Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.
Sekarang ini Violet berada disebuah ruangan yang ada di SMA Taruna.
Di ruangan khusus yang tertutup, sinar matahari hanya bisa menerobos masuk melalui jendela kecil di atas.
Udara terasa berat, namun tidak dengan semangat Violet yang kini terpaku pada lembaran buku di hadapannya.
Ibu Anita, dengan kacamata yang selalu setia di hidungnya, berdiri tegap di depan papan tulis, memberikan penjelasan dengan gestur tangan yang tegas.
"Apakah kamu mengerti semua penjelasanku Violet?" tanya Ibu Anita dengan nada yang menunjukkan ketegasannya, namun selalu ada kelembutan di matanya saat memandang Violet."
Saya mengerti Bu," jawab Violet dengan nada yang tenang.
Meskipun ada sedikit rasa melamun karena teringat keadaan keluarganya yang jauh berbeda dari kekayaan Tuan Romeo yang memungkinkan dirinya menjadi murid spesial, dia mencoba konsentrasi.
Ibu Anita melangkah mendekati meja Violet, menaruh tangan di atas tumpukan buku tebal.
"Kita harus mengejar 6 bulan pelajaran yang kamu tinggalkan," ucapnya seraya menatap Violet dengan pandangan yang penuh harapan.
Violet mengangguk, matanya kini terlihat lebih bersemangat.
Dia tahu ini kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.
Dalam hatinya, dia berjanji akan memanfaatkan setiap detik di ruangan ini untuk meraih mimpi-mimpinya, terlepas dari segala kekayaan yang telah membuatnya berada di sini.
Ruangan khusus itu bukan hanya sekat belajar, tapi juga simbol dari pintu menuju masa depan yang lebih cerah.
Setelah belajar begitu keras.
Waktu istirahat pun tiba.
Tapi Violet memilih untuk tidak meninggalkan ruangan tempat dimana dirinya belajar.
"Vio, ibu kembali ke ruangan guru dulu! Kamu yakin gak mau keluar buat istirahat atau pun makan," kata Bu Anita lembut, dia selama ini memang sangat dekat dengan Violet.
Sikapnya yang sebelumnya formal, sekarang menjadi berbeda.
Dia yang belum punya anak nampak begitu tulus dan juga menyayangi Violet.
Violet membalas dengan gelengan kepala.
"Ibu tahu, kamu tertipu oleh keluarga Felix. Ibu sangat percaya padamu," kata Anita penuh kehangatan.
Mengingat sekarang Felix sudah sangat dekat dengan Marina, bahkan terang-terangan mengumumkan pertunangan mereka saat nanti akan lulus.
Anita tahu, Felix memang pantas disalahkan.
Dia hanya seorang playboy.
"Ibu tahu, kamu takut akan dicemooh oleh para murid disini. Tapi ... Ibu percaya kamu gak bersalah, sekarang yang kamu lakukan hanya menebus semua kesalahan mu dengan belajar yang baik dan membuat ibu dan para guru disini bangga padamu."
Nasihat Anita sungguh membuat Violet merasa terharu, sekaligus merasa sedih.
Sejak kecil hidup tanpa adanya ibu, membuat dirinya menginginkan disayangi oleh seorang ibu.
Dia bodoh karena kemarin tertipu dengan kasih sayang palsu dari ibu Felix.
Seharusnya dari dulu dia menerima dengan ketulusan kasih sayang dari Anita, walaupun selama ini Anita terkenal sangat keras dan disiplin.
Tapi memang kepribadiannya begitu, nyatanya Anita adalah sosok yang paling tulus pada dirinya.
"Makasih banyak ibu Anita, maafkan aku yang kemarin sempat membuat ibu Anita kecewa. Aku sangat menyayangimu," kata Violet dengan nada sedih seraya memeluk Anita.
Sontak Anita pun mengelus-elus pucuk kepala Violet seraya menyentuh hidung mungilnya.
"Kamu jangan sungkan! Aku juga sangat menyayangi mu."
Kata Anita sebelum dia pergi dari ruangan khusus meninggalkan Violet yang ada disana sendiri.
Perut Violet mulai keroncongan.
"Kenapa keroncongan sih? Kemarin waktu jadi gelandangan kamu masih tahan gak makan dua hari," gerutu Violet mengajak perutnya untuk berbicara sendiri.
