Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 007
Sinyal Cinta
Kali ini, ia tidak melepas.
Sampai motor berhenti di depan gang rumah Oma Lien, Sekar tetap memeluk pinggang Kevin dengan kedua tangan. Ia baru sadar setelah Kevin mematikan mesin dan suasana mendadak terlalu sunyi.
"Sudah sampai," kata Kevin.
Sekar menarik tangannya cepat. "Maaf."
Kevin turun dari motor, membuka kait helmnya sendiri, lalu menunggu Sekar melepas helm. Ketika ia melihat Sekar kesulitan lagi dengan tali yang sama, Kevin hanya mengulurkan tangan tanpa bicara.
Sekar menunduk sedikit.
Jari Kevin bekerja cepat, rapi, tetap tidak menyentuh kulitnya.
"Besok jangan pakai rok pendek ke tempat orang sembarangan," katanya.
Sekar menggigit bibir. "Masih dibahas?"
"Sampai lo ingat."
"Kalau aku ingat, kamu tetap antar aku pulang?"
Kevin berhenti melepas helm.
Sekar menatapnya dengan mata paling polos yang bisa ia buat.
Kevin mendecak pelan, menyerahkan helm itu ke tangannya. "Masuk."
"Jawab dulu."
"Besok jam pulang tunggu di gerbang samping."
Sekar tersenyum sampai matanya ikut melengkung.
Kevin langsung mengalihkan wajah, menyalakan motor. "Jangan senyum begitu."
"Kenapa?"
"Ganggu."
Sebelum Sekar sempat menjawab, Kevin sudah memutar motor dan pergi, meninggalkan suara mesin yang makin jauh dan dada Sekar yang hangat sepanjang malam.
Setelah hari itu, sesuatu berubah di sekolah.
Awalnya hanya jam istirahat. Kevin selalu datang ke kantin dengan Bryan, membeli makanan tanpa bertanya, lalu menaruh piring di depan Sekar. Hari pertama nasi ayam. Hari kedua soto ayam tanpa terlalu banyak sambal. Hari ketiga nasi goreng dengan telur mata sapi yang pinggirnya garing.
Sekar tidak pernah memberi tahu bahwa ia suka telur seperti itu.
Kevin juga tidak pernah mengatakan ia memperhatikan.
Namun setiap kali Sekar menyisihkan acar timun ke tepi piring, besoknya acar itu sudah hilang dari pesanan. Ketika ia minum es teh terlalu cepat dan batuk kecil, Kevin mendorong air mineral ke arahnya. Ketika kantin terlalu penuh, Kevin duduk di sisi luar bangku, membuat tubuhnya menjadi pembatas antara Sekar dan lalu-lalang siswa lain.
Semua itu dilakukan dengan wajah datar.
Seolah seluruh sekolah tidak sedang menyaksikan anak nakal paling susah diatur berubah menjadi penjaga meja makan pribadi seorang siswi teladan.
"Gue merasa jadi figuran," Bryan mengeluh pada hari keempat, sambil menusuk bakso di mangkuknya. "Dulu gue saudara angkat. Sekarang gue properti kantin."
Kevin tidak menoleh. "Lo makan gratis?"
"Nggak."
"Berarti jangan banyak komentar."
Bryan menunjuk Sekar dengan sumpit. "Kak Sekar, lihat. Begini kelakuannya dari dulu."
Sekar hampir tersedak mendengar panggilan itu.
Kevin mengangkat mata. "Kak?"
Bryan tersenyum lebar. "Ya gimana, Bro. Aura calon kakak ipar kuat."
Satu meja mendadak diam.
Yola yang sedang minum es jeruk langsung batuk. Sekar merasakan panas naik ke pipinya.
Kevin menatap Bryan lama.
Bryan pelan-pelan menurunkan sumpit. "Oke. Gue tarik. Ce Sekar?"
"Bryan."
"Dek Sekar?"
Kevin menendang kaki kursinya.
Bryan tertawa sambil menghindar. "Ya sudah, Sekar aja. Galak amat."
Sekar menunduk, pura-pura sibuk mengaduk kuah soto. Tetapi senyum di bibirnya sulit ditahan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah mendengar Bryan menyebutnya "Kak Sekar" di depan makam, dengan suara pecah saat meminta Kevin pulang. Hari ini, panggilan itu muncul sebagai candaan di kantin, di antara suara sendok dan tawa.
Takdir benar-benar bisa berubah.
