Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15 - Undian Pertama
"Sayang ada di bawah, kan?"
Suara Jayden membuat Sis langsung menutup mulut imajiner.
Felicia melipat kertas aturan Undian, memasukkannya ke saku blazer, lalu membuka pintu kamar.
Ruang tengah lantai bawah Paviliun F4 biasanya sepi. Malam itu, ruangan itu seperti baru saja menjadi arena tanpa garis batas.
Jayden berdiri paling dekat dengan lorong, masih memakai jaket hitam dan ekspresi tidak sabar. Calvin duduk di lengan sofa, sketchbook di pangkuannya, senyum manisnya terlalu siap untuk disebut santai. Sebastian berdiri dekat rak buku dengan sarung tangan tipis, jaraknya dihitung rapi dari semua permukaan. Nathan berada di dekat jendela, kemejanya bersih, pin Ketua OSIS sudah lurus kembali, tetapi telinganya sedikit memerah saat melihat Felicia.
Empat bintang target.
Satu ruangan.
Udara langsung menjadi mahal.
"Nah, dia keluar." Jayden menunjuk Felicia dengan dagu. "Besok rematch."
"Aku juga punya janji dengan Ci," kata Calvin lembut.
Sebastian mengangkat satu jari. "Aku mengajukan permintaan eksperimen lebih dulu melalui pesan."
Nathan tidak langsung bicara. Ia hanya melihat Felicia, lalu tiga pria lain, lalu kembali pada Felicia. "Sepertinya semua orang punya urusan denganmu."
"Benar," jawab Felicia.
Jayden menoleh cepat. "Tunggu. Semua orang?"
Calvin tersenyum. "Jay, kamu baru sadar?"
"Diam, Cal."
"Secara kronologis," kata Sebastian datar, "permintaan tertulisku paling jelas."
Jayden menatapnya. "Lo mau saingan pakai format proposal?"
"Kalau format itu meningkatkan peluang, ya."
Sis berbisik, "Tuan Rumah, ini belum mulai tapi sudah kacau."
"Justru karena itu perlu aturan."
Felicia berjalan ke meja rendah di tengah ruangan. Keempat pasang mata mengikuti geraknya. Ia mengeluarkan kertas dari saku, membuka lipatannya, lalu meletakkannya di meja.
Undian.
Jayden membaca kata itu keras-keras. "Undian?"
Calvin tertawa pelan. "Ci, ini lucu."
"Belum tentu lucu untuk kalian," kata Felicia.
Nathan mengambil kertas itu, membaca cepat, lalu wajahnya berubah. Bukan marah. Lebih seperti seseorang menemukan kontrak yang terlalu rapi untuk disebut lelucon.
"Hak akhir tetap di Felicia," bacanya.
"Tentu," kata Felicia.
Sebastian mendekat satu langkah, cukup untuk membaca tanpa menyentuh meja. "Tidak boleh saling sabotase di luar permainan. Yang melanggar kehilangan giliran berikutnya. Efisien."
Jayden mengerutkan kening. "Giliran apaan?"
"Waktu pribadi," jawab Felicia.
Ruangan hening.
Sis mengeluarkan suara seperti sistem yang baru saja menabrak dinding.
Calvin menutup sketchbook pelan. "Ci, definisi waktu pribadi?"
"Belajar, bicara, balapan, menggambar, eksperimen, menemani makan malam, apa pun yang kusetujui."
Jayden menyeringai. "Apa pun?"
Felicia menatapnya.
Senyum Jayden langsung menjadi lebih jinak, meski matanya tetap menyala.
"Baca aturan terakhir," kata Felicia.
Nathan, yang masih memegang kertas, membaca dengan suara lebih pelan. "Tidak ada yang boleh menyentuh tanpa izin."
Kali ini, tidak ada yang bercanda.
Jayden melihat pergelangan Felicia, mungkin mengingat genggamannya setelah balapan. Calvin melihat tangan Felicia, mungkin mengingat salep dan sketchbook. Sebastian menatap kalimat itu seperti melihat variabel penting dalam penelitian. Nathan menurunkan kertas sedikit, wajahnya tenang tetapi napasnya berubah.
"Aturan itu untuk semua orang," kata Felicia. "Termasuk aku. Kalau aku menyentuh, kalian boleh mundur."
Nathan menatapnya.
Sebastian berkedip pelan.
Calvin tersenyum, kali ini tidak terlalu manis. "Kalau tidak mau mundur?"
"Berarti terima konsekuensinya."
Jayden bersiul rendah. "Ini benar-benar permainan."
