**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 kepulangan devan
Suasana gaduh di koridor Klinik Utama Medika berangsur-angsur mereda setelah pihak kepolisian dan tim forensik internal Dirgantara Group membersihkan area tersebut. Di dalam ruang pemeriksaan VIP yang kedap suara, keheningan yang menenangkan kembali tercipta. Gel dingin di perut Alya baru saja diseka oleh Dr. Kurniawan, meninggalkan rasa sejuk yang nyaman.
Alya sudah merapikan kembali gaun hamil rajut abu-abunya. Ia duduk di sofa kulit ruang tunggu VIP dengan segelas air putih hangat di genggamannya. Di depannya, Yudha berdiri dengan posisi tegap, namun kepalanya tertunduk dalam-dalam. Wajah asisten pribadi itu tampak tegang, dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat.
"Nona Alya, saya benar-benar meminta maaf atas kelalaian sistem keamanan hari ini," ucap Yudha dengan nada suara yang bergetar rendah. "Saya sudah melaporkan kronologi awal kepada Tuan Muda Devan. Beliau... saat ini sedang dalam perjalanan kembali dengan helikopter pribadi."
Alya meletakkan gelasnya perlahan. Ia tersenyum lembut, tidak ingin membuat Yudha semakin tertekan. "Ini bukan salahmu, Yudha. Pengawalanmu sudah sangat ketat. Lagipula, seperti yang dokter katakan, aku dan bayiku sama sekali tidak terluka."
> *[Benar, Paman Yudha. Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Jika bukan karena aku ingin memberi pelajaran langsung pada wanita bergaung merah itu, pengawalmu pasti sudah meringkus mereka di parkiran. Anggap saja ini hiburan pagi yang sedikit menegangkan.]*
Mendengar celotehan Baby El yang kembali santai di dalam kepalanya, Alya harus menahan diri agar tidak tertawa di depan Yudha yang sedang bermuka masam.
Tepat pada saat itu, pintu ganda ruang tunggu VIP didorong terbuka dengan paksa dari luar.
*BRAK!*
Sosok Devan Dirgantara muncul di ambang pintu. Napas pria itu tampak memburu, rambut hitamnya sedikit berantakan diterpa angin baling-baling helikopter, dan kemeja hitam formalnya tampak agak kusut di bagian lengan. Namun, yang paling mengerikan adalah sepasang mata abu-abunya. Mata itu memancarkan kilat amarah yang begitu pekat dan dingin, sanggup membekukan siapa saja yang berani menatapnya.
Yudha dan dua pengawal di dalam ruangan langsung membungkuk sembilan puluh derajat, tidak berani bernapas terlalu keras.
Mengabaikan semua orang, tatapan Devan langsung mengunci sosok Alya yang duduk di sofa. Dalam beberapa langkah lebar, Devan sudah memangkas jarak di antara mereka. Pria itu langsung berlutut di satu lutut di depan sofa, meraih kedua bahu Alya dengan genggaman yang kuat namun gemetar.
"Alya! Kamu terluka? Di mana yang sakit? Katakan padaku!" suara bariton Devan terdengar serak, dipenuhi oleh kepanikan yang sangat mentah—sebuah ekspresi yang belum pernah diperlihatkan oleh sang CEO dingin seumur hidupnya.
Matanya dengan cepat memindai seluruh tubuh Alya, dari wajah, lengan, hingga tangannya yang dihiasi cincin platinum pernikahan mereka. Setelah itu, telapak tangan Devan yang lebar dan hangat perlahan turun, menempel pada perut Alya dengan getaran yang tidak bisa disembunyikan.
"Anak kita... bagaimana keadaannya?" bisik Devan, menatap perut Alya dengan tatapan yang sangat intens.
Alya tertegun melihat kerapuhan Devan yang begitu nyata di depannya. Rasa hangat dan haru seketika membuncah di dalam dadanya. Ia meletakkan kedua tangan mungilnya di atas tangan Devan yang berada di perutnya, meremasnya lembut untuk menyalurkan ketenangan.
"Aku tidak apa-apa, Devan. Sungguh," ujar Alya dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan. "Dokter Kurniawan sudah memeriksa semuanya. Bayi kita sangat kuat, detak jantungnya stabil, dan dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kejadian di luar tadi. Lihatlah, aku bahkan tidak tergores sedikit pun."
Devan menatap mata jernih Alya selama beberapa detik, mencari sisa-sisa ketakutan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah kedamaian dan kepercayaan yang mutlak. Perlahan, ketegangan di bahu kokoh Devan mulai mengendur. Ia menyandarkan keningnya sejenak di atas lutut Alya, mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa lega yang tak terbendung.
> *[Wah, Ayah... kepanikanmu ini benar-benar tulus ya. Aku tersentuh. Baiklah, karena kamu rela meninggalkan rapat investor penting dan terbang menggunakan helikopter demi kami, aku akan menghapus seluruh catatan poin minusmu di masa lalu. Mulai hari ini, statusmu resmi naik menjadi Ayah Siaga Kualitas Super Premium!]*
Bisikan Baby El yang sangat puas itu menggema di kepala Devan, membuat sang CEO diam-diam mengulas senyuman tipis yang sangat samar di balik lutut Alya. Anak nakal itu benar-benar tahu bagaimana cara merusak suasana melankolisnya. Namun, mengetahui janin ajaib itu masih bisa menyindirnya dengan sombong adalah bukti terbaik bahwa mereka berdua memang baik-baik saja.
