NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Menyesuaikan Diri

Keesokan paginya, Senja turun dengan mata sedikit bengkak.

Dia sudah menutupinya dengan bedak tipis, tetapi kaca lift pribadi di dekat tangga terlalu jujur. Pantulan wajahnya menunjukkan apa yang dia coba sembunyikan semalam: tidur yang pendek, tangis yang tertahan, dan sisa sakit hati yang belum sempat diberi nama.

Di ruang makan, kursi Rayhan kosong.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, kekosongan itu membuat Senja lega.

Pak Hadi menyambutnya seperti biasa. "Selamat pagi, Nyonya."

"Pagi, Pak."

"Tuan muda berangkat lebih awal. Ada rapat luar kota, tapi akan kembali malam nanti."

Senja mengangguk. "Baik."

Pak Hadi memandangnya sebentar. Tidak bertanya tentang mata bengkak itu. Tidak menyinggung pertengkaran semalam. Hanya memberi isyarat kepada pelayan agar menuangkan teh hangat.

Di piring Senja, bubur ayam tanpa kacang sudah disiapkan. Di sampingnya ada telur rebus dan potongan pepaya. Semua aman. Semua dicek. Semua teratur.

Dia seharusnya merasa diperhatikan.

Tetapi setelah semalam, keteraturan itu terasa seperti pagar yang dicat ulang.

"Nyonya ada jadwal sanggar siang ini?" tanya Pak Hadi.

"Iya. Latihan mulai jam satu."

"Mobil siap jam dua belas tiga puluh."

Senja hampir mengoreksi bahwa perjalanan hanya butuh dua puluh menit, lalu menahan diri. Dia tidak ingin memulai pagi dengan perdebatan.

"Baik."

Setelah sarapan, Senja berjalan ke taman dalam untuk mencari udara. Di dekat pintu belakang, dia melihat salah satu pelayan muda, Rina, berdiri sambil memegang ponsel. Wajah perempuan itu pucat, matanya merah. Ketika menyadari Senja mendekat, Rina buru-buru menunduk.

"Maaf, Nyonya."

"Kamu tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa, Nyonya."

Jawaban itu terlalu cepat. Senja mengenali nada seseorang yang takut menyusahkan orang lain karena dia sendiri sering memakai nada itu.

"Rina, kan?" tanya Senja.

Pelayan itu tampak terkejut karena namanya diingat. "Iya, Nyonya."

"Kalau ada yang bisa kubantu, bilang saja."

Rina menggigit bibir. "Anak saya demam dari kemarin malam. Suami saya kerja shift. Saya sudah minta izin ke kepala dapur untuk pulang setelah makan siang, tapi..."

Dia berhenti, takut bicara terlalu banyak.

Senja merasakan sesuatu di dadanya melunak. "Umurnya berapa?"

"Empat tahun, Nyonya."

"Sudah dibawa ke dokter?"

Rina menggeleng kecil. "Saya tunggu gajian dulu."

Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Senja teringat masa kecil di rumah Liem, saat dia demam dan takut meminta terlalu banyak karena merasa semua yang diberikan kepadanya adalah utang.

Senja mengambil ponselnya. "Kirim alamat klinik terdekat. Aku transfer biayanya sekarang."

Rina langsung panik. "Jangan, Nyonya. Saya tidak berani."

"Ini bukan pinjaman."

"Tapi..."

"Rina." Suara Senja lembut, tapi kali ini tidak ragu. "Anak demam tidak boleh menunggu gengsi orang dewasa."

Mata Rina berkaca-kaca.

Pak Hadi muncul di ujung koridor, mungkin hendak mencari Senja. Dia berhenti ketika melihat adegan itu, tetapi tidak memotong.

Senja mentransfer uang ke rekening Rina, lalu menambahkan sedikit lebih banyak untuk transportasi dan obat. Setelah itu, dia menulis nomor telepon klinik anak yang pernah direkomendasikan Lara.

"Kalau kepala dapur bertanya, bilang kamu sudah izin padaku."

"Nyonya..." Rina menutup mulutnya, air mata jatuh. "Terima kasih. Saya benar-benar..."

"Pulang sekarang," kata Senja. "Nanti kalau anakmu sudah diperiksa, kabari Pak Hadi."

Pak Hadi mendekat. "Saya akan atur pengganti tugas Rina."

Rina menunduk berkali-kali sebelum pergi.

Senja baru menyadari Pak Hadi memperhatikannya setelah punggung Rina hilang di koridor.

