke perawatan biasa," kata Alya sambil mengecek catatan.
Anthony mengangguk.
"Lalu setelah itu?"
"Rehabilitasi bertahap," jawab Rangga. "Fraktur butuh waktu. Fungsi paru harus dilatih. Perut tidak boleh dipaksa."
Anthony menatapnya.
"Anda belum mengatakan saya boleh pulang."
"Karena belum."
"Dokter lain sudah terdengar lebih optimistis."
"Saya dokter yang paling cerewet di tim ini."
Alya hampir tersenyum.
Anthony justru tampak puas.
"Cerewet yang menyelamatkan nyawa masih bisa saya terima."
Rangga menutup map, tetapi tidak langsung pergi.
"Sebelum rencana pulang, saya ingin pemeriksaan menyeluruh satu kali lagi. CT follow-up abdomen, marker inflamasi, fungsi hati, darah lengkap, dan evaluasi saluran cerna."
Robert yang berdiri di dekat sofa langsung mengangkat alis.
"Dokter Rangga, bukankah operasi sudah berhasil? Terlalu banyak pemeriksaan bisa membuat pasien lelah."
Rangga menoleh.
"Yang membuat pasien lelah adalah penyakit yang terlewat."
Anthony mengangkat tangan pelan, menghentikan Robert.
"Lakukan."
Robert menutup mulut, tetapi matanya tidak senang.
CT dilakukan siang itu.
Awalnya pemeriksaan hanya untuk memastikan tidak ada perdarahan ulang dan kondisi organ pascatrauma. Namun ketika hasil rekonstruksi abdomen muncul di layar, dr. Alya yang pertama kali berhenti bicara.
"Rangga..."
Ia menunjuk satu area di dinding lambung bagian distal.
Penebalan tidak rata.
Tidak terlihat seperti edema biasa pascatrauma.
Di dekatnya, ada beberapa kelenjar yang lebih besar dari seharusnya. Pada batas hati, sebuah area kecil tampak mencurigakan, terlalu rapi untuk memar, terlalu tidak wajar untuk diabaikan.
Pak Bambang yang dipanggil masuk membaca layar dengan wajah makin berat.
"Ini bukan akibat kecelakaan."
"Bukan," kata Rangga.
Ruangan radiologi mendadak terasa dingin.
Alya menelan ludah.
"Kemungkinan keganasan gastrointestinal."
Rangga diam, matanya mengikuti potongan gambar demi potongan gambar.
Pada saat itu, sistem muncul di benaknya.
[Terdeteksi lesi ganas gastrointestinal dengan dugaan penyebaran awal.]
[Pilih mode check-in:]
[A. Check-in Normal — bantuan real-time, level teknik: Kelas Internasional.]
[B. Check-in Mandiri — tanpa bantuan real-time, terhitung progres Jalur Kemandirian.]
Rangga menatap layar CT.
Anthony stabil dan tidak berada dalam ancaman kematian lima menit berikutnya. Mereka punya waktu untuk biopsi, diskusi, staging, dan perencanaan operasi. Kasus seperti ini harus dinilai Rangga secara mandiri.
Ia telah melewati kanker rektum, mempelajari onkologi darurat, dan berkali-kali melihat sistem membuka peta tindakan.
Sekarang ia harus mencoba menggambar peta sendiri.
Dalam hati, ia memilih.
Check-in Mandiri.
[Check-in Mandiri aktif.]
[Tidak ada bantuan real-time.]
[Tindakan diagnostik dan perencanaan mandiri akan dinilai.]
Dunia tidak berubah.
Tidak ada banjir pengetahuan.
Tidak ada garis merah ajaib di atas layar.
Hanya CT, pengalaman, anatomi, dan tanggung jawab.
Rangga menarik kursi.
"Kita ulang baca dari awal."
Selama hampir satu jam, ia menelaah gambar bersama Alya dan Pak Bambang. Ia tidak terburu-buru menyebut stadium. Tidak menjual kepastian palsu. Ia mencatat kemungkinan primer lambung, keterlibatan kelenjar, batas hati yang perlu eksplorasi, dan pemeriksaan lanjutan yang harus dilakukan.
Biopsi endoskopik dipercepat.
Hasil patologi cepat malam itu cukup untuk mengunci arah.
Adenokarsinoma lambung.
Belum menjadi vonis akhir, tetapi sudah cukup untuk memulai percakapan paling berat.
Anthony menerima berita itu di kamar rawat dengan wajah yang lebih tenang daripada kebanyakan orang.