Ruangan itu pun terasa semakin sunyi.
Violet berdiri sendirian dengan tangannya memegang perut yang keroncongan.
Senyum tipis terkembang di wajahnya, mencoba meredam rasa lapar yang mengganggu.
Tiba-tiba, langkah kaki mendekat dan suara yang sangat ia benci menggema di ruangan tersebut.
"Ini kue Apel dan Teh susu kesukaanmu, aku tahu kamu gak bisa nahan lapar," ujar Felix dengan nada manis yang dipaksakan.
Violet yang mendengar itu, senyumannya langsung memudar, digantikan oleh raut muka yang kaku dan dingin
"Gak usah bersandiwara Felix," balas Violet dengan nada sinis yang menusuk.
Memori pahit ketika Felix mengusirnya dari rumah dan mengambil bayinya kembali membayangi pikirannya.
Rasa sakit yang mendalam seakan menghantam jiwanya, membuatnya nyaris tak bisa berdiri tegak.
"Aku bisa jelasin Vio," ucap Felix, mencoba mendekat dengan tangan terulur mencoba menyentuh bahu Violet.
Namun, dengan gerakan cepat, Violet menggeleng dan melangkah mundur, menjaga jarak dari laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya itu.
Matanya memancarkan kemarahan dan kekecewaan, sementara Felix hanya bisa berdiri dengan perasaan bersalah yang terpampang jelas di wajahnya.
Violet memalingkan muka, memutuskan untuk tidak mendengarkan apapun dari Felix, menolak setiap kata yang mungkin saja bisa membuatnya terluka lagi.
"Vio ... "
"Menjauh lah Felix."
"Aku sangat mencintaimu Vio, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan itu, itu hanya pernikahan bisnis. Aku sama sekali tidak mencintai Marina, di dalam hatiku hanya ada kamu," kata Felix dengan suara lembut, masih berusaha merayu Violet.
Dia tahu, Violet sangat mencintainya.
Bahkan gadis itu selama ini sangatlah penurut, mau melakukan hal apapun untuk dirinya.
Seperti mengerjakan semua tugas -tugas dari sekolah, yang mana membuatnya bisa menjadi ranking dua setelah Violet.
Bahkan Violet selalu memafkan semua kesalahannya selama ini, termasuk Felix yang dulu pernah ketahuan selingkuh dengan adik kelas.
Violet terdiam.
"Terus bagaimana dengan Marina? Bukankah dia terlihat begitu mencintaimu?" tanya Violet dengan ekspresi melembut.
"Nah, benarkan. Apapun kesalahan yang aku lakukan, Violet akan selalu memaafkan ku, karena dia terlalu bucin padaku," pikir Felix dalam hatinya. Dia sungguh merasa sangat percaya diri sekarang.
Violet sendiri dalam keadaan bimbang.
Rasa cintanya masih begitu dalam pada Felix.
Menghilangkan rasa cinta yang begitu dalam dan sudah berlangsung bertahun-tahun sungguh tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan.
"Vio, bukankah dulu kamu selalu memafkan kesalahan yang aku lakukan? Tolong kali ini maafkan aku, aku janji gak akan mengulanginya lagi, setelah kerja sama keluargaku dan keluarga Marina samapi final." Felix berjalan mendekat ke arah Violet.
Tatapan ketulusan dan cinta itu, nyatanya bisa dengan mudah menghipnotis Violet.
"Aku berjanji akan benar-benar meninggalkannya dan kembali padamu, untuk sementara waktu aku harap kita tetap berhubungan secara sembunyi-sembunyi ... "
Penjelasan Felix terhenti kala seorang gadis yang dulu sangat dekat dengan Violet juga memasuki ruangan khusus itu.
"Violet, dasar jalang gak tau diri. Kak Felix itu tunangan ku, kenapa kamu masih merayunya?" Ucapan Marina bagaikan sebuah bom yang menghantam diri Violet.
Dia masih terpaku sejenak.
Bahkan tangan Felix yang tadi memegang tangannya dengan lembut, sekarang ini menepis kasar tangannya.
"Marina, kamu salah paham! Tolong jangan adukan hal ini pada orang tua mu. Tadi Violet memanggil namaku saat aku lewat, makanya aku datang kesini," kata Felix dengan nada bersalah.