"Maaf, Pak. Aku mengambil keputusan tanpa bertanya dulu."

Pak Hadi tersenyum tipis. "Untuk hal seperti ini, saya rasa Tuan muda tidak akan keberatan."

Senja tidak yakin.

Rayhan mungkin akan berkata dia membuat sistem rumah kacau, atau semua bantuan harus melalui prosedur, atau staf tidak boleh menerima uang langsung dari Nyonya. Setelah semalam, Senja bisa membayangkan semua kemungkinan teguran itu dengan terlalu jelas.

"Kalau salah, nanti aku jelaskan," katanya.

Pak Hadi tidak menjawab. Tetapi senyumnya sedikit berubah, seperti seseorang yang tahu sesuatu yang belum Senja tahu.

Siang itu, latihan di sanggar berjalan lebih tenang. Lara tetap menjaga jarak, tetapi tidak lagi menghindari seluruh kontak. Saat bagian duet, tangan mereka masih belum sepenuhnya menyatu, namun Lara tidak menarik diri secepat kemarin.

Itu sudah cukup untuk membuat Senja bernapas sedikit lebih baik.

Ko Jefri memperhatikan mereka dari depan cermin. "Hubungan penari terlihat dari jarak antar tangan," katanya setelah musik berhenti. "Kalau jaraknya masih terlalu takut, penonton akan tahu."

Lara mendengus kecil. "Ko Jefri suka sekali menyindir pakai teori tari."

"Kalau tersindir, berarti teorinya tepat."

Senja hampir tersenyum.

Saat istirahat, dia membeli dua botol teh tawar dari vending machine dan menyodorkan satu kepada Lara.

Lara menerimanya, meski tidak langsung bicara.

"Aku belum bisa cerita semuanya," kata Senja pelan. "Tapi aku akan mulai cerita lebih banyak."

Lara memutar botol di tangannya. "Mulai dari apa?"

"Semalam aku bertengkar dengan Rayhan."

Lara langsung menoleh. "Dia menyakitimu?"

Pertanyaan itu datang cepat, tajam, penuh perlindungan.

Senja menggeleng. "Tidak seperti itu. Dia... keras. Aku juga sedang kacau."

"Kamu nangis?"

Senja diam.

Lara menghela napas. "Bodoh."

"Aku?"

"Dia."

Kali ini Senja benar-benar tersenyum sedikit.

Retakan di antara mereka belum hilang, tapi setidaknya tidak melebar.

Malamnya, Rayhan pulang lebih lambat dari yang dikatakan Pak Hadi. Senja sudah makan malam dan naik ke kamar, memilih membaca jadwal latihan di sisi kiri ranjang. Bantal panjang masih berada di tengah, tetapi kali ini dia tidak menatapnya terlalu lama.

Di lantai bawah, Pak Hadi menyerahkan laporan rumah harian kepada Rayhan. Biasanya laporan itu berisi hal-hal singkat: jadwal tamu, pengiriman bahan makanan, kebutuhan staf, keamanan.

Malam itu ada satu catatan tambahan.

Rina, staf dapur, pulang lebih awal karena anak demam. Biaya klinik dibantu Nyonya.

Rayhan membaca baris itu dua kali.

"Dia yang menawarkan?" tanyanya.

"Iya, Tuan muda."

"Berapa?"

Pak Hadi menyebut jumlahnya.

Rayhan menutup map laporan. "Ganti dari rekening rumah. Jangan potong uang pribadinya."

"Anaknya sudah diperiksa?"

"Sudah. Demam karena infeksi tenggorokan ringan. Dokter memberi obat dan meminta kontrol jika panas tidak turun besok."

Rayhan mengangguk singkat. "Besok pagi kirim sup dan buah ke rumahnya. Kalau Rina perlu izin lagi, atur shift pengganti. Jangan sampai Nyonya mendengar staf menunda membawa anak ke dokter karena masalah biaya."

"Baik, Tuan muda."

Rayhan berdiri di foyer beberapa detik sebelum naik. Di tangannya masih ada map laporan yang sudah tertutup.

Di depan pintu kamar, dia berhenti.

Lampu dari celah bawah pintu masih menyala.

Dia mengangkat tangan, lalu menurunkannya lagi.

Kali ini bukan karena mendengar tangis.

Melainkan karena dia tidak tahu bagaimana cara mengetuk setelah membuat seseorang menangis malam sebelumnya.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!