Devan menegakkan tubuhnya kembali, wajahnya langsung kembali mengeras bagaikan batu es saat ia berbalik menatap Yudha yang masih membungkuk di dekat pintu.
"Bagaimana dengan tikus-tikus itu?" tanya Devan, nadanya kembali dingin dan penuh otoritas mutlak.
"Lapor, Tuan Muda," Yudha menegakkan tubuhnya dengan sigap. "Dua pelaku penyemprotan gas dan satu perawat palsu saat ini sudah diamankan di ruang interogasi bawah tanah markas keamanan Dirgantara. Namun... ada satu kejadian aneh yang baru saja dilaporkan oleh tim lapangan di area parkir bawah tanah."
Devan menyipitkan matanya. "Katakan."
"Tiffany Alexander... ditemukan pingsan di dalam mobil Alphard pribadinya di basement klinik ini beberapa menit setelah kejadian. Kondisinya sangat mengenaskan, Tuan Muda. Beliau mengalami pendarahan dalam yang hebat di area perut bawah, sesak napas akut, dan mengalami syok saraf tingkat parah hingga terus berteriak histeris meminta ampun sebelum kehilangan kesadaran. Saat ini dia dilarikan ke ICU Rumah Sakit Pusat Medika."
Mendengar laporan Yudha, Devan secara refleks melirik ke arah perut Alya. Di sana, di balik gaun abu-abunya, ia tahu ada sosok monster kecil yang baru saja melakukan eksekusi tanpa menyentuh. Devan tidak bodoh; ia mengingat dengan jelas bagaimana Baby El mengancam Tiffany saat insiden di penthouse tempo hari.
"Apakah ada bukti keterlibatan fisik dari pihak kita di parkiran?" tanya Devan datar.
"Sama sekali tidak ada, Tuan Muda. Rekaman CCTV menunjukkan tidak ada satu orang pun yang mendekati mobil Tiffany sejak ia parkir. Tim medis menyatakan ini adalah serangan penyakit akut yang terjadi secara mendadak akibat malfungsi saraf. Namun... dokumen rencana kejahatan untuk mencelakai Nona Alya ditemukan berserakan di samping tubuhnya di dalam mobil," jelas Yudha dengan raut wajah yang juga tampak kebingungan dengan fenomena supranatural tersebut.
"Bagus. Itu mempermudah pekerjaan kita," sahut Devan dingin.
Pria itu berdiri tegak, merapikan kemeja hitamnya yang kusut. Aura kaisar bisnis yang kejam kembali menyelimuti tubuhnya. "Yudha, serahkan dokumen itu kepada otoritas hukum tertinggi. Mulai hari ini, ajukan tuntutan hukum atas percobaan pembunuhan berencana terhadap Nona Alya Putri Dirgantara. Gunakan seluruh pengaruh Dirgantara Group untuk membekukan seluruh aset Alexander Group di bursa saham sebelum matahari terbenam."
"Aku ingin keluarga Alexander merangkak di jalanan dan memohon ampunan atas apa yang telah putri mereka coba lakukan pada keluargaku," perintah Devan tanpa setitik pun belas kasihan.
"Baik, Tuan Muda! Segera dilaksanakan!" jawab Yudha tegas, lalu membungkuk dan bergegas keluar untuk melaksanakan perintah pemusnahan bisnis terbesar tahun ini.
Setelah ruang tunggu kembali sepi, Devan kembali menatap Alya. Ketajaman di matanya seketika runtuh, digantikan oleh kelembutan yang dalam. Ia mengulurkan tangannya yang besar, menuntun Alya untuk berdiri dari sofa.
"Mari kita pulang," ucap Devan lembut. "Penthouse adalah tempat paling aman untukmu sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu keluar tanpa diriku di sampingmu lagi."
Alya tersenyum hangat, menyusupkan jemarinya yang kecil ke dalam sela-sela jari tangan Devan yang kokoh, saling bertautan erat. Cincin platinum pernikahan mereka saling bersentuhan, memancarkan kilau indah di bawah cahaya lampu klinik.
"Iya, mari kita pulang... Devan," jawab Alya pelan, sengaja menyebut nama depan pria itu tanpa embel-embel formal seperti yang telah mereka sepakati kemarin.
Mendengar namanya disebut dengan begitu manis oleh Alya, dada Devan kembali bergemuruh oleh rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merangkul pinggang Alya dengan sangat protektif, menuntun langkah kaki wanita itu menuju lift privat dengan pengawalan berlapis.
> *[Hehehe, akhir pekan yang sangat memuaskan. Musuh hancur, ikatan cinta Ayah dan Ibu semakin erat, dan posisiku sebagai pewaris tunggal semakin tak tergoyahkan. Ibu... aku mengantuk sekarang. Energi spiritualku terkuras sedikit setelah membalikkan kutukan tadi. Aku akan tidur lelap selama beberapa hari ke depan, jadi... nikmatilah waktu berdua dengan Ayah tanpa gangguanku ya!]*
Mendengar pamit tidur dari Baby El yang menggemaskan, Alya diam-diam tersenyum lega di dalam dekapan dada bidang Devan. Badai pertama di dunia luar telah berhasil mereka lewati dengan kemenangan mutlak. Dan di dalam mobil Rolls-Royce yang membawa mereka kembali menuju penthouse di atas awan, Alya menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Devan dengan keyakinan penuh bahwa masa depan mereka—sebagai sebuah keluarga kecil yang utuh—akan jauh lebih indah dari apa pun yang tertulis di atas kertas kontrak mereka.