Namun tangan kanannya tetap berhenti di atas selimut.
"Kanker," katanya pelan.
"Iya, Pak."
"Sejak kapan?"
"Tidak bisa dipastikan dari satu hasil. Tapi bukan akibat kecelakaan. Kecelakaan hanya membuat kita memeriksa cukup dalam untuk menemukannya."
Anthony memandang jendela.
Di luar, Kota Cakrawala berjalan seperti biasa. Orang makan, bekerja, marah, tertawa, menyeberang jalan, tidak tahu ada seseorang baru saja mendapat tanggal baru untuk hidupnya.
"Jadi kecelakaan itu..." Anthony berhenti. "Justru menyelamatkan nyawa saya?"
Rangga tidak menjawab dengan kalimat indah.
"Memberi kita waktu lebih awal."
Anthony tertawa kecil, kering.
"Cara Tuhan memberi peringatan kadang brutal."
Robert berdiri di sisi lain ranjang dengan wajah pucat.
"Om, kita bisa bawa ke luar negeri. Singapura, Jepang, Amerika. Saya atur malam ini."
Anthony tidak langsung menjawab.
Ia menatap Rangga.
"Kalau saya tetap di sini?"
Robert terkejut.
"Om..."
Rangga membuka map rencana.
"Saya sarankan stabilisasi pascatrauma dulu beberapa hari. Setelah kondisi paru, darah, dan fungsi hati cukup aman, operasi dilakukan di sini. Rencana awal: reseksi lambung sesuai batas tumor, evaluasi kelenjar, eksplorasi hati, dan jika lesi hati terbatas, reseksi tepi atau ablasi sesuai temuan. Risiko tinggi karena Bapak baru mengalami trauma besar."
"Peluang?"
"Lebih baik daripada jika ditemukan tiga bulan lagi."
Anthony menatapnya lama.
"Anda tidak memberi angka?"
"Angka tanpa konteks hanya menipu. Saya akan beri Bapak rencana yang bisa dijalankan dan risiko yang harus ditandatangani."
Anthony menutup mata.
Ketika membukanya lagi, keputusannya sudah ada.
"Anda yang operasi."
Robert melangkah maju.
"Om, ini terlalu cepat. Kita belum second opinion."
"Saya tidak melarang second opinion." Anthony menatap Robert. "Tapi orang yang menemukan masalah ini saat semua orang sibuk merayakan saya selamat dari kecelakaan adalah orang yang paling saya percaya untuk menjelaskan jalan keluarnya."
Robert tidak bisa membalas.
Rangga menutup map.
"Kita tetap lakukan sesuai prosedur. Konsil, staging lengkap, persetujuan operasi, dan kesiapan ICU. Tidak ada jalan pintas."
Anthony mengangguk.
"Saya percaya Anda, Dokter."
Saat Rangga keluar dari kamar, sistem akhirnya berbunyi lagi.
[Evaluasi Check-in Mandiri selesai.]
[Diagnosis mandiri: tepat.]
[Rencana operasi: memenuhi kriteria.]
[Jalur Kemandirian tahap 2 — SELESAI.]
[Progres Jalur Kemandirian: 2/5.]
[Hadiah tahap: Teknik Bedah Onkologi Gastrointestinal Kelas Internasional.]
Rangga berhenti di lorong.
Untuk pertama kalinya sejak Jalan Kemandirian terbuka, ia benar-benar merasakan beban mengambil keputusan sampai tuntas sebelum sistem memberi bantuan.
Robert masuk ke mobil di parkiran rumah sakit dengan napas pendek. Kecemasan yang ia tunjukkan di depan Anthony segera lenyap setelah pintu tertutup.
Kalau Anthony sembuh dan mulai percaya pada Rangga, posisi Robert akan berbahaya.
Kalau Anthony mati, perusahaan bisa berubah arah.
Dan untuk pertama kalinya, pikiran itu tidak langsung ia usir.
Ia melihat seorang pria berdiri di dekat mobil lain. Orang itu bukan dokter RSUD Harapan Bangsa. Ia datang membawa pesan dari Pak Gunawan.
Robert berjalan mendekat.
"Operasi akan dilakukan di sini," katanya.
Pria itu tidak tampak terkejut.
"Pak Gunawan sudah menduga."
Robert menatap gedung rumah sakit.
"Selama operasi... apakah ada cara membuat situasinya sedikit lebih rumit?"
Pria itu diam beberapa detik.
"Ada."
"Apa?"
"Harus dari dalam."