NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029

Wanyu memberi mereka sepuluh menit.

"Kalian tidak boleh bertanya lagi setelah waktu persiapan dimulai," katanya sambil meletakkan timer kecil di tengah meja. "Gunakan catatan yang sudah ada. Kalau konsep seseorang memang jelas, pasangannya pasti bisa menjelaskan."

Kalimat terakhir itu diarahkan ke seluruh meja.

Matanya berhenti sebentar pada Meiran.

Meiran tersenyum tipis. Ia suka ketika lawan berpikir jebakannya rapi.

Hafeng menarik kertas kalkir berisi konsep Meiran ke depannya. "Jangan tersenyum seperti itu."

"Kenapa?"

"Biasanya berarti kamu akan membuat orang menyesal."

"Kamu mulai mengenalku."

"Itu bukan pujian untukku."

"Tergantung hasil presentasimu."

Hafeng menatap sketsa itu tanpa menjawab. Ia membaca catatan Meiran dengan cepat, tetapi tidak asal lewat. Jarinyanya berhenti di beberapa titik: jalur masuk, modul duduk semi-terlindung, panel akustik rendah, catatan kecil tentang pengguna yang tidak punya waktu penuh.

Meiran juga membuka sketsa Hafeng.

Konsepnya bersih seperti tadi, tetapi setelah kritik mereka, ada sesuatu yang berubah. Sudut berdiri yang ia sarankan sudah masuk. Meja lipat kecil juga muncul dalam garis tipis. Hafeng tidak menulis namanya di sana, tetapi Meiran tahu mana perubahan darinya.

Ia merasa aneh melihat jejak pikirannya menempel di gambar Hafeng.

Bukan mengganggu.

Justru terlalu mudah diterima.

Timer berbunyi.

Wanyu menepuk tangan pelan. "Kita mulai. Ko Hafeng, silakan presentasikan konsep Meiran."

Hafeng berdiri.

Dua peserta lain langsung memperhatikan. Wanyu berdiri di samping papan pin, wajahnya tenang, pena siap mencatat. Meiran duduk dengan tangan terlipat, tidak membantu sedikit pun.

Hafeng menempelkan sketsa Meiran ke papan.

"Konsep ini bukan ruang tunggu," katanya. "Ini ruang untuk orang yang waktunya dipotong-potong oleh kebutuhan orang lain."

Meiran mengangkat mata.

Kalimat itu bukan salinan dari catatannya.

Itu pemahaman.

Hafeng melanjutkan, "Masalah utamanya bukan kurang kursi. Masalahnya, pengguna tidak merasa berhak berhenti. Karena itu modul duduk dibuat tidak terlalu formal. Panelnya rendah, cukup untuk memberi rasa aman di bahu, tapi tidak menutup pengguna dari lingkungan."

Ia menunjuk garis sirkulasi. "Jalur masuk sengaja tidak lurus ke area duduk. Ada belokan kecil agar orang tidak merasa dipajang. Material dipilih mudah dirawat karena pengguna yang dituju bukan orang yang akan menjaga ruang seperti galeri."

Ruang studio diam.

Wanyu mencatat sesuatu, tetapi pena itu bergerak lebih lambat.

Hafeng berhenti di sample material. "Kesalahan awal konsep ini ada pada posisi modul yang terlalu terbuka. Setelah digeser, argumennya lebih kuat. Desain ini tidak mencoba membuat ruang cantik. Ia mencoba membuat orang tidak merasa bersalah saat berhenti."

Meiran menatap punggung Hafeng.

Ada sesuatu di balik tulang rusuknya yang bergerak pelan, tidak tajam, tetapi dalam.

Ia sudah biasa orang memuji gambarnya. Ia sudah biasa orang takut pada namanya.

Tetapi didengar seperti itu, sampai bagian yang bahkan belum ia jelaskan panjang, terasa jauh lebih berbahaya.

Wanyu mengangkat wajah. "Ko Hafeng, kamu terdengar sangat memahami konsep Meiran."

"Itu tugas latihan."

"Atau karena kamu memang memperhatikannya lebih dari peserta lain?"

Udara di studio berubah.

Dua peserta lain menahan napas. Meiran memiringkan kepala, menunggu jawaban.

Hafeng menatap Wanyu, lalu berkata, "Kalau peserta lain ingin konsepnya dipahami, mereka harus menggambar dan menulis sejelas dia."

Satu detik.

Lalu salah satu peserta tertawa kecil, cepat menutup mulut.

Meiran hampir ikut tertawa.

Wanyu tersenyum, tetapi matanya dingin. "Baik. Meiran, giliranmu."

Meiran berdiri dan menukar sketsa di papan.