"Aku sudah bilang." Felicia mengeluarkan empat potongan kertas kecil yang sudah ia siapkan. Di masing-masing kertas tertulis satu nama. "Kalau permintaan kalian bentrok, undian menentukan urutan. Aku tetap bisa mengganti hasil kalau ada alasan."
"Tidak demokratis," kata Sebastian.
"Adil tidak harus demokratis."
Calvin tertawa. "Aku suka versi Ci yang ini."
"Kamu suka semua versi," balas Jayden.
"Benar."
Jayden tersedak oleh jawabannya sendiri. "Lo ngaku gitu aja?"
Nathan meletakkan kertas aturan di meja. "Kalau aturan ini untuk mencegah konflik, aku setuju."
"Kamu setuju karena saat ini unggul tiga persen," kata Sis di kepala Felicia.
Felicia hampir tersenyum.
Sebastian menatap empat kertas nama. "Bagaimana memastikan undian tidak dimanipulasi?"
Felicia mengambil gelas kosong dari meja, memasukkan empat kertas itu, lalu mengguncangnya di depan mereka. "Kamu boleh memeriksa sebelum dan sesudah."
"Aku percaya gelas," kata Sebastian. "Aku belum tentu percaya manusia."
"Pintar."
Ia menuangkan kertas-kertas itu ke telapak tangan, menggulung lagi, lalu memasukkannya kembali. Keempat pria itu diam. Bahkan Jayden berhenti bergerak.
"Sebelum undian," kata Felicia, "katakan permintaan kalian."
Jayden langsung mengangkat tangan. "Rematch. Sekarang juga kalau bisa."
"Malam. Lintasan. Tubuhku belum pulih dari turnamen."
"Besok sore," koreksi Jayden cepat. "Gue bisa tunggu. Sedikit."
Calvin mengetuk sketchbook dengan ujung jari. "Aku ingin menggambar Ci lagi. Kali ini dari dekat, dengan Ci sadar aku melihat."
Jayden menatapnya seperti baru mendengar kalimat paling tidak tahu malu malam itu. "Lo ngomong begitu di depan kita semua?"
Calvin tersenyum. "Supaya tidak disebut diam-diam."
Sebastian mengabaikan mereka. "Aku membutuhkan sepuluh menit untuk uji kontak terkontrol. Telapak tangan saja. Aku akan membawa timer, sanitizer, dan catatan reaksi fisik."
"Romantis banget," gumam Jayden.
"Itu bukan tujuan eksperimen."
"Justru itu masalahnya."
Nathan baru bicara setelah yang lain selesai. "Aku tidak akan meminta malam ini."
Felicia menatapnya.
Nathan menahan tatapan itu, meski jelas butuh usaha. "Kamu sudah memberi waktumu sore tadi. Aku bisa menunggu giliran."
Kalimatnya membuat ruangan berubah.
Jayden mendecih, tetapi tidak mengejek.
Calvin memiringkan kepala, senyumnya lebih tipis.
Sebastian mencatat sesuatu di ponsel, mungkin variabel baru bernama kesabaran kompetitor.
Felicia menyukai jawaban Nathan. Bukan karena ia mundur, tetapi karena ia memilih mundur dengan sadar.
"Baik," katanya. "Tiga permintaan aktif malam ini. Nathan tetap masuk undian karena aturan dimulai untuk semua orang, bukan hanya yang paling berisik."
Nathan membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Jayden tertawa. "Ketua, lo nggak bisa kabur juga."
Untuk pertama kalinya malam itu, Nathan terlihat hampir pasrah.
Untuk pertama kalinya, Felicia melihat bentuk awal dari sesuatu yang lebih berguna daripada ketertarikan.
Kepatuhan.
Bukan kepatuhan karena mereka lemah.
Kepatuhan karena mereka ingin tetap berada di meja permainan.
"Undian pertama," kata Felicia.
Sis membuka empat bintang di samping meja, seolah sistem pun ikut duduk dalam rapat aneh itu. Nathan masih 3%. Tiga lainnya tetap kosong sepenuhnya, tetapi tidak lagi terasa diam.
Ia memasukkan tangan ke gelas.
Empat pria di depannya menahan napas dengan cara berbeda. Nathan tampak tenang hanya dari luar. Calvin tersenyum dengan mata terlalu gelap. Jayden menggigit bagian dalam pipi, jelas menahan komentar. Sebastian menatap gelas seperti sedang menunggu hasil eksperimen yang bisa mengubah teori hidupnya.
Felicia membuka kertas pertama.
Nama yang tertulis di sana: Sebastian Widjaja.