Perubahan kecil berikutnya datang saat Sekar menoleh terlalu lama ke etalase jajanan.
Di sana ada puding karamel dalam cup kecil, jumlahnya tinggal dua. Sekar sebenarnya hanya melihat sekilas. Waktu kecil, Oma Lien sering membuat puding seperti itu setelah ia selesai latihan tari. Di kehidupan sebelumnya, makanan sederhana itu menjadi sesuatu yang jarang ia sentuh setelah semua urusan keluarga membuat rumah terasa berat.
Sekar tidak berniat membeli. Uang jajannya masih dipegang Kevin, dan ia sudah kenyang.
Namun saat ia kembali menunduk ke piring, sebuah cup puding tiba-tiba diletakkan di samping tangannya.
Sekar mengangkat wajah.
Kevin sedang menutup botol air mineral seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ini apa?"
"Puding."
"Aku tahu ini puding."
"Terus kenapa nanya?"
Bryan menahan tawa sampai bahunya bergetar.
Sekar menyentuh cup kecil itu. "Kamu beli buat aku?"
"Lo lihat itu dari tadi."
"Cuma lihat."
"Sekarang makan."
Nada Kevin tetap datar, tetapi telinganya memerah lagi. Sekar membuka sendok plastik pelan-pelan. Suapan pertama terasa manis dan lembut. Ia tidak sadar tersenyum sampai Yola yang duduk di sebelahnya menginjak ujung sepatunya dengan ringan.
"Jangan senyum terlalu jelas," bisik Yola. "Nanti dia sadar dia menang."
Kevin mendongak. "Gue dengar."
Yola langsung menatap piringnya. "Saya cuma memuji puding kantin."
Bryan tertawa begitu keras sampai beberapa meja menoleh.
Namun perubahan itu juga mengundang mata.
Di meja sebelah, dua siswi berbisik cukup keras.
"Sekar kok sekarang dekat sama Kevin?"
"Mungkin kasihan."
"Atau suka cowok bandel."
Sendok Kevin berhenti menyentuh piring.
Sekar belum sempat bereaksi ketika Kevin menoleh ke meja itu.
Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada ancaman. Ia hanya menatap.
Dua siswi itu langsung menunduk dan berpura-pura mencari sesuatu di tas.
Kevin kembali makan.
Sekar menatapnya. "Kamu nggak perlu begitu."
"Mereka berisik."
"Tapi kalau kamu terus menatap orang seperti itu, gosipnya makin besar."
"Bagus."
"Bagus?"
"Biar mereka tahu jangan ganggu lo."
Sekar memegang sendok lebih erat. Dadanya lagi-lagi terasa penuh oleh hal sederhana yang dilakukan Kevin seolah itu tidak berarti apa-apa.
Yola memperhatikan mereka dari sisi lain meja, matanya semakin lama semakin tajam.
Setelah makan siang, Sekar dan Yola berjalan kembali ke kelas. Kevin dan Bryan tertinggal di kantin karena Bryan masih membeli es tambahan.
Sekar mencoba bersikap biasa. Gagal.
"Jangan senyum sendiri," kata Yola.
"Aku nggak senyum."
"Lo senyum dari tadi. Kalau bibir lo bisa ngelapor, dia sudah bilang capek."
Sekar menutup mulut dengan punggung tangan.
Yola berhenti di dekat jendela koridor. Dari sana, kantin masih terlihat. Kevin berdiri di dekat tiang, satu tangan di saku, Bryan di sampingnya berbicara heboh. Sekar tidak sengaja menoleh.
Saat itu juga, Kevin menatap ke arah mereka.
Bukan menatap Yola.
Menatap Sekar.
Tatapannya hanya berlangsung sebentar. Begitu Sekar sadar, Kevin langsung memalingkan wajah, seolah papan menu kantin mendadak sangat menarik.
Yola menyikut pinggang Sekar.
"Apa?" Sekar terkejut.
Yola menyeringai. "Dia barusan lihat lo senyum."
Sekar menoleh cepat ke kantin. Kevin sudah berjalan pergi, tetapi Bryan di sampingnya tampak tertawa sambil menepuk bahunya.
Yola mendekat ke telinga Sekar dan berbisik, "Dan kayaknya dia suka."
Sekar menunduk, menyentuh cup puding kosong di tangannya. Manisnya masih tertinggal di lidah, tapi yang membuat pipinya panas bukan lagi karamel.