Gambar Hafeng terlihat berbeda saat dipasang di depan orang lain. Garis-garisnya tidak mencari perhatian. Semuanya terkendali, bersih, dan sedikit kejam pada bagian yang tidak perlu.

"Konsep Hafeng adalah ruang jeda untuk orang yang ingin berhenti tanpa dipaksa menjelaskan dirinya berhenti untuk apa," kata Meiran.

Hafeng menoleh.

Meiran tidak melihatnya. Ia menunjuk area transisi. "Desainnya kuat karena memberi struktur. Pengguna masuk, paham harus bergerak ke mana, lalu bisa memilih tingkat privasi. Kelemahannya, pada versi awal, struktur itu terlalu disiplin. Orang yang lelah tidak selalu punya tenaga untuk mengikuti aturan ruang yang terlalu rapi."

Ia mengambil sticky note yang masih menempel di sketsa. "Revisi kecil di sini menambahkan pilihan. Sudut berdiri, meja lipat, dan jarak pandang yang tidak langsung menghakimi pengguna. Jadi konsep ini bukan hanya menenangkan ruang, tapi juga menurunkan tekanan sosial."

Hafeng diam.

Diamnya berbeda.

Bukan menolak.

Lebih seperti seseorang yang mendengar kalimat yang tidak ia tahu pernah ia butuhkan.

Wanyu masuk dengan suara lembut. "Meiran, kamu terdengar seperti sedang membaca kepribadian Ko Hafeng, bukan hanya desainnya."

Meiran menoleh. "Desain selalu memperlihatkan cara seseorang memandang manusia. Itu bukan gosip, itu analisis."

Hafeng menunduk, tetapi Meiran melihat ujung jarinya menggenggam pensil lebih erat.

"Jadi menurutmu, Ko Hafeng memandang manusia seperti apa?"

Pertanyaan itu terlalu pribadi.

Hafeng membuka mulut, tetapi Meiran menjawab lebih dulu.

"Seperti sesuatu yang harus dilindungi dari keramaian, walaupun dia sendiri tidak mau mengaku sedang melindungi."

Tidak ada yang tertawa.

Studio terasa lebih kecil.

Hafeng menatap Meiran lama. Kali ini, tidak ada alasan teknis di antara mereka.

**【Sistem Predator】Respons target: pengakuan emosional terselubung diterima. Resistensi verbal menurun.**

Nilai Cinta: 23.

Meiran menurunkan tangan dari papan.

Wanyu menutup catatan dengan suara agak keras. "Cukup. Latihan berikutnya akan dilakukan di luar studio. Besok sore, setiap meja wajib observasi lapangan di area transit kampus sampai malam. Panitia akan menilai bagaimana kalian membaca perilaku pengguna secara langsung."

Salah satu peserta mengeluh pelan, "Sampai malam?"

"Area transit paling ramai justru setelah jam kantor," jawab Wanyu. Lalu ia tersenyum ke arah Meiran dan Hafeng. "Meja Kritik B akan saya dampingi langsung."

Hafeng langsung berkata, "Tidak perlu."

"Itu jadwal panitia."

"Kalau area ramai, panitia tambahan lebih baik."

Wanyu menatapnya. "Ko Hafeng khawatir?"

Hafeng tidak menjawab.

Meiran mengambil sketsanya dari papan. "Bagus. Aku juga ingin melihat bagaimana panitia membaca perilaku pengguna, bukan hanya membaca peluang menyerang orang."

Dua peserta lain menunduk, menyembunyikan senyum.

Wanyu menyimpan timer ke tasnya.

Ia lalu membagikan lembar rute observasi. Jalurnya melewati halte kampus, koridor kantin belakang, area parkir motor, lalu plaza kecil dekat pintu samping.

Hafeng membaca rute itu dan langsung mengernyit. "Koridor kantin belakang lampunya sering mati."

"Justru itu bagian dari observasi," jawab Wanyu. "Kita melihat kondisi nyata."

"Kondisi nyata tidak berarti panitia boleh ceroboh."

Meiran mengambil lembar itu dari tangan Hafeng. Di sudut peta, ia memberi tanda kecil pada koridor belakang dan area parkir motor.

"Tenang," katanya. "Kalau ada bagian gelap, kita catat sebagai data. Kalau ada orang yang sengaja memanfaatkan gelap, kita catat sebagai bukti."

Wanyu menatapnya.

Meiran membalas dengan senyum yang sama tenangnya.

Di luar jendela studio, langit mulai mendung.

Meiran melihat pantulan dirinya, Hafeng, dan Wanyu di kaca.

Besok sore, keramaian kampus akan menjadi panggung baru.

Dan kali ini, tidak ada meja panjang yang bisa menjaga jarak mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!